CINTA NARA

CINTA NARA
Pulang ke Bengkulu


__ADS_3

Banyak hal yang berubah. Saat Dina memutuskan untuk tinggal di Bengkulu setelah pasca operasi sumsum tulang belakang. Mama Dina seolah - olah menghindar bertemu ibunya Dina. Mereka berdua sangat canggung saat bertemu. Bisa jadi karena mama dahulu telah merenggut papa dari sisi ibu.


"Ah, biarkan saja. Mungkin dengan berjalannya waktu akan membuat mereka berdua akan akrab kembali. Tapi bagaimana caranya membuat mereka berteman lagi, " batin Dina.


"Kamu yakin mau tinggal di Bengkulu nak, " tanya Pak Donnie pada Dina.


"Yakin Pa, aku ingin melihat tanah kelahiranku. Sudah waktunya aku pulang bersama ibu dan adikku, " jawab Dina di kala berada di Singapura.


"Kamu yakin mau meninggalkan mama nak. Ingat kamu tak pernah jauh dari mama lo, " pinta mama Dina sambil memeluk anaknya.


Dina hanya tersenyum dikala itu. Ia sangat menyayangi mama lebih dari apapun. Mama tak pernah menganggapnya sebagai anak tirinya. Tak pernah terbersit dalam hatinya akan memiliki ibu lain selain dirinya.


Pesawat Garuda Indonesia itu menerbangkan Dina sekeluarga dari Singapura kembali ke tanah air. Papa dan mama Dina tidak ikut melanjutkan perjalanan ke Bengkulu. Mereka kembali ke rumahnya yang memang ada di Jakarta.


Kemudian Dina, Nara dan ibu transit sebentar di bandara Sukarno Hatta. Lalu melanjutkan kembali dengan pesawat garuda menuju Bengkulu. Saat tiba di Bengkulu mereka tiba pukul tujuh malam. Dengan di jemput ayahnya Nara di bandara Fatmawati mereka pulang menuju rumahnya.


Kini Dina tinggal bersama ibu dan Nara di Bengkulu. Kota ini telah banyak berubah saat Dina meninggalkan kota ini. Perubahan yang significan. Sekarang sudah berdiri dua buah mall dalam kota dan masih banyak perubahan semenjak kelas tiga SMP Dina meninggalkan kota sejuta kenangan ini.


Keesokan harinya, hal yang ingin dilakukan Dina adalah ingin berjalan di bibir pantai panjang. Pantai yang sedari dulu menjadi ikon kota Bengkulu. Pantai kebanggaan orang Bengkulu.

__ADS_1


Pukul tujuh pagi Dina sudah minta ditemani Nara ke pantai. Dengan motor kesayangannya Nara mereka melaju ke pantai. Hanya lima belas menit dari rumah mereka tiba di sana. Bersama Nara ... Dina bernostalgia di pantai ini.


Mengunjungi pantai panjang tak pernah membuat Nara bosan. Ini kali pertama ia kembali melihat pantai Panjang. Pantai yang mempunyai sejuta kenangan buat Nara sendiri.


Pesona Pantai Panjang menyeruak dalam sanubari Dina. Alangkah indahnya saat ombak menderu deru. Di tambah kilau mentari pagi menerpa air pantai yang membiru. Dan sang cakrawala membiru terang dengan beberapa awan putih tersembul dibaliknya.


Begitu pula dengan Nara, saat ia menapaki pasir putih ditepi pantai. Butiran pasir yang lembut terasa hangat saat matahari menerpa telapak kakinya. Kenangan bersama Angga kembali menyeruak di sini. "Ah, ada apa dengan aku ini. Sudahlah, lupakan saja semua. Arif lebih setia dari Angga. Angga gak ada apa - apanya di banding Arif. Harusnya aku bangga menjadi kekasih Arif, " gumam Nara.


Kemudian Nara mengikuti Dina yang lebih duluan persis di bibir pantai. Ia berlari menghampiri sang kakak. Sang ombak mulai mendekati mereka yang sedang menunggu datangnya ombak. Tawa renyah Nara dan Dina menggelegar dalam deburan ombak yang menghampiri mereka.


Udara pantai yang sejuk membius Nara untuk menikmati indahnya panorama pantai panjang yang memesona. Membuat hati yang gundah menjadi terhibur akan keelokan Pantai ciptaan lukisan sang ilahi. Semilir angin mengibas rambut Nara yang panjang. Sementara rambut Dina yang pendek hanya berseliweran mengenai wajahnya yang putih.


Nara terharu melihat kelakuan kakak kandungnya ini. Tak terasa setetes embun jatuh di kedua sudut mata Nara. Air mata bahagia, karena ia sekarang telah memiliki saudara kandung.


Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya. Bisa memiliki saudara seibu dan seayah. Menjadi anak tunggal ada enak dan tidak enak. Dan sekarang mimpi mempunyai saudara kandung sendiri itu pun menjadi nyata.


"Kenapa kamu Nara ? bengong saja, " tanya Dina saat Nara memperhatikan apa yang ia tulis di atas pasir pantai yang basah ini.


"Aku hanya ingin menulis nama kita. Biasanya orang akan selalu menulis namanya dan nama kekasihnya. Namun kali ini aku ingin menorehkan nama kita. Seharusnya hal ini kita lakukan waktu kita masih anak - anak. Tapi kenyataannya baru kita lakukan sekarang, " jawab Dina sambil menatap mata Nara.

__ADS_1


Nara hanya mengangguk saja tanda ia menyetujui apa yang baru ia dengar. Kemudian Nara melirik angka yang tertera di pergelangan tangannya.


"Ups, ayo mbak kita pulang. Matahari sudah mulai panas, " ajak Nara setelah ia melihat jam di pergelangan tangannya menunjuk pukul setengah sebelas.


Teriknya matahari pagi yang mulai menyengat membuat wajah kedua gadis cantik ini memerah. Apalagi keduanya tadi pagi tidak menggunakan tabir surya di wajahnya. Namun keduanya tidak mengindahkannya. Hal yang terpenting adalah bisa menikmati panorama indah Pantai Panjang yang melegenda.


Dua orang bersaudara itu berjalan menuju tempat motor yang di parkir di bawah pohon pinus dan cemara. Pohon pinus dan cemara ini sudah ada sejak Nara kecil. Pepohonan ini tumbuh tidak seperti pantai - pantai lain di Indonesia. Inilah yang membuat pantai panjang berbeda dari pantai - pantai lain di Indonesia. Pohon - pohon ini berada di kanan kiri jalan beraspal.


Sebelum melaju pulang, Dina berjanji pada Nara, janji suatu saat nanti. "Nara, kapan - kapan kita main ke pantai ini lagi ya. Janji, " pinta Dina pada adiknya.


Nara dan Dina akhirnya pulang melaju dengan motor honda putihnya Nara. Mereka menyusuri jalanan pantai yang beraspal. Nara dan Dina sengaja tidak menggunakan helm di kepala mereka. Hal ini dilakukan tak lain agar merasakan sejuknya angin pantai berhembus menerpa badan mereka.


Suasan pantai yang lengang, di karenakan hari ini bukan hari minggu atau hari libur. Pantai panjang ini sangat ramai kalau ada acara yang di adakan di pantai. Namun semenjak berdiri sebuah mall yang menghadap ke arah pantai. Sore hari meskipun bukan hari libur kini tiap hari ramai dengan pengunjung yang kadang hanya sekedar lewat saja.


Alangkah bahagianya yang dirasakan Nara dan Dina saat ini. Ini merupakan perjalanan rekreasi mereka hanya berdua setelah kesembuhan Dina dari penyakitnya.


pulang Dina berjanji pada Nara, janji


Mereka berdua menikmati indahnya persaudaraan yang terjalin saat ini. Pernah berteman dan bersitegang karena laki - laki yang sama. Sekarang mereka berdua berusaha melupakan untuk sementara tentang permasalahan itu. Persaudaraan dengan ikatan darah yang mengalir dalam darah mereka itulah yang terpenting saat ini. Saudara kandung bukanlah orang lain. Dia adalah persahabatan abadi sepanjang masa ....

__ADS_1


__ADS_2