
"Seandainya dia masih sendiri seperti dulu, apa kamu akan membiarkannya dimiliki oleh lelaki lain?" cecar Yoga dengan sengaja.
Ardi terdiam seketika. Pada saat itulah Yoga beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pembaringan, meninggalkan Ardi dengan makan siangnya yang belum selesai.
"Dokter, silakan makan siang dulu. Biar saya yang menemani Aura. Jangan sampai Anda terlambat pergi ke klinik karena kami."
Alya mengiyakan saja permintaan Yoga karena sebentar lagi dia memang harus segera berangkat ke klinik. Melangkah pelan ke arah sofa, wanita itu duduk di sisi yang sama yang sebelumnya Yoga duduki.
Mengingat percakapannya dengan Yoga barusan, Ardi mendadak salah tingkah di hadapan Alya.
"Bagaimana bisa ucapan asalnya tadi mempengaruhi pikiranku seperti ini?"
Ardi menoleh ke arah pembaringan dan melihat Yoga dengan tanpa rasa bersalah terus menghindari pandangan darinya dan sibuk bermain bersama Aura.
"Di, kamu tidak apa-apa?" tanya Alya yang menangkap sikap gelisah lelaki yang masih melanjutkan makan siangnya.
Ardi menoleh dan menatap Alya dengan wajah yang masih tegang dan salah tingkah.
"Apa? Oh ... ya, aku tidak apa-apa. Makanlah." Ardi mempersilakan Alya mengambil dan menikmati makan siangnya.
"Ya Allah, mengapa sekarang hatiku menjadi tidak tenang saat berdekatan dengannya ...??"
Ardi mengusap wajahnya lalu cepat-cepat menghabiskan makan siangnya. Setelah menghabiskan satu gelas air putih kemasan, Ardi berniat untuk kembali menemani Aura, akan tetapi urung dilakukannya karena Alya justru membuka percakapan dengannya.
"Tadi aku bertemu dengan dokternya Aura. Beliau mengatakan kalau Aura sudah boleh pulang sore ini."
Ardi mengangguk mengiyakan. Tak berani menatap Alya sebab hatinya masih dipenuhi debaran keras yang belum mereda.
"Ya. Saat pemeriksaan pagi tadi, dokter juga sudah menyampaikannya kepadaku. Hanya tinggal menunggu infusnya habis dan dilepas."
Mereka kembali terdiam dalam hening. Hanya terdengar suara Aura yang sesekali terkekeh bersama Yoga yang menimangnya dengan sayang.
Diam-diam Ardi mencuri pandang ke arah Alya yang masih menyelesaikan makan siangnya sambil memperhatikan Aura yang hari ini tampak selalu ceria.
Senyuman kecil terus tersungging di bibir wanita itu, dengan pandangan mata yang teduh dan penuh kasih saat memaku tatapan pada putri kecil kesayangannya.
"Sekarang darahmu pun telah mengalir di dalam tubuh putriku. Akankah setelah ini kalian menjadi semakin dekat karenanya, Al?"
"Ya-ya ... bu-bu ...." Suara Aura yang memanggil mereka, membuat Ardi dan Alya tersenyum pada bayi lucu yang masih bermain bersama Yoga.
"Apa kamu keberatan jika Aura memanggilmu demikian, Al?" Ardi menanyakannya langsung pada wanita yang selalu dipanggil bubu oleh putrinya.
__ADS_1
"Tidak masalah bagiku dan jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saja dia memanggilku seperti itu karena kosa katanya memang masih terbatas."
Alya mencoba mencari alasan lain agar Ardi tidak lagi membahas tentang panggilan sayang Aura kepadanya, meskipun sebenarnya dia juga tahu, hanya dirinya yang dipanggil bubu oleh bayi kesayangannya itu.
"Jam berapa praktekmu di klinik dimulai?" Akhirnya Ardi pun mencari topik pembicaraan yang lainnya.
"Jam satu siang sampai jam empat sore."
Ardi membayangkan betapa sibuknya Alya dengan jadwal kerjanya yang padat setiap hari. Tiga kali praktek di dua tempat yang berbeda, yang mengharuskannya bolak-balik perjalanan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.
"Mengapa kamu menambah lagi kesibukanmu dengan mengambil pekerjaan lain di klinik? Bukankah kamu sudah bekerja pagi dan sore hari di rumah sakit ini?" tanyanya lagi.
"Karena dengan bekerja dan mengemban tanggung jawab di klinik, aku merasa sudah bisa mewujudkan sebagian dari impian terbesarku yang belum tercapai, Di."
"Boleh aku tahu, apa impian terbesarmu?" Ardi mulai tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang pekerjaan Alya selama ini.
Alya meletakkan kotak makanan yang baru saja dipakainya di atas meja lalu menumpuknya dengan rapi bersama kotak makanan lain yang sebelumnya digunakan oleh Yoga dan Ardi.
Sambil membersihkan meja dan merapikan semua peralatan makan yang dibawakan Nara dari rumah, Alya menjawab pertanyaan Ardi.
"Impianku tidak jauh berbeda dengan impian semua dokter pada umumnya. Aku ingin memiliki klinik sendiri, membuka dan mengelolanya sendiri, serta mengabdikan ilmu dan kemampuanku di sana untuk melayani masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang kurang mampu."
Terasa desiran halus yang mengaliri rongga dada Ardi, saat mendengar jawaban Alya yang diucapkannya dengan tenang dan penuh senyum keyakinan.
Sebagai seorang dokter yang sudah mempunyai klinik milik sendiri, Ardi merasa malu dan tertampar oleh ucapan Alya. Selama ini dia masih selalu mengutamakan untung-rugi dalam pengelolaan klinik dan kurang menperhatikan sekelilingnya.
"Aku merasa malu dengan diriku sendiri, Al. Sebagai dokter, ternyata selama ini aku masih kurang bersyukur atas apa yang telah aku capai dan aku miliki. Aku masih kurang peka terhadap lingkungan sekitarku dan belum banyak berbuat kebaikan atas nama profesiku."
Alya melebarkan senyumannya dan menatap sekilas ke arah Ardi.
"Semua orang mempunyai prioritas masing-masing, Di. Jangan menjadikan pekerjaan dan tujuan pekerjaanmu sebagai beban, melainkan sebagai berkah. Lakukan saja dengan niat yang baik dan lurus, maka hasilnya pun akan senantiasa memberimu kebahagiaan dan kepuasan batin."
Ardi mengangguk dan memahami maksud ucapan Alya. Pikirannya menjadi semakin terbuka setelah mendengarkan penjelasan wanita itu, yang disampaikan dengan tutur kata yang lembut dan penuh makna.
"Terima kasih, Al. Kata-katamu sudah membuatku menyadari kekurangan dan kealpaanku selama ini. Setelah ini, aku akan berusaha memperbaikinya."
Lagi-lagi Alya tersenyum dan menatapnya dengan lembut, membuat dirinya kembali dilanda getaran yang terasa indah namun menyesakkan hati.
"Jangan terhanyut lagi, Di! Dia sudah bahagia bersama pemilik hatinya saat ini."
"Lakukan semuanya dengan hati, Di. Karena semuanya akan sia-sia jika kita belum sepenuh hati melakukannya. Aku percaya, kamu pasti mengerti maksudku."
__ADS_1
Alya selesai merapikan meja dan memasukkan peralatan makan pada kantong khusus untuk menyimpan semuanya.
"Aku harus berangkat sekarang."
Dokter berhijab anggun itu mengambil tasnya lalu berdiri dan kembali mendekati Aura diikuti Ardi di belakangnya.
"Tetap sehat selalu ya, Nak. Tante harus pergi dulu. Kita bertemu lagi nanti di rumah Tante Nara."
Yoga menepi dan memberi ruang lebih saat Alya ingin memeluk dan mencium bayi mungil kesayangannya. Dari sampingnya, Ardi memperhatikan dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya. Terharu dan bahagia disertai getaran indah di hatinya.
"Bu-bu ... bu-bu ...." Aura terlihat semakin riang setelah dipeluk dan diciumi oleh Alya.
Beruntung bayi itu tidak lagi rewel saat Alya akan berangkat, sehingga dia bisa meninggalkannya dengan hati yang tenang.
Setelah kepergian Alya, Yoga kembali menatap Ardi dengan pandangan tajam. Dia ingin tahu reaksi sahabatnya setelah apa yang tadi disampaikannya.
"Ada apa?" tanya Ardi pura-pura tidak menghiraukan tatapan mata Yoga kepadanya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya menunggu jawabanmu atas pertanyaanku tadi."
"Sepertinya kewarasanmu mulai terkikis. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk berandai-andai sedangkan dia sudah menjadi milik lelaki lain?"
Ardi menggelengkan kepalanya berulang kali, masih tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabat kecilnya.
"Baiklah, aku akan merubah pertanyaanku." Yoga masih terus menyerang Ardi dengan sengaja.
"Jika ternyata dia bukan lagi milik siapa pun, apakah kamu siap berhadapan dengan lelaki lain yang ingin merebut hatinya dan memilikinya?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.