
"Semoga lekas pulih dan sehat kembali, Alya Annisa."
Alya masih terus membaca pesan itu berulang-ulang, meskipun sudah banyak pesan baru yang masuk berikutnya.
"Ardi ...." Lirih disebutnya nama itu dengan hati yang masih bergetar.
Meskipun tidak pernah menyimpan nomornya, Alya bisa mengetahui dengan pasti jika itu adalah pesan dari Ardi, bukan teman yang lainnya.
Hanya Ardi yang sejak dulu selalu menulis namanya demikian, dalam setiap pesannya. Nama depan diikuti nama tengahnya, Alya Annisa.
Sementara teman-teman lainnya sering kali hanya menulis nama depan atau nama panggilannya saja. Lagipula, baik Alya maupun Ardi memang sangat jarang mengirim pesan dan berbagi kabar di dalam grup bersama teman-teman mereka.
Alya selalu ingat dengan janji mereka dulu, untuk tidak saling berkomunikasi melalui dunia maya, demi menjaga hubungan mereka dengan keluarga masing-masing.
Mereka melakukannya agar tidak sampai ada berita yang bisa memancing kecurigaan dan kesalahpahaman dengan pasangan mereka.
Sejujurnya Alya merasa sangat bahagia mengetahui ada perhatian dari Ardi di saat dirinya tengah sakit dan tak berdaya seperti ini.
Dia ingin sekali menjawabnya, sekedar berterima kasih atas doa yang disampaikan oleh mantan kekasihnya. Akan tetapi dia masih ingat dan memegang janjinya untuk membatasi komunikasi dengan lelaki yang sangat dicintainya itu.
Akhirnya dengan berat hati Alya mengurungkan niatnya untuk membalas pesan Ardi secara personal.
Dia hanya menuliskan satu pesan yang sama seperti sebelumnya, yang dia tujukan untuk semua teman yang sudah mengirimkan doa tulus untuk kesembuhannya.
"Terima kasih atas doa darimu, Di. Aku pasti akan segera pulih dan sehat kembali."
Alya hanya bisa menjawabnya dalam hati, diiringi senyum bahagia bercampur sendu di wajah pasinya.
.
.
.
Jauh di kota yang lain, Ardi baru saja membersihkan diri di ruangannya. Subuh tadi dia sudah berada di klinik karena harus melakukan operasi sesar pada salah satu pasiennya.
Setelah berganti pakaian, dokter pemilik klinik itu beristirahat sambil menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh karyawan bagian dapur.
__ADS_1
Tangan kirinya memegang ponsel dan membaca notifikasi grup yang sejak kemarin belum sempat dibukanya. Saat itulah dia baru mengetahui kabar yang sudah sangat terlambat dibacanya.
"Alya terjatuh di rumah sakit dan mengalami patah tulang di kedua kakinya ...."
Mendadak hatinya menjadi tidak tenang dan dliliputi kecemasan, begitu membaca pesan berisi kabar mengejutkan tersebut.
Ardi melepaskan sendok di tangan kanannya dan menghentikan sarapannya. Selera makannya mendadak hilang begitu saja.
Dia menyandarkan tubuhnya di punggung kursi dan melanjutkan lagi membaca pesan demi pesan yang terkirim sangat banyak di dalam grup yang diikutinya.
Pembahasan mereka dari kemarin sore hingga saat ini pun masih sama, yakni tentang Alya dan seputar kondisinya dari waktu ke waktu.
"Semoga kondisimu sekarang sudah lebih baik dan akan selalu baik-baik saja, Al," harap Ardi dalam hati.
Tiba-tiba pandangannya berhenti pada satu pesan baru yang dikirimkan oleh Alya sendiri. Matanya melebar dan membacanya dengan seksama seiring hatinya yang berdebar dan penuh keingintahuan.
"Aku baik-baik saja, teman-teman. Terima kasih atas perhatian dan semua doa baik yang kalian kirimkan untuk kesembuhanku. Aku sangat menghargainya dan berterima kasih sekali lagi karenanya."
Ardi tersenyum membaca satu pesan yang dìtulis dan dikirimkan Alya sebagai balasan atas semua pesan dari teman-teman grup mereka.
Tanpa sadar, jemarinya mulai bergerak menuliskan sebuah pesan yang ditujukannya untuk wanita masa lalunya tersebut.
"Semoga lekas pulih dan sehat kembali, Alya Annisa."
Satu menit, dua menit hingga lima menit menunggu, tidak ada balasan pesan dari Alya. Ardi masih terus menunggu, menatap layar terang di hadapannya dengan perasaan tak menentu.
Dilihatnya sudah banyak pesan baru yang membuat pesannya tenggelam semakin jauh. Meskipun ragu tapi di dalam hatinya masih menyimpan keyakinan bahwa Alya pasti sudah membaca pesan darinya.
"Kamu pasti tidak lupa siapa yang selalu menuliskan namamu lain dari yang lainnya, Alya Annisa."
Setelah menunggu cukup lama tanpa ingin menanggapi percakapan lain dari teman-temannya, akhirnya Alya mengirimkan satu pesan lagi yang isinya tidak jauh berbeda dengan pesan pertama yang dikirimkan sebelumnya.
Ardi tersenyum lega meskipun ada kecewa di hatinya lantaran Alya tidak membalas pesannya secara personal.
"Mungkin aku yang terlalu berharap, Al. Padahal kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi."
Dokter tampan itu mengunci layar ponselnya dan meletakkan kembali di atas meja. Dia hendak bersiap untuk pulang karena sudah berjanji pada Bunga akan beristirahat di rumah setelah tugas paginya selesai.
__ADS_1
Namun sebelum kakinya berpindah posisi, lelaki itu tiba-tiba teringat akan kejadian yang dialaminya kemarin sore, saat tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa sakit dan kedua kakinya mendadak kaku tanpa bisa digerakkan.
"Mungkinkah apa yang kurasakan kemarin berhubungan dengan kejadian yang menimpa Alya di sana ...??"
Ardi tidak yakin akan hal tersebut, tapi waktu kejadian yang bersamaan dan kesakitan yang sama yang dirasakannya kemarin sore, seolah memberi pertanda bahwa ada sesuatu yang masih terjalin di antara dirinya dan Alya, tanpa mereka sadari sama sekali.
Dulu, perasaannya terhadap Alya memang sangat peka dan selalu terikat erat. Setiap kali kekasihnya merasakan sesuatu hal saat keduanya tengah berjauhan, maka Ardi pun akan merasakan hal yang sama di tempatnya.
Tetapi itu dulu, saat cinta mereka masih menyatu dan tidak pernah terpisahkan sekali pun. Berbeda dengan sekarang, Ardi dan Alya bukan lagi sepasang kekasih yang masih menjalin ikatan rasa yang kuat dan tidak tergoyahkan sedikit pun.
Sekarang, keadaan mereka sudah jauh berbeda. Kini mereka telah berpisah sangat lama dan tidak pernah lagi bertemu dan menjalin komunikasi seperti dulu.
Baru beberapa waktu terakhir ini saja, takdir mempertemukan mereka kembali dan mau tak mau akhirnya membuka kenangan lama yang sebelumnya telah tersimpan rapi di tempat terindah di sudut hatinya yang paling dalam.
"Ya Allah, ada apa sebenarnya dengan semua ini? Permainan takdir apa lagi yang tengah Engkau siapkan untuk kami jalani?"
Lelaki itu masih terus mengingat dan mengaitkan kejadian kemarin sore yang sama-sama dialami oleh mereka di tempat yang berbeda.
Ardi mengusap kasar wajahnya dan mencoba berpikir secara jernih. Namun setiap kali dia melakukannya, hanya bayangan kejadian itu yang melintas dan terbayang lagi di pikirannya.
"Aku mohon, Ya Allah! Apa pun yang akan terjadi atas takdir-Mu, jangan biarkan hati dan cintaku ini berpaling dari keluargaku, dari Bunga dan Aura."
"Merekalah takdirku saat ini, kenyataan yang ada di hadapanku. Merekalah kebahagiaanku sekarang, yang akan selalu aku jaga dan aku lindungi dengan segenap hatiku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.