
Hidup membuat kita belajar. Belajar bagaimana menyelami arti kehidupan di semesta ini. Begitu pula yang dialami Nara. Ia banyak belajar dari kisah kasih ibunya di masa lalu. Orang tua mana saja tidak bakalan mau melihat anaknya menderita.
Restu kedua orang tua akan mempengaruhi jalan hidup anaknya. Tanpa restu maka biduk rumah tangga akan berantakan. Dan Nara tak ingin hidupnya porak poranda karena itu.
Lebih baik Nara mengikuti apa yang Ibunya mau. Meski ia tak menghendaki. Mungkin suatu saat aku bisa mencintai kak Arif. Batin Nara menguatkan permintaan ibunya.
Seminggu kemudian, hari pertunangan Nara akan berlangsung. Mau tidak mau Nara harus mengambil sikap atas hubungannya dengan Ardi.
Nara telah membulatkan tekad untuk memberitahu perihal pertunangannya kepada Ardi. Untuk itulah ia ingin bertemu dengan Ardi secepatnya. Nara tak ingin berita ini terdengar oleh Ardi dan ia belum sempat memberitahukan hal yang melukai hati Ardi.
Hari ini Nara sudah siap untuk menjelaskan semuanya pada Ardi. Biarlah Ardi mengetahui ini semua darinya. Dari pada Ardi akan membencinya karena tidak berkata jujur. Ia tak ingin kejadian menimpa dirinya. Seperti yang Angga lakukan padanya.
Suatu sore di toko handphone milik Ardi. Jam tangan di pergelangan tangan kanan Nara menunjuk pukul setengah lima. Toko handphonenya tidak hanya satu, tapi ada empat cabang di kota Bengkulu. Selebihnya masih ada cabang di beberapa kabupaten di Bengkulu. Sungguh seorang pengusaha yang memiliki jiwa entrepreneur sejati.
Nara mendatangi Ardi di salah satu toko handphonenya yang paling besar di kawasan dekat daerah tanah patah. Tampaknya ia lagi sibuk. Sebagai owner tugasnya hanya mengawasi pekerjaan anak buahnya yang sedang sibuk melayani para pembeli handphone.
Disela - sela kesibukannya, Ardi menyempatkan diri menyapa para pembeli. Hari ini lumayan banyak yang mendatangi toko milik Ardi. Terkadang hanya bertanya dan ada beberapa yang ingin membeli.
Nara sibuk melihat kesibukan yang terjadi di di dalam toko ini. Ada 5 orang pelayan toko sore ini. Mereka tampak sibuk melayani para pembeli.
Nara terlihat sedikit kagok saat Ardi menemukannya diantara para pembeli yang berjubel berdiri di depan etalasenya yang di desain menutupi semua sisi - sisi tembok
yang ada.
__ADS_1
"Eh ... , ada Nara rupanya. Kenapa tidak bilang kalau mau kesini, " sapa Ardi ramah.
"Ii -ya, tadi awalnya mau menegurmu. Tapi tampaknya kamu lagi sibuk banget, " ucap Nara sedikit berbohong. Padahal setibanya ia disini. ia sempat ingin mengurungkan niatnya bertemu Ardi. Ia tak tega mengatakan rencana pertunangannya bersama Arif. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.
"Tunggu ya, " jawab Ardi dan keluar dari sela - sela dalam etalase. Sebelumnya ia pamit pada anak buahnya untuk pergi sebentar bersama Nara.
Hanya sepuluh menit perjalanan dengan naik motor Ardi dan Nara menuju cafe Konakito. Cafe yang mengambil tema out door ini memang sengaja dibuat oleh ownernya untuk memanjakan mata para pelanggannya. Dengan pemandangan pantai di daerah tapak paderi. Semua akan bisa melihat deburan ombak putih bergulung - gulung yang datang silih berganti. Dengan cakrawala membiru di langit dan sedikit awan putih yang bergerombol membuat langit terlihat amat memukai di sore hari ini.
Ardi memesan jus kali ini. Dikarenakan Nara tidak mau menu lain. Padahal Ardi sudah menawarkan menu makanan andalan yang ada di Cafe Konakito. Namun ditolaknya dengan halus. Makanya Ardi pun hanya memesan minuman saja. Mereka memesan jus yang sama yaitu, jus strowberi.
Nara duduk di cafe konakito yang hanya ada Nara dan Ardi saja berada disini. Sore ini entah mengapa suasana di cafe ini begitu sepi. Tidak seperti biasanya yang selalu ramai.
Ardi dan Nara duduk saling berhadapan saja. Nara menatap lekat mata Ardi yang sepertinya sedang sangat berbahagia.
"Mmm ... , begini. Aku ... aku ingin kita putus, " jawab Nara gagap di depan Ardi.
"Apa ? Putus !! Mengapa bisa begini, " tanya Ardi tak terima diputuskan begitu saja. Mukanya yang putih tampak memerah karena amarah di dadanya.
"Aku sebenarnya tak ingin melakukannya. Tapi Arif akan datang melamar seminggu lagi. Untuk itu aku harus mengakhiri hubungan singkat ini saja
"Nara !!! Kamu harus punya sikap, kamu tidak boleh menurut saja apa yang diinginkan ibumu. Perjuangkan cinta kita Nara !!! "
Nara menangis mendengar Ardi berkata sedemikian keras padanya. Ia ingin melakukannya namun tanpa restu ibunya, ia tak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
"Maafkan aku Ardi. Seharusnya dari awal kita tidak melanjutkan hubungan ini. Mungkin kita ditakdirkan bertemu tapi bukan untuk selalu bersama. Kita memang di takdirkan untuk berteman seperti dulu lagi, " jawab Nara sambil berlinang air mata.
"Aku tidak terima, aku lebih baik dari Arif. Selama belum ada pernikahan , aku masih bisa berharap Nara !!! " ucap Ardi penuh harap.
Sore yang tadinya cerah dengan sedikit awan berada di cakrawala tiba - tiba hujan turun membasahi bumi, membasahi bumi raflesia.
Semesta pun menangis, turut merasakan berpisahnya dua hati yang harus terpisahkan. Kandasnya cinta mereka berdua. Cinta yang semestinya tidak hadir di antara mereka.
Nara kemudian pulang sendiri. Meninggalkan Ardi yang terluka. Dibawah rinai hujan yang deras Nara pergi meninggalkan teman masa remajanya itu.
Pertemuan singkat yang memberikan arti di hidup Nara. Cinta yang tak harus tumbuh di hati mereka. Mungkin ini cinta sesaat saja, cinta yang akan berlalu seiring dengan berlalunya waktu.
Tinggallah Ardi seorang diri. Di Cafe yang biasa ramai. Kini sepi seperti hatinya yang kosong, hampa. Cinta yang tak harus menepi, singgah sebentar untuk meninggalkan rasa seperti ini.
Ini bukan yang pertama kali dirasakan Ardi. Namun rasanya tetap sama, sakit. Putus cinta untuk yang ke sekian kalinya.
Hampa yang di rasakan oleh Ardi. Ia menyalahkan dirinya atas semuanya. Menyesal karena kesalahan yang ia buat. Tak seharusnya ia memaksa sebuah hubungan diatas cinta lain yang masih bersemi.
Ardi menatap nanar kepergian Nara di bawah rinai hujan yang lambat laun menjadi deras. Sampai sosok itu pergi entah kemana.
Ardi lalu membayar tagihan minumannya pada kasir wanita yang sedari tadi menyaksikan kandasnya cinta Ardi dan penulis wanita yang amat dikenalnya, Ara Dilla.
Awalnya sang kasir mau meminta tanda tangan untuk buku novel yang baru dua hari dibelinya. Baru mau melangkah ke tempat penulisnya. Eh, ternyata malah mendengar kata putus dari penulis idola barunya itu.
__ADS_1
Ardi kemudian meninggalkan Cafe Konakito ini dengan hati yang terkoyak. Pulang dengan motor yang masih setia menemaninya. Melaju kencang bersama tetesan hujan yang turut menyaksikan derasnya air mata yang luruh secara bersamaan ... , air mata putus cinta. Kandasnya cintanya untuk yang kesekian kalinya ....