CINTA NARA

CINTA NARA
Memaafkan


__ADS_3

Sepulangnya Nara dari menjenguk Dina. Ada semburat bahagia di wajahnya. Setidaknya ia telah membuat suasana hati Dina terusik dengan kehadirannya. Apalagi ada Angga di dekatnya.


Tentu saja semua ini membuat iri dalam hati Nara. Angga dengan setia menjaga Dina. Begitu perhatian Angga dengan kekasih yang sebentar lagi akan meninggalkannya selama - lamanya.


Sebenarnya dalam hati Nara yang terdalam ia menyesal telah berbohong pada Dina dan Angga. Tapi ini lah kesempatannya. Semua terjadi begitu saja. Awalnya ia ingin berlaku manis sebagai seorang sahabat pada Dina. Tapi Dina memulai semuanya. Darahnya tersulut bara api yang dikobarkan Dina.


"Maafkan aku Dina. Aku terpaksa melakukan semua ini. Sebagai seorang kekasih yang dicampakan. Dan orang tersebut ada di depan mataku sendiri, " batin Nara menjawab.


Nara pulang dari RS Dharmais dengan menggunakan jasa taxi online. Pulang ke kosannya dengan beribu lamunan tersirat di kalbunya. Tak terasa satu jam perjalanan ia sudah tiba di depan kosannya.


Jam pada pergelangan tangan Nara menunjuk pukul 5 sore. Abang grabcar menurunkannya tepat di depan kosannya. Nara berterima kasih pada abang grab yang ternyata mengenali Nara sebagai Ara Dilla sang penulis. Setelah membayar sejumlah uang, Nara melangkah menuju kos - kosannya.


Setelah membuka gerbang pagar yang ternyata sudah terbuka. Deg ... jantung Nara berdegup kencang. Ternyata sosok yang ia kenal, Arif. Duduk santai di depan teras kos - kosannya yang asri.


Ibu kos pandai menata teras rumah. Dengan sengaja menanam beraneka bunga yang membuat suasana asri dan nyaman bagi pengunjung yang ingin bertamu. Ada satu set sofa sengaja di taruh di teras.


Di depan teras ada taman kecil dan bermacam - macam tanaman hias yang ditanam langsung oleh sang pemilik kosan. Dengan seluruh tanah ditutupi rumput gajah mini yang elok jika dipandang dan lembut saat menjejaki kaki. Dan ada dua lampu taman yang berkilau saat malam menjelang.


Semua keindahan taman ini hanya bisa dinikmati oleh penghuni kosan dan orang yang sengaja bertamu. Karena pagar kosannya menjulang tinggi dengan gerbang pagar besi hitam yang dilapisi plastik fiber berwarna putih.


Arif lalu memberondong pertanyaan kepada Nara. "Kemana saja kamu. Telepon tidak diangkat, pesan WA pun tidak terbaca, " keluh Arif pada Nara.


Sontak saja Nara tergagap untuk menjawab pertanyaan Arif yang tiba - tiba. Nara kemudian menarik nafas dalam terlebih dahulu. Mencari jawaban disela tarikan nafasnya.


"Oh ... tadi itu aku membeli buku novel kesukaanku. Bukunya baru terbit hari ini. Aku penasaran dengan akhir kisahnya. Apakah berakhir bahagia atau tragis, " jawab Nara berbohong.


"Kenapa kamu tidak mengajakku sayang. Aku juga ingin membeli buku di gramedia, " sesal Arif kemudian.


Nara tersenyum kecut dihadapan Arif. Lalu ia berkata, "Aku taruh tas dulu ke dalam ya. Mandi lanjut sholat ashar dulu ya."


"Ya uda, kalau begitu aku pulang dulu ya. Ntar malam aku ke sini lagi, " jawab Arif sambil nyengir.


"Kok, buru - buru amat, " tanya Nara.


"Aku tadi mengkhawatirkan kamu Nara, makanya aku pergi ke kosanmu, " ucap Arif.


Lalu Arif beranjak pulang ke kosannya. Berjanji akan datang nanti malam kembali ke kosan Nara.


"''''""'''''''

__ADS_1


Malam telah menjelang. Minggu malam yang indah. Bulan purnama menerangi alam semesta. Gugusan bintang gemintang membentuk rasi dengan pola layang - layang mengukir indah dilangit malam yang cerah. Ditambah lampu taman di depan teras kos - kosan Nara menghidupkan kesan romantis bagi sepasang sejoli. Nara dan Arif.


Malam - malam duduk berdua begini jarang dilakukan oleh Nara dan Arif mengingat kesibukan mereka berdua. Arif tidak tahu kapan bisa duduk berdua lagi seperti ini.


Hanya satu bulan lagi kebersamaan mereka di sini. Wisuda sudah di depan mata. Tak ingin rasanya meninggalkan Nara di Jakarta seorang diri.


"Nara ? bagaima kalau kita tunangan saja dulu. Sampai semua urusanmu selesai baru kita menikah, " tantang Arif.


Nara menghela nafas sesaat. Sebelum sempat ia menjawab pertanyaan dari Arif. Ponsel Arif berdering. Ternyata telepon dari Angga.


"Assalamualaikum Rif, kamu ada dimana?, " isak tangis suara Angga diujung telepon.


"Waalaikum salam. Aku lagi bersama Nara di sini. Ada apa?, " tanya Arif penasaran.


"Dina ... Dina ... ia koma Rif, " jawab Angga terbata - bata.


"A - pa ? Dina koma? " Arif mengulang jawaban Angga.


"Iya, Dina koma. Sekarang ia dipindahkan ke ruang perawatan intensif, ICU.


"Aku takut Rif, takut hal buruk terjadi pada Dina, " isak sisa suara tangis Angga.


"Iya, aku tunggu ya Rif. Assalamualaikum , " Angga mengakhiri teleponnya.


"Waalaikum salam, " balas Arif seraya menutup ponselnya.


"Ada apa dengan Dina Rif ? apa yang terjadi dengannya saat ini, " tanya Nara.


"Dina koma. Angga jadi panik dibuatnya, " jawab Arif datar.


Ada rasa bersalah yang menghimpit dada Nara. Mengapa kejadiannya begitu tiba - tiba. Apa semua ini adalah salah Nara semuanya. Nara amat sangat menyesal setelah apa yang ia perbuat pada Dina.


Semua ini terjadi secara spontanitas saja. Tak terbesit dihatinya akan terjadi seperti ini.


Masih terlintas kejadian tadi sore. Nara amat takut mendengar Dina koma. Apa mungkin ini semua terjadi gara - gara dirinya.


Minggu malam yang romantis menjadi pupus. seketika. Berita duka yang mengejutkan. Arif dan Nara kemudian tenggelam dalam alam pikiran masing - masing. Memikirkan nasib Dina.


Keheningan tidak berlangsung lama. Arif membuka percakapan kembali.

__ADS_1


"Nara ... , besok pagi kita menjenguk Dina ya, " ajak Arif.


"Aku mau saja ikut.Tapi aku takut kehadiranku akan merusak suasana hati Angga. Mendingan kak Arif sendiri saja ke sananya, " jawab Nara menolak secara halus.


Arif tertegun sesaat. Mencoba mencerna kata - kata yang keluar dari mulut mantan kekasih Angga yang sekarang menjadi kekasihnya.


"Hem ... , ada benarnya juga perkataan yang dilontarkan oleh Nara, " batin Angga.


"Baiklah, besok aku akan ke RS Dharmais. Lagian di kampus sudah tidak ada mata kuliah lagi. Tinggal menunggu wisuda. Sayang sekali Dina tidak bisa wisuda bersama kami. Semoga komanya tak berkepanjangan , " ucap Arif.


"Aamiin ... , " ucap Nara menyahutinya.


Dalam hati Nara yang terdalam. Sebenarnya ia tak ingin menyakiti semua orang. Hanya karena ia ingin balas dendam dengan orang yang pergi meninggalkannya tanpa sebab yang jelas.


Semua akhirnya terluka. Tidak hanya dirinya. Tapi kekasih Angga yang tak bersalah menjadi korban atas nama balas dendam yang salah kaprah.


Ingin rasanya Nara meminta maaf pada Dina. Tapi apa daya gadis itu sedang koma. Entah sampai kapan ia akan bangun. Hanya keajaiban tangan Tuhan yang bisa melakukannya.


Tak terasa setetes embun luruh dikedua sudut mata Nara. Nara menyesal. Penyesalan yang terlambat. Buah dari amarahnya selama ini. Mungkin begini jalan Tuhan untuk Nara bisa memaafkan kesalahan Angga padanya.


Ternyata Arif memperhatikan Nara sedari tadi.


"Aku tahu kedekatanmu bersama Dina menjadi bumerang pada dirimu. Lebih baik ikhlas saja Nara. Agar hidup lebih tenang, " ucap Arif seperti tahu apa yang dipikirkan Nara.


"Iya, mungkin ini semua salahku. Coba sedari awal aku tidak ke Jakarta. Semua tidak akan seperti ini, " ungkap rasa sesal Nara.


"Semua yang telah kita jalani ini semua sudah diatur oleh Tuhan. Kita harus bisa mengambil hikmah dibalik cobaan ini, " ucap Arif menenangkan hati Nara.


Nara mengangguk setuju apa yang Arif ucapkan. Ternyata ada lelaki bijak yang mendampinginya selama ini. " Terimakasih kak Arif. Sudah ada di sisiku, " ucap jujur Nara.


Arif hanya tersenyum mendapat pujian dari Nara. Jam di pergelangan tangannya menunjuk pukul 10 malam. Itu bearti ia harus pulang.


"Nara , aku pulang ya. Kamu harus tidur setelah ini. Jangan menulis dulu. Istirahat sebentar, " ucap Arif sambil berdiri.


" Iya, " jawab Nara sambil beranjak dari tempat duduknya. Melangkahkan kakinya mengantar Arif sampai di depan gerbang pagar kos - kosannya.


Selepas Arif pulang. Nara langsung masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuh dan pikirannya setelah semua kejadian yang menimpa Dina.


Lambat laun otak Nara sudah mulai berpikir jernih. Jalan satu - satunya agar ia hidup tenang adalah memaafkan kesalahan Angga. Ya, kata memaafkan yang yang baru terucap dalam batin Nara. Kata yang sulit untuk dilakukannya. Namun sarat makna dibaliknya. Memaafkan ....

__ADS_1


__ADS_2