
Beberapa saat sebelum Ardi sampai di rumah Yoga usai mengantarkan Alya pulang, Aura terbangun dan menangis mencari keberadaan dua orang yang paling dikenalinya saat ini, yaitu Ardi sang ayah dan Alya yang selalu dipanggilnya Bubu, sama seperti Bunga dulu.
"Aura sayang anak pintar, tunggu sebentar, ya. Ayah pasti akan segera pulang dan tidur bersama Aura lagi." Nara terus menenangkan bayi kecil nan cantik itu hingga akhirnya tangisannya mulai mereda setelah sadar sepenuhnya dan mulai mengenali Nara, Yoga dan Raga yang ada di sekelilingnya.
Kebetulan Gana sudah terlelap di kamar atas sehingga Nara bisa menitipakannya sebentar pada Mbak Indah supaya tetap ada yang menjaganya.
"Adek Aya ... ini minum cucunya. Maga ... cagain di cini."
Raga dengan cekatan mengambil botol susu Aura yang telah terisi penuh di atas meja, lalu menyerahkan pada Ibunya yang memangku Aura di tepi tempat tidur.
Nara menerima lalu memberikannya pada Aura yang langsung menikmati minumannya dengan sisa isakan yang sesekali masih terlihat mengguncang bahu mungilnya.
Begitu melihat Aura terdiam dengan botol susu di mulutnya, Raga mendekat lalu mencium kening dan pipi bayi cantik bermata indah tersebut.
"Maga cayang Aya ... no angis. Ada Ayah ... ada Ibu."
Yoga tersenyum lalu mengusapi kepala putranya yang berdiri di depannya. Putra sulungnya itu memang sangat penyayang, menuruni sifat Ibunya yang lembut dan selalu perhatian dengan siapa pun.
Saat susu di dalam botol sudah habis setengahnya, Ardi masuk ke dalam kamar dan melihat putri kecilnya di dalam pangkuan Nara.
"Maaf aku terlalu lama pergi. Apakah dia rewel?" tanyanya sambil menyerahkan kunci mobil kepada Yoga.
"Tidak. Hanya saat terbangun saja dia merengek mencarimu dan Alya. Tapi kemudian kembali tenang setelah meminum susunya," jawab Yoga yang kemudian menggendong Raga yang sudah menguap beberapa kali.
Ardi menatap putrinya sebentar lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dulu sebelum mengambil alih Aura dari dekapan Nara.
"Terima kasih, Ra. Maaf jika kami berdua terus merepotkan kalian selama di sini."
Nara berdiri di samping Yoga yang menyambut dan mendekap pinggangnya dengan tangan kanan lalu mencium kepalanya dengan sayang. Sementara tangan kirinya terus memeluk dan menahan beban tubuh Raga dalam gendongannya.
__ADS_1
"Tidak masalah, Dok. Aura sudah seperti putri kami sendiri. Dia bayi yang manis dan sama sekali tidak merepotkan."
Nara teringat ucapan Bunga yang menginginkan putri kecilnya bisa selalu dekat dengan keluarga mereka. Lagipula sejak dulu pun, keluarganya memang sudah menyayangi Aura dan menganggap keluarga Ardi sebagai bagian dari keluarga besar.
Setelah dirasa Aura tenang dan nyaman bersama Ayahnya, Yoga dan Nara pamit untuk meninggalkan kamar tamu, karena Raga juga sudah mulai memejamkan mata dan merebahkan kepala di bahu kokoh Ayahnya.
Setelah keluarga bahagia itu keluar dan menutup pintu kamar dari luar, Ardi melepaskan botol susu yang sudah kosong dari mulut putri kesayangannya. Kemudian dengan sangat hati-hati dia membaringkan di atas kasur bayi dan menyelimutinya dengan penuh perhatian. Tak lupa diiletakkannya boneka kelinci merah muda pemberian Alya di samping Aura.
"Maafkan Ayah, Sayang. Ayah harus menemui Bubumu dulu. Kamu juga ingin terus bersama dia, bukan? Humm ...?" Ardi berbicara lirih pada bayi cantik yang sudah kembali terlelap tersebut lalu mencium kedua pipi bulat Aura.
"Semoga dia bersedia menjadi bagian dari keluarga kita. Semoga dia bersedia menjadi Ibu yang sebenarnya untukmu, Nak. Kita terus berdoa ya, Sayang." Ardi tersenyum lalu mencium kening sang putri, kemudian turut merebahkan tubuhnya di sebelah Aura.
Sejenak dia mengingat kebersamaannya dengan Alya malam ini. Malam yang terasa berbeda, setelah dirinya mengetahui semua hal tentang Alya dan berbicara berdua dengan hati yang sama-sama terbuka tanpa saling menutupi perasaan di dalam sanubari.
Perjalanan mereka baru saja dimulai. Mungkin masih jauh untuk memikirkan keduanya bersatu kembali seperti dulu. Lelaki itu sadar, tugasnya kali ini jauh lebih berat dibandingkan waktu yang lalu.
Kali ini dia tengah mencoba mengenggam sekeping hati yang rapuh, yang sebelumnya pernah terluka sedemikian rupa sehingga sang pemiliknya bahkan tak ingin berkawan lagi dengan perasaan cinta seperti saat bersamanya dulu.
Sebelum memejamkan matanya yang mulai terasa berat, Ardi segera mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja di samping tempat tidur.
Dibukanya menu pesan di dalamnya lalu mencari sebuah nama yang sudah tersimpan di dalam daftar kontaknya. Alya Annisa.
Tersenyum membaca nama yang tertera, lelaki itu segera mengirimkan sebuah pesan setelah mengambil foto Aura yang sudah terlelap bersama boneka kelinci di sampingnya.
Selamat tidur, Alya. Disertakannya foto yang baru saja diambilnya, karena sebelum dia pulang tadi mereka pun sempat membicarakan tentang Aura.
Ardi tersenyum saat pesannya terkirim dan telah dibuka oleh penerimanya. Dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Aura yang semakin pulas.
Tidak berharap mendapatkan balasan dari Alya, Ardi segera memejamkan matanya yang mulai terasa berat. Dia masih ingat kebiasaan Alya, jika wanita anggun itu jarang membalas pesan yang tidak penting dan tanpa keperluan seperti pesan yang baru saja dikirimnya.
__ADS_1
Selamat malam, Alya. Semoga istirahatmu malam ini tenang dan penuh kenyamanan. Sampai bertemu lagi esok pagi.
Membentangkan selimut untuk dirinya sendiri, Ardi mulai merasakan kehangatan sambil satu tangannya memeluk Aura yang masih telentang pada posisinya semula.
Baru saja lelap menghampiri, sepasang netra yang telah memicing itu kembali terbuka sebab pendengarannya menangkap suara getaran yang berasal dari atas meja. Kepalanya menjadi sedikit pusing lantaran terbangun tiba-tiba di saat baru saja tertidur.
Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan kembali telentang seperti Aura, lalu tangannya meraih ponsel yang masih bergetar.
Setelah melebarkan pandangannya, dilihatnya sumber getaran yang telah membuyarkan lelapnya. Sebuah pemberitahuan pesan baru tertera di layar bagian atas.
"Alya?" gumamnya tak percaya.
Segera disentuhnya layar itu hingga menampakkan pesan dari Alya yang merupakan balasan atas pesan darinya.
Terima kasih. Sangat singkat, namun pesan itu sanggup membuat senyumannya merekah seketika. Seperti anak remaja yang berbunga hatinya saat berbalas pesan dengan sang pujaan hati.
Aku harap semua ini akan menjadi awal yang baik untuk hubungan baru di antara kita. Semoga aku dan Aura bisa membantumu untuk menyembuhkan luka yang telanjur dalam tertoreh di hatimu. Perlahan-lahan kami akan membuatmu melupakan rasa sakit itu. Percayalah, kita pasti bisa melewati semuanya bersama. Aku, kamu dan Aura kesayangan kita.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.