
Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kehendak Illahi yang menentukan akan bagaimana hidup kita ke depannya. Dan takdir Allah juga yang akan menempatkan kita pada kenyataan hidup yang kadang kala tak seindah impian.
Dua bulan sudah usia Raga sekarang. Bayi montok yang semakin aktif dan penuh kelucuan itu, semakin menambah kebahagiaan keluarga kecil Nara dan Yoga.
Tanpa perlu banyak kata untuk mengungkapkan kasih sayang di antara mereka, Yoga dan Nara terus menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan baik. Dengan tindakan nyata yang selalu ditunjukkan apa-adanya oleh mereka, sudah bisa mewakili perasaan keduanya satu sama lain.
Yoga pun tak menuntut pengakuan Nara atas perasaannya terkini. Meskipun berharap, tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan memaksakan apa pun lagi kepada Nara.
Asal melihat wanita tercintanya itu nyaman dan bahagia bersamanya, itu sudah cukup baginya dan menjadi kebahagiaan terbesar sepanjang hidupnya.
Akhir pekan menjelang siang hari, Ardi datang bersama Bunga, meminta kesediaan Yoga dan Nara untuk ikut bersama keluarganya melamar Bunga minggu depan.
Kedua lelaki sebaya itu melanjutkan obrolan mereka di beranda depan, sementara Bunga dan Nara masih berada di ruang tengah membicarakan tentang perkembangan Raga sambil menemani bayi mungil itu tidur di ayunannya.
"Kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Yoga sambil menikmati puding buah buatan Nara yang juga dijadikan hidangan untuk kedua tamu mereka.
"Tidak dalam waktu dekat ini. Aku ingin Bunga menyelesaikan kuliah lanjutannya dulu, baru kemudian kami akan melangsungkan pernikahan."
"Tahun depan?" tanya Yoga lagi dan diangguki oleh Ardi.
"Aku harap begitu," jawab dokter tampan tersebut.
"Semoga aku masih ada waktu untuk menjadi saksi pernikahan bahagiamu kelak." Yoga menghela nafas panjang dengan pandangan menerawang.
Ardi refleks menoleh ke arah sahabat kecilnya, sambil menahan sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. Sebisa mungkin dia menahan kesedihannya, agar Nara tidak sampai mengetahuinya.
"Kita terus berusaha bersama-sama, Ga. Yakinlah Allah tidak akan pernah mengabaikan doa dan ikhtiar kita!"
Yoga mengangguk dan tersenyum getir. Entah harapannya akan terkabul atau tidak, tapi sejak Raga hadir dalam kehidupannya, ada rasa tidak rela jika dia hanya akan memiliki waktu yang tak lama bersama sang penerusnya tersebut.
Dia tidak ingin pasrah pada sekedar vonis manusia karena semua kepastian akhir ada di tangan Yang Maha Kuasa. Dia masih ingin dan akan terus berjuang untuk sembuh, meskipun kemungkinan itu sangatlah kecil.
Namun sesulit apa pun usahanya dan selama apa pun itu, dia akan terus melakukannya guna menambah sedikit kemungkinan itu, untuk bisa hidup lebih lama bersama istri dan anaknya.
__ADS_1
"Oya, minggu lalu Alan menghubungiku dan mengatakan bahwa bulan depan dia akan menikahi Sasha. Mereka akan menikah di kota asal keduanya." Ardi mengalihkan pembicaraan mereka agar tidak larut dalam kesedihan yang baru saja tercipta.
"Syukurlah, aku turut senang mendengarnya. Semoga dia bisa terus menjaga cinta pertamanya itu dan hubungan mereka kekal dan bahagia selamanya. Aamiin!"
Yoga mendoakan Alan dengan tulus, sebab bagaimanapun juga, dulu mereka adalah sahabat baik dan Yoga berharap setelah mereka berdamai tempo hari, persahabatan mereka bisa terjalin kembali tanpa harus mengingat masa lalu yang buruk di antara mereka.
"Nanti aku akan menghubunginya untuk mengucapkan selamat dan berterima kasih kepadanya karena dia menjadi salah satu orang yang menyelamat nyawaku dengan sumbangan darahnya saat aku kritis kemarin."
"Kau akan memberitahu Nara?" tanya Ardi sambil menghabiskan minuman di gelasnya.
"Mungkin tidak."
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin membuatnya kembali bersedih dengan membuķa ingatan tentang Alan. Aku takut dia masih menyimpan perasaannya sementara Alan justru sudah kembali bersama cinta pertamanya."
Ardi tersenyum penuh arti. Dialah yang menjadi saksi buruknya hubungan mereka bertiga sebelum ini.
"Kisah kalian bertiga memang rumit. Ditambah lagi dengan kehadiran Sasha sebagai masa lalu Alan."
"Semoga suatu hari nanti Nara bisa memaafkanku dan memulai hidup barunya dengan bahagia tanpa ada kesedihan dan air mata lagi."
Tanpa keduanya sadari, di balik tirai yang menutupi jendela kaca ruang tamu, Nara berdiri di sana dan mendengarkan semua pembicaraan Yoga dan Ardi tentang Alan.
Tidak sengaja Nara mendengarnya saat dia akan mengantarkan minuman segar untuk mereka, dan langkahnya terhenti ketika mendengar pembicaraan dua orang sahabat itu.
.
.
.
Setelah makan siang bersama, Ardi dan Bunga pamit pulang. Yoga dan Nara membawa Raga ke dalam kamar dan menidurkan bayi mungil itu di tengah tempat tidur mereka.
__ADS_1
Yoga menemani Raga tidur di samping bayi yang terus terlelap itu. Sementara Nara dengan alasan tidak mengantuk memilih duduk melepas lelah di sofa dan membuka ponselnya.
Dia teringat tentang pembicaraan Yoga dan Ardi di beranda tadi. Sejujurnya tidak ada yang membuatnya bersedih atas cerita yang didengarnya itu. Tentang Alan, sejak Raga lahir dia sudah tidak pernah memikirkannya lagi.
Baginya, Raga dan Yoga adalah keluarga barunya yang harus dia jaga dan dia utamakan lebih dari hal yang lainnya. Sama seperti yang selalu Yoga katakan padanya, bahwa istri dan anaknya adalah prioritas utama dalam hidupnya, sekarang dan selamanya.
Tapi, ada satu hal dari pembicaraan tadi yang baru diketahuinya dan itu membuatnya merasa telah dibohongi oleh Alan. Selama mereka menjalin hubungan, sekali pun Alan tidak pernah bercerita tentang Sasha.
Saat mereka berbagi cerita tentang masa lalu masing-masing pun, Alan mengatakan jika dirinya tidak memiliki kisah cinta masa lalu. Alan mengatakan bahwa dialah satu-satunya cinta dalam hidup lelaki itu dan tidak ada yang sebelumnya juga sesudah dirinya.
(Mengapa kamu menutupi cerita tentang Sasha, Lan? Terlalu indahkah kisah masa lalu kalian sehingga kamu enggan membaginya dengan siapa pun, termasuk aku yang kau akui sebagai cintamu satu-satunya?)
Ada secuil perih yang terasa di hatinya. Bukan karena Alan akan menikahi Sasha, akan tetapi kecewa yang sekarang dirasakannya karena merasa telah dibohongi oleh ketidakjujuran Alan tentang cinta pertamanya.
Namun di sisi lain, Nara merasa lega karena telah mengetahui kebenaran tentang Alan meskipun itu dari orang lain. Hatinya merasa tenang dan lebih lapang untuk menjalani kehidupannya saat ini.
(Tidak ada yang perlu aku sesali kini, sekalipun aku terlambat mengetahui sesuatu tentang dirimu. Setidaknya aku masih bisa bersyukur hari ini dan terus ke depannya, sebab tanpamu aku masih bisa menjalani kehidupanku dengan bahagia, bersama dia yang juga mencintaiku dan selalu membuatku merasa sangat dicintai.)
Pandangan Nara tertuju lurus pada sosok Yoga yang sudah tertidur pulas bersama buah hati mereka. Senyumnya mengembang sempurna menghiasi wajah bahagia yang kian menambah kecantikannya luar dan dalam.
"Terima kasih sudah mencintaiku sedemikian indah dengan caramu. Aku bahagia bersamamu, bersama Raga, bersama keluarga kecil kita ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
💜Author💜
.