CINTA NARA

CINTA NARA
3.66. TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

Tengah malam Nara terbangun. Dia mendengar suaminya mengigau seperti dulu. Ingatannya kembali pada malam di mana dia mendapati tubuh Yoga demam dan terus memanggil kedua orangtuanya, sama seperti saat ini.


"Jangan pergi .... Jangan tinggalkan aku lagi ...."


Nara menyibak selimut dan segera duduk menghadap ke arah suaminya. Lelaki itu terlihat pucat dan terus mengigau di sampingnya.


Tangan kanannya terulur menyentuh kening sang suami. Seperti yang dia duga, Yoga demam sehingga terus mengeluarkan igauannya.


"Aku rindu Mama .... Aku rindu Papa ...."


Sepasang mata bening wanita berhati lembut itu mulai berkaca-kaca. Beberapa butir air mata mulai menggantung di ujung pelupuk.


"Aku ingin bertemu kalian .... Aku ingin bersama kalian ...."


Nara terpaku dan terkesiap mendengar rintihan batin sang suami. Seketika hatinya dilanda ketakutan yang teramat sangat, mengingat masa lalu saat Yoga nyaris pergi untuk selama-lamanya.


Ya Allah, hamba mohon jangan lagi. Jangan beri kami ujian seberat dulu. Sungguh hamba tak akan sanggup lagi. Hamba tak bisa ... hamba tak bisa kehilangan dirinya ....


Cepat-cepat Nara turun dari tempat tidur dan menuju laci meja. Diambilnya obat penurun panas lalu meraih gelas berisi air putih di atasnya, lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Mas, ayo bangun. Minumlah obatnya agar demammu segera turun." Tangan kanan Nara terus menepuki bahu suaminya untuk membangunkan.


Setelah memperkeras tepukannya, akhirnya Yoga terbangun dengan sedikit tersentak. Dia menatap istrinya yang membawa gelas air putih dan obat di tangannya.


"Sayang ... aku kenapa?" tanyanya seraya menahan pening yang mulai dirasakannya.


"Kamu demam, Mas. Tadi kamu mengigau lagi. Maaf aku harus membangunkanmu dulu agar kamu bisa meminum obatnya."


Yoga mencoba bangun dan segera mengikuti titah sang istri tercinta. Selesai menelan obat yang diberikan Nara, dia kembali berbaring dan mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi.


"Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja. Sebentar lagi pasti demamnya turun." Lelaki itu meminta istrinya kembali berbaring menemaninya.


Nara menurut. Diletakkan gelas yang sudah kosong di tangannya ke atas meja lalu naik ke atas tempat tidur. Sebelum membaringkan tubuhnya, sekali lagi disentuhnya kening Yoga lalu dicium dengan lembut, hingga panas dari sana pun menjalar ke bibirnya.


"Lanjutkan tidurmu, Mas. Semoga besok pagi demammu sudah turun dan tubuhmu bugar kembali."


Yoga tersenyum dan mengangguk, seraya mengulurkan tangannya lalu membelai wajah sang istri yang masih menampakkan kekhawatiran.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang." Usai mengucapkan itu, dia merengkuh tubuh Nara dan membawanya untuk berbaring merapat di sampingnya. Dengan hati yang masih risau Nara merebahkan kepala di tempat ternyamannya, berharap ketenangan segera memupus kegelisahan di dalam kalbu.


Semoga semua yang kudengar tadi hanya igauan semata. Aku tahu Mas Yoga sangat merindukan Mama dan Papa. Tapi ... aku tidak ingin dia pergi. Sungguh aku tak bisa kehilangan dirinya lagi, meski hanya untuk sesaat saja.


Nara memeluk erat tubuh suaminya dan nencoba memejamkan mata. Namun setiap kali dia melakukannya, bayangan kejadian buruk di masa lalu terus berkelebat hadir dan kian meresahkan hati.


Sehatlah selalu, Mas. Aku dan anak-anak sangat membutuhkan dirimu dan kehadiranmu bersama kami. Jangan pernah pergi dan meninggalkan kami.


Tak berbeda dengan sang istri, Yoga pun sulit untuk kembali terlelap, kendati raganya sangat butuh untuk diistirahatkan. Akhir-akhir ini dia memang sering bermimpi tentang keluarganya. Tentang masa kecilnya, saat-saat bahagianya bersama kedua orangtua, juga beragam kenangan saat keluarganya masih utuh dan selalu memberinya pelukan hangat setiap saat.


Aku merindukan kalian ... sangat rindu pada Mama dan Papa.


Yoga menghela napas panjang bersamaan dengan terdengarnya satu isakan tertahan yang mengusik hatinya. Dia menundukkan pandangannya ke bawah, di mana kepala sang istri bersandar di dada seraya memeluk erat tubuhnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Yoga seraya mengusapi kepala Nara.


Ingin dia bangun dan memperhatikan istrinya lebih saksama, tapi kepalanya masih terasa sangat berat dan tubuhnya begitu lemas.


"Aku takut, Mas. Aku takut kamu jatuh sakit lagi dan kamu akan ...." Nata tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Isakannya semakin menjadi seiring air mata yang mengalir deras hingga terasa membasahi dada Yoga.


Diraihnya tangan Nara dan dibawa untuk meraba wajahnya, agar wanita itu percaya jika dia hanya terkena demam biasa dan telah mereda seiring keringat yang mulai terasa membuat gerah tubuhnya.


Nara menarik wajahnya dan duduk memperhatikan wajah Yoga yang masih tampak pucat. Senyuman lelaki itu terlihat melengkungkan bibirnya, ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Dengan menahan lemas yang masih terasa, Yoga mengulurkan tangannya dan membersihkan air mata yang membasahi wajah sendu istri kesayangannya. Sepasang mata bening itu masih terlihat basah dan sembab.


Kembali ujung jemarinya menyeka lembut kelopak mata Nara bergantian, menghapus sisa air mata yang masih menggenang di tepian pelupuknya.


"Jangan berpikiran buruk dan macam-macam lagi. Aku tidak suka melihatmu menangis dan bersedih karenaku."


Tangan Yoga masih terus terulur membelai lembut pipi merah Nara dan merapikan rambutnya. Lalu pelan-pelan ditariknya wajah itu supaya mendekat untuk dia cium dengan penuh perasaan.


Nara menurut dan diam saat wajahnya berhadapan dengan wajah sang suami, hingga akhirnya merasakan sentuhan bibir Yoga menghangatkan keningnya. Seketika dia menunduk dan meresapi ciuman Yoga yang selalu menenangkan hati.


"Mari kita beristirahat. Tubuhmu juga harus diistirahatkan sebelum Gana bangun dan membutuhkanmu lagi."


Yoga melepaskan tangannya dari belakang kepala Nara setelah meninggalkan ciuman sekilas di bibir manis istri tercintanya.

__ADS_1


Nara mengangguk dan membalasnya dengan senyuman tipis di bibir yang baru saja bersentuhan dengan bibir sang suami. Diraba sekali lagi kening dan leher samping suaminya untuk memastikan bahwa demamnya mulai turun dan suhu tubuhnya tidak lagi setinggi sebelumnya.


Wanita sendu itu kembali berbaring merapat ke tubuh suaminya yang masih terasa begitu hangat. Dia segera memposisikan dirinya seperti semula, lalu menciumi bagian dada yang penuh kenangan tak terlupakan.


Bibirnya menelusuri bekas luka bersejarah yang selalu membuat hatinya bergetar dan berdesir halus penuh haru. Meskipun masih terlapisi pakaian yang dikenakan Yoga, Nara terus meraba dan menciuminya seraya mengingat semua kejadian masa lalu yang penuh kesedihan.


Matanya terpejam dan meresapi setiap gerakan tangan dan bibirnya dengan penuh perasaan. Dihalaunya semua bayangan buruk yang hadir berkelebat di dalam pikiran. Dia menggantinya dengan mengingat kesembuhan Yoga dan segala hal indah tentang lelaki yang teramat sangat dicintainya tersebut.


Setelah puas dengan ritual cintanya, Nara merebahkan diri sepenuhnya dan semakin merapatkan pelukan pada tubuh Yoga yang membalasnya dengan pelukan yang sama eratnya.


"Aku mencintaimu, Mas. Cepatlah sembuh, Sayangku."


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2