CINTA NARA

CINTA NARA
2.113. CINTA YANG SAMA


__ADS_3

"Mas, apa Dokter Ardi pernah menghubungimu lagi?"


Yoga mengelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan istrinya. Sejak dia pulang dari rumah sakit satu mimggu yang lalu, sahabat kecilnya itu belum pernah lagi menghubungi.


Dia juga belum pernah bertemu dengan Ardi, padahal sebelum dirinya sadar hampir setiap minggu dokter kandungan itu selalu menyempatkan waktu untuk datang mengunjunginya bersama Bunga.


Bahkan tak jarang mereka menginap dan mengajak serta Aura si putri kecil yang berusia hampir satu tahun, sehingga Raga mempunyai teman bermain di rumah.


"Seminggu yang lalu saat ulang tahunmu, aku sempat menghubunginya dan berbicara sebentar dengannya. Ardi tidak mengatakan apa-apa dan hanya meminta maaf karena belum bisa berkunjung lagi kemari."


Nara menyodorkan segelas jus jeruk buatannya untuk sang suami yang segera diterima Yoga dan diminumnya sampai tak bersisa.


"Terima kasih, Sayang." Disentuh dan diciumnya kepala sang istri usai menghabiskan minuman paginya.


"Akhir-akhir setiap kali memikirkan keluarga mereka, perasaanku tidak enak, Mas. Apa mungkin telah terjadi sesuatu yang kita tidak tahu? Tapi apa ...?"


Nara hendak kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang sudah selesai dimasaknya, tapi pembicaraan mereka tentang Ardi membuatnya tetap berdiri di hadapan Yoga yang belum mengenakan pakaian kerjanya.


Meletakkan gelas kosong di atas meja, tangan Nara kemudian terulur untuk membantu suaminya memakai kemeja kerja yang udah disiapkannya.


Yoga tersenyum dan mengikuti gerakan istrinya yang sudah membentangkan kemeja dan memasukkan satu per satu tangannya ke dalam lengan kemeja.


"Sebenarnya aku juga merasakannya, Sayang. Tapi karena Ardi mengatakan jika semuanya baik-baik saja, aku pun mengabaikannya dan memilih fokus pada pemulihan kondisi fisikku."


Nara mulai mengaitkan kancing kemeja Yoga. Namun sebelumnya, dia lebih dulu melakukan ritual ciumannya pada luka bersejarah di bagian dada suaminya, yang sekarang bertambah lagi dengan bekas luka tembakan di bagian perutnya.


"Jangan sakit lagi, Mas," pinta Nara di akhir ciumannya. Yoga mengangguk dan mencium keningnya dengan lembut.


"Aku akan menjaga diriku lebih baik lagi, Sayang." Diusapnya kepala Nara dengan penuh kasih.


Nara menahan haru yang mulai menyesakkan dadanya, kemudian tersenyum untuk menghalau kesedihannya.


Untuk sesaat mereka terdiam dalam pikiran masing-masing sampai Nara mulai memasukkan ujung kemeja Yoga ke dalam celana panjangnya. Ada yang berbeda dirasakannya saat mengencangkan ikat pinggang sang suami.


"Mas, kamu lebih kurus sekarang. Lihatlah, celana kerjamu menjadi longgar."

__ADS_1


Yoga melihat ke bawah dan membenarkan ucapan istrinya. Selama satu bulan koma, berat tubuhnya berkurang lima kilogram. Tidak terlalu terlihat secara keseluruhan, tapi cukup terlihat di wajah rupawannya yang tampak lebih tirus.


"Aku akan segera mengembalikannya ke ukuran semula. Dengan masakan lezatmu setiap hari, tubuhku pasti akan lebih cepat berisi lagi, Sayang."


Nara mengangguk dan mengiyakan perkataan Yoga. Dia pasti akan menyiapkan makanan yang sehat setiap hari, untuk suami dan anaknya, juga calon anak di dalam kandungannya.


"Sudah siap!"


Hari ini pertama kalinya Yoga akan pergi ke kantor dan memulai pekerjaannya. Meskipun demikian, Nara sudah mengjngatkannya untuk tidak terlalu banyak beraktivitas lebih dulu.


"Aku ingin mengunjungi makam Papa dan Mama, juga ke makam Dicky. Sudah lama kita tidak pergi ke sana."


"Setelah pemeriksaan ulang kesehatanmu minggu depan, kita bisa mengagendakan waktu untuk pulang, Mas."


Yoga tersenyum dan menyetujui usulan sang istri. Nara yang tengah merapikan kerah kemeja Yoga mendapatkan hadiah pelukan erat dari suaminya.


Usai dengan tugasnya, tangan Nara membalas pelukan Yoga dengan melingkarkannya di leher kokoh lelaki itu.


"Kita juga akan mengunjungi Ardi dan keluarga kecilnya. Aku harap mereka semua baik-baik saja dan kekhawatiran kita tidak terbukti."


.


.


.


"Tidak, Sayang. Kamu masih harus dirawat di sini, karena kondisimu masih sangat lemah. Aku tidak mau mengambil resiko dengan membawamu pulang dan merawatmu sendiri."


Sepasang suami-istri tersebut selalu saja berdebat kecil tentang hal yang sama setiap hari. Tentang keinginan Bunga untuk pulang dan tidak disetujui oleh Ardi lantaran kondisinya yang masih lemah, bahkan cederung semakin menurun dari hari ke hari.


Ardi menyembunyikan hasil diagnosa dari dokter berdasarkan serangkaian pemeriksaan yang sudah dijalani oleh Bunga.


Dia tidak ingin membuat kondisi istrinya semakin parah jika sampai mengetahui vonis dokter yang sesungguhnya. Hanya Ardi saja yang tahu dan tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun termasuk Bunga istrinya.


Sejak Bunga dirawat di rumah sakit hampir tiga minggu yang lalu, tidak sekali pun wanita itu diberitahu tentang kondisinya dan penyakit apa yang dia derita sehingga mengharuskan dirinya untuk tetap berada di tempat itu sampai saat ini.

__ADS_1


Walaupun sebenarnya Bunga sudah bisa menduganya dan lebih mengetahui tentang segala perubahan yang dialaminya sendiri, akan tetapi dia juga tidak pernah mau menampakkan kesedihannya di hadapan Ardi.


Ibu satu putri itu tahu bahwa kemungkinan atas kesembuhannya sangatlah kecil. Namun dia tidak pernah ingin menunjukkan keputusasaannya di depan sang suami yang selalu setia merawat dan mendampinginya tanpa kenal lelah sedikit pun.


Baik Ardi maupun Bunga, keduanya sama-sama mengetahui tentang kondisi wanita tersebut, akan tetapi sama-sama diam dan saling menutupi karena tidak ingin membuat sedih pasangannya.


"Maafkan aku, Mas. Mungkin waktuku tidak akan lama lagi. Tapi biarlah semua berjalan seperti ini. Cukup aku saja yang tahu, agar tidak semakin menambah kesedihanmu nanti di saat aku harus pergi meninggalkanmu ...."


Sama halnya dengan Bunga, Ardi pun menyimpan pikiran yang sama dengan istri tercintanya. Dia hanya ingin menjaga perasaan Bunga dan mempertahankan kondisinya agar tidak sampai lemah dan semakin menurun.


"Maafkan aku jika kali ini aku tidak bisa jujur kepadamu, Sayang. Aku tidak ingin melihatmu semakin bersedih dan membuatmu lebih lemah lagi karena mengetahui kenyataannya. Sungguh sejujurnya, akulah yang merasa sangat takut untuk menghadapi saat terburuk itu. Entah apakah aku akan sanggup melepaskanmu atau tidak nantinya ...."


Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Ardi selain tetap bersama istrinya sepanjang waktu dan memberikan semangat dan kekuatan untuk tetap bisa melewati semua proses pemulihannya tanpa kata menyerah.


Untuk sementara waktu, Aura pun terpaksa mereka titipkan bergantian di rumah orangtua Ardi dan orangtua Bunga.


Terpaksa pula bayi cantik itu harus berhenti minum ASI sebelum waktunya, mengingat kondisi Bunga yang tidak memungkinkan untuk tetap memberikan air susunya dalam keadaan sakit parah.


Sangat tidak mudah bagi Ardi untuk menerima kebenaran akan sakit yang diderita oleh istrinya, yang sebelumnya sama sekali tidak dia diketahui dan secara mendadak akhirnya semua terkuak melalui sebuah vonis dari dokter.


Bukan karena dia kurang memperhatikan kesehatan Bunga atau tidak baik dalam menjaganya, akan tetapi Bunga sendirilah yang sengaja menutupinya dan mencegah agar Ardi tidak sampai mengetahuinya.


Rasa cinta yang sama besar membuat keduanya sama-sama tidak ingin saling menyakiti dan memberikan kesedihan satu sama lain.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2