CINTA NARA

CINTA NARA
3.3. HINGGA UJUNG WAKTU


__ADS_3

Menjelang maghrib, Alya pamit untuk pulang. Kali ini dia tidak memesan taksi seperti saat kedatangannya, karena Pak Budi yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.


"Terima kasih atas waktu dan kehadirannya, Dok. Tolong sampaikan salam hormat kami untuk kedua orangtua Dokter."


Nara menjawabnya lalu mereka pun berpelukan dengan hangat. Setelah berpamitan pada kedua orangtua Nara di ruang tengah, Alya dan Nara berjalan menuju ke depan dan berhenti sejenak saat sampai di ruang tamu.


Di sana ada Yoga dan Ardi yang tengah bercengkrama dengan Raga dan Aura yang bermain bersama di lantai yang beralaskan karpet bulu yang halus nan lembut.


"Pak Yoga, saya pamit dulu. Aku pulang dulu, Di." Alya pamit sekaligus pada kedua lelaki bersahabat itu.


Yoga mengangguk dan membalas tangkupan tangan Alya dengan hal yang sama dilakukannya. Ardi mengikuti seraya menatap Alya yang tersenyum sekilas ke arahnya lalu buru-buru mengalihkan pandangannya dan segera berlalu dari ruang tamu.


"Senang melihatmu kembali dalam keadaan baik-baik saja, Di. Semoga kalian berdua selalu diberkahi dengan kebahagiaan oleh Yang Maha Kuasa."


Di dalam mobil, Alya tersenyum dengan doa tulus yang terucap di dalam hati. Pertemuan yang terjadi tanpa disangka-sangka tadi, nyatanya telah memberikan kelegaan yang luar biasa di dalam diri dokter kandungan tersebut.


"Syukurlah jika kamu dan Aura sudah menerima semuanya dengan ikhlas dan bisa menjalani hari-hari kalian seperti biasanya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."


Tanpa sengaja, Alya teringat begitu saja akan ucapan serupa pesan dari Bunga yang ditujukan kepadanya, saat mereka bertemu untuk terakhir kalinya di rumah sakit, menjelang kepergian wanita muda itu.


"Tolong ... to-long jaga Aura ... putri saya ...."


"To-Tolong ... jaga Mas Ardi ...."


Alya mengusap wajahnya dan menutupnya dengan kedua tangan. Bagaimana bisa dia melakukan permintaan Bunga, sedang dirinya saja selalu berusaha untuk menjaga jarak dengan Ardi, supaya lelaki itu bisa menjalani hari-harinya dengan lebih baik dan lebih bahagia bersama putri semata wayangnya.


"Maafkan aku, Bunga. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk menjaga mereka berdua. Aku tidak ingin mengganggu ketenangan mereka saat ini, yang terlihat sudah baik-baik saja selepas kepergianmu. Dan aku turut merasa bahagia karenanya."


.


.


.


Malam harinya, setelah putra dan putri mereka tidur, Nara menemani suaminya dan Ardi bercengkrama di ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar tamu, sehingga dokter duda itu tetap bisa memantau Aura yang tidur sendirian di dalam sana.


"Bagaimana kondisi Aura sekarang? Apakah dia masih rewel seperti awal-awal dulu?"


Yoga dan Nara hanya sempat menemani mereka selama satu minggu di sana, karena setelahnya mereka harus kembali ke kota masa depan.

__ADS_1


"Sangat tidak mudah pada awalnya. Semua kewalahan setiap kali dia rewel dan tidak bisa berhenti menangis. Wajar bagiku jika dia begitu kehilangan, apalagi sebelumnya dia masih minum ASI dan menyusu langsung dari Bunga."


Pandangan Ardi menerawang, mengingat masa-masa indah bersama Bunga dan Aura kala mereka masih bertiga. Tapi hidup harus terus berjalan. Masa depan Aura adalah tanggung jawab terbesarnya saat ini. Dan dia harus tetap baik-baik saja demi mewujudkan kebahagiaan putri kecil kesayangannya.


"Sampai sekarang pun dia masih suka rewel meskipun tidak sesering dulu lagi. Doakan saja kami selalu kuat melewati hari demi hari ke depannya, agar kami tetap bisa bahagia berdua walaupun Bunga sudah tidak ada lagi bersama kami."


Nara menatap ke arah suaminya saat melihat Ardi mulai berkaca-kaca mengingat kenangannya bersama sang istri tercinta.


Yoga mengangguk dan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, agar sahabat kecilnya tidak semakin larut dalam kesedihannya.


"Semua pasti akan baik-baik saja ke depannya, Di. Ingatlah selalu bahwa ada kami di sini yang akan selalu ada untuk kalian, dan juga Raga yang sangat menyayangi Aura."


Ardi mencoba mengulas senyuman di bibirnya kemudian menghela nafas guna menenangkan diri. Ditatapnya Yoga lalu menganggukkan kepala dengan pasti.


"Terima kasih. Selain keluargaku, kalianlah yang terbaik yang selalu ada untuk kami."


Untuk sejenak mereka berpelukan untuk menetralkan suasana dan kembali melanjutkan pembicaraan malam itu. Kopi panas yang sudah diseduh dan diantarkan oleh Bibi Asih pun menjadi teman setia untuk menikmati malam pertama Ardi menginap di rumah Yoga.


"Sudah lebih dari seratus hari kepergiannya, karena itu aku memberanikan diri untuk melihat dunia luar bersama Aura. Dan pilihan pertamaku adalah datang kemari sekaligus mengunjungi adiknya Raga. Semoga kami tidak merepotkan kalian berdua."


Selama ini, Ardi memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya di klinik dan merawat Aura di rumah. Dunianya sangat tertutup dan masih terasa begitu mendung baginya.


Nara menanggapi perkataan Ardi dan menyampaikan dukungannya dengan senang hati, sebagaimana suaminya.


"Kapan saja dan selama apa pun itu, kalian tidak perlu meminta ijin lagi untuk datang kemari." Yoga menambahi ucapan sang istri tercinta.


"Terima kasih. Kalian memang pasangan luar biasa." Ardi tersenyum dengan membayangkan wajah Bunga dalam ingatan hatinya.


.


.


.


"Mas, sepertinya Dokter Ardi sangat sulit melupakan Bunga. Terlihat dia masih sangat kehilangan dan merindukannya."


Nara merebahkan tubuhnya dalam pelukan Yoga, beristirahat sejenak setelah membaringkan Gana kembali, yang tadi terbangun dan meminta minum.


"Iya, Sayang. Semua orang pasti akan merasakan hal yang sama saat ditinggalkan orang yang dicintainya. Apalagi dipisahkan untuk selamanya karena telah kembali kepada Sang Pencipta."

__ADS_1


Yoga memejamkan mata kemudian melantunkan banyak doa untuk kebersamaan mereka, selama-lamanya.


Bayangan akan perpisahan yang seringkali nyaris terjadi di antara dirinya dan Nara, membuatnya semakin menyadari bahwa waktu yang mereka miliki saat ini sangatlah berharga dan harus selalu dipergunakan dengan sebaik-baiknya, untuk menciptakan banyak kenangan indah bersama orang yang dicintainya.


"Sama sepertiku yang selalu dihantui ketakutan akan kehilangan dirimu dan cintamu, Sayang."


Mempererat pelukannya dalam posisi berbaring bersama, Yoga tak kuasa menahan air mata yang sudah menetes di pipinya. Perasaannya terhanyut oleh cerita tentang kehilangan yang mereka bahas.


"Aku tidak akan pernah pergi darimu sampai kapan pun, Mas. Karena aku juga sangat takut kehilangan dirimu."


Yoga memutar tubuh istrinya perlahan hingga telentang dan berada di bawah tubuhnya. Kini dia bisa melihat dengan jelas wajah wanita kesayangannya.


"Melihatmu kesakitan saat melahirkan Gana kemarin, membuatku semakin memujamu dan menghormatimu sebagai seorang wanita."


"Perjuangan panjangmu antara hidup dan mati membuatku semakin ingin membahagiakan dirimu sebesar dan sebanyak yang bisa aku lakukan dan aku berikan kepadamu, Sayang."


Nara tersenyum dan tersanjung oleh kata-kata manis suaminya yang dia yakini sebagai ungkapan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.


Dibelainya wajah lelaki yang selalu membuat hatinya berdebar bahagia setiap kali menatapnya dengan lekat.


Yoga memejamkan mata, meresapi setiap sentuhan jemari tangan Nara yang menyusuri permukaan wajahnya. Bahagia, hanya itu yang dirasakannya.


"Aku mencintaimu, Suamiku. Kita akan selalu bersama dan bahagia hingga ujung waktu."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2