CINTA NARA

CINTA NARA
2.72. DI LUAR RENCANA


__ADS_3

Dini hari menjelang pagi, Yoga terbangun dan merasakan Nara masih tidur nyenyak di dalam pelukannya. Setelah matanya cukup terang melihat sekeliling yang bercahaya temaram, dia memindahkan tubuh Nara ke samping dan terus menatapnya dengan hasrat yang mulai terasa.


Perlahan diciumnya kening sang istri dengan lembut dan lama, dengan kedua mata tertutup disertai untaian doa untuk memohon segala kebaikan untuk kehidupan rumah tangganya bersama Nara.


Usai memanjatkan permohonannya, Yoga membuka mata dan melepaskan ciumannya, lalu membelai wajah istrinya dengan pandangan yang lekat dan semakin berhasrat.


Ciuman-ciuman kecil diberikan Yoga di seluruh bagian wajah Nara, membuat wanita itu menggeliat dan menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari sentuhan bibir suaminya.


"Mas ..., hentikan ...." Tangan Nara menahan wajah Yoga agar berhenti dari ulahnya yang telah berhasil membangunkan sang istri.


"Apakah sudah pagi?" Dan Yoga pun menggelengkan kepala tanpa melepaskan tatapan matanya yang mengunci pandangan ke arah wanita cantik yang berbaring di sampingnya.


"Lalu mengapa kamu membangunkanku sepagi ini, Mas?" Nara melihat jam di ponselnya kemudian meletakkannya kembali.


Yoga tersenyum penuh arti lalu menurunkan wajahnya hingga berada di samping wajah sang istri, lalu berbisik manja tepat di telinga Nara yang seketika menjadi hangat dan memerah.


"Karena aku menginginkanmu, Sayang."


Wajah Yoga sedikit bergeser lalu mencium sekilas bibir manis istri kesayangannya. Dia menarik wajahnya dan menunggu jawaban dari Nara sebelum melanjutkan keinginannya.


Wajah Nara memerah karena ciuman singkat suaminya. Dia mulai tersenyum dan membalas tatapan mata sang suami, lalu menganggukkan kepalanya.


Tanpa diduga, Nara menarik wajah Yoga ke bawah dan lebih dulu menyentuh bibir suaminya dengan bibirnya, perlahan dan penuh kelembutan.


Dengan senang hati Yoga segera membalasnya dengan ciuman yang lebih dalam dan terus menuntut, semakin lama semakin basah dan sarat gairah.


Puas dengan awalan yang penuh kehangatan, tanpa menunggu lagi Yoga segera memulai ritualnya, mengawali hari dengan sesuatu yang menggairahkan dan memanaskan suasana menuju pagi yang masih sangat dingin adanya.


Keduanya kembali menyatukan raga dan menuntaskan hasrat yang telah sampai pada puncak kenikmatannya, menyemai benih cinta dalam asa penantian penuh damba, berharap apa yang mereka inginkan akan segera terwujud dalam nyata yang indah.


Usai melepaskan hasrat cinta mereka yang menggebu dan tanpa henti, Yoga dan Nara akhirnya tertidur dalam lelah, dengan penuh kepuasan dan rasa bahagia yang membuncah di dalam hati.


.


.


.


Di dalam kamar yang berbeda, Rizka terbangun lebih dulu dan segera menuju ke kamar mandi. Sebelumya, dia mengambil sesuatu dari dalam tas dan membawanya diam-diam sebelum suaminya ikut bangun untuk menunaikan kewajiban awal pagi.

__ADS_1


Keluar dari kamar mandi, wanita muda itu dikejutkan dengan sosok Indra yag sudah berdiri di depan pintu dan tersenyum kepadanya.


Rizka membalas senyuman suaminya dan memberi jalan padanya untuk masuk sementara dia segera berjalan menuju sudut kamar untuk mempersiapkan ibadah mereka.


Disimpannya apa yang dibawanya tadi ke dalam saku piyama dan segera mengenakan mukenanya. Tak lama kemudian Indra sudah datang dan menerima sarung dan baju koko yang diserahkan oleh istrinya.


Setelah sama-sama siap, mereka segera melaksanakan kewajiban dengan tenang dan khusyuk, lalu diakhiri dengan doa yang mereka panjatkan pada Sang Pencipta.


"Kak ...." Rizka memberanikan diri untuk mengatakan semuanya pada sang suami.


"Ya, Sayang? Ada apa?" Usai melipat mukenanya, Rizka menyusul Indra yang sudah lebih dulu duduk di atas tempat tidur.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku takut kamu marah, Kak." Wanita itu menunduk, menghindari tatapan mata Indra yang langsung tertuju ke arahnya.


"Marah? Apa kamu melakukan kesalahan? Dan apakah kamu pernah melihat aku marah kepadamu?"


Rizka menggeleng saat wajahnya diangkat oleh suaminya dengan ujung tangannya lalu dicium keningnya, membuat perasaannya sedikit lebih tenang.


"Aku tidak tahu apakah ini salah atau tidak bagimu, tapi aku telah melupakan sesuatu, Kak."


Indra menghela nafas untuk bersikap lebih sabar dalam menghadapi kepolosan istrinya. Dia tersenyum dan membelai wajah yang terlihat gugup di hadapannya.


"Bulan lalu aku melupakan sesuatu, Kak."


Kemudian Rizka menceritakan semuanya, seperti apa yang siang sebelumnya sudah dikatakannya pada sang mama.


Terlihat raut wajah Indra mulai berubah lebih serius dan menatap istrinya penuh keterkejutan. Mulutnya masih terkunci rapat, hingga Rizka mengeluarkan dan menyerahkan sebuah benda kecil yang dia tahu apa kegunaannya.


"Ini, Kak." Rizka kembali menunduk dengan perasaan tidak tenang dan penuh ketakutan. Kedua tangan menyatu dan saling menggenggam dengan erat.


Indra memperhatikan benda pipih panjang itu lalu mengamati tanda apa yang ada di bagian tengahnya. Masih belum tampak reaksi di wajahnya yang telah kembali datar dan tidak bisa ditebak sama sekali.


"Lalu?" Hanya satu kata itu yang akhirnya keluar dari bibir lelaki berpembawaan tenang tersebut.


Pertanyaan Indra memancing Rizka untuk mengangkat kembali wajahnya dan menatap sang suami.


"Maafkan aku, Kak. Kamu pasti marah kepadaku ...."


Tak tega melihat wajah pasrah istrinya yang benar-benar terlihat ketakutan, Indra segera memeluknya dengan erat lalu menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil di seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Kak ..., kamu tidak marah?" tanya Rizka yang masih bingung dengan perubahan sikap suaminya yang menjadi semringah dan penuh senyuman.


"Kita memang berencana untuk menundanya karena alasan kesiapanmu. Tapi jika kepercayaan itu sudah diberikan oleh Allah, maka kita tidak boleh menolaknya dan harus mensyukurinya, Sayang."


Indra kembali memperhatikan tespek yang masih dipegangnya. Matanya berkaca-kaca mewakili rasa haru yang memenuhi hatinya.


"Kamu hamil, Sayang. Kamu tengah mengandung calon anak kita!"


Rizka tak kalah terharunya. Dia merasa lega dan sangat bahagia setelah melihat sikap Indra yang tidak marah dan kecewa kepadanya. Sebaliknya, sang suami justru merasa senang dan mensyukuri kehamilan yang hadir di luar rencana mereka.


"Iya, Kak. Dan aku sangat bahagia, terlebih kamu juga bahagia dan menerima kehamilanku ini. Terima kasih, Kak."


Rizka menghambur ke dalam pelukan sang suami dan menumpahkan tangisan bahagianya di sana. Indra pun segera mendekap erat tubuh istrinya dan menciumi puncak kepalanya disertai rasa syukur yang terus terucap tiada henti.


"Aku yang lebih berterima kasih kepadamu, Sayang. Terima kasih karena kamu menerima kehamilan ini dengan bahagia dan tidak merasa takut untuk menjalaninya."


"Ada kamu yang selalu bersamaku dan akan selalu menguatkan aku, Kak. Untuk apa aku harus takut?" Rizka tersenyum di dalam pelukan hangat suaminya.


"Kehamilan ini adalah anugerah yang Allah percayakan kepada kita. Kita berdua harus terus bersyukur dan menjaganya dengan baik, Kak."


Indra mengangguk dan terus mendekap tubuh mungil istri tercintanya.


"Kita akan menjaganya bersama-samanya, Sayang. Kita akan menjalani masa kehamilanmu ini dengan penuh kebahagiaan!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2