CINTA NARA

CINTA NARA
2.55. PESAN ISTIMEWA


__ADS_3

"Aku tidak bisa .... Jangan ..., jangan sentuh aku ...."


Nara dan Yoga terkejut mendengar rintihan Alya di luar kesadarannnya.


"Tolong ... jangan paksa aku. Aku ... aku tidak mau ...."


Nara dan Yoga saling berpandangan. Tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Kamu ... kamu jahat. Kamu sudah ... kamu merampasnya ...."


"Mas ...?!" Setengah berbisik Nara memanggil suaminya, tak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Ssttt ...!!" Yoga memintanya tetap diam agar tidak sampai membangunkan Alya.


Masih dalam posisi berdiri di samping pembaringan, Nara memeluk erat suaminya. Dia terbawa emosi hingga pikirannya kembali ke masa lalu, saat dirinya terbangun usai dinodai oleh Yoga.


Tanpa sadar dia terisak, membayangkan hal yang sama seperti yang dirasakan Alya, andai saja dulu dia berada dalam kondisi yang sadar sepenuhnya.


Mendengar tangisan istrinya, Yoga pun teringat pada kejadian yang sama. Lelaki itu merasa bersalah dan segera merapatkan pelukannya pada Nara.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku ...."


Berdua mereka hanyut terbawa arus kenangan masa lalu yang sebenarnya tidak ingin mereka buka dan mereka ingat kembali.


Perlahan Yoga menarik wajahnya hingga berhadapan dengan wajah Nara. Ditangkupnya wajah itu dengan kedua tangannya tanpa melepaskan tatapan satu sama lain.


"Aku minta maaf ...." Yoga mengulangi permohonannya dan Nara hanya bisa mengangguk tanpa kata.


"Sejak kenyamanan itu tumbuh dan kurasakan di hatiku, sejak saat itu pula aku sudah mengikhlaskan semua yang telah lalu, Mas. Sekarang aku hanya bisa mencintaimu, mencintaimu dan mencintaimu, selalu dan selamanya ...."


.


.


.


Yoga meminta bantuan dua orang perawat untuk menjaga dan menemani Alya secara bergantian, sesuai jam lepas dinas mereka dari pekerjaan utamanya di rumah sakit.


Setelah perawat yang berjaga malam datang, bersama Nara lelaki itu segera pulang untuk beristirahat.


"Apa kata Dokter tadi, Mas?" tanya Nara setelah mereka berbaring di atas tempat tidur.


"Alya perlu melakukan konseling dengan seorang psikolog untuk mengatasi rasa traumanya yang begitu mendalam."

__ADS_1


Yoga merapikan selimut yang sudah menutupi kedua tubuh mereka, lalu mencium kening istrinya dan merebahkan tubuhnya di samping Nara.


"Separah itukah?"


"Kamu mendengar sendiri kan, bagaimana rintihan kesedihannya tadi?"


Nara mengangguk dan teringat pada kejadian di rumah sakit tadi. Rintihan Alya memang membuat semua orang yang mendengarnya menjadi miris dan kasihan.


Dalam hatinya wanita itu bersyukur, meskipun pada awalnya sangat buruk dan penuh kebencian serta keterpaksaan, akan tetapi pernikahan tanpa cintanya dengan Yoga bisa berubah menjadi pernikahan yang terindah dengan cinta luar biasa yang sekarang mengikat erat mereka untuk selamanya.


"Mengapa mantan suaminya sangat membenci Dokter Alya?" Nara tidak habis pikir, wanita yang sangat baik dan luar biasa seperti Alya bisa sangat tidak disukai seperti itu.


"Mungkin karena dia merasa kehadiran Alya membuatnya harus berpisah dengan kekasihnya, wanita yang selama ini sangat dicintainya."


"Jika dia mencintai kekasihnya, mengapa dia justru menodai perasaannya itu dengan perbuatan buruk, sampai berani memaksa Dokter Alya dan merenggut kesuciannya?"


Yoga merapatkan pelukannya dan membawa tubuh sang istri ke dalamnya. Dicumbuinya Nara dengan lembut, demi membuat wanita itu terbuai dan melupakan semua pembicaraan mereka tentang Alya.


Dia tidak ingin mereka kembali terbawa suasana hingga harus mengingat masa lalu mereka seperti saat di rumah sakit tadi.


"Mas ...." Nara mulai terhanyut dan Yoga pun memperlakukannya dengan semakin lembut dan tiada henti.


"Jangan memikirkan hal yang lain lagi, Sayang. Sekarang waktunya kita berdua menikmati malam ini."


Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, Yoga pun memulai ritual cinta mereka. Tak ada lagi ucapan yang keluar dari kedua bibir yang telah menyatu begitu dalam.


Yang ada hanya suara cinta yang mendesah penuh gairah, menuntun keduanya untuk terus saling menikmati dan memuaskan satu sama lain, meraih puncak yang mereka damba secara bersama-sama.


.


.


.


Pagi harinya Alya terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Diawalinya hari ini dengan melakukan kewajibannya dengan gerakan terbatas di atas pembaringan.


Seorang perawat yang telah berjaga semalaman kemudian membantunya untuk membersihkan badan dan berganti pakaian dan hijab sederhana yang bisa dikenakannya dengan mudah dan cepat.


"Suster kok masih di sini? Bukankah harusnya semalam sudah pulang dan digantikan oleh yang lainnya?"


Alya memperhatikan penampilan perawat tersebut. Fia mengenakan pakaian biasa dan sudha melepaskan seragam yang semula dipakainya.


Alya masih ingat jika perawat tersebut adalah perawat yang sama yang menanganinya sejak sore kemarin. Harusnya dia sudah pulang malam harinya karena pagi ini akan kembali bekerja sesuai jadwal tugasnya.

__ADS_1


"Iya, Dok. Saya dan satu teman yang lain diminta oleh Pak Yoga untuk bergantian menjaga Dokter selama dirawat di sini. Kami akan bergantian mengambil waktu lepas kami untuk menerima tawaran ini."


Lagi-lagi Alya terharu dan merasa telah banyak merepotkan Yoga dan Nara yang sudah berulang kali membantu dan tidak meninggalkannya di saat dia butuh pertolongan.


Setelah membantu merubah posisi pembaringannya menjadi lebih tegak untuknya bersandar lebih nyaman, Alya mempersilakan perawat tersebut untuk beristirahat dan bersiap untuk kembali bertugas di rumah sakit.


Alya membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan yang belum sempat dibuka dan dibacanya sejak mengalami kecelakaan sore kemarin.


Ternyata berita tentang kejadian yang menimpanya sudah diketahui oleh teman-temannya, baik teman-teman di grup perkuliahan maupun beberapa grup seprofesi yang dia ikuti.


Melalui grup pesan yang mereka ikuti, mereka saling bertukar kabar dan saling memberikan dukungan satu sama lain. Seperti halnya kali ini, dirinya yang menjadi pusat perbincangan hangat teman-temannya di beberapa grup pesan tersebut.


Dengan rasa senang dan bahagia karena banyaknya perhatian dan doa yang diterimanya, Alya membalas secara singkat pesan mereka dengan satu pesan yang ditujukannya untuk semua.


Kemudian dia melanjutkan membaca beberapa pesan baru yang masuk setelah balasan pesannya terkirim.


Tiba-tiba hatinya tersentak kaget dan bergetar indah kemudian, saat membaca salah satu pesan yang baru saja masuk dan terbaca begitu saja olehnya.


"Semoga lekas pulih dan sehat kembali, Alya Annisa."


Mendadak jantungnya berdegup kencang dan terus berdebar-bedar saat berulang kali membaca satu pesan tersebut.


Pesan yang isinya hampir sama dengan yang lainnya. Tidak ada yang berbeda, hanya sebuah ucapan doa untuk kesembuhannya


Nomor pengirimnya pun tidak dikenalnya, karena Alya memang tidak pernah menyimpan semua nomor yang ada di dalam grup, kecuali beberapa nomor dari teman terdekatnya saja.


Namun ada satu hal dari pesan itu yang membedakannya dari pesan yang lain. Hal istimewa yang hanya dirinya saja yang mengetahui dan merasakannya.


Alya ragu untuk membalasnya secara personal meskipun hanya di dalam grup. Akan tetapi hati kecilnya menginginkan untuk membalas satu pesan istimewa tersebut.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2