CINTA NARA

CINTA NARA
2.100. KEJUJURAN ALYA


__ADS_3

"Apa kamu berniat untuk bermain api di sini? Apa kamu sudah bosan dengan istrimu sendiri? Di mana logika cerdasmu? Apa sekarang kamu sudah tidak waras lagi, Di??"


"Aku masih waras, Ga! Aku mencintai istriku dan tidak pernah ada niatan sedikit pun untuk berpaling darinya. Aku sangat bahagia menikmati kehidupan bersamanya dan putri kecil kami. Ucapanmu terlalu mengada-ada."


Yoga dan Ardi sama-sama menahan suara serendah mungkin agar Nara dan Bunga tidak sampai mendengar pembicaraan mereka yang sedang dipenuhi gejolak dan amarah.


"Tapi aku bisa melihat dengan jelas, bagaimana kamu menatapnya tanpa berkedip. Dan bukan hanya sekali ini aku melihatnya, tapi sikapmu selalu seperti ini setiap kali bertemu dengannya. Bisakah kamu jelaskan itu kepadaku?"


Yoga tidak merasa khawatir jika pembicaraan mereka akan diketahui oleh Bunga, karena Nara pasti akan menahan Bunga untuk tetap bersamanya di pembaringan.


"Aku pastikan aku tidak akan pernah mengkhianati Bunga! Dia istri yang aku cintai, dia juga ibu dari putri kecil kesayanganku. Aku sangat bahagia menjalani hidup bersama keluargaku dan aku selalu bersyukur atas semua itu."


Ardi meneguk minuman dingin yang dibawa oleh Yoga saat mereka keluar dari ruangan tadi. Hatinya masih dipenuhi kegelisahan dan rasa tidak nyaman.


"Tentang Alya, entahlah ..., jujur aku sendiri masih belum bisa memahami perasaanku setiap kali bertemu dengannya, setelah perpisahan kami lebih dari lima tahun yang lalu."


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Yoga dengan cepat. Dia bisa mengerti apa yang dirasakan sahabatnya, hanya saja dia ingin mendengar kejujuran itu diucapkan langsung oleh Ardi.


"Sulit aku menjelaskannya karena ini masalah perasaan, yang tidak selalu bisa diungkapkan dengan untaian kata meskipun bisa terlihat jelas di mata orang lain."


Ardi menatap Yoga dan mencoba menyamakan keadaannya saat ini dengan kondisi yang dulu pernah dialami oleh Yoga.


"Sama seperti perasaan yang kamu miliki untuk Nara dulu. Hanya bisa menyimpannya di dalam hati, tanpa ada niatan sedikit pun untuk memilikinya apalagi sampai berusaha untuk merebutnya dari orang lain yang sudah menjadi miliknya dan memilikinya secara utuh."


Yoga bisa memahami perasaan Ardi. Baginya, kisah Ardi dan Alya jauh lebih sulit dipahami karena mereka berdua memiliki cinta yang sama besarnya sejak awal dan harus terpisah oleh takdir yang memberi mereka jalan hidup berbeda yang harus mereka jalani masing-masing.


"Jujur aku masih menyimpan perasaanku pada Alya. Tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu. Tapi, tidak ada keinginan sedikit pun untuk memperjuangkannya kembali. Karena kami sudah menjalani takdir hidup masing-masing dengan bahagia."


"Aku menemukan cinta yang baru yang tak kalah indahnya. Mencintai Bunga membuatku bisa melupakan rasa sakit hati karena perpisahanku dengan Alya. Meskipun harus aku akui, aku tidak pernah bisa membuang rasa cintaku yang dulu."


.


.


.

__ADS_1


Seperti biasa, Rendy mengajak Alya makan siang sebelum mengantarnya ke klinik. Namun kali ini, Alya menolak untuk makan di tempat. Dia meminta untuk membawanya ke klinik dan makan siang di ruangannya.


Rendy hanya menuruti semua permintaan Alya. Dia tahu wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu tapi masih dibiarkannya saja.


"Apa pun yang saat ini tengah mengganggu pikiranmu, pasti berhubungan dengan seseorang yang baru saja kamu temui tadi. Siapa dia, Al? Mengapa hatiku turut menjadi gelisah seperti ini?"


Alya terus terdiam selama dalam perjalanan. Roman mukanya begitu murung dan penuh kegalauan. Rendy hanya bisa menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri yang ikut merasa tidak tenang.


Hingga mobil berhenti di halaman klinik, Alya tetap tak bersuara sedikit pun. Dia keluar dari mobil tanpa menunggu Rendy membukakan pintunya lebih dulu, lalu berjalan pelan memasuki klinik.


Rendy segera menyusul wanita yang dicintainya itu sambil membawa kantong berisi makan siang yang dibelinya untuk mereka berdua.


Terus mengikuti langkah dokter berhijab anggun di depannya, Rendy tetap diam dan menyimpan banyak pertanyaan di hatinya.


Alya membuka pintu ruangan tempatnya beristirahat dan mempersilakan Rendy masuk dan duduk bersama.


Lelaki itu mengeluarkan makan siang berikut minuman dari dalam kantong lalu menyiapkannya satu di depan Alya dan satu lagi di hadapannya.


"Dimakan dulu, Al. Aku tidak mau kamu jatuh sakit karena terlambat makan dan kelelahan."


Rendy terus memperhatikan Alya yang terlihat tidak berselera makan tapi tetap berusaha menyelesaikannya hingga tak bersisa.


"Perasaanmu terlihat sangat terpengaruh dengan kehadiran sepasang suami-istri itu. Apakah mereka atau salah satu dari meraka adalah seseorang yang sangat berarti bagimu, Al?"


Setelah sama-sama menghabiskan makan siang mereka, Rendy mencoba berbicara dengan wanita yang duduk berjarak di sampingnya.


"Al, boleh aku bertanya sesuatu?"


Alya yang duduk bersandar dengan pandangan sendu itu mengangguk tanpa menatap lawan bicaranya.


"Sejak bertemu dengan kedua tamu di kamar Nara tadi, sikapmu mendadak berubah dan menjadi gelisah. Apakah ada masalah di antara kalian sebelumnya?"


Alya sudah menduga pertanyaan tersebut. Namun dia masih tidak yakin untuk menjawabnya dengan jujur. Untuk sesaat dia masih terdiam dalam gamang.


"Maaf jika aku terlalu lancang dengan pertanyaanku tadi. Kamu tidak perlu menjawabnya jika memang tidak ingin berbagi cerita denganku."

__ADS_1


Alya menggeleng dan mengangkat wajahnya. Untuk sesaat dia menatap Rendy yang sudah menatapnya sedari lama.


"Aku minta maaf, Ren. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini, apalagi terhadapmu yang tidak ada hubungannya dengan masalahku."


Rendy mengulas senyuman lembut di bibirnya saat melihat Alya memandangnya. Hatinya berdesir halus saat sepasang mata indah itu menatapnya dengan sendu.


"Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan mereka. Hanya saja ... kami pernah mempunyai cerita di masa lalu."


Alya memberanikan diri dan memantapkan hati untuk bercerita tentang kisah lamanya.


"Diakah lelaki yang membuatmu tidak bisa membuka hati lagi untuk yang lainnya, termasuk aku?" Rendy menanyakan sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya sejak di rumah sakit tadi.


Alya mengangguk dan menunduk kembali. Dia sadar kejujurannya akan kembali melukai hati Rendy. Namun wanita itu tidak ingin menutupinya lagi dari lelaki yang sudah teramat baik dan tulus kepadanya selama ini.


"Maafkan aku, Ren ...."


Ada yang terasa perih di sudut hati lelaki itu saat melihat anggukan kepala Alya sebagai jawaban atas lontaran pertanyaan darinya.


Rendy menopang kedua sikunya di atas paha, lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Kejujuran Alya ternyata membuat dadanya terasa sesak menahan kesedihan di lubuk hatinya.


"Ternyata benar dugaanku. Lelaki itu adalah masa lalumu. Masa lalu yang tidak pernah bisa kamu lepaskan dari hatimu dan kehidupanmu."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2