CINTA NARA

CINTA NARA
Melayat


__ADS_3

Pukul dua siang di bandara Sukarno Hatta.


Siang kali ini begitu terik, dengan sinar matahari bersinar amat garang. Dengan langit membiru tanpa awan sedikitpun yang singgah. Elok di pandang tapi tak ingin merasakan. Panasnya begitu menyengat. Hawanya yang panas membuat semua orang berpikir dua kali untuk berpanas - panasan saat matahari tepat berada di atas kepala kita.


Suasana di Bandara ini selalu ramai. Tak ada matinya. Ada saja keperluan setiap orang yang memang punya keperluan masing - masing untuk singgah di bandara internasional Indonesia ini.


Begitu juga dengan Nara sekeluarga. Mereka sengaja menunggu mobil jemputan di ruang tunggu kedatangan pesawat di terminal 2 C. Hanya lima belas menit kemudian, mobil yang ditunggu pun datang. Sebelumnya Pak Rizal menelpon Nara agar bersiap - siap berada di pinggir jalan terminal 2 C kedatangan penumpang.


Mobil pajero hitam yang ditunggu itu pun tiba, berhenti tepat di pinggir jalan terminal kedatangan. Mobil pajero hitam itu tambah mengkilat di terpa kilau sinar matahari yang panas.


Pak Rizal tidak sendiri, di sampingnya ada teman polisinya yang disuruh Pak Donnie untuk menjemput Nara sekeluarga.


Ibu dan Ayah duduk di kursi tengah, duduk di belakang posisi Pak Rizal yang sedang menyetir. Sedangkan Nara dan Angga duduk di kursi paling belakang di belakang ibu dan ayahnya.


Semilir angin dari AC mobil membuat mereka yang kegerahan menjadi adem seketika. Jarak tempat duduk didepan dan belakang yang luas membuat nyaman bagi penumpang yang berada di dalamnya.


Nara dan Angga masih saja duduk diam tak bersua. Semua yang ada di mobil pun sama, sepertinya enggan bersuara. Hanya lantunan lagu islami yang mengalun indah yang diputar Pak Rizal untuk mengisi keheningan suasana dalam mobil.


Satu jam perjalanan lewat tol dari bandara Sukarno Hatta menuju rumah jenderal polisi bintang empat ini. Melewati satu jam perjalanan dengan suasana hening di dalam mobil membuat perjalanan itu menjadi terkesan sangat lama.

__ADS_1


Akhirnya tiba juga mobil pajero hitam itu di depan rumah sang jenderal.Tampak mobil - mobil berjejer di kanan kiri tepi jalan. Mereka adalah keluarga dan kolega dekat sang jenderal yang datang melayat turut berduka atas kepergian putri tercinta sang jendral, Dina Prambudya


Pagar rumah yang selalu tertutup, kini sudah terbuka lebar. Ada beberapa karangan bunga yang sudah terpajang di sana. Di depan rumah juga ada dua orang petugas yang mengatur mobil - mobil para pelayat yang datang. Di teras rumah yang telah beralas permadani pun sudah banyak tamu yang duduk ikut bela sungkawa sambil membaca surat yassin yang ada di tangan mereka.


Mobil pajero hitam itu masuk kedalam rumah, langsung menuju garasi dalam rumah.


Semua mata kemudian tertuju pada orang yang keluar dari dalam mobil pajero itu.


Kepergian anak sang jederal meninggalkan luka terdalam bagi semua orang yang mengenalnya. Dina yang baik, sangat baik di mata keluarga, teman dan orang - orang yang mengenalnya.


Ibu dan ayah Nara duluan turun dari mobil itu. Lalu kemudian Angga dan Nara. Mereka semua berjalan melewati tamu yang telah duduk di teras rumah.


Semua mata kemudian memandang Nara. Semua yang melihat merasakan sosok Dina kembali hidup di hadapan mereka. Gadis cantik anak sang jenderal yang baik hati dan tidak sombong. Orang baik yang cepat di


Memasuki ruang tamu, banyak para tamu pelayat yang duduk beralaskan permadani yang sedang membaca surat yassin. Mereka khusuk melantunkannya ayat suci alquran ini.


Tampak jenazah Dina terbujur kaku di tengah ruang tamu. Papa Dina dan mama berada dengan setia berada di samping tubuh tak bernyawa anak kesayangan mereka. Mama tak henti - hentinya menangis sambil membaca surat yassin dengan buku yang ada di tangannya.


Ibu yang terlebih duluan masuk langsung menghabur di depan tubuh anaknya. Tangisannya tumpah saat ia membuka kain yang menutupi wajah pucat Dina. Nara pun ikut duduk di samping ibunya. Ia pun menangis tak kuasa melihat sang kakak diam tak bergerak. Dengan senyum tetap tersungging di wajahnya yang pucat.

__ADS_1


Angga dan ayah turut meneteskan air mata. Air mata kehilangan sosok yang mereka sayangi. Padahal ayah baru memulai menyayangi anak sambungnya ini. Namun kini ia telah pergi untuk selama - lamanya.


Mama yang berada di samping Ibu berusaha menenangkan ibu. Padahal ia juga masih berurai air mata. Namun ia tak tega, melihat Ayana yang baru beberapa bulan mengenal sang anak yang hilang, kini kehilangan untuk selama - lamanya.


"Dina ... jangan tinggalkan ibu lagi. Ibu restui hubungan mu dengan Angga. Hiks ... hiks ... " ucap Ibu dengan terisak - isak sambil memeluk jenazah Dina.


"Mbak Dina, aku belum puas bermain denganmu. Mengapa kau pergi begitu cepat. Bukankah kau pernah janji kita akan main ke pantai panjang lagi. Hiks ... hiks ... hiks, " tutur Nara sambil memeluk erat jenazah yang ada di depannya.


Angga pun merasakan kehilangan teramat dalam. Cinta pertamanya telah pergi. Menggoreskan cerita pilu untuknya. Di tinggal kekasih untuk selama - lamanya.


Pak Donnie yang berusaha tegar. Kini ia tak kuasa, bulir bulir air mata menetes di wajahnya. Suasana mengharu biru terjadi di ruangan ini.


Ibu masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok jenazah itu adalah anaknya. Padahal ia masih ingin memeluk tubuh kaku itu. Namun seseorang datang dan meminta maaf bahwa jenazah akan segera di bawa ke masjid terdekat untuk di sholatkan.


Jenazah Dina itu kemudian dibawa oleh beberapa orang masuk ke dalam mobil. Rencananya akan di sholatkan dan di kuburkan dekat masjid terdekat.


Iring - iringan mobil itu tampak mengiringi mobil pembawa jenazah.Tiba di masjid jenazah itu langsung di sholatkan oleh imam masjid itu. Tak lama setelah itu jenazah itu di bawa ke pemakaman terdekat.


Semua yang menyayangi Dina hadir di acara pemakamannya. Ibu dan Nara masih meratapi kepergiannya begitu cepat. Ibu tak kuasa melihat anak kecilnya yang hilang itu kini di timbun tanah sampai jenazahnya telah rata di tutup tanah kuburnya.

__ADS_1


Mama Dina juga lebih histeris lagi. Ia tiba -tiba pingsan saat tanah kubur itu sudah menutupi jenazah anak sambungnya ini. Dengan sigap Pak Donnie langsung membopong istrinya yang terkulai lemas.


Angga mencoba menahan air mata agar tidak tumpah. Namun kesedihannya teramat dalam. Dan ... air mata pun luruh juga di kedua pipinya. Hanya doa tulus yang ia kirim buat Dina. Semoga arwahnya di tempatkan di tempat tertinggi di surgawi, aamiin ....


__ADS_2