CINTA NARA

CINTA NARA
3.8. TAK SEPERTI BIASANYA


__ADS_3

"Mas, aku merasa sangat kasihan dengan Aura. Bayi sekecil itu sudah harus mengalami semua ini."


Nara duduk di sofa sambil menyusui Gana yang masih belum terlelap. Yoga yang sudah menyelesaikan pekerjaan kantornya, merapat duduk di samping istrinya dan merengkuh bahunya dengan lembut tanpa ingin membangunkan si bayi mungil.


"Belum lama dia kehilangan Bunga ibunya, sekarang dia harus berjuang sendiri melawan sakitnya. Bayi sekecil itu ... ah, aku tidak tega melihatnya. Membayangkannya pun aku tak sampai hati, Mas."


Nara memperhatikan Gana yang masih melahap minuman wajibnya dengan teratur, membuatnya wanita cantik itu membayangkan seandainya semua itu terjadi pada putra mereka.


Air mata mulai menetes pelan di kedua pipinya, tak kuasa melanjutkan bayangannya tentang hal buruk seperti yang tengah dialami oleh Aura.


"Ssttt ..., jangan dipikirkan lagi, Sayang. Jangan pernah membayangkan hal buruk tentang keluarga kita!" Yoga mendekap kepala Nara dan menciuminya dengan sayang.


Satu tangannya memeluk istri dan putranya dari depan, memejamkan mata dan memanjatkan banyak doa untuk kesehatan dan keselamatan keluarga mereka.


Tak lupa dia juga memohonkan doa dan kesembuhan untuk Aura, putri kecil Ardi yang sudah seperti anaknya sendiri.


Sore tadi, Aura harus menjalani transfusi darah untuk pertama kalinya, karena kondisinya kembali menurun. Bayi mungil itu mimisan lagi disertai suhu tubuh yang merangkak naik dan fisik yang kian melemah.


"Takdir Allah tidak ada satu pun manusia yang tahu, Sayang. Dulu, aku pun pernah merasakan hal yang sama seperti ketakutanmu tadi. Aku selalu memikirkan bagaimana hidupmu bersama Raga selanjutnya nanti, jika aku harus pergi untuk selama-lamanya."


Nara berusaha menahan perasaan sedihnya yang sudah semakin memuncak, saat Gana perlahan melepaskan hisapannya dan benar-benar tertidur pulas.


Dengan perhatian dan sayang, Yoga membantu sang istri merapikan pakaiannya lalu mengambil alih Gana untuk dibaringkannya di dalam boks bayi yang terletak di samping tempat tidur.


Usai menutupkan kain kelambu di atas tempat tidur bayi tersebut, Yoga dikejutkan dengan pelukan Nara dari belakang yang sudah menangis tersedu-sedu.


"Sayang? Ada apa?" Disentuhnya dengan lembut tangan Nara yang melingkari tubuhnya erat-erat. Nara terus terisak membuatnya semakin cemas.


Dengan cepat dia memutar tubuh sehingga sekarang berdiri berhadapan dengan istri tercintanya. Dilihatnya Nara yang masih menangis dan segera menghambur lagi ke dalam pelukannya.


"Tenangkan diirmu, Sayang. Jangan membangunkan Gana lagi. Aku di sini, aku bersamamu." Yoga mendekap dan menciumi puncak kepala istrinya dengan haru.


Dia tahu, pasti Nara memikirkan ucapannya tadi. Tentang kepergiannya, tentang kehidupan istri dan putranya jika seandainya dulu nyawanya benar-benar tak tertolong lagi.


Diciumnya kening sang istri seraya melantunkan serangkaian doa untuk kebaikan keluarganya dan sang sahabat yang tenagh diuji kembali dengan sakitnya si kecil kesayangan.


"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Pasti akan selalu baik-baik saja. Untuk keluarga kita, juga untuk mereka, Ardi dan Aura putrinya."

__ADS_1


.


.


.


Di rumah sakit, Ardi memandangi wajah sang putri yang akhirnya tertidur setelah banyak kerewelan yang ditunjukkannya sejak sore hingga hari mulai beranjak malam.


Wajah polos itu masih tampak pucat dan lemah tak berdaya di atas pembaringan khusus yang didesain untuk kamar perawatan bayi dan anak-anak.


Bepenampilan rumahan dengan mengenakan celana kain sebatas lutut dan kaus lengan pendek, dokter duda itu tak sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari Aura yang sudah semakin lelap dalam istirahatnya, usai melewati hari yang panjang penuh kejutan.


Di punggung tangan kirinya terpasang jarum infus yang proses pemasnaganya tadi diwarnai tangisan dari Aura yang awalnya terus meronta dan menolak, namun akhirnya luluh dan lebih tenang setelah Alya kembali memangkunya dan terus mendampinginya.


Sementara dirinya sendiri tidak bisa berbuat banyak karena masih belum bisa melawan ketakutannya saat melihat dokter dan perawat mengupayakan pemasangan jarum infus ke dalam pembuluh darahnya.


Sekarang, tangan kecil itu ditopang dengan papan busa khusus guna meluruskan telapak tangan Aura agar aliran cairan infus tetap lancar meskipun tangannya aktif bergerak.


"Di, makanlah dulu. Seharian tadi kamu belum menyentuh makanan apa pun. Aku sudah membeli makan malam untuk kita."


Setelah Aura tertidur tadi, Alya pamit pulang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, usai seharian menemani Aura di rumah sakit.


Ardi sendiri sempat ditemani oleh Yoga sepulang lelaki itu dari kantornya sekaligus menemani sahabat kecilnya untuk mendampingi Aura yang akhirnya harus menjalani transfusi darah setelah kondisinya kembali melemah saat menjalani perawatan sejak siang hari.


Ardi menoleh dan memperhatikan penampilan Alya yang telah berubah dan tidak seperti biasanya. Mengenakan gamis rumahan berwarna gelap dipadu dengan hijab sederhana yang berwarna lebih terang, wanita itu terlihat semakin anggun dan penuh daya pikat.


"Astaghfirullahaladzim ...!!" Ardi mengusap wajahnya dan segera memalingkannya ke arah lain.


Hampir saja dia terhanyut oleh perasaan yang tiba-tiba hadir menyeruak dan menggetarkan hatinya sedemikian rupa, hingga dia melupakan keadaan sekitar, juga putri kecil kesayangannya yang masih terus terlelap.


"Kamu tidak apa-apa, Di?" tanya Alya yang melihat perubahan mendadak di wajah Ardi yang menghindari pandangan khawatirnya pada lelaki itu.


Ardi menggeleng dan tersenyum sekilas ke arah Alya lalu buru-buru berpaling lagi dan memilih untuk menyibukkan diri dengan mengusapi kening Aura yang masih terasa panas walau tak setinggi sebelumnya.


"Di ...." panggil Alya yang membuat Ardi kembali menatap wajah lembut itu.


"Ayo, kita makan dulu. Mumpung Aura masih pulas tidurnya." Alya menunggunya di sofa.

__ADS_1


Mau tak mau lekaki itu melangkah pelan menuju sofa yang berlainan sisi dengan tempat Alya duduk. Diambilnya sekotak makanan yang ada di atas meja tepat di hadapannya, sementara Alya juga mengambil makanan yang ada di depannya.


Tanpa kata lagi, keduanya mulai mengisi perut mereka yang telah terabaikan selama seharian tadi, lantaran mengutamakan diri untuk mendampingi Aura yang mendadak demam dan mimisan lagi, saat mereka tengah berkonsultasi dengan Dokter mengenai hasil pemeriksaan laboratorium yang baru saja diterima.


Ardi baru membuka pembicaraan setelah menghabiskan makanannya dan menutupnya dengan air putih yang tersedia di samping minuman hangat yang juga disiapkan Alya untuknya.


Sekilas dibacanya tulisan yang ditandai dengan spidol hitam dalam gelas kemasan itu.


"Kopi hitam original, gula setengah sendok." Ardi tersenyum membacanya dan mengingat sesuatu di masa lalunya.


"Kamu masih ingat minuman yang selalu aku beli dan aku bawa setiap kali kita mengerjakan tugas kuliah bersama hingga malam di kos-kosanmu dulu, Al."


Untuk sejenak lelaki itu larut dalam kenangan masa lalu bersama wanita yang saat ini tengah duduk dan makan malam bersamanya.


Namun sekejap kemudian, Ardi tersadar kembali dan menghela napas panjang untuk menenangkan perasaannya.


"Al, apa suamimu tidak keberatan jika kamu menghabiskan banyak waktumu untuk menemani Aura? Aku khawatir dia tidak berkenan dan memarahimu, mungkin ...??" tanya Ardi dengan hati-hati agar tidak sampai menyinggung hati wanita anggun tersebut.


Alya menghentikan suapan di mulutnya dan terdiam, enggan untuk menjawab pertanyaan yang tidak diharapkannya. Hanya senyuman kecil disertai gelengan kepala yang akhirnya dia tunjukkan sebagai jawaban.


"Tolong sampaikan ucapan terima kasihku kepadanya, karena telah mengijinkan dirimu meluangkan waktu untuk menemani Aura, bahkan kamu pun rela memberikan darahmu untuk putriku."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2