
Sesampainya di bandara kota Bengkulu, bandara Fatmawati. Ibu dan Nara turun dari pesawat bersama para penumpang yang lain. Mereka menjejaki kembali kota Bengkulu, kota kecil penuh cerita.
Pagi ini pukul 10, pagi yang indah. Cakrawala membiru terang dengan awan putih bergerombol tersembul di baliknya. Sinar matahari pagi yang hangat. Sehangat hati Nara dan Ardi untuk memulai cerita diantara mereka.
Perjalanan udara kali ini begitu berkesan bagi Nara dan Ardi. Perjalanan udara yang memberi ruang dan gerak buat mereka untuk kembali mengulang kisah masa SMP yang belum terwujud.
jual
Cinta tidak salah, Ia akan datang pada waktu yang tepat. Mungkin inilah saatnya, cinta harus terungkap, harus terucap agar hati tak menduga.
Nara dan Ardi kemudian saling bertukar nomor ponsel saat menunggu pengambilan tas di bagasi. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka , tas dan barang - barang pun telah berpindah ke tangan mereka.
"Nara ... kamu dijemput gak !! Kalau belum naiklah mobil jemputan aku, " tawar Ardi mencuri kesempatan.
" Itu jemputanku uda datang. Aku dan ibu buru - buru ya, " balas Nara tergesa - gesa sambil melambaikan tangan perpisahan pada Ardi.
"Iya, hati - hati. Ntar jawab ya pesan What's Up aku ya , " pinta Ardi sambil membalas lambaian tangan Nara dan Ibu.
Bandara Fatmawati ini tidak seluas bandara Sukarno Hatta. Meskipun kecil fasilitas di bandara ini cukup memadai dan tidak kalah dengan fasilitas bandara kebanyakan. Karena tempatnya yang kecil, maka mereka saling mengenal penumpangnya masing - masing.
Di depan pintu gerbang kedatangan, tampak Arif dengan setia menunggu Nara dan ibu. Arif tak lupa mencium punggung tangan ibu tanda hormatnya pada ibu kekasihnya.
Ardi melihat sosok yang menjemput Nara. Dalam hatinya ia sibuk menerka - nerka lelaki tinggi besar itu. Siapakah gerangan dia dan apa hubungannya dengan Nara. " Ah, peduli amat. Toh hubungan mereka mungkin hanya sebatas pacaran dan tak lebih dari itu. Sebelum ada pernikahan, aku boleh saja merebut Nara dari tangannya, " batin Ardi.
Nara dan Ibu akhirnya hilang dari pandangan Ardi. Tinggal Ardi dan mungkin beberapa orang yang lain di bandara yang resah menunggu jemputan yang tak kunjung datang.
Nara dan ibu naik mobil jemputan yang. dibawa Arif. Arif tampak bahagia menyetir mobil duduk di samping Nara. Dia berharap kali ini Nara tak akan pergi meninggalkannya lagi.
"Bagaimana kabar ibu tirimu Nara ? " sapa awal Arif membuka pertanyaan.
"Baik, mama sekarang sudah pulang dari rumah sakit. Kok kamu tahu beritanya ," tanya Nara .
"Haha ... itu berita viral banget di kantor. Siapa lagi jendral bintang empat kalau bukan papamu. Semua orang pada penasaran pada sosok percobaan bunuh diri istri sang jendral, " terang Arif.
Ibu hanya menyimak saja pembicaraan keduanya. Tampak dari gelagatnya ibu yakin , ada sesuatu yang berubah pada diri Nara. Ia tak seantusias seperti biasa menyambut jemputan dari Arif. Ada seseorang yang membuat hatinya berubah. Seseorang yang ibu baru mengenalnya saat berada dalam pesawat.
Ibu ragu dengan Nara. Ia pasti akan berpaling pada sosok teman SMP nya itu. Padahal ibu sangat menyetujui hubungannya dengan Arif. Arif yang ia kenal sejak kecil. Arif yang baik dan ramah, disayangi ibu - ibu komplek tempat mereka tinggal
__ADS_1
Nara menanggapi obrolannya dengan Arif datar - datar saja. Mungkin hal ini dapat dirasakan oleh Arif juga. Perasaan Nara sedikit berubah walau Nara memaksakan diri agar tak terjadi apa - apa dengan hatinya.
Sesampainya di rumah, kurang lebih setengah dua belas siang. Nara dan ibu sangat berterima kasih pada Arif.
Arif pamit pulang pada ibu dan Nara. Sebenarnya Arif ingin lebih lama berada di rumah Nara. Namun tampaknya Nara dan ibu begitu lelah.
"Nara ... ntar malam aku ke rumahmu ya. Malam mingguan kita ya !! " ucap Arif setelah di antar Nara sampai di depan pagar rumah Nara.
Nara hanya mengangguk saja tanda ia setuju apa yang di katakan Arif. Ibu hanya memandang Arif dari kejauhan, dari balik jendela. Ibu sangat iba melihatnya. "Alangkah bodohnya Nara meninggalkan Arif demi seseorang di masa lalu. Semoga terbuka mata hati Nara untuk menjaga cinta yang telah ada. "
Jauh di lubuk hati Nara. Sebenarnya ia tidak benar - benar menyukai Arif. Ia hanya butuh Arif agar Angga cemburu. " Begitu jahatnya aku padamu kak Arif, batin Nara.
""""'''
Malam minggu tiba, tepat jam tujuh malam di kediaman rumah Nara. Seseorang yang ditunggu Nara telah menelponnya. Nomor yang baru tadi pagi di simpannya. Dan orang itu tak lain adalah Ardi.
" Assalamualaikum Nara ... , kamu lagi ngapain?
" Waalaikum salam. Lagi ngapain ya, kayaknya aku lagi menunggu teleponmu. Hehe .... "
"Kamu emang paling bisa aja sedari dulu, " kelakar Ardi.
"Aku kan ... lagi telepon kamu Nara , " canda Ardi. Lalu ia berkata lagi ," Kamu emang gak ada yang orang yang datang malam minggu begini Nara !! kalau aku tahu, aku pasti malam ini udah nyamperin kamu di rumah.
Nara tidak segera menjawab, ia hanya terkekeh saja mendengar pertanyaan Ardi. Antara mau menjawab dan tidak. Tampaknya Ardi sudah tahu jawabannya. Pastilah karena ada lelaki bertubuh besar itu pikirnya dalam hati. Tak mengapa aku tak boleh patah semangat. Cinta harus di perjuangkan. Itu yang sekarang harus menjadi prioritas hidupnya.
" Ya uda deh kalau gak mau jawab. Besok pagi aku ke rumahmu ya !! Kita jalan pagi ke pantai, " ajak Ardi.
'Baiklah, besok pagi jam setengah tujuh ya, " balas Nara ." Lalu Nara dan Ardi mematikan sambungan teleponnya.
Selang beberapa menit kemudian. Seseorang mengetuk pintu rumah Nara. Ternyata Arif yang datang. Ia tampak tampan dengan baju kemeja berwarna putih dan celana jeans biru.
"Ayo masuk ... , " ajak Nara.
Arif dan Nara lalu duduk di ruang tamu. Kemudian tiba - tiba ibu datang.
"Ibu temani kak Arif dulu ya, " pinta Nara.
__ADS_1
Ibu lalu mengangguk dan duduk ngobrol bersama Arif. Ia tidak menaruh curiga apa yang anaknya lakukan. Lalu Nara meninggalkan ibu yang asyik berbicara dengan Arif. Kesempatan ini diambil oleh Nara untuk membuatkan minuman dan membawa satu toples kue kering untuk dibawakan pada Arif.
Setelah menaruh minuman dan kue kering di hadapan Arif. Tiba - tiba Nara memegang perutnya sambil meringis dan berkata, " Hadeh perutku melilit nih. Kak Arif di temani ibu aja ya. "
" Oh iya, gak apa - apa. Kamu udah minum obat belum, " tanya Arif cemas.
" Belum sih ...., hadeh aku tinggal ya. Maaf ya,. aku mau pup nih, " ucap Nara sambil lari - lari kecil menuju kamar mandi.
Hampir setengah jam ibu berbicara pada Arif. Tampaknya Arif tidak bisa berlama - lama. Ia turut prihatin dengan Nara yang tiba - tiba sakit perut. Arif lalu berpamitan dan langsung pulang ke rumahnya.
Ibu tak habis pikir. Bukannya Nara tadi tidak ada masalah dengan perutnya. Ibu kemudian menghampiri Nara yang ternyata sedang tudur - tiduran di kamar.
" Astagfirullah, ternyata kamu di sini, " ucap ibu sambil menggelengkan kepalanya.
" Aku baru minum obat bu, kayaknya uda mendingan nih, " jawab Nara berbohong.
" Kamu jangan bohongi ibu. Kasihan Arif tuh, sekarang ia minta pulang akhirnya. "
Nara menarik nafas lega. Akhirnya Arif pulang juga. Tinggal ibu yang tak henti mengomeli Nara karena telah membohongi Arif.
Nara hanya cengengesan saja atas omelan yang ia terima dari ibu. Lalu ia meninggalkan Nara seorang diri di kamar.
Nara tengah berbahagia menunggu esok hari untuk bertemu kembali dengan Ardi. Namun tidak dengan Arif, ia sedikit kecewa malam minggunya berantakan gara - gara Nara sakit perut.
""”''""""""''''
Minggu pagi, pukul setengah tujuh. Tampak
Nara sudah siap - siap untuk olahraga pagi harinya bersama Ardi. Sesuai yang telah di janjikan, akhirnya Ardi pun datang juga.
Nara dan Ardi pamit pergi pada ibu dan ayah yang sedari tadi menonton acara TV di ruang tamu.
Dengan naik motornya Ardi, Nara diajak ke pantai panjang. Butuh waktu sepuluh menit untuk mereka tiba disana.
Udara pagi yang sejuk di kawasan pantai panjang. Apalagi hari ini adalah hari minggu. Keindahan dan keelokan panorama pantai panjang mengundang para pelancong untuk merasakan sensasi luar biasa berada di sini.
Ardi lalu memarkirkan motornya di pinggir jalan. Tepat dua ratus meter dari bibir pantai.
__ADS_1
Lalu ia dan Nara berjalan menuju pantai. Tanpa disadari keduanya ternyata mereka bergandengan tangan menghampiri ombak yang akan datang.
Nara begitu bahagia bersama Ardi. Begitu juga yang dirasakan oleh Ardi. Benih - benih cinta itu mulai tumbuh di hati mereka berdua. Cinta yang dulu tak terungkap, dan kini ada dihadapannya. Ardi berjanji dalam hatinya, tak kan pernah melepaskannya lagi. Karena cinta telah menambatkan hatinya pada sosok Nara ....