CINTA NARA

CINTA NARA
71 AKHIR DARI KERINDUAN


__ADS_3

"Yoga ...."


Bibir Nara bergetar memanggil nama suaminya. Sama halnya dengan Yoga yang memanggil lirih dirinya dengan suara yang berat.


"Nara ...."


Yoga menatap mata bening Nara yang berkaca-kaca, dengan hati yang dipenuhi getaran cinta yang memuncak, meluapkan kerinduannya yang teramat sangat.


Nara tak kuasa menghindari tatapan sarat kerinduan itu. Dia membalasnya dan mengunci pandangannya hanya tertuju kepada mata tajam Yoga yang kini telah berubah menjadi begitu teduh.


Melangkahkan kakinya pelan mendekati pembaringan sang suami, Nara sebisa mungkin menahan agar tidak menumpahkan tangisannya. Yoga memberi tanda pada istrinya dengan gerakan tangan yang merentang pelan, saat Nara sudah sampai di ujung pembaringan.


Nara semakin mendekat ke samping Yoga, tempat di mana dia selalu duduk setia menemani suaminya selama satu minggu ini. Namun kali ini dia tidak duduk, akan tetapi tetap berdiri untuk memuaskan diri memandangi wajah sang suami yang telah sadar dan membuka mata.


"Ra ...." Dengan tangan yang masih terentang rendah, Yoga mengangguk untuk meminta agar Nara datang kepadanya.


Tak bisa lagi menahan diri, Nara membungkukkan tubuhnya dan merebahkan kepalanya di atas dada bidang Yoga yang dilapisi pakaian rumah sakit. Tangannya memeluk pinggang lelaki itu dengan sangat hati-hati.


Yoga merasakan hatinya bergetar hebat saat kepala sang istri rebah di dadanya. Tubuhnya menghangat seiring kedua tangannya yang mendekap tubuh Nara dengan segenap perasaan.


"Aku merindukanmu, Ga."


Suara lembut Nara membuat Yoga memejamkan mata seketika, meresapi makna yang tersirat dari ucapan lirih istri tercintanya. Dia tersenyum bahagia karenanya.


(Benarkah yang kudengar ini, Ra? Kamu merindukan aku?)


Yoga menundukkan wajahnya dan mencium puncak kepala Nara yang terjangkau oleh bibirnya. Tangan kanannya bergerak ke atas, mengelus kepala itu dengan penuh kasih.


"Aku juga sangat merindukanmu, Ra."


Senyuman bahagia semakin mengembang di wajah keduanya, meskipun mereka tak saling melihatnya.


Nara menyamankan dirinya di dalam pelukan Yoga, sembari mendengarkan detak jantung sang suami yang terdengar jelas di telinganya.


"Terima kasih sudah bertahan dan kembali," ucap Nara dengan wajah yang mulai dibasahi air mata.


Yoga yang merasakan bagian dadanya basah, semakin erat mendekap tubuh sang istri. Mencoba menenangkan Nara dengan usapan lembut di punggungnya, Yoga kian larut dalam suasana haru penuh rindu di antara mereka berdua.


"Jangan menangis jika itu air mata kesedihan. Aku tidak akan sanggup melihatnya," bisik Yoga dengan terus membelai dan menciumi kepala Nara.


Nara mulai mengatur nafasnya dan meredakan tangisannya. Dia menarik tubuhnya lalu menyeka sisa air matanya.


"Duduklah di sampingku, Ra," pinta Yoga saat melihat istrinya masih terus berdiri dan menatapnya.

__ADS_1


Nara patuh dan menarik kursi di sebelahnya agar bisa duduk lebih dekat dengan suaminya.


Jika sebelum-sebelumnya dia melakukannya di saat Yoga tak sadarkan diri, kini entah mengapa Nara memberanikan diri untuk meraih tangan lelaki itu dan menggenggamnya dengan erat di hadapan Yoga yang langsung menatapnya tak percaya.


Apalagi setelah itu, Nara membawa genggaman tangan mereka ke arah bibirnya, mencium punggung tangannya dengan mata tertutup dan sepenuh hatì.


"Ra ..., kamu ...??"


"Jangan pergi lagi. Kami berdua membutuhkanmu di sini."


Nara kembali mencium tangan Yoga, hingga lelaki itu semakin bahagia dibuatnya. Dia membalasnya, menarik tangan mereka yang menyatu erat ke arah wajahnya kemudian menciumnya dengan dada yang berdebar kian kencang.


Puas menciumi tangan sang istri, Yoga meletakkan genggaman tangan mereka di atas dadanya dan terus mendekapnya.


"Bagaimana kabar anak kita? Dia sehat, bukan?"


Menjawab pertanyaan Yoga, Nara menganggukkan kepala seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang dibawanya. Dia sudah menyalakan mode diam sebelum masuk ke dalam ruangan.


Dibukanya galeri yang di dalamnya terdapat banyak sekali foto sang bayi, lalu memilih salah satunya dan menunjukkannya kepada Yoga.


"Ini anak kita, Ga."


Seketika mata Yoga berkaca-kaca saat melihat foto anaknya untuk pertama kali. Seorang bayi laki-laki mungil yang sangat lucu dan menggemaskan.


Beralaskan handuk yang baru selesai dipakai untuk mandi, bayi kecil itu telentang belum mengenakan pakaiannya. Tangan dan kakinya terentang lebar, menunjukkan kesempurnaan fisiknya dan paras tampan turunan dari sang ayah.


Air mata luruh mengalir membasahi wajahnya. Yoga menangis haru, bersyukur atas anegerah indah yang Allah titipkan dan percayakan kepadanya. Seorang penerus keluarga yang sangat diidamkan dan diimpikannya selama ini.


"Dia tampan sekali dan sangat mirip denganmu."


Nara menggeser layar ponselnya dan menunjukkan beberapa foto yang lainnya. Kebahagiaan semakin terpancar jelas di wajah Yoga yang terus mengulas senyumannya.


"Tapi mata beningnya sama indahnya seperti matamu, Ra."


Nara mengangguk pelan. Memang, dari keseluruhan wajah sang putra, hanya matanya yang menyerupai mata beningnya. Selebihnya, semua menurun dari ayah si bayi.


"Cepatlah pulih dan sehat, agar bisa segera pulang dan menemui putramu." Nara menyimpan kembali ponselnya.


"Aku akan segera pulang untuk merawat anak kita bersama-sama."


Yoga seperti menemukan semangat baru untuk sembuh dan kembali berkumpul bersama keluarga kecilnya.


(Aku harus sembuh. Aku pasti sembuh!)

__ADS_1


Nara mengulurkan tangannya ke atas untuk membersihkan wajah Yoga yang masih basah oleh air mata. Dia ingat, Yoga juga sering melakukannya, menyeka air matanya dan membersihkan wajahnya yang basah oleh tangisan.


Sekarang rasa sayangnya pada lelaki itu semakin bertambah setelah semua kejadian buruk yang menimpa mereka berdua. Perasaan takut kehilangan pun semakin besar dirasakannya.


Nara juga ingin memanjakan Yoga seperti yang selalu dilakukan lelaki itu terhadapnya. Dia ingin membahagiakan suaminya, sama seperti kebahagiaan yang selalu diberikan Yoga kepadanya.


Yoga menahan tangan Nara untuk tetap berada di wajahnya. Nara yang mengerti itu, segera membelai wajah Yoga dengan lembut dan penuh kasih, membuat lelaki itu terbuai dan memejamkan mata dengan hati bergetar.


Hari menjelang sore. Nara harus pulang untuk memandikan dan menyusui anak mereka.


"Aku harus pulang dulu, Ga. Aku sudah terlalu lama meninggalkan bayi kita di rumah."


Meskipun hatinya berat untuk meninggalkan Yoga, tapi ada kewajiban lain yang harus dilakukan Nara, yaitu merawat sang buah hati kesayangan mereka.


"Maaf karena aku tidak bisa terus-menerus menemanimu di sini. Aku harus membagi waktuku untuk kalian berdua."


Yoga mengangguk pelan. Tubuhnya juga mulai terasa lemah dan lelah. Dia butuh istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya, juga kesehatannya.


Saat Nara berdiri untuk bersiap, Yoga meraih tangan sang istri dan menarik tubuhnya untuk lebih mendekat kepadanya.


Lelaki itu kemudian memegang kepala Nara dan segera mencium keningnya dengan lembut dan lama. Nara terdiam dan memejamkan mata, meresapi ciuman yang diberikan suaminya dengan penuh kehangatan.


"Aku sangat mencintaimu, Ra."


"Sampaikan kerinduanku pada anak kita. Katakan padanya, aku pasti akan segera pulang dan menimangnya."


Nara masih ragu untuk membalas ungkapan cinta Yoga, sehingga dia memilih untuk diam dan hanya tersenyum serta mengangguk sebagai jawabannya.


Sebelum pergi, sekali lagi digenggamnya tangan Yoga dan diciumnya dengan sepenuh hati.


(Aku juga sangat menyayangimu, Ga. Semoga aku bisa membalas cintamu kepadaku.)


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2