CINTA NARA

CINTA NARA
Cerita Ibu Ayana


__ADS_3

Dua bulan sudah Dina menjalankan perawatan di sebuah rumah sakit pemerintah milik negara Singapura ini, Nasional University Hospital. Dan ... selama menjalani perawatan tidak tampak perubahan yang berarti.


Untuk pengobatan lanjut , dokter yang menangani Dina dirawat menganjurkan untuk dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang demi kesembuhan Dina.


Mencari pendonor tidaklah gampang. Biasanya donor di dapat dari anggota keluarga sendiri dan tak menutupi kemungkinan donor bisa juga dari orang lain. Tapi biasanya donor yang cocok adalah dari saudara kandung sendiri.


Kecocokan pendonor dengan si penerima berdasarkan kecocokan DNA mereka satu sama lain. Orang yang memiliki DNA yang sama persis biasanya hanyalah saudara kandung dan apabila tidak memilikinya bisa di dapat dari kedua orang tuanya.


Awalnya papa Dina memaksa menjadi pendonor sumsum tulang belakang buat Dina. Syarat mutlak usia pendonor adalah 18 - 44 tahun. Sedangkan papa Dina berusia 55 tahun. Karena papa Dina memaksa akhirnya di lakukan juga pemeriksaannya. Ternyata papa Dina hanya memenuhi 4 parameter dengan Dina. Syarat mutlaknya harus memenuhi 8 parameter kecocokan dengan si penerima.


Pupus sudah harapan papa Dina. Mau tak mau ia terpaksa menghubungi mantan istrinya. Sekelumit kisah kasihnya dengan sang mantan harus tersibak juga. Padahal ia sudah bertekad bulat untuk tak akan meminta bantuan dari mantan istrinya itu.


Nara selalu berada di samping Dina. Ia menjalani beberapa pemeriksaan darah untuk menjadi calon pendonor. Nara juga melakukan tes DNA.


Selama menunggu hasil pemeriksaan. Ibu Ayana dan Nara selalu menjaga Dina. Pak Donnie di buat cemburu melihat keakraban mereka bertiga. Alangkah bahagianya bisa bersama - sama sebagai satu keluarga yang utuh. Tapi hal itu tak mungkin terjadi. Pak Donnie dan ibu Ayana telah memiliki pasangan masing - masing.


Pak Donnie meminta ijin pada semuanya. Ia ingin pulang sebentar ke Jakarta. Ada banyak pekerjaan yang sempat tertunda. Dan ia harus menyelesaikannya.


Keesokan harinya, sehari setelah kepulangan Pak Donnie ke Jakarta. Pada pagi harinya. Dina terlihat amat segar dan bersemangat. Ada banyak hal yang ingin di tanyakan pada ibunya dan Nara.


Ibu dan Nara juga terlihat amat bahagia. Senyum bahagia terpancar di wajah mereka berdua.


"Ibu, ceritakan pada kami berdua. Bagaimana pertemuan ibu dan papa, " tanya Dina sambil bersandar di tempat tidurnya.


Ibu amat terkejut mendengar permintaan anaknya. Ia tampak belum siap menceritakan pada kedua anaknya. Terlihat ibu tampak gugup.


Tak ingin mengecewakan anaknya. Ibu yang tadinya duduk di sofa mulai mendekati Dina yang sedang duduk bersandar di tempat tidur. Nara pun menyusul duduk di atas tempat tidur Dina. Ia langsung mencari posisi berhadapan dengan Dina. Kedua anak gadis ini amat bersemangat ingin mendengar penuturan dari ibu mereka.


ibu kemudian duduk di samping Dina. Ia tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya.


"Baiklah, ibu akan mulai bercerita. Usia ibu di kala itu 24 tahun. Seusia Nara sekarang. Ibu tinggal di Sukabumi. Waktu itu papa kalian sedang mengikuti pendidikan Akademi Angkatan Kepolisian (AAK). Ibu mengenalnya saat ia pertama kali menjejaki pendidikan di sana, " ungkap Ibu.

__ADS_1


"Terus ... ketemu papanya lagi dimana? " tanya Nara.


"Ayahnya ibu, maksudnya kakek kalian ... adalah salah seorang pengajar di AAK tersebut. Rumah kami juga tak jauh dari tempat papamu menempuh pendidikan perwira polisi itu, " ungkap ibu.


"Terus ... bagaimana ketemunya ibu, " tanya Dina penasaran.


"Ibu bertemu saat lagi di kampus Akpol. Kakek kalian meminta ibu membawa laptopnya yang ketinggalan di rumah. Saat


itu ibu berpapasan dengan papa kalian. Ia yang mengajak ibu berkenalan duluan, " ungkap ibu dengan berbinar - binar bahagia saat mengenang masa lalunya.


"Ibu ... kok aku gak pernah ketemu dengan kakek yang di Sukabumi, " tanya Nara sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ceritanya belum selesai Nara ! kamu udah memotong pembicaraan, " jawab ibu sambil tersenyum memandang Nara.


"Ibu dan papamu pacarannya diam - diam. Perbedaan akidah di antara kami yang membuat kami menjalin hubungan di belakang kakek kalian. Kakek kalian berdua adalah seorang katolik yang taat. Ia tak ingin anak - anaknya berpacaran dengan orang yang tak seakidah, " ucap ibu dengan pandangan sedih menerawang ke depan.


Ibu kemudian tampak meneteskan air mata. Sepertinya ia tak sanggup lagi bercerita.


Ibu kemudian menghela nafas panjang. Kemudian ia berkata, "Ibu harus menceritakannya sekarang. Kapan lagi kalau tidak sekarang."


Dina cuma diam saja. Ia sepertinya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya. Kesedihan seorang ibu. Terpisah dari keluarga dan anaknya.


"Ibu, Dina tak memaksa ibu untuk melanjutkan ceritanya, " ucapnya sambil menghapus air mata yang jatuh di wajah ibunya.


"Gak apa - apa nak. Ibu akan melanjutkan ceritanya , " ucap ibu sambil beranjak mengambil segelas air putih di meja lantas meminumnya. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya semula. Dan memulai kembali bercerita tentang perjalanan cintanya yang penuh liku.


"Papa kalian dan ibu saling mencintai. Sulit untuk memisahkan kami. Menginjak tahun ketiga papamu hampir menyelesaikan pendidikan kepolisian. Terungkap rahasia hubungan kami, " papar ibu dengan air mata berkaca - kaca.


Dina dan Nara tak kuasa mendengar cerita ibu. Mereka berdua hanyut dalam kesedihan ibu. Air mata pun tumpah di wajah mereka berdua.


Ibu mulai bercerita kembali. Dina dan Nara pun mendengar dengan seksama.

__ADS_1


"Namanya juga jodoh ... , jodoh tak bakalan lari kemana. Ia malah mendekat. Dan ... atas nama cinta yang agung, walau berdiri diatas perbedaan dan pertentangan keluarga. Setelah papa kalian menyelesaikan pendididkan. Kami menikah juga. Menikah di Yogyakarta, tempat keluarga papa kalian."


Ibu menghela nafas terus ia melanjutkan kembali ceritanya.


"Sebenarnya keluarga papamu juga tak menyetujui hubungan kami. Menurut mereka papamu harus menyelesaikan ikatan dinas terlebih dahulu. Selesai pendidikan polisi seharusnya papamu belum boleh menikah dulu. Tapi kami nekat melakukan pernikahan. Makanya papa dan ibu tidak melakukan pernikahan kantor, " jelas ibu.


Ibu kemudian berkata kembali, "Ibu untuk menikah dengan papamu harus merubah keyakinan terlebih dahulu. Ibu dahulunya beragama katolik. Mengikuti agama kedua orang tua ibu yang terlahir sebagai seorang katolik sejak lahir. "


Dina dan Nara amat terkejut mendengar pengakuan ibu yang ternyata seorang mualaf. Mereka takjub dengan keberanian ibu untuk mengambil keputusan yang sangat besar di usianya yang masih terbilang muda.


"Pernikahan kamipun terjadi. Keluarga papamu akhirnya merestui juga pernikahan kami. Menikah tanpa dihadiri oleh kedua orang tua ibu. Mereka membuang ibu dari keluarga. Tak ingin mengakui karena ibu telah berpindah keyakinan, " kenang ibu yang larut dalam kesedihan.


"Setelah menikah papamu bertugas di Bengkulu. Awal pernikahan kami terasa indah. Setahun pernikahan kamu lahir Dina. Bertambah bahagia kehidupan kami. Menginjak usiamu dua tahun. Papa dan ibu mau melaporkan pernikahan kantor kami. Ta- pi kebahagian kami terenggut. Ibu dan supir pribadi ibu di jebak oleh seseorang. Papamu marah besar pada ibu. Papa tak mau mempercayai ibu. Perceraian pun terjadi, " ucap ibu dengan raut wajah sedih.


"Jadi ibu ... aku anak siapa, " tanya Nara bingung.


"Kamu anak papamu nak. Saat terjadi perceraian ternyata ibu hamil. Ibu tak menyadarinya. Tahunya saat sudah menginjak hamil empat bulan, " jawab ibu.


"Ibu ... , jadi ibu tak pernah menghianati papa kan !! " tanya Dina.


"Percayalah nak, ibu tak pernah berpikir untuk menghianati papamu. Mungkin ini jalan yang telah di gariskan pada ibu dan papamu, " jelas ibu.


Ibu kemudian melanjutkan kembali ceritanya.


"Supir pribadi ibu adalah ayahmu Nara. Kami menikah karena ayahmu kasihan pada ibu. Saat hamil empat bulan ayahmu menikahi ibu. Kamu harus tahu Nara. Ibu tidak mungkin pulang ke Sukabumi. Ibu sudah terbuang dari keluarga. Ibu terlunta di Bengkulu. Tak tahu harus kemana. Ayahmu orang baik. Kami berdua di jebak amat keji oleh orang tersebut, " ungkap ibu dengan geram.


"Jadi ... saat ibu hamil empat bulan, ibu menikah dengan ayah !! ' celetuk Nara disela - sela cerita ibu.


" Iya, menikah siri. Ini terpaksa ibu lakukan. Ibu tak punya sanak saudara di kota ini. Beruntunglah orang tua ayahmu mau menerima menantunya yang hamil ditinggal suaminya. Setelah dua bulan kelahiranmu, ibu menikah kembali secara resmi dengan ayahmu, " tutur ibu.


Dina dan Nara terhanyut kisah cinta kedua orang tuanya. Mereka berdua menitikan air mata. Air mata kesedihan. Sekelumit cerita pelik dan sedih. Cerita kelam kisah kasih pak Donnie dan ibu Ayana. Cerita cinta dengan perbedaan iman terbentang diantara mereka. Bersatu dan akhirnya berpisah ....

__ADS_1


__ADS_2