
"Maaf, Pak. Tim kami tidak mendeteksi keberadaannya di sini sekali pun. Dia sengaja langsung menuju ke sana agar kami tidak mengikutinya."
Pesan yang baru saja diterimanya dari Beno membuat wajah Yoga berubah tegang seketika. Dia tidak menyangka Marcell bergerak lebih cepat dari perkiraannya.
Bahkan orang-orang yang dia tugaskan untuk memantau pergerakannya di Bali pun terlambat datang. Lelaki itu sudah pergi meninggalkan tanah kelahirannya, tepat di hari kebebasannya.
"Itu berarti, keberadaannya di kafe sore itu bukanlah sebuah kebetulan. Bisa jadi dia sudah mengetahui tentang aku, Nara dan pernikahan kami."
Yoga semakin gusar. Hatinya tidak lagi tenang dan pikirannya pun dipenuhi rasa was-was, takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarga kecilnya.
"Mas, kok melamun? Ada apa? Ada masalah di kantor?"
Suara Nara mengagetkan Yoga yang masih menggenggam ponselnya usai membaca pesan dari sang asisten. Segera ditutupnya laman pesan yang tadi masih terbuka lalu mengunci layarnya.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya pesan dari Beno tentang proyek yang ada di sana."
Yoga meraih tangan Nara untuk duduk bersamanya. Tanpa banyak kata, dipeluknya sang istri dan dicium kepalanya diiringi banyak doa untuk keselamatan mereka sekeluarga.
"Maafkan aku belum bisa memberitahumu sekarang. Aku akan berusaha menyelesaikannya sendiri tanpa kamu harus tahu dan merasa ketakutan, Sayang."
Nara merenggangkan pelukannya dan memperhatikan wajah suaminya yang terlihat kusut dan ditumbuhi bulu halus yang belum dibersihkannya selama beberapa hari ini.
"Maaf, aku masih belum bisa ikut ke kantor. Kamu pasti kewalahan dengan tugasku yang terbengkalai, Mas."
Raga masih rewel karena demamnya belum turun normal. Yoga sendirilah yang memang melarang Nara untuk pergi ke kantor. Dia ingin istrinya fokus menjaga dan menemani putra mereka dulu sampai bocah tampan itu sehat kembali.
"Raga yang paling utama, Sayang. Ingat itu. Pram masih bisa menyelesaikan semua pekerjaan di kantor. Semuanya berjalan dengan lancar."
"Mas ...." Nara ingin mengatakan sesuatu tapi takut akan menambah pikiran suaminya.
"Ada apa, humm ?" Dagu wanita itu terangkat oleh gerakan tangan Yoga sehingga pandangan mereka kembali beradu.
Sorot mata mereka sama-sama menyiratkan kerisauan, entah apakah yang mereka pikirkan adalah hal sama atau bukan.
"Aku mengkhawatirkan dirimu."
Nara masih terus mengingat pembicaraan mereka tentang Marcell dan setelah itu hatinya tidak bisa tenang. Dia selalu memikirkan keselamatan suaminya.
"Jangan terlalu memikirkan masalah itu. Berdoa saja yang terbaik dan semoga dia tidak akan pernah mengganggu kehidupan kita."
Melihat kekhawatiran yang dirasakan Nara, Yoga semakin membulatkan keputusannya untuk menyembunyikan kelanjutan kabar tentang Marcell dari istrinya.
__ADS_1
Dia juga berharap semoga lelaki itu tidak akan menghubungi Nara atau mencari celah untuk bisa menemuinya.
Diam-diam dia berusaha untuk melindungi istri dan juga anaknya dengan penjagaan dan keamanan yang lebih ketat untuk keluarganya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Pikirkan saja aku dan Raga, itulah tugas utama kamu, Sayang."
Yoga tersenyum dan membelai wajah cantik Nara hingga semburat kemerahan mulai menghiasi kedua pipinya, seiring senyuman yang terbit di bibir tipis yang segera disambut oleh lelaki itu dengan kecupan pembuka yang singkat, dilanjutkan dengan ciuman hangat nan mesra yang membuat mereka sejenak melupakan semua hal yang memenatkan pikiran.
"Aku mencintaimu, Bidadariku. Hanya kamu!"
.
.
.
Tok ... tokk ... tokkk ....!!!
Pintu dibuka setelah mendapatkan ijin dari Yoga. Pram masuk dengan membawa map coklat yang masih terbungkus plastik sebuah ekspedisi pengiriman nasional.
"Maaf, Pak. Ada kiriman paket untuk Bapak."
Pram meletakkan paket yang masih tersegel itu di atas meja kerja sang atasan.
"Sekedar mengingatkan, nanti jam sebelas ada pertemuan dengan beberapa media lokal di restoran seberang kampus, di samping lokasi proyek kita, Pak."
Yoga mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari map yang sudah dikeluarkan dari plastik pembungkusnya.
Setelah Pram keluar, Yoga membuka map coklat di tangannya dan melihat isinya.
Beberapa kali dicek, dia hanya menemukan selembar kertas putih tanpa tulisan atau gambar apa pun. Kertas kosong tanpa isi.
"Siapa pengirimnya?" Yoga membolak-balik map yang menyampuli kertas kosong di tangannya.
Tidak ada nama pengirimnya. Begitupun di lembaran resi yang menempel di atas plastik pembungkusnya, hanya tercantum inisial huruf disertai dengan alamat yang hanya tertulis nama kotanya saja.
Yoga meletakkan kembali kertas kosong dan map coklat tersebut dan mengabaikannya. Masih ada beberapa laporan yang harus dia periksa sebelum berangkat memenuhi undangan wawancara dari sekumpulan media ternama setempat.
Setengah jam sebelum tiba waktu pertemuan, Yoga turun ke bawah dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tepat di samping lobi gedung.
Alangkah terkejutnya lelaki itu, mendapati dua buah ban belakang mobilnya kempes tak bersisa. Namun karena diburu waktu, dia tidak ingin mempermasalahkannya dan memilih untuk segera memesan taksi daring.
__ADS_1
Datang tepat waktu sesuai undangan, Yoga disambut oleh para awak media yang hendak melakukan wawancara dengannya seputar perusahaan baru yang dikembangkannya jauh dari perusaahaan induknya yang ternama.
Dua jam berlalu, Yoga telah berjalan keluar dari restoran menuju ke arah mobil yang dikemudikan Pak Budi, yang sudah menunggu karena dimintanya untuk datang menjemput.
Saat melintasi halaman parkir, sebuah mobil lain tiba-tiba melaju cepat mendekat ke arah Yoga yang belum menyadari adanya bahaya yang mengintainya dan akan segera menimpanya.
"Awaasss, Pak Yoga ...!!!"
Sepersekian detik sebelum mobil menabraknya, Yoga merasakan tubuhnya ditarik oleh seseorang hingga mereka berdua jatuh terjerembab.
Seolah menyadari adanya sebuah kesengajaan dari kejadian barusan, Yoga yang masih terjatuh segera memperhatikan mobil yang nyaris menabraknya. Mobil itu langsung berbelok menuju pintu keluar dan menghilang di tengah keramaian lalu lintas jalan raya.
Yoga berusaha berdiri bersamaan dengan sang penolongnya yang tak lain adalah Alam yang juga akan memenuhi undangan wawancara setelah Yoga.
Pak Budi segera keluar dari mobil dan menghampiri Yoga dengan tergesa. Dibantunya Yoga untuk berdiri sempurna dan memerikaa keadaan fisik lelaki itu.
"Terima kasih, Pak Alam sudah menyelamatkan saya tepat waktu," ucap Yoga tulus pada pengusaha muda sebayanya tersebut.
"Sama-sama, Pak Yoga. Kebetulan saat saya baru saja memarkirkan mobil dan keluar, saya melihat laju mobil itu ke arah Anda."
Mereka berbincang sejenak lalu berpisah dengan masing-masing tujuannya. Alam masuk ke dalam restoran sedangkan Yoga dibantu oleh Pak Budi langsung masuk ke mobil untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Dalam perjalanan pulang Yoga termenung. Dia mulai mengingat satu per satu kejadian yang dialaminya hari ini.
Mulai dari paket yang berisi kertas kosong tanpa nama, ban mobilnya yang mendadak kempes, juga dirinya yang hampir saja tertabrak mobil baru saja.
"Sepertinya dia mulai bermain-main denganku ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.