
"Mas, aku kangen Raga. Kapan kamu akan membawanya pulang?"
Perasaan seorang ibu tak bisa diingkari. Meskipun sedang sakit dan menghadapi saat-saat sulit, selalu tak bisa lepas untuk memikirkan buah hatinya.
"Biarkan Raga di sana dulu, Sayang. Kita tunggu hasil pemeriksaan berikutnya, karena kita belum tahu kamu perlu dirawat inap di klinik atau tidak."
Nara pasrah dan menuruti perkataan suaminya. Toh setiap hari dan setiap saat, dia bisa bertatap muka dengan Raga melalui panggilan video untuk melepaskan sejenak kerinduannya pada bocah lucu nan menggemaskan itu.
"Sayang, ada satu hal lagi yang belum kamu ketahui dari hasil pemeriksaan ultrasonografi kemarin."
Nara yang tengah beristirahat usai sarapan di sofa langsung menoleh ke arah Yoga yang menampakkan wajah serius dan sendu di samping istrinya.
"Hasil apa lagi, Mas? Apakah masih berhubungan dengan kehamilan kosongku ini?"
Yoga menghela nafas panjang sebelum mulai bercerita. Ditatapnya wajah Nara yang tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Hanya menunggu dan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh suaminya.
"Di dekat rahimmu terdapat kista yang menyertai kehamilan."
"Kista?" Sebagai seorang wanita, Nara tidak asing lagi dengan nama penyakit tersebut.
"Kata Ardi ini bukanlah kista yang berbahaya. Pada kehamilan normal, kista tersebut akan luruh dan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan."
"Untuk kista yang kamu idap ini, biasanya juga akan mengecil dan hilang dengan sendirinya. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya." Yoga mengakhiri ceritanya, sesuai apa yang didengarnya dari Ardi.
"Apakah ada kemungkinan jika tubuhku atau organ reproduksiku yang bermasalah, sehingga menyulitkanku untuk bisa hamil dengan semestinya, Mas?"
Yoga menarik Nara ke dalam pelukannya. Memberikan dukungan dan kekuatan melalui dekapan hangatnya, agar wanita kesayangannya tidak berpikiran hal yang negatif dan belum pasti adanya.
"Jangan menduga-duga dulu, jika itu hanya akan membebani pikiranmu. Saat pemeriksaan berikutnya nanti, kamu bisa menanyakan semuanya langsung pada Ardi. Dia yang akan menjelaskan semuanya."
Nara mengangguk dalam pelukan sang suami. Nyeri di bagian bawah perutnya tak begitu dirasakannya seiring kantuk yang mulai menyerang.
Beberapa hari ini fleknya mulai sering keluar meskipun tidak banyak. Saat ditanyakannya pada Ardi, dokter itu mengatakan jika hal tersebut merupakan hal yang wajar.
Ardi juga mengingatkan lebih dulu, bahwa mungkin setelah ini akan keluar flek yang lebih banyak dan Nara tidak perlu kaget atau takut, karena semua itu adalah proses yang biasa terjadi dalam kasus kehamilan kosong yang dialaminya.
Nara benar-benar tertidur dalam pelukan Yoga di atas sofa. Lelaki itu mencium puncak kepala istrinya dengan sayang dan kembali memandangi wajah bidadari kesayangannya dengan perasaan haru.
"Maafkan aku, Sayang. Jika aku tahu akhirnya akan seperti ini, maka aku akan memilih untuk tidak mengijinkanmu hamil kembali. Hatiku terlalu rapuh, sakit dan terluka, saat melihatmu dirundung kesedihan dan kehilangan seperti ini."
__ADS_1
.
.
.
"Bagaimana kondisi Mbak Nara sekarang, Mas?"
Bunga tengah menyusui Aura, ditemani Ardi yang masih bekerja dengan laptop di pangkuannya.
"Kemarin Yoga menghubungiku dan mengatakan jika istrinya mengeluarkan flek yang lebih banyak dari sebelumnya. Aku rasa proses peluruhannya akan terjadi secara alamiah."
Sebagai seorang perawat yang bekerja di klinik ibu dan anak, Bunga sudah biasa menangani pasien yang mengalami kegagalan kehamilan yang berakhir dengan keguguran seperti yang Nara alami.
"Aku turut sedih atas apa yang mbak Nara alami. Tapi aku yakin dia pasti bisa melewati ujian yang sulit ini. Dia adalah wanita yang sangat kuat, sejak awal mengandung Raga dengan segala masalah yang menyertainya dulu."
Bunga merapikan pakaiannya setelah Aura kenyang dan terlelap di pangkuannya. Dia berdiri lalu mengayunkan tubuhnya ke samping kiri dan kanan untuk membuai sang putri sebelum nanti meletakkannya di dalam boks bayi.
"Ya, aku percaya itu. Kita yang menjadi saksi kisah rumitnya bersama Yoga dulu. Aku bersyukur sekarang hubungan mereka menjadi sangat luar biasa dan tidak terpisahkan lagi."
Tak lama kemudian Bunga menidurkan putri cantiknya di dalam boks bayi. Setelah diselimuti, ditutupinya bagian atas boks dengan kelambu.
"Mau kopi, Mas?" Bunga menawari suaminya sebelum dia keluar menuju dapur.
Setelah Bunga keluar, pandangannya kembali kepada layar kerja di pangkuannya. Beberapa berkas masih belum diperiksanya.
Saat tengah serius dengan pekerjaannya, tiba-tiba Ardi merasakan wajahnya memanas entah apa penyebabnya. Rasanya sakit dan nyeri mendadak.
"Aaargh ..., rasa sakit ini menyerangku lagi ...!!!"
Ardi menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak dan berdebar kencang tanpa sebab dengan wajah yang masih terasa panas dan sakit.
Rasa sakit seperti itu sudah lama dirasakannya. Sudah bertahun-tahun lamanya. Dulu, bukan hanya wajahnya yang terasa panas dan sakit tiba-tiba, tapi sekujur tubuhnya pun ikut merasakan nyeri.
Beberapa kali Ardi pernah coba memeriksakannya ke beberapa dokter spesialis tapi hasilnya tidak ada gejala penyakit apa pun. Dirinya sehat, bahkan sangat sehat.
Akhirnya Ardi pasrah dan membiarkannya saja setiap rasa sakit seperti itu muncul kembali. Dan beberapa tahun terakhir, rasa sakit itu mulai berkurang.
Sekarang, setiap kali rasa sakit itu datang menyerang, hanya wajahnya yang terasa sakit dan memanas. Namun beberapa saat kemudian rasa itu berangsur hilang dan sirna.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mas?"
Bunga masuk membawa secangkir kopi di tangan kanannya dan sepiring kue di tangan kiri, sebagai camilan untuknya yang seringkali kelaparan di tengah malam.
Setelah menaruh semuanya di atas meja, wanita itu menyentuh wajah sang suami dan mendapati rasa panas tersebut.
"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya seperti biasanya, sebentar lagi juga akan hilang."
Ardi mengusapi kepala Bunga lalu menciumnya dengan sayang.
"Tidurlah dulu selagi Aura juga sudah lelap. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu."
Bunga mengangguk lalu mencium pipi suaminya bergantian. Setelah itu, dia beranjak dari sofa dan naik ke atas tempat tidur.
"Terima kasih untuk kopinya, Sayang. Selamat tidur."
Bunga tersenyum ke arah suaminya yang sedang menyesap kopi buatannya. Setelah itu dia mulai memejamkan kedua matanya.
Sementara itu jauh di kota yang berbeda, beberapa waktu sebelumnya seorang wanita kembali mendapatkan satu tamparan keras dari mantan suaminya yang datang malam-malam dan meminta sejumlah uang.
"Aku sudah tidak punya uang lagi! Aku belum menerima gajiku, tapi kamu sudah datang lagi dengan seenaknya ...!!"
Plaakkk ...!!! Tamparan kedua mendarat keras di pipinya.
"Aku tidak peduli alasanmu, serahkan segera maka aku pun akan segera keluar dari sini!"
Wanita malang itu terisak dan bersikukuh tidak memberikan apa pun kali ini. Dia merasa perlu melawan meskipun akhirnya akan kembali teraniaya seperti biasanya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.