
Ardi terus menunggu sampai Alya terlihat tenang dan bisa menguasai dirinya lagi. Lelaki itu turut merasakan hatinya teriris perih saat melihat bagaimana sulitnya Alya melepaskan diri dari bayang-bayang gelap masa lalunya.
Aku akan selalu ada di sampingmu, Al. Kita berjuang bersama-sama melawan dan melepaskan dirimu dari belenggu masa lalu yang kelam itu. Kamu pasti bisa melupakan semuanya dan akan hidup bahagia bersamaku dan Aura.
Setelah cukup lama terdiam untuk menenangkan diri, akhirnya Alya membuka suara dengan wajah yang jauh lebih terang dan kembali dihiasi senyuman.
"Maaf, aku sudah merusak suasana malam kita."
Ardi tertegun begitu mendengar Alya mengucapkan sebuah kata di akhir kalimatnya. Kita. Tanpa sadar bibirnya turut melengkungkan sebuah senyuman, membalas senyuman yang lebih dulu ditampakkan oleh wanita anggun di hadapannya.
"Tidak, Al. Lupakan semua itu. Bagiku yang terpenting adalah dirimu. Kamu harus berani dan bangkit. Jangan pernah takut dan merasa lemah. Ada aku bersamamu. Kamu pasti sembuh, Al. Aku akan selalu ada untuk dirimu, kapan pun kamu membutuhkan aku untuk berbagi suka dan duka."
Alya mengangguk, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia mengingat kata-kata Ardi dan mematrinya di dalam hati.
"Aku ingin sembuh, Di. Aku ingin melupakan masa lalu kelamku. Aku ingin hidup tenang. Aku ingin bahagia."
"Kamu pasti bahagia, Al. Kamu harus bahagia. Aku akan membuatmu bahagia. Kamu percaya padaku, bukan?"
Tanpa menunggu jawaban Alya, Ardi mengambil cincin dari dalam kotak kecil yang ada di hadapan wanita itu. Dia memegang dengan tangan kanan dan menunjukkannya dengan percaya diri.
"Bolehkan aku memasangkannya sekarang?" tanyanya tanpa ragu.
Melihat Ardi yang sudah memegang cincin dengan penuh keyakinan, Alya pun tak ingin mengecewakannya. Dia menganggukkan kepala meskipun masih ada ketakutan yang menyelimuti perasaannya.
Aku pasti bisa melawannya. Aku harus bisa menepis bayangannya. Aku tidak boleh menyerah dan menjadi lemah lagi.
Secara bersamaan, Ardi dan Alya mengulurkan masing-masing tangan kiri mereka ke depan. Ardi menyentuh jemari Alya yang terasa dingin dan gemetar.
Untuk pertama kalinya kedua tangan mereka bersentuhan. Tak ayal sentuhan itu menyebabkan tidak hanya tangan Alya yang gemetar, namun seluruh tubuhnya juga ikut bergetar dan menegang.
Pikiran buruk dan bayangan kelam masa lalu itu kembali hadir dan mencoba melemahkannya lagi. Alya segera memejamkan mata dan terus berdoa memohon kekuatan.
Ardi yang mengetahui gelagat itu, berusaha menenangkan Alya dengan menggenggam jemari tangannya selembut mungkin. Lelaki itu tahu, Alya masih memendam trauma untuk bersentuhan dengan lawan jenis.
Kekerasan fisik yang dialaminya sekian lama telah menciptakan benteng pemikiran untuk melakukan penolakan sebagai upaya untuk melindungi diri dari tindakan serupa yang akan dilakukan oleh orang lain.
__ADS_1
"Ini aku, Alya. Percayalah padaku dan teruslah melawan ketakutanmu."
Ardi membiarkan Alya menenangkan diri terlebih dahulu, tanpa melepaskan genggamannya. Dia ingin membantu Alya memulihkan kondisinya. Salah satunya adalah dengan terapi sentuhan yang saat ini sedang dilakukannya.
Dokter duda itu mencobanya atas saran dari seorang teman, yang berprofesi sebagai psikolog dan membuka layanan konseling dan psikoterapi. Menurut sang teman, terapi sentuhan sangat berguna untuk membangun rasa nyaman dan percaya pada seseorang.
Semoga apa yang aku lakukan ini bisa membantumu untuk lebih cepat sembuh dari trauma yang kamu alami. Sungguh tidak ada maksud lain dariku. Aku hanya ingin kamu segera pulih dan menjalani semua sebagaimana seharusnya dan sewajarnya.
Sementara Ardi menunggu dengan sabar, Alya masih terus memejamkan mata dan melawan bayangan gelap yang masih menguasai pikirannya.
Ketakutan itu terus menekan perasaannya dan membuat Alya ingin menarik tangannya dari genggaman lelaki itu. Namun usahanya sia-sia karena Ardi terus menggenggam jemarinya dengan sangat erat.
"Ada aku bersamamu, Al. Percayalah padaku dan jangan pernah menolaknya. Biarkan tetap seperti ini dan tenangkan pikiranmu."
Alya mendengarkan kata-kata Ardi dan mulai mencoba menenangkan diri dengan mata yang terpejam rapat.
"Bayangkan saja segala kenangan indah yang masih bisa kamu ingat. Bayangkan saat-saat bahagiamu. Saat kamu bisa tersenyum dan tertawa tanpa beban. Saat kamu berani melakukan apa pun tanpa ada rasa ragu."
Pelan-pelan Alya mulai mengikuti sugesti positif yang diberikan oleh Ardi. Wanita anggun itu membuka ingatan masa lalunya yang sempat terlupakan. Dia mencoba mengingatnya satu per satu dan merangkainya secara runtut untuk dikenang dengan tenang.
Masa bahagia saat mereka mulai menyatukan hati dan saling mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Masa bahagia di mana hanya ada senyuman dan tawa riang di antara mereka.
Lambat-laun pertahanan Alya mulai melemah. Seluruh tubuhnya berangsur-angsur menghangat. Napasnya mulai teratur dan perlahan dia pun bisa mengendalikan emosinya.
Alya membuka mata dan menatap Ardi yang masih menunggunya. Perlahan dia mengalihkan pandangan ke atas meja. Tangannya masih digenggam dengan lembut oleh tangan lelaki itu. Rasa haru menyeruak di dalam hati manakala dirinya melihat genggaman itu.
Melihat Alya telah membuka mata dan sekilas menatapnya, Ardi segera memasangkan cincin yang dipegangnya di jari manis tangan kiri wanita pilihannya. Lelaki bermata teduh itu tersenyum bahagia usai menyematkan tanda cinta darinya.
Alya memperhatikan perhiasan istimewa yang sudah melingkar manis menghiasi tangan kirinya. Sebuah cincin permata yang terbuat dari emas putih yang elegan, terlihat sangat indah dan berkilau.
"Terima kasih." Suaranya lirih dan bergetar, menatap Ardi yang masih terus menggengam tangannya dan sesekali mengusapinya dengan lembut. Perlahan senyumnya pun merekah dan tanpa sadar dia telah membalas genggaman tangan lelaki itu.
Ardi semakin mengembangkan senyumannya saat merasakan gerakan kecil tangan Alya yang menyatu di dalam genggamannya. Hatinya bergetar indah mendapatkan balasan yang sangat dinantinya tersebut.
"Aku mencintaimu, Alya."
__ADS_1
Seluruh tubuh Alya kian menghangat dengan wajah yang telah bersemu merah. Untuk pertama kalinya dia mendengar Ardi mengucapkan lagi kalimat itu setelah mereka kembali bertemu dan menjalin hubungan yang baru.
"Jangan pernah merasa sendiri lagi. Karena mulai sekarang, ada aku yang akan selalu ada untukmu. Jangan pernah merasa takut lagi. Karena di setiap waktu, aku akan selalu menjaga dan melindungi dirimu."
Tak ada yang bisa Alya lakukan lagi, selain mengangguk dengan perasaan haru. Dia mencintai lelaki itu. Dia sangat menyayanginya dan membutuhkan kehadirannya. Dia tidak ingin kehilangan lelaki itu lagi. Cinta pertama dan cinta terakhir di hatinya. Cinta selamanya.
Setelah perasaannya tenang dan terkendali, Alya memantapkan hati untuk menentukan langkahnya. Masih ada satu hal lagi yang mengganjal di dalam hati dan ingin diselesaikannya dengan segera.
"Ardi ... bisakah kamu mengantarkan aku ke suatu tempat?"
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1