
"Apa kabarmu, Sha? Aku sangat merindukanmu."
Sasha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berulang kali dibacanya pesan yang baru saja diterimanya dari Alan.
Tak hanya sekali dua kali lelaki itu mengirimkan pesan untuknya. Tapi sudah berpuluh-puluh kali Alan mengirimkan pesan serupa, namun tak satu pun yang ingin dibalasnya.
"Sha, kamu sudah makan? Jangn lupa istrirahat."
"Kamu di mana, Sha? Mengapa belum pulang ke rumah?"
"Jangan terlalu sibuk, Sha. Aku tak mau kamu lelah dan jatuh sakit."
"Sha, aku kesepian tanpa dirimu bersamaku."
"Aku mencintaimu, Sha."
Beragam pesan sejenis tak pernah berhenti dikirimkan Alan kepada Sasha. Lelaki itu benar-benar dibuat kalang-kabut dengan keputusan Sasha untuk menjauh darinya.
Tak sekali pun Sasha mengangkat dan menerima telepon dari Alan kendati lelaki itu terus menghubunginya beberapa kali dalam sehari.
Tak hanya itu, seperti kebiasaannya sebelumnya, Alan tetap rajin menjemput dan mengantar Sasha pulang dan pergi ke kantor, meskipun hanya dilakukannya dengan mobil masing-masing.
Selain itu, lelaki itu juga selalu memantau kegiatan kekasihnya di dalam dan di luar kantor. Di saat senggangnya dia sering datang ke kantor Sasha dan menunggunya di dalam mobil di area parkir.
Sasha bukan tidak mengetahuinya. Dia hanya berpura-pura tidak tahu karena benar-benar ingin membuat kekasihnya itu menyadari perasaannya dan memperjuangkan dirinya.
Seperti saat makan siang kali ini, Sasha masih berada di sebuah cafe bersama kliennya yang ternyata seorang lelaki sebaya mereka yang berpenampilan sangat menawan.
Dengan hati yang sedikit memanas, Alan mengikuti Sasha hingga turut memesan makan siang di cafe yang sama. Mengambil tempat duduk yang berjauhan dari Sasha, Alan berusaha tidak mengganggu pertemuan berlatar pekerjaan di antara keduanya.
Dia hanya khawatir jika membiarkan Sasha bertemu dengan kliennya seorang diri, karena biasanya saat Sasha tidak bersama rekan kerjanya Alan-lah yang setia menemani dan menunggui hingga pekerjaannya selesai.
"Jika urusan pekerjaanmu sudah selesai, segeralah kembali ke kantor, Sha. Aku akan menjaga di belakangmu."
Sasha membaca pesan dari Alan dan sekilas melihat ke tempat lelaki itu duduk. Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu.
Tak bisa dipungkiri, Sasha merindukan lelaki itu sama seperti Alan yang lebih merindukannya, karena Sasha menjauh darinya dan tidak pernah membalas pesan dan panggilannya.
Tiba-tiba tanpa sengaja Alan melihat lelaki yang bersama Sasha memegang tangan kekasihnya entah dengan maksud apa. Namun dia melihat Sasha kurang nyaman dengan sikap kliennya tersebut.
Alan mulai terpancing emosinya. Dilihatnya lagi, Sasha secepat mungkin menarik tangannya dari genggaman lelaki itu dan berdiri lalu berjalan ke arah toilet.
Berniat hendak menyusul sang kekasih, Alan mengurungkan langkahnya yang menggantung dan kembali duduk saat dia menangkap gelagat aneh dari sikap lelaki yang berada di meja Sasha.
__ADS_1
Dilihatnya lelaki itu mengambil sesuatu dari kantong kemejanya lalu diam-diam memasukkannya ke dalam gelas minuman Sasha.
Alan menajamkan penglihatannya dan bisa mengetahui jika yang dimasukkan tadi adalah semacam obat berbentuk serbuk yang segera larut di dalam air minuman.
Alan semakin yakin jika lelaki itu mempunyai niat buruk di luar urusan pekerjaan yang sudah mereka selesaikan. Dia mengkhawatirkan Sasha yang sudah menjadi target kejahatan yang mungkin akan segera menimpanya.
Bayangan kejadian yang dialaminya bersama Nara akibat perbuatan Yoga yang membius mereka, berkelebat nyata di hadapannya. Seketika rasa takut menyergapnya sedemikian hebat.
Dia tidak akan membiarkan kejadian Nara terulang lagi dan terjadi pada Sasha. Alan tidak ingin kehilangan wanita yang dicintai untuk kedua kalinya.
(Sasha adalah milikku. Tidak akan kubiarkan orang lain mengambilnya dariku.)
Buru-buru Alan menghubungi Sasha namun tak kunjung diangkat. Akhirnya dia mengirim pesan untuk memperingatkan kekasihnya.
"Jangan minum dari gelasmu lagi! Dia berniat tidak baik padamu, Sha."
Alan bersyukur, tak lama kemudian pesannya telah terbaca oleh Sasha, meskipun tak ada balasan seperti biasanya.
Beberapa menit setelahnya, Sasha kembali ke mejanya. Berbincang sebentar dengan lelaki di hadapannya, Sasha tampak memegang gelas minumannya diikuti tatapan tajam lelaki itu.
Tak ingin terlambat, Alan segera berdiri dan berjalan cepat menghampiri Sasha seraya memanggilnya untuk mengalihkan perhatiannya.
"Sayang ...!"
Alan berhenti di samping Sasha dan tanpa ragu langsung merangkul bahu kekasihnya yang masih duduk di hadapan lelaki yang tampak terkejut tersebut. Wajah menawannya berubah tegang dan pucat seakan takut Alan mengetahui rencananya.
"Maaf aku datang terlambat, Sayang. Jangan marah, ya?" Alan mencium lembut puncak kepala Sasha tanpa ragu di depan lelaki itu.
"Anda ...?" Lelaki itu bertanya sambil menatap tajam ke arah Alan.
"Oh, maaf. Perkenalkan saya Alan, calon suami Sasha."
Dengan menunjukkan sikap baik, Alan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Lelaki itu mau tak mau menyambut tangan Alan.
"Kita pergi sekarang, Sayang? Aku antar kamu kembali ke kantor."
Sasha hanya diam dan mengangguk pelan. Namun kliennya lebih dulu berdiri dan berpamitan.
"Saya juga pamit, karena urusan pekerjaan kami sudah selesai. Senang berkenalan dengan Anda, Pak Alan."
Lelaki itu mengulurkan tangan pada Sasha yang menyambutnya dan tersenyum ramah. Setelah itu dia lebih dulu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah terlihat lelaki itu berlalu keluar dari cafe, Sasha dengan segera hendak berdiri dan pergi menghindari Alan. Namun dengan lebih cepat Alan menahan tangannya dan memintanya duduk kembali.
__ADS_1
"Sha, dengarkan aku. Aku tidak suka melihat dia menyentuh tanganmu dengan seenaknya seperti tadi."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri." Sasha menghindari tatapan mata kekasihnya yang pasti akan membuatnya luluh.
"Tapi tadi dia berniat buruk padamu, Sha. Aku melihatnya sendiri, dia memasuķkan serbuk obat ke dalam minumanmu."
Sasha terkesiap mendengar ucapan Alan. Obat? Minuman? Sasha tidak percaya begitu saja. Dia masih beranggapan Alan hanya mencari kesempatan untuk bersama dengannya.
"Dia seorang pengusaha yang cukup terkenal. Mana mungkin dia berbuat tidak baik pada seseorang, apalagi hanya kepadaku yang bukan siapa-siapanya."
"Baiklah, kalau kamu tidak percaya. Aku akan membuktikannya."
Alan mengambil gelas minuman Sasha dan meneguk habis isinya.
"Kita lihat apa yang tadi ingin dia lakukan kepadamu."
Sasha mulai was-was. Takut jika Alan sungguh kenapa-kenapa setelah ini, dia mengajak Alan pergi dan segera menuju ke mobil.
Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Sasha. Duduk berdua di bagian depan, Alan meminta Sasha menunggu pembuktiannya lebih dulu.
Tak butuh waktu lama, Alan mulai merasa gerah di seluruh tubuhnya. Rasanya sangat luar biasa, hanya dengan menatap Sasha di sampingnya dia mulai berhasrat dan ingin menyentuh kekasihnya.
Alan berusaha mengendalikan dirinya agar tidak bersikap kurang ajar pada Sasha. Dia memejamkan mata dengan nafas yang memburu dan tak beraturan.
"Kita ke rumahku dulu, Sha. Aku harus mendinginkan tubuhku dan membuang efek obat ini."
Sasha panik, tidak menyangka jika apa yang diucapkan kekasihnya tadi benar adanya. Kliennya berniat buruk terhadapnya.
"Sha ... cepatlah! Aku tidak bisa menahannya lama-lama."
Sasha segera menyalakan mesin mobil dan melajukan menuju ke rumah kekasihnya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
💜Author💜
.