CINTA NARA

CINTA NARA
3.49. MULAI MERINDU


__ADS_3

Yoga melangkah pelan dan duduk di sofa diikuti oleh sang istri. Masih dipandanginya amplop putih dan map coklat yang terlihat di hadapannya, tanpa ada keinginan untuk membukanya.


"Tolong kamu simpan dulu, Sayang. Nanti kalau hatiku sudah lebih tenang, aku pasti akan membukanya bersamamu." Yoga menoleh ke samping seraya mengusapi kepala istrinya dengan lembut.


Nara mengangguk lalu segera melaksanakan permintaan sang suami. Diambil dan ditumpuknya kedua berkas berbeda ukuran tersebut, lalu dia membawanya ke meja kerja Yoga untuk disimpan di laci khusus dokumen penting yang selalu terkunci.


Kembali duduk di samping suaminya, Nara menggengam satu tangan Yoga lalu tangannya yang lain mengusapi lengan atas lelaki yang masih terlihat berduka.


"Aku bisa memahami bagaimana perasaanmu yang sudah ditinggalkan oleh Papa dan Mama. Ditambah lagi sekarang, pergi juga seeorang yang sudah kamu anggap seperti orangtua kamu." Nara mencium bahu Yoga kemudian menyatukan kepala mereka saling bersandar.


"Tapi percayalah bahwa mereka semua sudah tenang di sisi Allah. Kita harus selalu berbahagia demi mereka yang telah mendahului kita. Kewajiban kita sekarang adalah senantiasa mendoakan mereka tanpa putus, Mas."


Nara menjauhkan kepala dari bahu Yoga dan kembali menatap sendu ke arah lelaki tercintanya.


"Jangan larut dalam kesedihan. Perbanyaklah doa-doamu untuk mereka." Yoga mengangguk dan menyatukan kedua tangannya dalam satu genggaman tangan yang semakin erat dan kuat dengan kedua tangan istri kesayangannya.


"Raga ada di bawah sedang bermain. Temanilah dulu sambil menunggu waktu sholat tiba."


Yoga tersenyum seraya berdiri memeluk Nara, sebelum berjalan keluar dari kamar untuk menemui putra sulungnya. Nara melepasnya dengan senyuman yang sama diiringi doa tulus untuk sang suami.


Semoga kamu segera terlepas dari ketakutan yang masih membayangi karena kepergian Papa dan Mama. Sama juga sepertiku, semoga kita berdua bisa membuang trauma yang masih melekat di dalam jiwa kita. Kita pasti bisa, Mas.


.


.


.


Alya terbangun dan serta-merta duduk dengan napas memburu dan wajah berpeluh. Sepasang matanya telah basah oleh air mata entah sejak kapan dan karena apa.


"Astaghfirullahaladzim ...!" Tangan Alya memegangi dadanya, merasakan debaran yang masih keras dan menyesakkan.


Diambilnya ponsel yang tergeletak di samping tubuh dan melihat tanda waktu yang tertera di sana. Hampir jam sebelas malam.


Ah ..., mungkin aku terlalu lelah hari ini hingga ketiduran. Tapi mengapa mimpi itu muncul kembali? Padahal sudah cukup lama aku melupakan semuanya dan merasa jauh lebih tenang tanpa bayang-bayang peristiwa kelam itu.


Wanita anggun itu turun dari tempat tidur dan mengambil gelas berisi air putih yang selalu disiapkannya setiap malam. Dia meneguk habis isinya lalu meletakkan kembali di atas meja.


Terus mengatur napas agar kembalii tenang dan lega, Alya duduk lagi dan memejamkan mata untuk mengusir ketakutan yamg masih dirasakannya.


Ya Allah, bantu aku untuk bangkit dan melupakan semua rasa sakit di masa laluku. Aku ingin menikmati kebahagiaan yang masih Engkau anugerahkan kepadaku, tanpa perlu mengingat lagi masa-masa lemah dan sedihku.

__ADS_1


Tiba-tiba seraut wajah lelaki berkelebat dalam pikirannya, saat dia masih memejamkan mata dan berdoa. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya mulai tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan indah bernama senyuman.


"Ardi ...," ucap Alya lirih seraya membuka mata dengan senyuman manis yang masih setia terulas di bibirnya.


Entah mengapa wajah lelaki itu terbayang begitu saja dan memupus ketakutan yang masih menghinggapi perasaannya.


Ada apa denganku? Di malam selarut ini bisa-bisanya aku memikirkan dirinya.


Alya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Akan tetapi justru wajah Ardi hadir kembali dalam bayangannya.


Sesaat kemudian terdengar dering penanda pesan baru masuk dari ponselnya yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Dia meraih gawai pipih itu dan melihat satu nama yang tertera jelas di layar terang yang telah terpegang olehnya.


Nama seorang lelaki yang baru saja hadir mengusik pikiran dan membuat dia tersenyum sendiri saat mengingatnya. Segera Alya membuka dan membaca pesan yang dikirimkan oleh lelaki yang sangat dicintainya.


Alya, apakah kamu baik-baik saja di sana? Kamu tidak apa-apa?


Wanita itu terkejut karena Ardi menanyakan keadaannya, seolah tahu apa yang sedang terjadi dengannya saat ini.


"Aku baik-baik saja. Hanya bermimpi buruk." Alya membalas apa-adanya.


Hampir satu bulan berlalu, sepasang mantan kekasih yang sekarang telah sama-sama sendiri itu, mulai sering menjalin komunikasi yang lebih dekat. Tidak selalu setiap hari, tapi tak pernah lupa untuk bertukar kabar satu sama lain saat memiliki waktu luang di sela kesibukan masing-masing.


Apakah kamu masih sering terganggu karena ... hal itu? Emm ... maaf, Al. Aku lancang menanyakannya.


Wanita itu menghela napas panjang dan mengusir kegelisahannya. Tak ingin lagi memikirkannya, dia memilih untuk menjawab pertanyaan Ardi yang mengkhawatirkan keadaannya.


"Sebenarnya sudah cukup lama aku tidak lagi mengingat dan merasakannya. Entah mengapa tiba-tiba aku memimpikannya lagi," jujur Alya dalam balasan berikutnya, tanpa ingin menutupi lagi.


Sesaat kemudian , ponsel dalam genggamannya berdering lagi dengan nada yang berbeda. Kali ini suaranya lebih nyaring karena merupakan panggilan masuk yang menunggu untuk segera diterima.


Dengan debaran hati yang berbeda rasanya, Alya menerima panggilan telepon yang berasal dari lelaki yang sama yang baru saja mengiriminya pesan.


"Ya, Ardi?" ucap wanita itu dengan suara yang bergetar dan lirih tertahan. Dia menggigit bibirnya dan menunggu dengan salah tingkah, padahal mereka tidak saling berhadapan.


"Alya, apakah kamu masih memikirkannya?" tanya Ardi dari seberang sambungan.


"Tidak. Aku ingin melupakan semuanya." Alya menjawabnya dengan yakin.


"Buang jauh ketakutanmu dan ingatlah selalu jika ada aku bersamamu. Aku tidak akan membiarkan kamu terpuruk lagi. Aku akan membuatmu melupakan semua kejadian buruk yang pernah kamu alami. Kamu percaya padaku, bukan?"


Ardi memberinya kekuatan dan semangat, membuat dirinya semakin yakin dan percaya diri untuk menatap masa depannya yang baru, tanpa belenggu trauma masa lalu.

__ADS_1


"Terima kasih, Di. Terima kasih sudah membuatku berani mengambil keputusan dan melawan ketakutan yang mengungkung kehidupanku selama ini. Aku percaya padamu." Alya menjawab semakin pasti dan penuh harapan.


"Aku akan selalu ada untukmu, Al. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi dan tidak akan membiarkanmu bersedih dan ketakutan lagi." Terdengat sahutan cepat dari lelaki di ujung panggilan sana, membuat hati Alya merasakan ketenangan luar biasa.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk dengan yakin, meskipun dia tahu Ardi tidak akan bisa melihatnya.


"Sudah menjelang tengah malam. Tidur dan beristirahatlah lagi. Jaga kesehatanmu." Alya kembali mengangguk namun kali ini disertai jawaban dari bibir manisnya yang terus mengembangkan senyuman.


"Iya. Kamu juga harus beristirahat, Di."


Sebelum mengakhiri perbincangan hangat di antara mereka, Alya mendengar Ardi memanggil namanya.


"Alya ...." Panggilan itu terasa berbeda karena suara lelaki itu menjadi lirih dan semakin berat.


"Ya?" Alya ikut berdebar menunggu apa yang masih ingin disampaikan oleh lelaki yang saat ini wajahnya kembali terbayang dalam pikirannya.


"Aku merindukanmu, Al. Aku ingin segera bertemu denganmu lagi."


Alya semakin erat menggenggam ponselnya, takut akan menjatuhkannya karena kegugupan yang membuat dia salah tingkah dengan wajah yang telah bersemburat merah.


"Apa kamu juga merindukan aku, Al?"


Alya meletakkan satu tangannya di atas dada, merasakan debaran keras yang terus berdentum dan mendesak di hatinya. Dia memejamkan mata, membayangkan wajah lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya.


Dengan satu tarikan napas yang diambilnya dalam-dalam dan dihembuskan secara perlahan, Alya berusaha membuang keraguannya dan memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Ardi yang menunggunya di sana, entah sedang duduk atau berdiri, atau tengah berbaring di atas tempat tidur.


"Ya. Aku juga merindukanmu ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2