CINTA NARA

CINTA NARA
2.95. BERTAHANLAH, SAYANG!


__ADS_3

Satu bulan berlalu, keadaan telah kembali seperti semula di Raga Properland. Semua masalah berhasil diatasi oleh Yoga dan proyek yang sebelumnya mengalami musibah sudah dianjutkan lagi pengerjaannya agar bisa segera diresmikan dan secepatnya dihuni oleh para konsumen.


Titik terang dari kejadian kebakaran juga sudah ditemukan. Dari pengakuan dua orang pelaku yang telah diamankan sebelumnya, mereka dibayar oleh seseorang untuk melaksanakan perintah pembakaran tersebut.


Dan orang tersebut tak lain adalah rekan sesama pengusaha yang merupakan pelaku usaha properti yang sudah cukup dikenal dan disegani di kota ini.


"Bagaimana perkembangan kasus Pak Asta, Ben?"


Yoga sebenarnya tidak melaporkan lelaki yang berusia lima tahun lebih tua darinya tersebut. Akan tetapi pihak kepolisian tetap melanjutkan kasusnya karena berhubungan dengan pelaku pembakaran yang sudah ditangkap sebelumnya.


"Mereka melanjutkan kasusnya dan sekarang sudah masuk ke meja persidangan, Pak."


Beno yang masih membantu di Raga Properland menjawab sambil merapikan semua berkas yang baru saja ditandatangani oleh sang atasan.


"Ikuti terus semuanya dan berikan aku hasil setiap persidangannya. Kita cukup memantau saja dari sini."


"Baik, Pak!" jawab Beno lalu pamit kembali ke ruangannya yang menjadi satu dengan Pram.


Yoga menyudahi pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Lelaki itu segera bangkit dan keluar dari ruangannya.


Sepanjang perjalanan, entah mengapa perasaannya mendadak menjadi tidak enak. Ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan bertemu dengan Nara juga putra kesayangannya.


"Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba aku terus terbayang wajah Nara dan mengkhawatirkan keadaannya?" Yoga melambatkan laju mobilnya seraya menenangkan diri.


Mendadak hatinya dipenuhi debaran keras yang menghentaki dada. Dia merasa ada sesuatu yang tidak baik yang sedang terjadi saat ini, tapi entah apa dia pun belum mengetahuinya.


Akhirnya dia menghentikan mobilnya dan menghubungi Nara dengan segera. Sayangnya, beberapa kali panggilan yang dilakukannya tidak bisa tersambung karena sinyal yang tidak stabil.


Yoga semakin panik dan tidak tenang karena tidak bisa menghubungi siapa pun saat ini. Akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya agar segera sampai ke rumah dan bertemu dengan Nara.


Memasuki gerbang utama perumahan, dia bisa melihat keramaian di depan rumahnya. Terlihat Pak Budi baru saja menutup pintu belakang mobil dan bergegas masuk ke dalamnya.


Yoag menekan klakson mobilnya untuk memberi tanda pada Pak Budi agar tidak melajukan mobilnya dulu. Lelaki itu segera menghentikan mobilnya tepat di samping mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi.


"Ada apa ini, Pak?" Lelaki itu keluar dan berdiri di samping pintu kemudi yang telah diturunkan kaca sampingnya oleh Pak Budi.


"Mas, sepertinya Mbak Nara mengalami keracunan makanan. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."


Wajah Yoga mendadak berubah panik dan langsung membuka pintu belakang. Dilihatnya di dalam mobil, Nara sudah tak sadarkan diri dengan ditopang tubuhnya oleh Bibi Asih.


"Sayang!"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, dia masuk dan mengambil alih Nara ke pangkuannya lalu meminta Bibi Asih untuk di rumah saja, menjaga Raga bersama Mbak Indah.


Setelah Bibi Asih turun, Pak Budi langsung tancap gas dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit.


"Nara, sadarlah, ayo bangun, Sayang!" Wajah Yoga sudah dipenuhi air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir dari sepasang netra miliknya yang telah berubah sayu dan sendu.


Nara bereaksi saat mendengar suara suaminya. Perlahan dia membuka matanya dengan sangat berat, lalu mencoba memaku tatapan lemahnya pada wajah suami di atasnya.


"Mas ..., perutku ... sakit sekali ...."


Pak Budi semakin cepat melajukan mobilnya dan terus mencari celah di antara ramainya lalu-lintas jalan raya di sore hari.


"Bertahanlah, Sayang! Tetaplah sadar. Lihat aku dan dengarkan aku. Kita akan segera sampai di rumah sakit."


Yoga terus berbicara dan memangku Nara dengan hati lemahnya. Perasaannya berkecamuk melihat wanita kesayangannya terus mengeluarkan busa-busa kecil di sudut bibirnya dengan wajah yang semakin pucat pasi.


Kesadaran Nara kembali hilang bersamaan dengan matanya yang mulai menutup kembali.


"Sayang! Nara, bangunlah. Kamu kuat, kamu pasti bisa bertahan, Sayang!"


Wajah Yoga kian panik dan tegang. Beruntung mobil sudah memasuki halaman rumah sakit dan langsung berhenti di depan instalasi gawat darurat.


Seorang dokter dan beberapa perawat langsung menangani Nara yang sudah dibaringkan Yoga di atas brankar di salah satu bilik yang belum terisi pasien.


"Tolong istri dan calon anak saya, Dokter! Selamatkan mereka!"


.


.


.


Satu jam sebelumnya, seorang kurir makanan mengantarkan kue lapis legit kesukaannya yang terbungkus kantong khusus berlabelkan nama salah satu toko kue ternama di tengah kota.


Merasa tidak memesannya, Nara menanyakan siapa pengirimnya dan sang kurir mengatakan bahwa Yoga yang sudah memesan kue tersebut untuk diantarkan ke rumahnya.


Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, Nara menerima dan membawanya ke ruang makan. Dia meletakkan kantong kue tersebut di atas meja lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu.


Beberapa kali panggilan yang dilakukannya tidak dapat tersambung, begitu pula dengan pesan yang dikirimnya juga belum sampai ke nomor Yoga.


Karena sudah merasa lapar dan tidak sabar ingin segera menikmati kue kesukaannya, akhirnya Nara membuka salah satu kotak kue berbentuk perpsegi panjang tersebut dan mengambil satu iris untuk dicobanya.

__ADS_1


"Hmmm ... rasanya enak sekali. Sama seperti buatan toko kue langgananku di kota lama." Nara duduk sendiri menikmati kue kesukaannya.


Dilihatnya pesan untuk Yoga masih belum terkirim juga karena kendala sinyal yang timbul-tenggelam sejak siang hari tadi.


Nara terus menikmati beberapa potong kue tersebut untuk mengganjal perutnya yang mudah lapar jika tidak segera diisi makanan atau camilan.


"Mungkin karena aku sudah lama tidak makan kue lapis legit seperti ini, jadi rasanya sangat lezat dan memanjakan lidah."


Hampir separuh kotak telah dihabiskan oleh Nara. Wanita hamil itu menyudahinya dan menutup kembali kotak kue tersebut untuk dismpannya kembali beraama kotak yang masih utuh isinya.


Nara berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman. Tapi beberapa langkah kemudian, tubuhnya teraa lemas dan lunglai. Perutnya terasa sangat mulas dan pandangannya mulai kabur.


"Bibi ...!"


Teriakan Nara membuat Bibi Asih yang masih menyelesaikan pekerjaannya di belakang rumah ditemani Pak Budi yang sedang beristirahat terkejut dan segera masuk ke dalam dengan cepat.


Tak lama kemudian Bibi Asih menjerit dan memanggil Pak Budi manakala menemukan Nara sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai dapur, dengan mulut yang telah memuntahkan busa.


"Mbak Nara, apa ada ini, Mbak ...?!?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2