
Seminggu sudah Dina keluar dari Rumah Sakit. Tepat satu minggu Dina harus kembali untuk kontrol ke poliklinik rumah sakit tersebut.
Sesuai dengan jam yang dijadwalkan oleh perawatnya. Dina yang didampingi Nara dan ibu menemaninya kembali ke rumah sakit pemerintah milik negara Singapura ini.
Sehari sebelumnya Dina sudah datang ke rumah sakit ini untuk pengambilan sampel darah. Hal ini sudah menjadi protap post transplantasi sumsum tulang belakang buat persiapan kontrol dengan dokter Robert sesuai anjuran perawatnya. Datang sehari sebelum kontrol untuk pemeriksaan laboratorium. Sehinggah besok sudah ada hasil yang tinggal dibacakan oleh dokter Robert langsung.
"Pagi Dina, apa yang kamu rasakan saat ini, " tanya dokter Robert langsung.
"Alhamdulilah baik dok, " jawab Nara.
"Ayo, naik ke tempat tidur. Saya periksa dulu, " pinta dokter Robert.
Seorang perawat kemudian membantu Dina naik ke tempat tidur. Menarik selimut sampai ke atas dengkul Nara.
Sementara ibu duduk di kursi di depan meja dokter. Sedangkan Nara berdiri tepat di belakang ibu. Saat Dina di periksa mereka mengalihkan pandangan ke arah dokter Robert yang memeriksa Dina.
Usai Dina di periksa dokter Robert kembali duduk di kursinya. Di ikuti oleh Dina yang duduk kembali di sisi ibunya. Persis di depan dokter Robert yang sedang duduk.
Seorang perawat kemudian memberikan selembar kertas hasil pemeriksaan darah yang dilakukan Dina kemarin.
"Menurut hasil pemeriksaan saya dan tes laboratorium yang dilakukan kemarin. Hasil HB nya 9 , trombositnya sudah mulai naik. Ini saya kasih resep obat penambah darah dan vitaminnya ya. Harus istirahat yang cukup. Tapi masih harus kontrol dua minggu lagi. Kalau dua minggu hasilnya bagus. Kamu boleh pulang ke Indonesia, " ucap dokter Robert panjang lebar pada Dina.
"Iya dok makasih banyak, "jawab Dina diikuti oleh Ibu dan Nara.
Kemudian Dina diberikan resep dan kartu kontrol oleh perawatnya. Setelah menyelesaikan administrasi dan menebus resep Dina, Ibu dan Nara meninggalkan rumah sakit.
Sebelum pulang mereka bertiga singgah sebentar untuk mencari makan. Dengan diantar mobil sewaan yang disewa oleh papa Dina selama berada di Singapura. Dilengkapi juga oleh seorang supir pribadi yang tahu betul seluk beluk negeri Singa ini.
Sang supir setengah baya ini yang masih keturunan Malaysia ini mengantar Dina , Nara dan ibu ke tempat wisata kuliner yang terkenal dengan surganya makanan seafood dan makanan khas melayu. Hanya butuh waktu kurang lebih 20 menit dari Nasional University Hospital Singapura mereka tiba di kawasan kultural yang dilindungi ini.
Pak Supir yang bernama Pak Faisal ini mengajak majikannya nya untuk setidaknya mengenal daerah yang sering dikunjungi para wisatawan. Tempat ini selain banyak tempat makan, banyak terdapat toko - toko kue dan toko batik tradisional dan modern.
"Ayo, turun. Nak Dina mau makan apa? "tanya Pak Faisal setelah mereka semua turun dari mobil.
"Aku terserah Nara dan Ibu maunya makan apa, " jawab Dina sambil melirik ke arah ibu dan Nara.
__ADS_1
"Kita makan seafood aja bu, " ajak Nara pada yang lain.
"Ayo, " kata ibu sambil diikuti yang lain.
Dengan bantuan Pak Faisal mereka makan di salah satu rumah makan yang menjadi favorite para wisatawan.
Sambil menikmati hidangan makanan. Nara dan ibu menjadi takjub akan keindahan arsitektur bangunan pertokoan yang dicat warna warni. Menurut orang - orang bangunan depannya ini khas etnik peranakan yang dipertahankan keasliannya.
"Rasanya malas pulang ke apartemen, " lirih suara Dina.
"Sama, aku juga mbak, " timpal Nara.
"Enggak boleh begitu Nara. Mbakmu harus banyak istirahat. Ayo kita pulang, " ajak ibu pada yang lain.
"Ayo, " timpal Pak Faisal juga.
"Tapi kita foto - foto dulu ya bu. Foto di depan pertokoan ini. Sayang ... pemandangannya. Jangan sampai kita kehilangan momen langka ini. Jadi harus kita abadikan, " ujar Nara bersemangat.
"Tapi sebentar aja ya Nara, " pinta ibu.
Baru kemudian ia membayar sejumlah uang pada kasir.
Dengan bantuan Pak Faisal akhirnya Nara , Dina dan ibu bisa juga selfie di kota Singapura ini. Kota yang didirikan oleh Sir Stamford Raffles. Seorang mantan gubenur Inggris pada zaman penjajahan yang pernah menjabat di kota Bengkulu.
Sudah lama Nara berkeinginan untuk bisa ke negeri Sir Stamford Raffles ini. Dan sekarang saatnya untuk menjelajahi negeri Singapura ini. Ada rasa bahagia terpancar dari semburat wajahnya.
Foto - foto selfie Nara dan Dina kemudian dibagikan Dina langsung melalui medsosnya. Disebuah akun Facebook Dina membagikan kebersamaannya bersama ibu dan adiknya.
Terselip sebuah caption yang diunggah langsung oleh Dina. "Terima kasih ya Allah kau kirim dia untuk menjadi adikku " , ditulis dengan lambang emosion hati.
Unggahan Dina langsung melalui ponselnya ini membuat Angga dan Arif yang sedang bekerja di kantornya terperangah. Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel mereka
Saat jam istirahat kantor Angga langsung bertanya pada Arif. Saking penasaran ia melihat Dina dan Nara berpose ria dalam sebuah momen yang terpajang dalam akun facebooknya.
"Rif, kamu lihat facebook Dina gak ? " tanya Angga sambil berjalan menuju mushola.
__ADS_1
"Iya, lihat. Nara kan saat ini sedang berada di Singapura, " timpal Arif sambil jalan.
"Nara kenapa ke Singapura ya Rif, " tanya Angga lagi.
"Nara ke Singapura setahu aku karena ibunya sedang berada di sana. Terus si Nara gak bilang ada apa lagi tuh. Kalau pun menelpon juga gak bilang macam - macam, " jelas Arif sambil berjalan beriringan dengan Angga menuju mushola.
"Oh, tapi kenapa captionnya Dina begitu ya, " ungkap Angga menambahkan rasa penasarannya.
"Telpon aja Dinanya, tanya langsung biar gak kepo. Hehe ... , " jelas Arif sambil tergelak tertawa.
Kemudian Angga dan Arif memasuki mushola kantor yang terletak di belakang kantornya yang berbeda gedung. Di dalam mushola sudah banyak orang yang sedang siap - siap untuk sholat berjamaah. Tak lama terdengar suara muadzin mengumandangkan iqomah. Angga dan Arif tampak terburu - buru mengambil wudhu dan langsung mengambil shaft paling belakang.
Kita tinggalkan sejenak Angga dan Arif di kota Bengkulu. Kembali melihat bagaimana Dina dan Nara yang sedang menikmati indahnya suasana negeri Singapura ini.
Semburat wajah bahagia terpancar dari wajah Nara dan ibu. Bahagianya bisa bersama - sama kembali. Semoga kesembuhan Dina membuat dirinya dan Nara bisa memulai hubungan baru yang indah. Tanpa ada rasa cemburu, mengingat hubungan percintaan Dina dan Angga yang memicu api cemburu Nara dikala itu.
"Maafkan aku Nara, " bisik Dina saat mereka berdua dengan Nara usai melakukan selfie sebelum beranjak pulang.
"Maafkan apa mbak, " timpal Nara bingung setelah mendengar apa yang baru didengarnya.
"Maaf telah merenggut Angga darimu, " jawab Dina sambil menggenggam tangan kanan Nara.
"Ah, mbak. Sudahlah, lupakan saja semua yang terjadi, " pinta lembut Nara.
"Tetap saja kehadiranku membuat hatimu terkoyak, " balas Dina.
"Ya udalah mbak. Sekarang fokus saja untuk menjaga kesehatanmu. Dan berusaha meminta restu dari ibu. Semoga ibu mau membuka pintu hatinya, " jelas Nara pada kakak kandungnya ini.
"Ayolah nak kita pulang. Kasihan Dina, " pinta ibu mengajak kedua anak perempuannya itu.
Dina dan Nara kemudian naik kembali ke dalam mobil. Ibu dan Pak Faisal sudah menunggu di dalam mobil.
Kedua anak gadis itu memasuki mobil. Ibu duduk paling depan di sisi sang supir. Dina dan Nara duduk dibelakangnya. Lalu mobil itu melaju menuju apartemen tempat tinggal mereka.
Di sepanjang perjalanan pulang, Dina berharap semoga kebersamaan mereka akan lama. Semoga ia benar - benar pulih dari kangker yang menggerogoti tubuhnya. Semoga hari esok yang cerah menantinya di sana ....
__ADS_1