CINTA NARA

CINTA NARA
3.30. MAAFKAN AKU, ALYA


__ADS_3

"Al, bolehkah aku meminta waktu sebentar sebelum mengantarmu pulang?"


Sebelum melajukan mobil, Ardi memberanikan diri untuk mengajak Alya berbicara dari hati ke hati. Ada yang perlu dia pastikan dan dia selesaikan dengan segera, sebelu lusa dia harus kembali pulang dan berjauhan dengan wanita di sampingnya saat ini.


"Ada apa?" tanya Alya tanpa menoleh ke arah Ardi. Hanya terus menatap ke luar jendela dengan hati yang mulai berdebar lagi.


"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting tentang kita berdua, sebelum aku pulang dan tidak bisa bertemu denganmu lagi."


Ada yang terasa sesak di dada Alya saat Ardi menyampaikan bahwa dirinya akan pergi dari kota ini. Kota yang kembali mempertemukan mereka setelah perjumpaan terakhir mereka dalam suasana duka empat bulan silam di rumah Ardi.


"Bagaimana, Al?" Ardi menunggu jawaban Alya dengan tidak sabar.


"Apakah harus sekarang?" Alya masih ragu untuk mengiyakan. Pikirannya masih belum tenang setelah bertemu dengan Riko tadi pagi. Dia tidak tahu jika Ardi telah mengetahui tentang mantan suaminya tersebut.


"Anggap saja kamu menemaniku makan malam. Bisakah?" Ardi tak peduli dianggap memaksakan kehendak kali ini. Tapi baginya, sangat penting untuk berbicara serius dan mendalam dengan wanita itu sesegera mungkin.


Tak ingin membuang waktu yang terus bergulir semakin malam, Alya memutuskan untuk menuruti permintaan Ardi. Dia menganggukkan kepala dan berpasrah diri pada ajakan lelaki itu.


"Aku percaya kamu tidak akan melakukan apa pun di luar batasan kita. Kamu adalah lelaki baik dan Ayah yang baik."


Dengan hati yang lebih lega Ardi mengemudikan mobil menuju sebuah tempat makan dengan panduan arah dari Alya.


.


.


.


Setelah menikmati makan malam bersama, barulah Ardi mulai membuka pembicaraan di antara mereka. Dia sengaja mengambil tempat duduk di sudut bagian belakang, agar bisa lebih leluasa untuk berbicara panjang lebar.


"Alya ...." Panggilan Ardi membuat hati Alya mulai bergetar lagi. Selalu terasa berbeda setiap kali lelaki itu memanggilnya utuh seperti itu.


Duduk berhadapan dengan sekat sebuah meja kecil di antara mereka, Ardi bisa melihat dengan jelas kegugupan sekaligus kegelisahan di wajah wanita cinta pertamanya tersebut.

__ADS_1


"Mengapa kamu menyembunyikan semuanya dariku selama ini? Mengapa, Al?" Ardi berbicara pelan dan lembut agar Alya yang mendengarnya tetap merasa nyaman tanpa tekanan.


Wanita itu menatap Ardi sekilas. Tatapan teduh itu membuat hatinya melemah dan mulai sesak.


"Apakah dia sudah tahu semuanya?" Hatinya terus bertanya-tanya.


"Terbuat dari apa hatimu itu, Al? Mengapa kamu selalu memikirkan orang lain, tanpa sekali pun memikirkan dirimu sendiri? Mengapa kamu selalu berusaha membahagiakan orang lain sedangkan dirimu sendiri tidak pernah merasa bahagia?"


Alya semakin menunduk, mulai mengerti arah pembicaraan Ardi. Namun dia masih belum menyadari bahwa lelaki di hadapannya saat ini bahkan sudah mengetahui semuanya tanpa kecuali.


Ardi berhenti sejenak dan memperhatikan wajah ayu nan anggun yang terus menundukkan pandangannya. Hatinya mulai menghangat kini. Wanita lembut itu begitu istimewa dan luar biasa baginya dan dia sudah bertekad tidak akan melepaskannya lagi kali ini.


"Seandainya tadi pagi aku sudah tahu siapa dia, mungkin aku akan membuatnya babak-belur tanpa ampun. Tidak akan aku lepaskan dia, setelah apa yang dia perbuat padamu selama bertahun-tahun lamanya tanpa henti!"


Sontak Alya mengangkat wajahnya dan menatap Ardi lekat-lekat. Wanita itu tampak begitu terkejut dan memastikannya dengan memperhatikan Ardi yang terus menatapnya begitu dalam dan sayu.


Terlihat jelas oleh Ardi, kesedihan dan kehampaan dalam pancaran sinar redup kedua mata indah yang mulai memudar kilaunya, berganti dengan bulir-bulir hangat yang menggenangi pelupuknya.


Hatinya mulai melemah saat melihat Alya meneteskan air mata dan mulai terisak di hadapannya.


Ardi mengambil selembar tisu yang tersimpan dalam kotak kecil atas meja. Diulurkan tangannya ke wajah Alya lalu tanpa ragu menyeka perlahan air mata yang masih membasahi kedua pipinya.


Alya semakin terisak manakala Ardi terus menghapus pelan air matanya dengan lembut, diiringi tatapan sendu penuh kesedihan yang mendalam.


Tenggelam dalam luapan kesedihan yang tak lagi ditahannya, Alya terus menangis dan mulai terlihat bahunya terguncang pelan disertai isakan lirih yang terdengar oleh Ardi yang terus menyeka air mata di wajah wanita terkasihnya.


Dengan tatapan pilu dan penuh haru, Ardi mengganti berulang kali tisu yang terus terbasahi oleh air mata ร€lya. Dan entah mengapa wanita itu tak kuasa menepis tangan Ardi dari wajahnya, justru membiarkan saja jemari yang terlapisi tisu itu tetap membersihkan wajah ayunya yang telah sembab dan kemerahan.


"Aku minta maaf, Alya. Sekali lagi aku minta maaf karena telah melepaskanmu pada orang yang salah. Aku sudah membuat hidupmu menderita sekian lama tanpa aku tahu sama sekali duka dan air mata yang kamu dekap sendiri tanpa satu orang pun yang bisa melindungimu."


Alya yang mulai bisa menguasai diri dan mengatur napas dengan lebih tenang, baru menyadari sepenuhnya bahwa tangan Ardi yang terlapisi tisu itu masih terus terulur membersihkan sisa tangisan di wajahnya.


"Maaf ...." Segera dipegangnya tisu yang masih menempel di wajahnya, sehingga perlahan Ardi pun menarik tangannya menjauh dari wajah yang terus ditatapnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Jujur setelah mengetahui siapa dia, aku tidak bisa tenang dan terus mengkhawatirkan dirimu, Al. Aku takut dia akan datang padamu lalu membuatmu terluka dan menangis lagi."


Ardi terus menatap Alya yang sudah selesai membersihkan wajah dan merapikan hijab yang dikenakannya. Ayu dan anggun. Dua kata itu yang dulu selalu diucapkannya untuk memuji kekasih hati yang selalu bermanja kepadanya.


Setelah Alya terlihat lebih tenang dan bisa menguasai diri, Ardi melanjutkan ucapannya yang semula terputus karena tangisan wanita di hadapannya.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, jika mulai sekarang aku tidak akan pernah melepaskan dirimu lagi, Al. Apapun yang terjadi, akan aku pastikan bahwa lelaki itu atau siapa pun juga tidak akan ada yang bisa mengusikmu lagi!"


"Aku akan selalu menjaga dan melindungimu meskipun tidak selalu bisa berada di dekatmu. Aku harap kamu tidak keberatan dengan sikap dan keputusanku ini, Al."


Hati Alya bergetar begitu hebat mendengar pernyataan Ardi yang dikatakannya dengan tegas dan tanpa ingin menerima penolakan.


"Tapi aku ...." Ardi memotong ucapan Alya dan mengulangi lagi keputusannya.


"Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu, Alya. Mungkin tidak untuk saat ini, karena aku tahu kamu butuh waktu untuk menerima keputusanku ini."


Pandangan mereka kembali bertemu. Penuh kelembutan disertai sinar kasih yang saling memancar dan menghangatkan hati keduanya.


"Tapi tolong jangan halangi aku untuk menjaga dan melindungimu mulai sekarang, Al. Biarkan aku melakukannya dengan caraku dan dengan niatan tulus di hatiku untuk kembali berada di sisimu selalu ... dan selamanya."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.๐Ÿ™๐Ÿ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


๐Ÿ’œAuthor๐Ÿ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2