
"Apa tidak sebaiknya kamu langsung mengunci pergerakannya saja, agar dia tidak ada celah untuk mengganggu Nara? Bukan hanya Nara, aku pikir dia pasti juga mengincarmu untuk dicelakai."
Usai acara pengajian yang digelar sore hari, Ardi dan Yoga berbicara berdua di halaman depan yang masih dipasangi tenda serta dipenuhi meja dan kursi.
Mereka sengaja menjauh dari dalam rumah agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Tidak mungkin aku menahannya sebelum dia melakukan apa pun. Oleh karena itu, saat ini aku hanya bisa meminta orang-orangku untuk mengawasinya sepanjang waktu tanpa kecuali. Setidaknya kami sudah tahu di mana tempat tinggalnya dan apa saja yang dilakukannya sejauh ini."
Sesekali kedua ayah muda itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Raga dan Aura yang sedang bermain di beranda bersama istri mereka.
"Aku sangat mengkhawatirkan Nara. Mungkin dia merasa baik-baik saja, tetapi alam bawah sadarnya tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang masih tersimpan di dalam jiwanya akibat peristiwa kala itu."
Yoga masih terus menatap istrinya yang sedang berbincang bersama Bunga sembari mengawasi putra-putri mereka. Perasaannya masih tidak tenang memikirkan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada mereka sewaktu-sewaktu.
"Lebih baik aku saja yang menjadi sasaran kenekatannya, daripada Nara yang sedang mengandung calon anak kedua kami." Suara Yoga bergetar penuh ketakutan.
"Aku tidak bisa berandai-andai, tapi jujur saja, aku sangat takut terjadi hal yang buruk pada Nara dan kandungannya. Aku takut kehilangan dia."
Ardi memperhatikan sahabatnya dengan perasaan trenyuh. Dia melihat mata Yoga berkaca-kaca, kemudian lelaki itu memejamkannya rapat-rapat untuk menahan tangisan yang mungkin akan keluar jika tidak dicegah cepat-cepat.
Ditepuknya pelan-pelan pundak lelaki yang tengah dirundung kekhawatiran besar tersebut.
"Yakinkan dirimu bahwa tidak akan ada hal buruk apa pun yang akan terjadi pada keluargamu. Semuanya pasti segera berlalu dan akan tetap baik-baik saja!"
Yoga mengangguk dengan mata yang masih menutup sempurna. Dipanjatkannya banyak doa tiada henti, untuk keselamatan dan kebahagiaan seluruh keluarganya.
"Apa pun yang akan terjadi, aku mohon selamatkan istri dan anak-anak kami, ya Allah."
.
.
.
"Mas, ada apa? Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering terlihat gelisah dan tidak tenang. Apakah telah terjadi sesuatu?"
__ADS_1
Nara menyusul suaminya yang sedang menutup jendela kamar karena hujan mulai turun. Dipeluknya tubuh Yoga dari belakang, berharap sang suami merasa lebih tenang dan tidak banyak melamun lagi.
Saat akan pergi mandi tadi, dia meninggalkan Yoga yang berdiri terdiam di ambang jendela. Dan saat dirinya keluar dri kamar mandi, lelaki itu masih tetap dalam posisinya semula sambil menarik dan menyatukan kedua sisi jendela kaca tersebut.
Yoga memegang kedua tangan Nara yang melingkar manja di pinggangnya. Diusapinya punggung tangan yang berjemari lentik nan lembut itu dengan hati yang penuh debaran.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya ada sedikit masalah di kantor Raga Properland. Tapi jangan khawatir, aku sudah mengendalikannya dari sini. Beno dan Pram juga sangat bisa diandalkan di sana."
"Maafkan aku karena telah membohongimu, Sayang. Aku hanya ingin kamu berkonsetrasi pada Raga dan kehamilanmu saja. Aku pasti akan menyelesaikan semuanya demi kamu dan keluarga kita."
Dirasakannya tubuh Nara semakin merapat di belakang tubuhnya hingga menciptakan kehangatan di tengah suasana dingin dan hujan yang mulai deras.
Kepala wanita itu bersandar di punggung lebar nan kekar suaminya, dengan mata terpejam meresapi kehangatan yang mulai terasa hingga menyusup di hatinya.
Tiba-tiba terasa pergerakan dari dalam perut Nara yang turut dirasakan oleh Yoga di punggung bawahnya.
"Sayang, calon bayi kita bergerak. Aku merasakannya!" Yoga melepaskan pelukan istrinya dan berbalik menghadap ke arah wanita kesayangannya itu.
Dia langsung berlutut dan memeluk perut Nara yang mulai terlihat buncit.
"Kamu juga merasakannya tadi?" Yoga mendongak ke atas menatap wajah sang istri yang sudah menunduk dan membalas tatapannya dengan senyuman di bibir manisnya.
Untuk sejenak Yoga melupakan semua ketakutan dan kekhawatirannya. Dia larut dalam kebahagiaan istimewa karena bisa turut merasakan gerakan pertama dari calon bayi mereka.
Tangan Nara memengang kedua sisi perutnya dan membiarkan kepala Yoga tetap menempel di ujung perutnya yang membuncit.
Tiba-tiba gerakan itu terasa lagi oleh mereka. Gerakan kecil yang dirasakan Nara menyerupai atraksi berguling-guling yang terus menyentuh dinding rahimnya berulang kali.
Sementara bagi Yoga, dia merasakan beberapa kali tendangan-tendangan kecil menyentuh pipinya yang menempel di permukaan perut istrinya.
Kedua matanya mulai terasa pedih dan berair. Dirinya begitu terharu karena mendapatkan kesempatan langka yang tidak semua ayah bisa turut merasakan gerakan pertama calon bayi di dalam kandungan istrinya.
Setelah gerakan tersebut menghilang, Yoga menarik wajahnya sedikit menjauh lalu maju lagi untuk mencium ujung perut Nara dengan mata terpejam disertai panjatan doa-doa terbaiknya.
Saat Nara mengandung Raga dulu, dia tidak bisa merasakan gerakan pertamanya. Namun dia tetap bersyukur karena di lain kesempatan masih bisa merasakan gerakan-gerakan lincah Raga di dalam rahim ibunya.
__ADS_1
Dalam posisi mereka saat ini, Nara teringat akan masa lalu mereka yang masih penuh ketegangan dan kecanggungan dulu. Kala itu, dia tengah mengandung Raga dengan usia kehamilan yang hampir sama dengan usia kehamilannya yang sekarang.
Malam itu, malam di mana Yoga akan pergi ke luar kota tanpa ada yang tahu bahwa dia akan berobat karena sakit parah yang dideritanya dan selalu disembunyikannya dari siapa pun.
Setelah makan malam dan sebelum berangkat ke bandara, untuk pertama kalinya dia berlutut di depan perut Nara, seperti yang dilakukannya saat ini.
Dia juga mencium puncak perut Nara seperti waktu itu. Doa yang sama pun dia panjatkan untuk kesehatan dan keselamatan istri dan calon anak mereka.
Nara mengingat kejadian itu dengan sangat rinci karena saat itulah untuk pertama kalinya dia merasakan sesuatu yang lain di dalam hatinya, yaitu sebuah desiran halus dan getaran indah yang membuat perasaannya terhadap Yoga mulai berubah menjadi tidak menentu.
"Mas ...." Tangan kanan Nara menyentuh kepala suaminya dan mengusapinya dengan penuh kasih sayang.
Yoga menyudahi ciumannya dan kembali mengangkat wajahnya untuk menatap sang istri.
"Apa kamu juga mengingatnya?" tanya Nara dengan ragu karena dia menyadari bahwa saat itu dirinya masih menjaga jarak dan membuat batasan untuk lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya.
Tak disangka, Yoga mengangguk dengan sangat jelas. Kemudian dia kembali memeluk perut istrinya dan kembali menempelkan wajahnya di ujun perut buncit tersebut.
"Bagaimana aku bisa lupa dengan kenangan terindah itu, Sayang. Saat itu hatiku begitu bahagia karena akhirnya aku bisa menunjukkan perhatian dan kasih sayangku untuk calon anak kita."
Yoga berucap sambil terus memeluk pinggang Nara yang juga terus mengusapi kepalanya dengan sayang.
"Ditambah lagi malam itu, aku bisa memeluk tubuhmu dan mencium keningmu untuk pertama kalinya serta menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya kepadamu."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.