
Yoga telah selesai menghubungi Pram untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya di kantor, karena dia masih harus melanjutkan pembicaraannya bersama Ardi.
"Katakan padaku, apa saja dua hal belum aku ketahui lagi?" Ardi tak sabar lagi ingin mengetahui semuanya tanpa kecuali.
Yoga sedikit ragu untuk menceritakannya. Bukan karena enggan memberitahu Ardi, akan tetapi karena dia pun teringat pada hal yang sama, yang juga dialami oleh Nara.
"Trauma," jawab Yoga singkat sembari memejamkan mata sejenak, sebab bayangan istrinya yang seringkali mengigau ketakutan dalam tidurnya, berkelebat melemahkan hatinya.
"Trauma ...? Maksudmu Alya mengalami trauma karena kekerasan yang dialaminya selama berumah tangga, benar begitu, Ga?" Ardi mencoba menebaknya. Sama seperti Yoga, hatinya mendadak terasa perih membayangkan jika tebakannya tersebut tidak meleset.
"Iya. Dan yang membuat traumanya semakin parah adalah dia memilih untuk menyimpan sendiri semuanya di dalam hati. Tidak pernah sekali pun dia berbagi atau berkeluh kesah kepada orang lain. Tidak ada seorang pun yang tahu seberapa besar masalahnya dan seberapa parah trauma yang dialaminya kecuali dirinya sendiri dan psikolog yang baru-baru ini dia percayai untuk melakukan konseling."
Entah apa namanya perasaan Ardi saat mendengar penjelasan panjang dari Yoga tentang Alya. Rapuh, penuh luka, sakit hati, kecewa, marah, iba dan merasa bersalah ..., dia merasakan semua itu dan semakin melemah karenanya.
"Separah itu luka yang lelaki itu torehkan pada dirimu, Al. Bukan hanya luka fisik di tubuhmu, namun luka batin yang teramat dalam dan sulit terobati."
Tanpa sadar Ardi telah meneteskan air mata, setelah sebelumnya dia mencoba untuk menahannya sekuat hati. Kali ini dia benar-benar merasa sangat bersalah pada wanita anggun yang begitu pandai menutupi luka hatinya tersebut.
"Seandainya waktu bisa terulang lagi ... ah ..., tidak, Al. Aku tidak bisa merubah waktu yang telah berlalu. Tapi sungguh, aku merasa telah menjadi penyebab dari semua hal yang terjadi dan harus kamu jalani dalam kepiluan seorang diri."
Yoga memperhatikan sahabat kecilnya dengan perasaan iba. Dia bisa memahami perasaan Ardi saat ini, setelah mengetahui semua kebenaran tentang Alya, yang ternyata hampir semuanya merupakan kabar yang tidak baik dan penuh tragedi.
"Maafkan aku, Alya. Maafkan aku ...," ucap lirih dokter duda itu.
Tak peduli ada Yoga di hadapannya dan mungkin Nara atau orang lain yang melihatnya, Ardi menangis tanpa ingin menahannya lagi.
Tubuhnya sedikit membungkuk dengan telapak tangan menutupi seluruh wajah merahnya yang telah basah oleh air mata yang terus mengalir tiada henti. Kedua sikunya bertopang pada sepasang paha yang menahannya dengan kokoh.
"Aku dan Nara melihat sendiri bagaimana dia mengigau dan terus merintih, memohon ampun untuk tidak disentuh dan ...," Yoga berhenti sejenak. Bibirnya berat untuk mengatakan, karena dulu dia pun pernah melakukannya pada Nara.
__ADS_1
"Dia memohon untuk tidak disentuh dan dinodai ...."
Ardi semakin tenggelam dalam tangisan penuh kesedihan. Lelaki itu tersedu-sedu dengan suara isakan yang terdengar cukup keras, terlihat dari gerakan bahunya yang naik-turun mengatur napas yang masih tersengal-sengal akibat menangis tanpa kunjung usai.
"Astaghfirullahaladzim ...!!" Setelah cukup lama larut dalam tangisan, lelaki itu mulai mengangkat dan membersihkan wajahnya.
Setelah kepergian sang istri, ini adalah kedua kalinya dia merasa terpuruk. Dia merasa tidak berguna karena terlambat mengetahui semuanya, setelah Alya mengalami peristiwa kelam yang membuat kehidupannya berubah suram.
"Aku tidak tahu apakah kondisi psikisnya sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya atau masih sama seperti dulu. Dari luar sikapnya masih sama. Dia tetap ceria, ramah dan penuh dengan senyuman. Dia sangat pintar menyembunyikan kesakitannya."
Yoga mengatakan bahwa psikolog yang menjadi tempat konseling Alya juga bertugas di rumah sakit yang sama. Namun karena menjaga etika profesi dan melindungi privasi pasiennya, dia tidak pernah bisa mengetahui sejauh mana perkembangan kondisi Alya sekarang.
"Aku rasa kamu akan membutuhkan banyak waktu untuk bisa menyentuh hatinya dan membukanya lagi seperti dulu. Dia mungkin memang masih menyimpan rasa yang sama padamu, tapi kondisinya sekarang sudah sangat jauh berbeda. Trauma itu pasti akan mempengaruhi sikapnya karena selamanya akan terus melekat dan menghantui pikirannya."
Yoga mengalihkan topik pembicaraan pada satu hal terakhir yang belum dibukanya pada Ardi.
Yoga berpesan dengan penekanan yang sangat jelas, membuat Ardi menatap tajam ke arahnya dengan pandangan penuh selidik.
"Terlambat melangkah? Apa maksudmu?" tanya Ardi masih dengan roman muka yang penuh keingintahuan dan tanda tanya besar.
"Jika kamu ingin memilikinya dan membahagiakan Dokter Alya, saranku, jangan menunda lagi perjuanganmu. Karena di sini, ada orang lain yang sudah lebih dulu memulai usahanya untuk memenangkan hati Dokter Alya, sama sepertimu."
Tak butuh waktu lama untuk berpikir, kali ini Ardi sudah mengerti maksud ucapan Yoga dan mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh sang sahabat.
"Dokter Rendy. Diakah yang kamu maksud, Ga?" Yoga pun segera menganggukkan kepala dan tersenyum samar.
"Ya. Dan harus aku akui, dia sama baiknya dengan dirimu. Perasaannya tulus dan rela melakukan apa saja demi membahagiakan wanita yang sangat dicintainya."
Kali ini tidak ada lagi gurat kemarahan yang muncul di wajah Ardi yang masih memerah dan sembab. Dia sadar jika wanita sebaik Alya pasti akan disukai oleh banyak orang dan tidak sedikit pula yang terpikat dan menaruh hati kepadanya.
__ADS_1
"Dokter Rendy adalah dokter tulang yang membantu menangani Dokter Alya saat kakinya sakit akibat peristiwa waktu itu."
"Dia juga yang memimpin operasi pada kaki Dokter Alya dan membantu proses terapi yang berlangsung beberapa bulan lamanya." Yoga terus menambahkan ceritanya tanpa ada yang dia sembunyikan lagi.
Ardi ingat pertemuan pertamanya dengan Rendy, saat bersama Bunga mengunjungi Nara yang sakit akibat keracunan waktu itu. Lelaki itu meninggalkan kesan pertama yang sangat baik dan terlihat begitu tulus mendampingi Alya.
"Dari informasi yang aku dapatkan, Dokter Rendy sudah lama menaruh hati pada Dokter Alya, namun tidak pernah ditanggapi. Dia juga seorang duda sama seperti dirimu. Tapi dia mempunyai masa lalu yang sama seperti Dokter Alya. Pasangannya memilih lelaki lain yang lebih dicintai dan memutuskan ikatan pernikahan mereka demi bersama lelaki pilihannya."
Harus diakui Ardi, Rendy adalah sosok lelaki idaman para wanita. Selain kelebihan fisik nyaris sempurna yang dimilikinya, dokter tulang itu juga sangat ramah dan sopan meskipun dengan orang lain yang baru saja dikenalnya.
"Aku akan berusaha meluluhkan hatinya dengan caraku sendiri. Aku yakin Alya masih menyimpan semua kenangan masa lalu kami. Dia pasti akan membuka hatinya untukku, meskipun aku harus bersabar dan berjuang sangat keras hingga saat itu tiba!"
"Aku akan meluluhkan hatimu dengan caraku, Al. Dan aku pastikan kamu tidak akan bisa menolakku lagi dengan alasan apa pun itu."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1