
Alya dan Cindy masih melanjutkan perbincangan mereka di ruang pemeriksaan, sembari menunggu perawat mengantarkan obat untuk Cindy yang masih disiapkan oleh bagian apotik.
Ingatan Alya melayang pada peristiwa kelam sepanjang pernikahannya dengan Riko. Sedikit pun tidak ada ucapan dan perbuatan lelaki itu yang mencerminkan dirinya sebagai seorang suami.
Yang ada hanyalah ucapan kasar dan perbuatan semena-mena yang ditujukan kepadanya. Tak terkecuali saat Riko merenggut kesuciannya di malam pertama.
Kejadian buruk itu meninggalkan rasa trauma dalam diri Alya. Ditambah lagi kekerasan lain yang dilakukan Riko padanya, menciptakan trauma mendalam di alam bawah sadarnya.
'Maafkan aku yang terpaksa harus mengambil keputusan untuk melaporkan Riko atas perbuatannya ini." Alya sekilas menatap ke arah kedua kakinya.
Di balik pakaian yang dikenakannya, kedua kaki itu masih terbalut perban medis yang tebal untuk mendukung proses pemulihannya. Gips sudah dilepas beberapa hari yang lalu, tepat sebelum Alya memutuskan untuk kembali bekerja.
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran agar setelah semua ini berlalu, dia bisa menghentikan kebiasaan buruk dan sikap kasarnya."
Cindy mengangguk, dia mengerti maksud Alya. Dia pun tidak menyalahkan wanita itu atas keputusan yang diambilnya.
"Aku tidak ingin ke depannya kamu dan bayi kalian terkena dampak buruknya, jika dia terus-menerus bertindak kasar, meskipun bukan terhadap kalian."
Cindy menatap Alya seketika, tak menyangka wanita itu masih memikirkan dirinya dan calon bayinya, setelah semua yang dilakukan Riko yang mungkin bagi wanita lain tidak akan pernah termaafkan.
"Aku benar-benar malu kepadamu, Al. Aku bersalah telah membiarkan Riko membawaku masuk ke dalam kehidupan pernikahan kalian dulu."
Cindy kembali menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sudah terasa pedih dan berair.
"Seharusnya aku menjauh dan menolaknya, agar pernikahan kalian bisa diperbaiki, bukan malah menjadi semakin hancur dengan kehadiranku."
Alya melihat perubahan di wajah Cindy walau telah berusaha disembunyikannya. Dia menggerakkan kursi rodanya hingga berhenti tepat di samping Cindy dalam posisi berhadapan.
Tangannya terayun ke depan, menyentuh tangan Cindy yang masih berada di atas perut besarnya. Cindy yang terkejut langsung mengangkat kepalanya dan melupakan apa yang ingin disembunyikannya.
Alya tersenyum di hadapan istri dari mantan suaminya tersebut. Denagn tangan kiri yang sudah menyentuh lembut tangan Cindy di atas perut, tangan kanannya terulur ke wajah manis yang sudah terbasahi air mata.
Perlahan dia menghapus butiran air mata yang tampak di sana yang justru membuat Cindy semakin terharu dan mulai tersedu.
__ADS_1
"Aku memang kecewa dan menyayangkan sikapmu tersebut. Tapi aku bisa memahami ketidakberdayaanmu, karena aku tahu bagaimana arogan dan keras kepalanya Riko yang pasti tidak ingin dibantah atau ditolak olehmu."
Cindy kembali mengangguk, membenarkan ucapan dokter berhijab anggun itu. Karena rasa cintanya pada Riko, dia tidak pernah bisa menolak apa pun keinginan Riko atas dirinya.
"Tentang pernikahan kami yang akhirnya aku putuskan untuk aku akhiri dengan segala resiko yang harus aku terima, semua itu tidak ada hubungannya denganmu."
"Pernikahan kami memang sudah tidak benar sejak awal, bukan karena kehadiranmu atau sebab yang lain. Seharusnya kami bisa menolaknya bersama-sama, tapi kami tidak kuasa melakukannya."
Alya mengingat segala kebaikan orangtua Riko kepada keluarganya, terutama terhadap dirinya yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh mereka.
"Aku tidak bisa membantah keputusan orangtuaku yang tidak bisa menolak permintaan orangtua Riko yang ingin menikahkan kami berdua."
"Keluargaku terlebih diriku, terlampau banyak berhutang budi kepada keluarganya. Aku tidak mungkin menolak kesepakatan kedua keluarga kami."
Alya menyatukan kedua tangannya dengan kedua tangan Cindy, masih di atas perut besar yang mulai bergerak-gerak kecil itu.
"Kita lupakan saja semua yang sudah terjadi. Mulai sekarang, pikirkan dirimu dan calon anak kalian ini. Dan setelah Riko bebas nanti, jaga dia dan temani dia dengan cinta tulusmu."
"Jadikan keluarga kalian sebagai keluarga yang bahagia dan penuh cinta, agar putri kalian selalu bisa merasakan limpahan kasih sayang dari kalian berdua."
Alya membalas pelukan itu sama eratnya. Kali ini, dia tak lagi bisa menahan air matanya. Sama seperti Cindy, dia pun menangis melepaskan seluruh beban yang masih mengganjal di dalam hatinya.
Tangisan mereka terhenti saat terdengar ketukan di pintu ruangan. Segera Alya dan Cindy melepaskan pelukan mereka dan sama-sama membersihkan wajah mereka yang basah oleh deraian air mata.
Perawat masuk setelah Alya memberikan ijin dengan suaranya yang masih parau akibat tangisan yang cukup lama. Diserahkannya kepada Alya, kantong plastik yang berisi obat-obatan untuk Cindy.
Alya memberikannya pada Cindy dengan beberapa pesan seputar kesehatan untuk wanita hamil itu dan juga kandungannya.
"Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk segera menghubungiku. Jaga kesehatanmu dan selalu lakukan yang terbaik untuk calon buah hati kalian ini."
Alya menyerahkan kartu nama miliknya pada Cindy, lalu tangannya menyentuh lagi perut besar di hadapannya. Diusapinya dengan lembut dan diucapkannya doa tulus dalam hati.
"Terima kasih, Al. Aku tidak tahu dengan apa aku bisa membalas semua kebaikanmu kepada kami. Aku hanya bisa mendoakanmu, semoga segala keberkahan dan kebahagiaan senantiasa ada bersamamu, sekarang dan selamanya nanti."
__ADS_1
Alya mengangguk dan mengucapkan terima kasih, seraya mengaminkan dalam hati semua doa baik dari Cindy untuk dirinya.
Setelah kepergian Cindy diikuti perawat yang mendampinginya, Alya menuju wastafel di ujung ruangan dan segera membasuh wajahnya yang masih memerah akibat tangisan yang terlalu lama tadi.
Dengan handuk kecil yang diambilnya dari dalam tas kerja, dikeringkannya wajah dan ķedua tangannya, sebelum bergerak kembali untuk masuk ke dalam ruanagn pribadinya.
Sembari merapikan penampilannya untuk melakukan tugas selanjutnya, selintas Alya membayangkan Riko yang tengah menjalani hukumannya di dalam tahanan.
"Aku tidak yakin apakah kamu akan berubah sikap kepadaku setelah usai masa hukumanmu nanti, tapi aku berharap kamu tidak akan pernah lagi menggangguku, Rik."
Alya menghela nafas panjang untuk menghalau kekhawatiran di dalam hatinya.
"Jadilah manusia baru yang lebih baik setelah ini, karena aku mengenalmu sejak kecil dan aku tahu bahwa sebenarnya kamu adalah lelaki yang baik, berhati baik dan berperilaku baik."
Sejenak Alya mengingat masa kecil keduanya yang sering dipertemukan karena kedekatan orangtua mereka. Wanita itu tersenyum mengingat wajah polos Riko kecil yang selalu murung dan menatapnya penuh ketidaksukaan setiap kali mereka bertatap muka.
"Aku tidak menyangka kamu masih menyimpan semua perasaan tidak suka itu sampai kita dewasa, Rik."
"Aku minta maaf, Rik. Atas segala hal atau apa pun yang pernah aku lakukan dan membuatmu marah dan membenciku karenanya, aku memohon maaf setulus hatiku. Maafkan aku, teman kecilku ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.