CINTA NARA

CINTA NARA
2.46. KEPUTUSAN ALYA


__ADS_3

Alya memulai hari barunya dengan senyuman terindah yang menghiasi wajah cerahnya. Segala rasa yang selama ini terpendam di hati, dilepaskannya seiring bahagia yang telah memenuhi ruang hatinya.


"Aku harus bangkit dan mulai menata hidupku kembali. Rasanya seperti terlahir kembali dengan semangat yang terbarukan."


Alya mengutamakan kesembuhan papanya dulu, barulah kemudian dia berencana untuk menyelesaikan satu per satu masalah yang tertunda karena kepulangannya yang mendadak ini.


Tentang Riko, Alya telah memutuskan untuk tidak memperpanjang perselisihan di antara mereka. Dia hanya ingin benar-benar terlepas dari bayangan kelam masa lalunya bersama lelaki itu.


Setelah semalaman memikirkannya, Alya memutuskan tidak akan menuntut mantan suaminya tersebut atas apa yang sudah dilakukan terhadapnya selama ini.


"Kamu yakin tidak akan membawa masalah ini ke pihak yang berwajib, Al?"


Ayahnya Riko bahkan beberapa kali mengulangi pertanyaannya atas keputusan Alya untuk melepaskan Riko tanpa tuntutan apa pun.


"Tidak, Yah. Aku tidak ingin memperpanjang masalah di antara kami. Aku hanya ingin hidup tenang setelah ini."


"Bagaimana jika dia berbuat nekat lagi padamu? Bisa saja dia datang sewaktu-waktu dan kembali menyakiti fisik dan hatimu."


Kali ini Ibunya Riko yang ingin memastikan lagi keputusan yang telah diambil oleh anak angkat sekaligus mantan menantunya.


"Aku sudah pasrah, Bu. Jika itu terjadi, maka biarkan dia yang akan menanggung sendiri akibatnya. Mungkin bukan aku yang akan bertindak, bisa jadi orang lain yang akan menyelamatkanku dan melaporkannya."


Alya ingat, saat hendak pulang kemari, Riko juga datang dan mencoba menghalanginya. Beruntung taksi daring pesanannya sudah datang dan sang sopir pun membantu dan menyelamatkannya dari Riko.


"Bagaimanapun juga, dulu dia adalah suamiku. Apalagi Ayah dan Ibu yang sudah seperti orangtuaku sendiri. Aku tidak bisa membuka aib keluargaku sendiri. Biarlah semua yang terjadi dulu berlalu seiring waktu."


Ibunya Riko memeluk Alya dengan erat. Air mata keduanya tumpah bersamaan. Ayahnya pun menatap keduanya dengan berlinangan air mata. Sejak Alya kecil dulu, keduanya sudah menyayanginya dan mengangapnya seperti anak mereka sendiri.


Alya masih mencoba tersenyum di tengah tangisannya. Diusapinya punggung wanita sebaya mamanya itu untuk menenangkan dan memupus kesedihannya.


Inilah yang selalu memberatkan hati Alya dan menjadi pertimbangan utamanya, setiap kali terbersit keinginan untuk melawan dan melaporkan Riko atas perbuatan penganiayaannya dan perlakuan semena-menanya.


Terlebih lagi, dia sempat melihat istri Riko sekarang tengah mengandung. Hati kecilnya sebagai seorang wanita dan naluri keibuannya selalu menyeruak menguasai perasaannya sehingga dia tidak tega dan memilih untuk diam dan melupakan semuanya.

__ADS_1


.


.


.


Tiga hari berikutnya, Papa sudah diperbolehkan pulang dan beristirahat di rumah. Sekarang mereka bertiga telah berkumpul kembali di rumah.


Rumah masa kecil di mana Alya lahir, tumbuh dan dibesarkan oleh papa dan mamanya dengan cinta kasih yang berlimpah dan membuatnya selalu merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan seutuhnya.


Rumah yang menjadi saksi bisu kehidupan bahagianya di tengah kehangatan dan kasih sayang tulus keluarga yang menyayangi dan mencintainya tanpa syarat untuk selamanya.


Rumah yang pada akhirnya pernah menjadi awal keterpurukan hidupnya, karena di rumah ini pula dulu Riko menikahinya dan kemudian membawanya pergi untuk menjalani kehidupan baru mereka sebagai pasangan suami-istri.


Rumah yang sekarang dikuasai oleh Riko tanpa sepengetahuan orangtuanya, karena lelaki itu mengambil surat kepemilikannya dan menggadaikan pada orang lain.


"Kamu yakin akan tetap kembali untuk tinggal dan bekerja di kota itu, Al? Apakah tidak sebaiknya kamu mengajukan permohonan untuk bisa dipindahkan ke kota lain, agar jauh dari Riko?" tanya Mama sambil membantu memasukkan pakaian putri kesayangannya ke dalam koper.


Ditemani kedua orangtuanya, Alya berkemas untuk pulang hari ini. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu mobil dan sopir yang dikirimkan oleh orangtua Riko yang akan menjemput dan mengantarkannya pergi ke bandara.


Dari tempat duduknya, Papa masih merasa berat hati untuk melepaskan putri kesayangannya kembali ke kota tempat tinggalnya selama ini, yang jauh dari mereka.


"Papa percaya orangtua Riko sudah mengambil tindakan tegas untuk anak bungsu mereka. Papa hanya mengkhawatirkan dirimu saja, Al."


Alya tersenyum dan segera menghampiri papanya. Digenggamnya tangan yang telah kering dan mengeriput itu lalu diciumnya dengan lembut untuk menenangkan hati sang papa.


"Bagaimana kami bisa tenang jika kalian masih berada dalam satu kota dan kemungkinan untuk bertemu itu sangat mungkin terjadi seperti selama ini ...."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Pa. Lagipula sekarang keadaannya sudah berbeda. Riko akan berpikir dua kali untuk mengulangi perbuatannya, karena ada kakaknya yang akan mengawasi gerak-geriknya dan sudah mengambil alih kepemilikan usahanya."


Mama turut menghampiri sehingga kini Alya duduk paling tengah di antara kedua orangtuanya.


"Jaga dirimu baik-baik dan jika Riko datang dan melakukan hal buruk lagi, melawanlah dan laporkan semuanya kepada kami atau keluarga Riko. Biar kami yang akan bertindak, jika kamu tetap tidak ingin memperpanjang masalah ini."

__ADS_1


Alya mengangguk patuh dan menampakkan senyuman terindahnya. Mama merapikan hijab sederhana yang dikenakan putri cantiknya lalu memberikan ciuman sayang di keningnya.


"Kamu sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri untuk kebaikan hidupmu. Kami hanya bisa mendukung dan mendoakanmu dari sini."


Mobil yang menjemputnya telah datang dan menunggu di halaman. Alya mencium tangan Papa dan Mama bergantian lalu memeluk mereka dengan erat.


"Aku harus berangkat sekarang. Aku pamit, Pa, Ma."


Mereka bertiga berdiri dan berjalan keluar bersama-sama. Sopir keluarga Riko yang sudah mereka kenal dengan baik, menghampiri dan menyapa, lalu mengambil koper yang ditarik Alya untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.


"Tetaplah berbahagia. Ingatlah untuk sering mengabari kami dan jangan pernah menyembunyikan hal sekecil apa pun lagi dari kami!" Papa melepaskan pelukannya dan mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih.


"Carilah kebahagiaan baru dalam hidupmu, Al. Mama percaya Allah akan memberkahimu dengan kebahagiaan sejati yang akan membuatmu tersenyum dan tertawa di sepanjang waktumu."


Alya mengamini ucapan mamanya yang serupa doa keramat yang selalu bisa menembus langit dan terkabul melalui cara-cara yang tak disangka.


"Aku pasti akan bahagia, Ma, Pa. Aku akan selalu berbahagia dan menikmati kehidupanku, meskipun harus aku jalani seorang diri."


Alya menepis bayangan seseorang yang tiba-tiba berkelebat hadir melintasi pikirannya begitu saja, saat Mama dengan tulus mengucapkan doa dan harapannya.


"Berbahagialah selalu kamu di sana. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu dari sini. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, meskipun selamanya tidak akan pernah menyatu dan berubah menjadi kebahagiaan kita."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2