CINTA NARA

CINTA NARA
3.42. KEJUTAN PAGI


__ADS_3

Pada akhirnya, Alya tidak bisa menolak pemberian Ardi untuknya. Lelaki itu tetap saja meminta dia untuk menerima dan menggunakannya.


Dan pagi harinya, Pak Arif yang dipercaya sebagai sopir sudah datang dan mulai melaksanakan tugasnya. Beliau memanaskan mobil sebelum digunakan untuk mengantarkan Alya untuk pertama kalinya.


Mbak Mia hanya menyiapkan minuman hangat untuk Pak Arif karena sudah sarapan di rumah. Beliau adalah seorang suami dengan satu putra yang sudah bekerja.


Alya masih bersiap di dalam kamar. Dia baru saja menyelesaikan sarapannya dan hendak berganti pakaian. Ponselnya berdering tepat saat dirinya selesai berganti pakaian dan hendak mengenakan hijabnya.


Wajahnya berubah semringah dan bersemburat merah saat membaca nama yang tertera pada layar. Urung mengenakannya, Alya meletakkan kain pasmina yang hendak dipakainya tadi di atas meja rias.


"Ya, Di? Bagaimana kabar kamu dan Aura?" Alya menyapa di awal perbincangan mereka. Seperti anak remaja yang dipenuhi kerinduan pada seseorang, hatinya pun diliputi suka-cita saat mendengarkan suara Ardi di seberang sana.


Pembicaraan hangat mulai mengalir di antara mereka kemudian. Hanya sekedar bertukar kabar dan membahas banyak hal yang ringan, sudah cukup membuat Alya tersenyum sepenuh hati. Dia bahagia dan dia menikmati kebahagiaan yang dihadirkan oleh lelaki masa lalunya tersebut.


Sayangnya, waktu tak banyak berpihak kali ini sebab Alya terlebih dahulu harus segera menunaikan tugasnya di pagi hari. Setelah saling mengingatkan akan banyak hal sederhana, Alya mengakhiri panggilan dari Ardi masih disertai dengan senyuman yang menghiasi wajah cerianya.


"Aku tutup dulu teleponnya. Selamat pagi dan selamat bekerja juga untukmu, Di."


Wanita anggun itu mulai mengenakan hijabnya dengan cepat namun tetap terlihat rapi dan menarik. Wajah yang selalu dihiasi senyuman itu semakin terlihat cerah dengan aura kebahagiaan yang terpancar dari hatinya yang tengah berbunga-bunga.


Setelah merasa siap semuanya, Alya meraih tas dan ponselnya kemudian berjalan keluar dari kamar. Dia pamit kepada Papa dan Mama yang tengah bercengkrama di ruang tengah, lalu menuju halaman depan di mana Pak Arif sudah siap dengan mobilnya.


Alya menyapa beliau dengan ramah sebelum keduanya masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju ke rumah sakit.


Terima kasih, Di. Kamu selalu membuatku terharu dengan semua perhatian yang kamu berikan untukku. Kamu tidak pernah mengabaikan aku meski ada jarak di antara tempat kita berpijak saat ini.


Mobil memasuki halaman rumah sakit dan berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Pak Arif mempersilakan Alya turun lebih dulu, barulah dia akan mencari tempat untuk memarkir mobil dan menunggu, bersama beberapa sopir lain yang biasanya mempunyai tempat berkumpul untuk menunggu para dokter yang sedang bertugas masing-masing.


"Al, kamu diantar siapa? Aku lihat tadi kamu turun dari mobil." Rendy kembali menjajari langkahnya seperti pagi sebelumnya.


Dokter tulang itu masih bersikap seperti biasa meskipun kemarin dia mendapati kenyataan yang membuat hatinya sakit dan merasa telah kalah sepenuhnya karena tidak bisa mendapatkan cinta dari dokter berhijab anggun di sebelahnya.

__ADS_1


"Oh, itu ... ada sopir yang mengantarku," jawab Alya sedikit rikuk dan berharap Rendy tidak bertanya lagi yang akan membuatnya merasa sungkan dan merasa tidak nyaman.


"Sopir? Sopirnya siapa? Kamu membeli mobil, Al?" Rendy justru mengulik penjelasan dari Alya. Mereka menaiki tangga bersama untuk menuju ruang pemeriksaan.


"Bukan ... tidak. Maksudku, itu bukan mobilku. Aku hanya menggunakannya saja." Alya tidak tega untuk menyampaikan hal yang sebenarnya pada Rendy karena dia tahu hal itu pasti akan semakin menyakiti hatinya.


Dia berjalan lebih cepat agar segera sampai di depan ruangannya dan terhindar dari pertanyaan lain dari teman baiknya tersebut.


"Maaf, aku masuk dulu, Ren. Selamat bertugas." Alya sudah memegang gagang pintu dan siap untuk membukanya.


"Baiklah. Aku ke ruanganku dulu. Selamat bertugas juga untukmu." Rendy tersenyum menatap wajah Alya yang pagi ini terlihat lebih segar dan cerah.


Tidak butuh banyak waktu bagi dia untuk membuatmu sebahagia ini, Al. Sepertinya kalian memang ditakdirkan untuk kembali bersama dan saling membahagiakan.


.


.


.


Dokter kandungan itu duduk dan menyimpan tasnya di laci bawah sembari memperhatikan vas kecil yang berisi rangkaian bunga segar yang terlihat baru saja dipetik dan wanginya pun masih harum semerbak alami.


"Tadi ada salah satu karyawan dari toko bunga di seberang rumah sakit yang datang mengantarkan pesanan untuk ruangan Anda, Dok. Katanya ada pesan di bawah vas dari pengirimnya." Perawat tersebut menyampaikan apa yang dia ketahui pada Alya.


Alya memperhatikan lebih teliti lagi dan menemukan kartu ucapan kecil di bawah vas bunga tersebut. Diambilnya kartu itu dan membaca isi pesan ymag tertulis di sana.


Selamat bekerja. Semoga harimu selalu menyenangkan. AN


Tanpa sadar bibir Alya sudah tertarik pelan membentuk seulas senyuman bahagia. Dia tahu siapa pengirimnya dan karena itulah hatinya semakin membuncah pagi ini.


Setelah mengenakan jas putih yang tersampir di belakangnya, Alya meraih ponsel yang sudah disimpannya di tepi meja.

__ADS_1


Dia mengetik sebuah pesan singkat sebagai balasan atas kejutan pagi yang indah untuknya. Seindah bunga yang dikirimkan untuk dirinya.


Aku sudah menerimanya dan aku menyukainya. Terima kasih, Ardiatama Nugraha.


Pesan telah terkirim dan Alya kembali meletakkan ponselnya. Dia memulai tugasnya setelah menatap sekali lagi rangkaian bunga yang diletakkan di sisi kanan meja kerjanya.


Sementara itu, Rendy yang merasa penasaran dengan perubahan Alya, urung menuju ruang pemeriksaannya. Dia berbalik arah dan berjalan cepat menuju lift umtuk kembali turun ke lantai bawah.


Entah apa yang membuatnya penasaran, tapi dokter bersahaja itu merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Alya.


Sesampainya di lantai bawah, lelaki itu berjalan keluar menuju halaman parkir dan menghampiri beberapa orang yang bekumpul di sudut luar gedung dan tengah berbincang santai satu sama lain.


Setelah menyapa mereka dengan ramah, Rendy mengajak Pak Arif untuk berbicara sedikit menepi dari yang lain. Dia mengenali Pak Arif karena sempat melihat wajahnya saat Alya turun dari mobil yang kebetulan kaca bagian depannya terbuka karena wanita itu berbicara sebentar dari luar mobil.


Usai berbicara sebentar dengan Pak Arif, Rendy masuk ke dalam gedung rumah sakit dan kembali menuju ke ruangannya dengan wajah yang tak seterang sebelumnya. Senyuman kecil terbit wajahnya, namun terlihat jika dipaksakan guna menutupi perasaan lain di hatinya.


Ternyata dia sudah mengikatmu dengan banyak hal, Al. Aku tahu tanpa semua itu pun, sejak dulu kamu memang telah melabuhkan hatimu padanya. Tapi perhatian istimewanya kali ini, membuatku semakin sadar bahwa dia tidak ingin lagi ada aku di antara kalian.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2