
Sebelum pergi menuju laboratorium, Alya membawa Ardi ke lobi untuk menyerahkan surat ke bagian administrasi dan resep ke bagian apotik.
"Kita tinggal dulu ke laboratorium, Di. Nanti kita ambil obatnya setelah semuanya selesai."
Ardi mengikuti semua ucapan Alya karena memang dialah yang lebih memahami situasi di rumah sakit tersebut. Mereka berjalan menuju bangunan tersendiri di bagian samping yang terpisah dari gedung utama.
Cukup ramai pengunjung di pagi hari, namun Alya segera menyerahkan surat pengantar dari dokter anak kepada bagian administrasi dan setelahnya, tak butuh waktu lama mereka sudah dipersilakan masuk ke dalam ruang pengambilan darah dan menunggu petugas mempersiapkan peralatannya.
"Al, aku tidak tega melihatnya ...," jujur Ardi pada Alya dengan wajah yang telah memucat seraya menatap sayu putri kecilnya yang masih belum bangun sejak tadi.
Walaupun lelaki itu berprofesi sebagai dokter, tapi perasaannya sebagai seorang ayah membuatnya tidak kuasa melihat bayinya sendiri yang masih berusia satu tahun itu akan ditusuk jarum suntik bahkan sampai diambil darahnya. Membayangkannya pun dia sudah ketakutan.
"Siapkan saja botol susunya, untuk berjaga-jaga jika Aura menangis nanti. Biar aku saja yang tetap memangku dan mendampinginya di sini."
Alya menunjuk sebuah kursi yang ada di sudut ruangan dan meminta Ardi duduk menunggu di sana. Tanpa banya kata lagi, dokter duda itu menurut dan menunggu masih dengan wajah tegang.
Alya memaklumi sikap Ardi. Sebagai seorang ayah baru, dia belum terbiasa menghadapi kondisi yang tak diinginkan seperti ini. Ditambah lagi sudah tidak ada Bunga di sampingnya, yang biasanya bersama Aura sepanjang hari dan selalu menangani bayi cantik itu dengan sangat baik.
"Semoga kamu selalu sehat dan tetap kuat menjalani hari-hari bersama Aura, Di. Kamu pasti mampu menjaga dan merawatnya hingga membuatnya tak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Mungkin akan berat di awal-awal, tapi aku yakin kalian pasti bisa tetap bahagia berdua."
Bunyi panggilan dari ponsel di dalam tas Alya terdengar, membuatnya buru-buru mengambil dan menerimanya agar tidak mengganggu tidurnya Aura.
"Ya, Ra?" Alya menyapa Nara di seberang sambungan.
"Dokter Alya, bagaimana hasil pemeriksaan dokter?" tanya Nara tak sabar, karena di rumah dia pun terus memikirkan Aura.
"Sekarang kami sedang berada di laboratorium, Ra. Aura akan diambil darahnya untuk pemeriksaan."
Ardi hanya memperhatikan dari tempatnya duduk dan menyimak apa yang dikatakan oleh Alya. Tanpa sadar dia terus memperhatikan wanita yang masih terus memangku buah hatinya itu.
"Sebentar lagi mungkin selesai. Tapi kami belum tahu kapan hasilnya bisa diketahui. Jika tidak lama, mungkin kami akan langsung berkonsultasi lagi dengan dokter."
Alya tidak mengatakan pada Nara tentang kemungkinan penyakit Aura yang oleh dokter dikatakan sebagai gejala anemia yang menurun dari Bunga.
"Pak Budi sudah kembali ke rumah sakit. Kapan pun kalian selesai, beliau sudah siap dan menunggu di pos sekuriti. Hubungi saja Pak Budi jika Dokter Alya dan Dokter Ardi membutuhkan sesuatu."
"Baik, Ra. Terima kasih sebelumnya. Akan aku sampaikan juga kepada Ardi."
__ADS_1
Tak lama kemudian, Alya menutup panggilan dari Nara dan menyimpan kembali ponselnya.
Tepat bersamaan dengan itu, Aura membuka mata dan memperhatikan Alya dengan sepasang mata indahnya yang masih sesekali mengerjap untuk menyesuaikan kondisi penerangan di dalam ruangan.
"Assalamu'alaikum, Aura. Anak cantik yang pinter, anak sholeha yang sehat dan kuat."
Alya mendudukkan bayi mungil itu di pangkuannya, saling berhadapan dan saling memandang dengan wajah Aura yang masih tanpa ekspresi.
Lambat-laun tangan kecil itu terangkat dan mulai menyentuh wajah Alya yang terus dihiasi senyuman yang menarik perhatian bayi mungil tersebut.
"Ehhee ... aaa ... ehhee ...." Aura mulai mengeluarkan suara lucunya yang menggemaskan. Dia terus meraba-raba wajah Alya tanpa rasa takut. Bayi itu justru tersenyum, seolah memang sudah mengenali dan mengingatnya.
"Bu-bu ... bu-bu ...." Meskipun berulang kali dipanggil dengan sebutan bubu, Alya tidak ingin larut dalam panggilan yang dia tahu maksudnya itu. Wanita itu tetap menyebutkan dirinya tante pada Aura.
"Iya, ini Tante. Aura masih ingat? Huumph ...!! Huumph ...!! Anak pintar!" Alya menghadiahi ciuman di kedua pipi Aura yang membuat bayi itu tertawa geli dan senang.
Ardi ingin menghampiri sang putri tapi dilihatnya petugas sudah siap dengan perlengkapannya termasuk jarum suntik yang akan melukai lengan kecil putri kesayangannya.
Seketika hatinya menciut dan takut, tidak tega untuk mendekat sehingga urung berdiri dan tetap menggenggam botol susu Aura dengan perasaan cemas dan berdebar.
Alya yang sempat melihatnya kembali tersenyum sekilas untuk menenangkan lelaki itu dan meyakinkan bahwa Aura tidak akan kenapa-kenapa.
Bekerjasama dengan dua orang petugas, Alya mulai memangku Aura dalam posisi telentang. Dipegangnya dengan lembut tangan kanan bayi itu, sementara seorang petugas sudah siaga memegang lengan kirinya dengan jarum suntik yang sudah disiapkan oleh petugss yang lain.
Dengan tenang Alya mulai menimang Aura dan terus mengajaknya berbicara hingga bayi itu mulai riang dan membalas Alya dengan tawa dan celotehannya yang belum jelas.
Saat perhatian Aura sudah teralihkan sepenuhnya pada Alya, di saat itulah petugas dengan cekatan segera mengusapkan kapas beralkohol pada permukaan kulit dan segera menancapkan jarum suntiknya dengan perlahan dan hati-hati.
"Eeaaa ... aaa ....eeaaa ...!!" Aura terdiam sesaat lalu menangis kecil. Alya masih terus menimangnya agar perhatian Aura kembali kepadanya.
Dan saat petugas sudah menarik jarum suntik dari lengan lalu menutup bekasnya dengan kapas dan plester kecil, Alya segera berdiri dan memeluk tubuh Aura. Dilanjutkannya menimang Aura dan terus mengajaknya berbicara.
Dengan langkah pelan dia membawa Aura kepada sang ayah yang masih menunduk dan memejamkan mata.
"Ya-ya ... ya-ya ...."
Panggilan dengan suara khas putrinya itu membuat Ardi membuka mata dan segera mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Aura! Anak Ayah sudah selesai, Nak?"
Meletakkan botol susu Aura di atas meja, Ardi yang terkejut segera berdiri dan mengusapi kepala putrinya lalu mencium keningnya dengan seucap syukur dalam hati.
"Aura mau minum susu sama Ayah? Itu, susu Aura sudah siap." Alya menunjuk botol susu yang ada di atas meja. Sejenak bayi mungil itu mengamati minumannya.
Ardi mengulurkan kedua tangannya yang akhirnya disambut oleh Aura yang sudah melupakan rasa sakit di lengannya tadi. Alya tersenyum lega melihat Aura mau ikut bersama sang ayah.
Diambilnya botol susu bayi tersebut lalu diberikan pada Aura setelah dia buka tutupnya. Dibantu Ardi, bayi cantik itu segera meminum susunya dengan lahap dalam dekapan ayahnya.
Berganti peran dengan Ardi, Alya mengambil tas miliknya dan tas perlengkapan Aura yang semula dibawa oleh Ardi. Diajaknya ayah dan anak itu untuk keluar dan menunggu surat pengambilan hasil pemeriksaan di ruang tunggu.
Layaknya keluarga kecil yang lengkap dan bahagia, bertiga Alya, Ardi dan Aura duduk menunggu sambil kedua orang dewasa sesekali memperhatikan sang bayi yang masih menghabiskan minuman di botol susunya.
"Terima kasih, Al. Lagi-lagi kamu membantuku untuk menenangkan Aura dan terus mendampinginya."
Ardi memperhatikan Alya yang tengah merapikan hijabnya yang sedikit berantakan karena sentuhan tangan mungil Aura selama bersamanya.
Alya menghentikan gerakan tangannya saat menyadari bahwa Ardi memperhatikan tingkah lakunya.
"Jangan terus-menerus berterima kasih kepadaku, Di. Aku senang melakukannya dan aku bahagia bisa menemani bayi cantikmu ini."
Alya tersenyum saat Aura menatapnya dan melepaskan dot dari mulutnya, karena sudah menghabiskan susunya. Dia tertawa lebar dengan mata indahnya yang sudah berbinar ceria.
"Betapa beruntungnya suamimu, lelaki yang memilikimu selama ini, Al. Kamu baik, pintar, mandiri dan sholeha. Semoga hidupmu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan bersama orang yang kamu cintai dan mencintaimu dengan tulus dan selamanya."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.