
Usai mengunjungi Yoga, Ardi berjalan menuruni tangga untuk menyusul Bunga di kantin. Setelah ini mereka berencana untuk menemui Nara di kantornya dan akan langsung kembali pulang pada sore harinya.
Saat sampai di lantai dua dan hendak melanjutkan turun ke lantai dasar, ayunan langkahnya tertahan dan berpijak di tempatnya semula.
Lelaki itu melihat seorang wanita berjalan turun lebih dulu beberapa langkah di depannya, menuruni satu per satu anak tangga dengan pelan dan hati-hati menuju ke lantai bawah.
"Alya ...."
Tanpa sadar dirinya berucap lirih menyebutkan nama wanita tersebut. Kendati tidak melihat wajahnya secara langsung, lelaki itu meyakini bahwa wanita itu adalah Alya.
Setelah mengatur napasnya yang sempat memburu lantaran terkejut, Ardi melanjutkan langkahnya mengikuti wanita itu hingga sampai di lantai dasar.
Dia terus memahan diri untuk tidak menyapanya karena Alya tidak sendirian. Dia berjalan bersama seorang lelaki yang pernah dijumpainya saat membesuk Nara dulu.
Lelaki yang dikira Bunga adalah suaminya, tapi Yoga mengatakan bahwa mereka adalah rekan seprofesi di rumah sakit ini.
"Mengapa mereka berdua tetlihat cukup dekat? Apa suami dan istri mereka tidak merasa cemburu?" batin Ardi penuh kecurigaan.
Dadanya mulai bergemuruh saat langkah kakinya terus mengikuti begitu saja ke mana kedua dokter itu berjalan bersama di antara keramaian tanpa rasa canggung satu sama lain.
Langkahnya terhenti di balik pintu utama yang terbuat dari kaca. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat dengan jelas Alya dan Rendy berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari teras depan.
Ada yang terasa sesak di hatinya saat melihat perlakuan istimewa Rendy pada wanita masa lalunya tersebut.
Dokter bertubuh tegap bersahaja itu membukakan pintu untuk Alya, melindungi bagian kepalanya dan menutup pintu dengan senyuman lembut di bibirnya.
Meskipun Alya tampak bersikap biasa saja, tapi dari gerak tubuhnya terlihat bahwa dia merasa nyaman bersama lelaki itu.
"Ada apa denganku? Mengapa aku harus peduli dengan kebersamaan mereka? Bukankah aku dan dia sudah menjalani kehidupan bahagia masing-masing? Tapi mengapa aku merasa ... cemburu?"
Ardi mengusap kasar wajahnya yang masih tampak tegang melihat mobil yang ditumpangi Alya bersama rekan dokternya tadi melaju pelan meninggalkan area rumah sakit.
"Ini tidak benar! Aku harus menepis perasaan ini dan melupakan semuanya. Dia hanya sebuah masa lalu, sementara sekarang aku memiliki masa depan yang bahagia bersama Bunga istriku."
Ardi membuang kasar helaan napas panjangnya lalu menyugar rambutnya dengan asal. Dia berbalik badan dan berjalan cepat menuju ke kantin yang terletak di bagian samping rumah sakit untuk menyusul istri tercintanya.
"Sudah selesai, Mas? Duduklah dulu, kita makan siang di sini sebelum pergi ke kantor Pak Yoga."
__ADS_1
Ardi tersenyum sembari mengusapi kepala Bunga dengan sayang sebelum duduk di sampingnya.
"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama, Sayang."
"Tidak apa-apa, Mas. Kebetulan tadi aku berjumpa lagi dengan temanku yang dulu aku ceritakan padamu. Dia sedang bertugas hari ini sehingga kami bisa bertemu lagi di sini."
Beberapa waktu yang lalu, saat bersama Ardi mengunjungi Yoga, tanpa sengaja Bunga bertemu dengan teman kuliahnya dulu. Sekarang temannya itu bekerja di rumah sakit yang sama tempat Yoga dirawat karena dia memang berasal dari kota tersebut.
"Oya? Syukurlah jika kamu tidak sendirian menungguku. Lalu di mana temanmu itu?" tanya Ardi sambil meneguk minuman milik istrinya karena dia belum memesan apa pun.
"Dia baru saja kembali ke ruang jaga, Mas. Tadi kami bertemu di sini saat dia sedang istirahat untuk makan siang."
Setelah menjawab pertanyaan suaminya, Bunga berdiri dan berjalan mendekati salah satu kedai makanan untuk memesan satu paket makan siang untuk Ardi.
Dari tempatnya duduk, Ardi memaku tatapannya pada sosok sang istri yang selalu penuh perhatian kepadanya.
Sekali pun, wanita yang berusia lima tahun lebih muda darinya itu tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri di mana pun mereka berada.
Mendadak perasaannya yang semula tak menentu karena membuntuti Alya dan Rendy, berubah menjadi haru dan penuh cinta.
"Kehadiranmu benar-benar membuat hidupku selalu dipenuhi kebahagiaan dan cinta kasih. Terima kasih sudah hadir di saat yang tepat dan menjadi sosok yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku selamanya."
"Tetaplah bersamaku dan jangan pernah tinggalkan aku, Sayang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku harus kehilangan dirimu ...."
Di dalam mobil, Rendy diam-diam terus mencuri pandang ke arah Alya yang sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Hanya dengan sekilas memandangimu seperti ini saja sudah membuat hatiku begitu tak menentu rasanya, Al. Kamu memang sosok luar biasa yang mampu membuat hatiku tunduk dan jatuh cinta begitu dalam."
Sejenak lelaki itu melepaskan tangan kirinya dari kemudi dan membawanya di atas dada. Di sana, dia meresapi debaran yang memeriahkan suasana hatinya, disertai getaran-getaran indah yang terus menyeruakkan rasa bahagia.
"Aku tahu rasa ini tidak akan pernah bisa berlabuh dalam kebahagiaan sebagaimana yang aku harapkan selama ini. Tapi tetap saja, aku tidak bisa melepaskan perasaan ini begitu saja karena cinta ini telanjur melekat erat di hatiku, meskipun aku tahu kamu tidak akan pernah bisa menjadi milikku."
Alya yang menyadari pergerakan tangan Rendy dari ekor matanya langsung menoleh ke samping dan mendapati lelaki itu tengah tersenyum sendiri.
"Ada apa, Ren?" tanya dokter berhijab anggun itu. Sepasang mata indahnya masih terus menatap Rendy tanpa sadar.
Rendy menghentikan laju mobil bersamaan dengan menyalanya lampu lalu-lintas berwarna merah.
__ADS_1
Dengan bahagia dibalasnya tatapan mata Alya dengan tatapannya yang lembut dan penuh cinta. Dan seolah terbuai oleh kelembutan itu, Alya pun masih bergeming menatapnya.
"Andai aku bisa memilikimu, alangkah indahnya suasana seperti ini, Al. Saat kita berdua bisa saling menatap penuh rasa cinta."
"Aku mencintaimu, Al ...." Tiba-tiba dalam kondisi setengah sadar, Rendy mengucapkan kalimat yang mewakili isi hatinya tersebut.
"Ren?" Alya tertegun mendengar pernyataan cinta Rendy yang terucap begitu saja.
"Aku mencintaimu ...." Rendy justru mengulangi kalimat itu.
"Ren, lampunya sudah menyala hijau!" ucap Alya sedikit keras agar lelaki itu tersadar.
Tiiin ... tiiinn ... tiiinnn ...!!!
Rendy terkejut dan mengerjap. Tanpa berpikir lagi dia menatap ke arah depan dan segera melajukan mobilnya.
Alya segera menghadap ke luar jendela dan menyembunyikan wajah memerahnya.
"Maafkan aku, Al," ucap Rendy tulus dengan perasaan yang tidak nyaman. Pandangannya masih terfokus pada jalanan di hadapannya.
Alya terdiam tanpa jawaban. Dia merasa bersalah karena berulang kali telah mengecewakan Rendy di saat lelaki itu mengucapkan kalimat yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Harusnya aku yang meminta maaf padamu karena selalu mengecewakanmu, Ren. Andai saja aku bisa ...."
Alya menyeka butiran bening yang menggenangi pelupuk matanya, membuat Rendy semakin diliputi perasaan bersalah.
Begitu tiba di halaman klinik, Rendy segera mematikan mesin mobil lalu kembali menatap Alya dengan perasaan bersalah yang semakin besar.
"Tolong maafkan aku, Al. Aku tidak sengaja mengatakannya lagi. Aku tidak bermaksud mendesakmu apalagi memaksamu."
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1