CINTA NARA

CINTA NARA
2.20. TERPAKSA BERPISAH


__ADS_3

"Bagaimana kondisimu, Ra? Adakah keluhan pasca-kuretase kemarin?" tanya Ardi sambil menggerakkan transduser yang dipegangnya di atas perut bagian bawah Nara.


"Tidak ada, Dok. Semuanya baik-baik saja," jawab Nara dengan singkat.


"Dan kondisi rahimmu pun baik-baik saja. Bersih dan sehat." Ardi menyudahi pemeriksaannya dan meninggalkan Nara untuk merapikan pakaian dibantu oleh Bunga, istrinya.


Walaupun tengah hamil, Bunga masih ingin bekerja sekaligus mendampingi suaminya di klinik. Dia tidak mau hanya berdiam diri di rumah menunggu sang suami pulang bekerja.


Setelah pakaian Nara kembali rapi, mereka keluar dan bergabung dengan para suami yang sudah lebih dulu duduk di sofa.


"Istriku ingin segera hamil lagi." Yoga bercerita pada Ardi tentang keinginan Nara.


"Tidak masalah selama kondisi organ reproduksi kalian berdua sehat."


Nara terlihat senang mendengar jawaban Ardi. Itu berarti dia dan suaminya diijinkan untuk segera melakukan program kehamilan..


"Sebelum pulang kemari, kami berdua sudah melakukan pemeriksaan bersama Dokter Alya dan kami berdua dinyatakan sehat," ucap Nara menjelaskan.


Ardi merasakan getaran kecil di sudut hatinya saat mendengar nama mantan kekasihnya disebutkan oleh Nara.


Dia mencoba bersikap setenang mungkin karena ada istrinya di sana. Ardi tak ingin membuat Bunga berpikiran macam-macam tentang dirinya.


Sementara itu Bunga pun bersikap biasa saja meskipun dia tahu tentang masa lalu suaminya dan Alya.


Dia tidak menaruh curiga pada Ardi karena lelaki itu juga sudah menceritakan perihal pertemuannya dengan Alya saat mendatangi Nara dua bulan yang lalu.


"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Bulan depan kalian bisa memulainya secara alami."


Nara terlihat lebih antusias dibandingkan suaminya. Yoga hanya bisa tersenyum memperhatikan sikap istrinya.


Meskipun masih mengkhawatirkan kondisi psikis istrinya, tapi dia tidak bisa menolak keinginan Nara yang sangat menginginkan kehamilannya.


.


.


.


Sepulangnya Yoga dan Nara dari klinik, Ardi dan Bunga pun segera pulang. Kondisi kandungan sang istri yang sudah memasuki bulan ke tujuh membuatnya sangat berhati-hati menjaga dan memantaunya setiap saat.


"Mas, mau mandi dulu?" tanya Bunga sambil menyiapkan pakaian ganti untuk dirinya dan sang suami.

__ADS_1


"Mandilah dulu, Sayang. Aku akan memeriksa laporan klinik sebentar."


Bunga pun patuh dan segera masuk ke kamar mandi, meninggalkan suaminya yang kemudian membawa laptopnya dan duduk di atas tempat tidur.


Bukannya membuka laporan pekerjaannya, Ardi malah melamunkan seseorang yang bayangannya saat ini melintas memenuhi pikirannya.


"Al, mengapa aku teringat lagi padamu? Padahal sekali pun aku tidak pernah memikirkanmu sebelumnya ...."


Hanya mendengar satu kali nama Alya disebut di hadapannya, kini pikiran Ardi menjadi tertuju kepada sosok wanita yang dulu mengisi hatinya sedemikian dalam dan penuh.


"Andai keputusan sepihak dari orangtuamu dulu tidak terjadi, pasti kita sudah hidup bersama saat ini, Al."


Bukan menyesali apa yang sudah terjadi, tapi Ardi hanya mengikuti kata hatinya saat ini yang tiba-tiba ingin bernostalgia dengan kenangan bahagia tentang kebersamaan mereka dulu.


"Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu, Al? Mengapa sampai sekarang kamu belum mempunyai buah hati? Adakah sesuatu yang terjadi padamu atau pada hubungan kalian?"


Sejak memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik, baik Ardi maupun Alya sengaja memutus celah komunikasi di antara mereka.


Ardi tidak ingin disebut sebagai seorang pengganggu jika masih menjalin komunikasi dengan wanita yang dulu sangat dicintainya itu.


Sama halnya dengan Alya, dia pun menghindari pertemuan dengan lelaki itu agar lebih mudah bagi mereka untuk saling melepaskan dan melupakan.


Dan saat mereka dipertemukan kembali secara singkat hari itu, mereka pun sengaja tidak bertukar nomor ponsel demi menghindari kemungkinan berlanjutnya komunikasi di antara mereka.


"Tapi mengapa sejak mendengar namamu disebut tadi, bahkan sedetik pun aku tidak bisa menghilangkan bayanganmu dari pikiranku ini ...?!"


.


.


.


"Aku tidak kuasa menolak lamaran mereka, Di. Demikian pula Papa dan Mama. Keluarga kami berhutang budi sangat banyak dengan keluarga mereka."


Alya terisak dalam pelukan kekasihnya, yang sebentar lagi harus dia lepaskan demi kepatuhannya pada keputusan kedua orangtuanya.


"Mereka adalah sahabat baik Papa dan Mama, dan merekalah yang selama ini selalu membantu kesulitan ekonomi keluarga kami. Bahkan mereka pula yang telah membiayai kuliahku hingga selesai sekarang ini."


Ardi hanya bisa terdiam sembari memeluk erat tubuh kekasih yang sangat dicintainya. Air mata yang telah menggenang, mulai memburamkan pandangannya.


"Aku sendiri tidak menyangka mereka akan melamarku untuk menjadi menantu di keluarga mereka. Aku pikir selama ini mereka sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri dan selamanya akan seperti itu. Tapi ternyata ...."

__ADS_1


Wanita itu terisak semakin kencang hingga Ardi pun turut meneteskan air matanya.


"Jujur aku tak rela untuk melepaskanmu, Al. Aku tahu kamu pun juga sama. Tapi aku bisa apa? Orangtuamu sudah memutuskan dan sudah menerima lamaran mereka."


Mereka berdua menumpahkan tangis kesedihan yang sama. Tangisan yang penuh kepiluan dan kenestapaan karena cinta mereka harus usai dan kandas begitu saja.


"Sekarang kamu telah menjadi calon menantu keluarga lain. Kamu sudah menjadi calon istri laki-laki lain. Aku harus mundur. Aku harus pergi menjauh, Al. Bukan hanya aku, tapi kita. Kita harus saling melupakan."


Ardi berusaha untuk tetap berpikir jernih dengan akal sehatnya. Dia tidak ingin merusak semuanya dengan pikiran piciknya. Dia harus mengalah, mengalah pada keadaan dan takdir cinta mereka.


"Bisakah aku minta satu hal lagi padamu, Al?" pinta Ardi saat mereka saling merenggangkan pelukan dan saling menatap sendu dengan pandangan sayu.


"Katakan saja, Di. Sebelum kita berpisah, sampaikan saja semuanya." Suara Alya bergetar menahan tangisan yang masih menyesakkan dadanya.


"Setelah perpisahan ini, berjanjilah untuk selalu bahagia. Berbahagialah demi diriku karena hanya itu yang aku harapkan, yaitu kebahagiaan dari wanita yang sangat aku cintai. Meskipun kebahagiaan itu bukan lagi bersamaku."


Air mata Alya tumpah kian deras, membasahi seluruh wajahnya yang telah memerah, penuh kesedihan dan kepasrahan."


Dilihatnya wajah lelaki yang teramat sangat dicintainya tersebut. Wajah itu pun dibasahi oleh tangisan, sama seperti dirinya.


"Jika itu yang kamu inginkan, aku akan melakukannya, Di. Tapi kamu juga harus berjanji hal yang sama padaku. Berbahagialah selalu, dengan siapapun nantinya kamu akan hidup bersama."


Mereka berdua akhirnya saling berjanji dan saling mengiyakan untuk hidup bahagia meskipun tak lagi saling memiliki.


Mereka akan berbahagia dengan pasangan mereka masing-masing, dengan seseorang yang ditakdirkan untuk hìdup bersama mereka, menggantikan keberadaan mereka satu sama lain yang semula telah saling memenuhi ruang hati keduanya.


Perpisahan yang tidak mereka inginkan itu akhirnya nyata terjadi. Dan sejak saat itu, Ardi dan Alya saling menjauh dan menjalani kehidupan serta kebahagiaan mereka masing-masing.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2