
Pagi ketiga kelahiran si kecil, Nara sudah bisa duduk dan menggendong bayi mungilnya di atas tempat tidur. Dia juga belajar untuk memberikan ASI langsung pada sang putra.
Nara menatap bayi mungilnya dengan sendu. Melihat dia menyesap air susu dengan lahap membuatnya begitu terharu, menyadari dirinya telah benar-benar sempurna menjadi seorang ibu, predikat baru yang melekat pada dirinya sejak tiga hari yang lalu.
Dengan tangan kiri yang mendekap sayang sang bayi, tangan kanannya perlahan menyentuh kulit wajah si mungil yang memerah dan sangat lembut, serta masih dipenuhi bulu halus khas bayi yang baru lahir.
Hatinya terus bergetar menyadari betapa raut wajah si kecil itu sangat mirip dengan Yoga sang ayah. Ketampanan lelaki itu menurun sempurna pada putra pertama mereka.
Dan hal tersebut membuat Nara semakin merindukan sosok sang suami yang belum bisa dijumpainya hingga detik ini.
(Cepatlah pulih, Ga! Apa kamu tidak ingin menemuiku dan anak kita?)
Nara tersenyum melihat sang putra telah melepaskan mulut mungilnya dari dadanya. Dia merapikan kembali pakaian atasnya lalu mengangkat sang putra lebih mendekat ke wajahnya.
Dengan penuh rasa sayang yang tercurah utuh, diciuminya wajah menggemaskan bayi yang belum dinamai itu. Puas menciumi seluruh wajah sang bayi, Nara kembali membelai lembut permukaan wajahnya sembari menahan haru yang semakin menyesakkan dada.
Serasa bermimpi, ingatannya memutar ulang setiap detik waktu yang bergulir selama sembilan bulan ini. Waktu yang berlalu tanpa terasa, hingga kini menjadikan dirinya sebagai seorang ibu tanpa tahu awal mula benih tersebut tertanam di rahimnya kala itu.
Tanpa mengingat dan merasakan proses apa pun sama sekali, tiba-tiba saja dia mendapati kehamilan itu telah terjadi dan dimulai perjalanannya. Hanya Yoga yang mengetahuinya karena lelaki itulah yang melakukannya.
"Dulu mungkin aku meratapi kehamilanku karena membenci apa yang telah kamu lakukan kepadaku, Ga. Tapi sekarang, aku sangat bersyukur atas anugerah terindah yang aku miliki karenamu ini."
"Bayi ini, dialah yang telah merubah kebencianku padamu menjadi rasa sayang yang tumbuh begitu saja seiring cinta yang tulus kamu berikan kepadaku."
"Segeralah sembuh, Ga. Dan cepat temui aku dan anak kita di sini. Kami menunggumu agar kita bisa berkumpul bersama. Kita bertiga, kamu, aku dan anak kita."
.
.
.
"Ga, kamu harus bertahan! Aku tahu kamu kuat karena kekuatanmu ada di sini. Nara dan anak kamu, mereka menunggumu, Ga. Kamu harus kembali secepatnya untuk mereka!"
Dengan berlinangan air mata, Ardi duduk di samping tubuh sahabat kecilnya yang terbaring lemah antara hidup dan mati. Hanya keajaiban Illahi yang mampu mengubah takdirnya saat ini.
__ADS_1
Segala upaya telah dilakukan lelaki itu tanpa kecuali. Selama hampir satu tahun ini Yoga berusaha sendiri untuk menyembuhkan dirinya. Tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang membantu.
Dia tidak ingin orang lain tahu tentang sakit yang dideritanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain. Dia tidak ingin membebani orang lain dengan kesakitannya itu.
"Selama ini kamu sudah berusaha sendiri sekuat tenagamu, segala yang bisa kamu lakukan sudah kamu perjuangkan. Sekarang, biar aku yang berusaha dan berjuang dengan caraku, demi kesembuhanmu, demi kembalinya kamu bersama kami semua yang menunggumu di sini, Ga."
Ardi tak ingin patah semangat, dia tak mau putus harapan. Dia percaya masih ada kesempatan untuk membawa Yoga kembali ke tengah-tengah mereka, berkumpul bersama dengan mereka.
"Aku tahu kamu mendengarku, Ga. Jadi dengarkan aku baik-baik! Tetaplah berjuang dalam diammu saat ini. Tetaplah berusaha untuk membuka matamu sampai kamu benar-benar bisa melihat kami semua yang menunggumu di sini!"
Ardi menggenggam erat tangan Yoga. Seolah ingin berbagi kekuatan dan harapan yang sama dengan sang sahabat yang tengah tidur panjang untuk sementara waktu.
"Maafkan aku karena harus mengingkari janjiku padamu. Aku tidak bisa membiarkan Nara terus bertanya dan mengkhawatirkanmu tanpa kepastian seperti saat ini. Dia harus tahu karena dia istrimu. Dia berhak tahu dan dia memang harus tahu kondisimu yang sebenarnya, Ga!"
"Ingatlah selalu satu hal ini dan terus jadikan sebagai semangatmu untuk kembali. Ingatlah selalu bahwa Nara dan anak kalian menunggumu di sini."
"Ingatlah jalan pulangmu, di mana keluarga kecilmu selalu menunggu kedatanganmu. Jadi, segeralah kembali untuk mereka!"
.
.
.
"Apa yang harus aku sembunyikan? Keadaannya seperti ini dan kita semua mengetahuinya. Hanya Nara yang belum tahu tentang kondisi Yoga. Apa kita harus memberitahu dia juga? Apa kamu tega melihat kesedihannya nanti? "
Ardi berusaha mengalihkan jawaban agar Alan tidak semakin mencurigainya.
"Apa yang membuat kondisinya separah ini sehingga dia sampai tak sadarkan diri begitu lama?" tanya Alan terus berusaha mengejar jawaban sang dokter.
"Kondisi spontan pasca kecelakaan seperti itu seringkali terjadi. Banyak faktor yang menyebabkannya. Salah satunya syok seperti yang dialami Yoga."
Ardi mempertegas jawabannya agar semakin meyakinkan Alan dan tidak membuatnya bertanya lagi.
"Ben, untuk sementara waktu kamu yang harus memegang kendali perusahaan. Kamu bisa, kan?!"
__ADS_1
Beno yang dalam keadaan panik tetap terlihat tenang, hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan Ardi. Dia tidak bisa membantu apa-apa jìka hanya terus menunggu di rumah sakit. Sementara di perusahaan, tenaga dan pikirannya akan sangat berguna dan memang dibutuhkan di sana.
"Dan ingat, jangan berikan informasi apa pun tentang kondisi Yoga yang sebenarnya saat ini. Kita harus bisa menjaga kestabilan perusahaan selama Yoga tidak bisa memegang kendalinya."
"Di luar sana, tidak hanya banyak yang kagum dan segan kepada Yoga. Tetapi sebaliknya, banyak juga di antara mereka yang ingin menjatuhkan Yoga dan perusahaannya."
"Kita harus bisa mengantisipasi hal itu dan mengatasinya jika hal itu sampai terjadi!"
Ardi memang tidak menggeluti dunia bisnis sama sekali, tetapi dia sudah terbiasa dengan dunia perusahaan seperti itu, karena kedua orangtuanya adalah rekan bisnis kedua orangtua Yoga, yang juga memiliki perusahaan keluarga meskipun tidak sebesar dan sehebat perusahaan keluarga Mahendra.
"Jika ada yang tidak bisa kamu lakukan sendiri, aku siap membantumu, Ben. Tapi aku tidak bisa bergabung dengan kalian. Hubungi saja aku kapan pun kamu membutuhkan bantuanku!"
Dulu Alan adalah orang kepercayaan Yoga sebelum dia mengundurkan diri karena masalah pribadi mereka. Dan dalam keadaan seperti ini, dia tidak bisa tinggal diam begitu saja.
"Berapa lama dia akan seperti ini?" Alan masih kembali menanyakan kondisi Yoga.
Ardi menggeleng pelan. Dia tidak tahu harus menjawab apa untuk saat ini. Karena sesungguhnya, tidak sadarnya Yoga saat ini bukan karena dampak dari kecelakaan yang dialaminya.
Akan tetapi karena kondisi terburuk dari sakit yang dideritanya sudah pada tahap akhir, di mana hanya ada satu jalan yang bisa mengembalikan kesadarannya. Dan sayangnya, sampai saat ini Ardi dan para dokter belum bisa melakukannya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
.
__ADS_1