CINTA NARA

CINTA NARA
92 LAMARAN YANG TERLAMBAT


__ADS_3

"Aku ingin mengenang pertemuan pertama kita. Di sini, di tempat ini, malam ini tepat dua tahun yang lalu."


Nara terhenyak, tak menyangka begitu detil Yoga mengingat semua itu. Sementara dirinya sama sekali tidak mengingatnya bahkan tidak pernah menyimpan kesan lebih dari pertemuan pertama mereka kala itu.


Kedua tangan mereka saling bertautan di antara tubuh mereka yang berdiri berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.


"Saat itu, aku tidak menyangka akan seperti ini perjalanan hubungan kita, karena dulu aku hanya bisa mencintaimu saja tanpa berani mengungkapkannya kepadamu, apalagi memintamu untuk menjadi milikku."


Jantung Nara mulai berdegup kencang. Dia mulai menyadari ke mana arah pembicaraan Yoga saat ini.


"Sebelumnya, untuk yang kesekian kalinya aku ingin meminta maaf kepadamu atas seluruh kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapmu. Maukah kamu memaafkan dosa dan khilafku yang membuatmu tersakiti dan menderita karenanya?"


Nara tak sanggup melihat wajah suaminya yang berubah sendu dengan pelupuk yang mulai digenangi air mata. Sama seperti Yoga, dia pun tak menyangka akan menjadi seperti ini perasaannya kepada lelaki yang pernah membuat hatinya terluka begitu dalam.


Namun melihat penyesalan dan kesungguhan Yoga untuk memperbaiki semua kesalahannya, membuat perasaan Nara begitu tersentuh dan tak bisa lagi mengabaikannya.


Selain itu, Yoga telah menunjukkan ketulusan cintanya dengan sikap dan perhatian yang selalu terlimpah untuk dirinya, sehingga Nara benar-benar merasakan kasih sayang lelaki itu dan membuatnya kian hari kian merasa nyaman saat bersama Yoga.


"Aku sudah memaafkanmu dan tidak lagi membencimu."


Suara Nara bergetar saat mengucapkannya. Tak bisa lagi menahan tumpukan perasaan yang bercampur-aduk di hatinya, dia menjatuhkan tubuhnya ke depan, memeluk Yoga dan menyandarkan kepalanya di tempat ternyamannya.


Yoga yang masih terkesiap dengan jawaban Nara, seketika tersadar dan memeluk istrinya yang sudah menumpahkan air mata hingga membasahi kemeja depannya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih atas maafmu untukku."


Berdua mereka melalukan waktu sejenak dengan uraian air mata untuk melepaskan segala beban yang terasa di dalam hati.


Setelah tangisan Nara mereda dan Yoga sendiri mulai bisa menenangkan diri, mereka merenggangkan pelukan tapi tetap berpegangan tangan dan saling menatap.


Di bawah redup sinar yang menerangi ruangan, hening kembali tercipta. Hanya dua pasang mata yang terus saling menatap dan mengunci pandangan satu sama lain.


Merasa waktunya telah tepat, Yoga menarik kedua tangannya lalu mengambil sesuatu dari kantong celana.


Jantung Nara kembali bertalu-talu. Rasanya begitu berdebar namun membuat penasaran.

__ADS_1


Yoga telah siap dengan kotak kecil yang mulai dibuka dan diperlihatkan pada Nara. Tubuhnya turun ke bawah, mengambil posisi berlutut dengan satu kaki.


Keduanya tangannya tetap fokus mengulurkan benda kecil yang masih berada di dalam kotak beludru berwarna merah hati tersebut ke hadapan wanita yang sangat dicintainya.


"Aku bukan lelaki romantis yang mudah berlaku manis dan berkata puitis. Tapi malam ini, aku mencobanya hanya demi seorang wanita cantik yang saat ini berdiri anggun di hadapanku."


Meskipun tak terlalu tampak, namun Yoga masih bisa melihat rona bahagia bersemu merah di wajah Nara yang mulai mengulas senyuman di bibir tipisnya.


"Aku Yoga Mahendra, malam ini ingin memintamu Dinara Larasati. Maukah kamu untuk menjadi istriku satu-satunya dan selamanya? Maukah kamu menerimaku untuk menjadi suamimu, yang akan selalu menjaga dan melindungimu dengan segenap hati dan jiwaku? Maukah kamu bersama denganku untuk mengarungi waktu dan mengukir kenangan terindah dalam biduk rumah tangga yang kita bina berdua?"


Air mata Nara mulai luruh mengalir membasahi pipi merahnya yang semakin hangat oleh tangisan harunya.


Tak ingin membuat lelaki di hadapannya berlutut lebih lama lagi, Nara pun segera memberikan jawabannya.


Memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri dan mengatur nafas, Nara kembali membuka mata beningnya yang masih tergenang air mata.


Senyumnya semakin melebar seiring anggukan mantap di kepalanya yang sedikit menunduk menatap lelaki yang masih setia menunggu jawabannya dengan degup jantung yang berdetak cepat tanpa kendali.


"Aku mau."


Kemudian dia mengulurkan tangan kirinya ke arah Yoga yang masih berlutut. Lelaki itu mengambil sebuah cincin yang masih berada di dalam kotak yang pegangnya, lalu melingkarkannya di jari manis tangan kiri Nara.


Usai cincin itu terpasang indah di jari manis Nara, Yoga mencium tangannya dan mengecup cincin tersebut dengan hati yang dipenuhi rasa syukur.


Yoga berdiri dan disambut dengan senyuman Nara yang terus menatapnya dengan binar bahagia di mata beningnya. Tangan mereka terus saling menggenggam.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah menerimaku dan menjadikan aku lelaki yang paling bahagia malam ini."


"Aku mencintaimu."


Yoga mencium kening Nara lama seraya mengucapkan syukur dalam hati karena Nara telah menerima lamarannya. Lamaran kepada sang istri yang dulu belum pernah dilakukannya sebelum menikahi wanita itu.


Lamaran yang terlambat namun tetap berakhir indah karena sekarang hati mereka telah saling terikat semakin erat.


"Katakan padaku, apa kau juga mencintaiku?"

__ADS_1


Pertanyaan Yoga padanya membuat hati Nara menghangat dan menjalar naik hingga memunculkan rona merah di wajah bahagianya.


Yoga yang melihatnya pun semakin merasa yakin akan perasaan Nara untuk dirinya. Matanya terus memaku pandangan ke arah Nara, menunggu jawaban yang akan diucapkan oleh wanita kesayangannya.


Nara mengangguk dengan sangat jelas di hadapan Yoga yang tak berkedip melihat, seolah ingin merekam semua momen tersebut di dalam memori ingatannya.


Gemuruh di dalam dadanya semakin dahsyat terasa saat mendapatkan jawaban dari Nara, meskipun hanya lewat gerakan kepala dan ekspresi di wajahnya.


"Katakan, Sayang. Aku ingin mendengarnya langsung darimu."


Yoga merasa tak sabar lagi. Jantungnya kembali berdegup semakin kencang, menderu lebih keras dari sebelumnya.


Nara mengatur nafasnya dan menenangkan diri sebab semua yang ada di dalam dirinya seolah ikut terbawa suasana romantis yang diciptakan oleh suaminya, membuat seluruh tubuhnya menghangat teraliri sengatan cinta yang begitu dahsyat dan luar biasa.


"Aku tidak tahu kapan semua ini bermula hadir di hatiku. Aku yang awalnya hanya menganggap perasaan ini sebatas rasa nyaman semata, mulai merasa ada yang berbeda di dalam kenyamanan ini."


Yoga menyimak dengan seksama setiap kata yang terucap dari bibir manis Nara yang terus dipandanginya.


"Rasa ini memang tumbuh sangat cepat, namun selalu aku syukuri karena telah berlabuh pada orang yang tepat."


Yoga tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang kini menghujani hatinya dengan rinai cinta yang mengalir deras menghangatkan jiwa yang selama ini menanti jawaban dari sang pemilik hati.


"Jadi ....?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2