
Pesawat Garuda Indonesia itu menerbangkan Angga ke Indonesia. Ada rasa sedih mendera yang dirasakanya saat duduk dalam pesawat. Lintasan peristiwa berkelebat dalam kepalanya. Menari -nari dalam benaknya.
Andai saja Dina tidak sakit. Ia dan Dina bisa menikmati kemegahan negeri Singa ini. Bisa mengabadikan foto berdua di depan patung Merlion, ikon kota Singapura yang melegenda. Itulah mimpi masa remajanya bersama Dina. Setelah mendapat pelajaran geografi dari Bu Mirna guru SMPnya.
Sudah lama memimpikan bisa berlibur ke negeri Singa. Dan ... mimpi Angga terwujud dalam bentuk lain.
"Semoga aku dan Dina bisa menikmati indahnya alam Singapura ini, suatu hari nanti ... , " gumam Angga penuh harap.
"Aku meninggalkan Dina, kekasihku. Mudah- mudahan, aku bisa datang kembali. Semoga Dina mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang, aamiin ... , " doa tulusnya buat Dina.
Penerbangan dari bandara Changi Singapura ke Indonesia memerlukan waktu 1 jam 50 menit. Melakukan transit terlebih dahulu ke Bandara Sukarno Hatta untuk melanjutkan perjalanan Angga pulang ke kota Bengkulu.
Dari penerbangan Jakarta ke Bengkulu butuh waktu kurang lebih 1 jam. Maka kurang lebih pukul 11 siang Angga sudah tiba di bandara Fatmawati Bengkulu.
Ayah Angga sudah lebih duluan tiba di Bandara Fatmawati. Menanti kepulangan anak sulungnya. Semburat bahagia terpancar dari wajahnya. Kebahagiaan seorang ayah yang bangga akan keberhasilan anaknya meraih predikat coumlaude untuk pasca sarjana di Universitas Indonesia.
Kerinduan memuncah saat Angga melihat sosok ayahnya. Lalu ia pun melambaikan tangan kepada lelaki berusia 60 tahun itu. Sang ayah membalas lambaian tangan dari sang anak dari kejauhan.
Ayah Angga telah menunggu dengan setia di depan pintu kedatangan. Menunggu anak kebanggaannya. Setelah mengantri 15 menit pengambilan bagasi. Akhirnya travel bag besarnya sudah ada di tangannya. Angga kemudian mendorong tas besarnya berjalan menghampiri ayahnya.
Angga lalu mencium punggung tangan ayahnya. Kemudian ayah memeluk erat putra kesayangannya itu. Kemudian Angga celangak celinguk mencari sosok ibunya.
"Ayah, kenapa ayah sendiri. Ibu mana? " tanya Angga.
Tangis ayah Angga pecah saat anaknya menanyakan kabar ibunya.
"Kemarin sore ibumu masuk rumah sakit. Komplikasi Diabetes Melitus yang membuat ibumu harus di rawat di ruang ICU RS. M Yunus, " jawab Ayah Angga.
Angga terdiam sesaat, seakan tak percaya. Mengapa di saat ia pulang ibunya masuk rumah sakit. Padahal ia sangat merindukan ibunya. Padahal 3 hari yang lalu, ia masih sempat vidio call dengan ibunya. Angga mengabarkan rencana kepulangannya pada ibu. Dan ... ibu berjanji akan membuatkan sambal tomat pete kesukaan Angga.
__ADS_1
"Ibu lagi dirawat di ICU Ga, makanya ayah seorang diri menjemputmu, " jawab ayah menambahkan jawaban.
"Ayah, aku ingin ketemu ibu, " pinta Angga.
"Iya nak, kita ke rumah sakit sekarang, " jawab ayah Angga.
Kemudian Angga dan Ayahnya bergegas masuk ke dalam mobil. Mereka menuju RSUD M Yunus. Dari bandara Fatmawati mobil avanza putih itu melaju menuju rumah sakit tempat ibunya Angga di rawat. Hanya butuh waktu 15 menit mobil yang dikemudikan oleh Angga tiba di pelataran parkir RS.
Angga dan ayahnya berjalan menyusuri koridor RS. Memasuki kawasan rumah sakit, mengingatkan Angga pada sosok Dina. Wanita yang dikasihinya, cinta pertama dalam hidupnya.
Angga berusaha tegar untuk hadapi kenyataan. Dilangkahkan kakinya melangkah untuk bertemu ibunya. Ruang ICU ... , membuat Angga bergidik mendengar nama ruangan itu di sebut.
Waktu besuk sudah habis. Angga memohon pada security yang menjaga pintu ruang ICU. Tetap tidak diperbolehkan masuk. Untung saja seorang teman Angga. Seorang dokter yang sedang berjaga pagi melintas tepat di depan Angga.
"Hai, Angga? Ada apa ini, " tanya dokter Toni sambil menjabat tangan Angga.
" Toni ! kamu di sini. Ini ibuku sedang dirawat di ICU. Aku baru tiba dari Jakarta, langsung menuju rumah sakit ingin melihat kondisi ibu. Tapi aku tidak diperbolehkan masuk, " jawab Angga memberi penjelasan.
"Pak security, maaf ya. Dia temanku, aku akan masuk bersamanya. Paling sebentar saja, " ucapnya memohon pada security yang tadi menolak Angga untuk masuk.
Angga kemudian masuk bersama dr Toni ke dalam ruang ICU. Angga terlebih dahulu menggunakan pakaian khusus buat pengunjung rumah sakit yang membesuk pasien di ruang khusus.
Ketika Angga masuk. Seorang perawat jaga menegurnya.
"Maaf, jam besuk sudah habis, " tolaknya secara halus.
Belum sempat Angga menjawab pertanyaan perawat tersebut. Dokter Toni memberi penjelasan.
"Maaf ya Irma, suster cantik. Ini saudara saya mau melihat ibunya. Tolong sebentar saja, " ucapnya memohon sang perawat.
__ADS_1
"Oh, ya dok. Gak apa - apa. Ibunya siapa namanya, " Irma berbalik bertanya.
"Ibu Rina Wati namanya, " jawab Angga.
Kemudian perawat yang bernama Irma membawa Angga dan dr Toni ke tempat ibunya berbaring.
"Terimakasih mbak, " ucap Angga.
Angga menghampiri ibunya yang tergolek lemah tak berdaya. Ibu terlihat amat lelah. Ia tampak tertidur dengan salah satu tangan di pasang infus. Ada selang oksigen yang menghubungkannya dengan mesin alat bantu nafas. Terdapat selang kencing di samping tempat tidurnya.
Angga begitu terpukul menerima kenyataan ini. Bahwa dua wanita terkasih dalam hidupnya tergolek lemah tak berdaya di rumah sakit.
Angga lalu mencium kening ibunya. Berharap ibunya akan terbangun. Namun ibunya tetap tidur dengan tenangnya. Hanya suara mesin alat bantu nafas yang menandakan ibunya masih bernafas.
"Ibu, ini Angga bu. Ibu bangun. Aku telah pulang ibu. Ibu janji mau membuatkan sambal tomat pete kesukaanku, " lirih suara Angga sambil menggenggam tangan kanan ibunya.
Angga tak habis pikir. Mengapa cobaan datang bertubi - tubi dalam hidupnya. Membuat pertahanan tubuhnya menjadi goyah. Ia ingin menangis, agar suara tangisnya bisa membuat ibunya terbangun.
Tak terasa air mata Angga menetes jatuh di atas tangan ibu. Ini yang kedua kalinya ia menangis. Pertama saat Dina sakit. Kedua, sekarang saat ibu sakit. Menangis karena 2 wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
Dokter Toni juga memeriksa kondisi ibunya Angga. Ibunya Angga mengalami koma diabetikum. Bila cepat penatalaksanaannya, maka pasien dengan koma diabetikum akan cepat tertolong.
Penyakit diabetes melitus yang hampir 5 tahun menemani hidup ibunya Angga. Selama itu pula banyak keluhan yang dirasakannya. Ibu tak pernah mau mengikuti diet/ pantangan makanan tertentu. Beginilah akibatnya.
Penderita diabetes melitus harus mengkonsumsi obat setiap hari untuk menurunkan kadar gula darahnya. Mengatur pola makan dan berolahraga teratur. Dan ... kenyataannya banyak penderita diabetes tidak mematuhinya. Salah satunya adalah ibunya Angga.
"Ibu ... , aku merindukanmu. Cepat sembuh, " isak tangis Angga.
Angga terus menggengam dan mencium punggung tangan ibu. Bulir - bulir air mata tak kuasa menetes jatuh di atas permukaan tangan ibunya. Sepertinya ibu merespon kedatangan Angga di sampingnya. Dari kedua sudut matanya ada setetes embun yang mengalir pelan di kedua pipinya.
__ADS_1
Angga begitu terguncang. Ia merasa tak berdaya. Badannya lemas seperti tak bertenaga.Tak dapat berbuat banyak, berdoa dan berharap untuk kesembuhan kedua wanita terkasih dalam hidupnya. Ibu dan Dina ....