CINTA NARA

CINTA NARA
80 TIDAK BISA BERSAMAMU


__ADS_3

"Selamat, Di. Akhirnya ada kemajuan dengan statusmu sekarang. Sudah menjadi calon suami."


Yoga memeluk haru sahabat kecilnya, setelah acara pokok lamaran di rumah Bunga selesai dilaksanakan. Ardi sama terharunya, dia membalas pelukan Yoga lebih erat dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Terima kasih, Ga. Ingat janji kita ketika masih kecil dulu ...." Ardi menjeda ucapannya.


"Kita akan selalu bahagia bersama-sama!" Berdua mereka mengucapkannya dalam waktu bersamaan.


Nara dan Bunga yang berdiri di samping masing-masing lelakinya hanya tersenyum melihat kedekatan kedua sahabat itu.


Mereka kemudian menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh keluarga Bunga. Yoga dan Nara duduk berdua, sementara Ardi dan Bunga masih melanjutkan langkah mereka menemui satu persatu tamu yang sebagian besar adalah keluarga dan kerabat mereka.


Tiba-tiba Yoga merasakan sesuatu yang tidak enak di tubuhnya. Dia meletakkan piringnya dan pamit pada istrinya untuk pergi ke toilet. Nara terus memperhatikan suaminya yang terlihat menahan sesuatu dan berjalan dengan cepat.


Sekembalinya Yoga, Nara melihat wajah lelaki itu sedikit pucat dan tampak tidak nyaman. Nara memberikan segelas air putih yang segera diminum setengahnya oleh sang suami.


"Kamu sakit?" tanya Nara khawatir.


Yoga menggeleng dan menunjukkan senyumannya untuk menenangkan istrinya.


"Hanya sedikit mual tadi. Mungkin karena aku makan terlalu cepat." Yoga menyembunyikan sesuatu agar Nara tidak membahasnya lagi.


Lelaki itu menemani Nara menghabiskan makanannya. Sesekali dia mengambil alih sendok yang dipegang Nara lalu menyuapi istrinya dengan penuh perhatian, membuat Nara menahan malu karena beberapa orang mulai memperhatikan kemesraan yang ditunjukkan Yoga kepada istri tercintanya.


Beberapa saat kemudian, Yoga mengajak Nara untuk pulang mendahului yang lain dengan alasan Raga yang sudah lama mereka tinggalkan.


Kedua orangtua Ardi dan juga Bunga masih melanjutkan acara ramah-tamah bersama keluarga yang lain di dalam rumah, sedangkan Ardi dan Bunga mengantarkan Yoga dan Nara keluar setelah mereka berpamitan.


"Kami pulang dulu," ucap Yoga pada keduanya.


"Maaf tidak bisa menemani kalian sampai selesai acara karena Raga kami titipkan di rumah Kakek dan Neneknya." Nara menjabat tangan Ardi dan Bunga diikuti Yoga setelahnya.


"Terima kasih, Mbak Nara dan Pak Yoga. Nanti kapan-kapan aku main lagi ke rumah menengok Raga, Mbak." Bunga tersenyum ramah di samping calon suaminya.


Nara mengangguk dan tersenyum. Yoga lalu menggandeng tangannya dan menuntunnya berjalan menuju mobil mereka.


Seperti biasa Yoga membukakan pintu untuk Nara dan menutupnya kembali setelah Nara duduk di samping kemudi. Kemudian dia menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi.


Sambil menyalakan mesin mobil, Yoga menatap ke arah istrinya dan tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Nara saat mengetahui tatapan Yoga kepadanya.


"Tidak ada apa-apa. Hanya sedang mengagumi kecantikan istriku, dan berrsyukur aku masih bisa memilikinya sampai detik ini." Yoga memuji Nara dengan tulus dan sejujurnya.


Wajah Nara bersemu merah seketika mendengar pujian suaminya. Meskipun bukan yang pertama kali bahkan setiap hari Yoga selalu mengatakannya, namun hatinya masih saja bergetar dan merasa bahagia setiap kali Yoga mengungkapkan perasaannya.


Wanita itu segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela seraya menahan senyumannya. Yoga yang melihatnya hanya tersenyum sambil melajukan mobilnya dengan pelan keluar dari halaman rumah Bunga.


Sepanjang perjalanan, Yoga seringkali mencuri pandang ke arah Nara yang masih terus tersipu. Malam ini dia ingin berlama-lama memandangi wajah istrinya dan mengingat setiap tingkah malunya yang membuatnya merasa bahagia.


Sampai mereka tiba di rumah orangtua Nara, Yoga masih terus memuaskan diri menatap wajah wanita yang telah membuatnya jatuh cinta tersebut.


Bahkan Yoga menahan Nara agar tidak keluar dari mobil lebih dulu, hanya untuk memeluk dan menciuminya tanpa henti.


"Ga ...!" Nara mengingatkan lelaki itu jika mereka masih berada di dalam mobil.


Yoga tidak peduli dengan peringatan Nara. Dia terus menyusuri seluruh permukaan wajah Nara dengan bibirnya dan berulang kali membisikkan kata cinta.


"Aku menyayangimu ..., aku mencintaimu, Sayang ..."


Yoga terus memberikan ciuman berulang-ulang di wajah istrinya, seolah hanya kali ini kesempatan yang dimilkinya. Lembutnya sentuhan bibir Yoga, akhirnya membuat Nara luluh dan terbuai oleh suasana yang diciptakan oleh lelaki itu.


Keduanya terus saling berbagi nafas dan kehangatan, dengan gerakan pelan nan lembut yang membuat Yoga dan Nara terus menikmati dan meresapi ciuman mereka dengan hati yang membuncah karena telah hanyut dalam aliran gairah yang melenakan jiwa.


Mereka melupakan waktu hingga akhirnya Nara yang lebih dulu teringat pada Raga yang sudah hampir tiga jam mereka tinggalkan.


"Raga, Ga ...." Seketika Yoga berhenti dan membuka mata, begitu Nara menyebutkan nama buah hati mereka.


Mereka berdua masih terengah dengan wajah yang memerah. Saling menatap dengan percikan gairah yang masih tersisa, membuat Yoga dan Nara tak rela menyudahi, kalau saja tidak mengingat bayi mungil yang pasti sudah menunggu kedatangan ayah dan ibunya.


"Ah ... maafkan aku. Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu terbawa perasaan." Yoga berkali-kali mengusap wajahnya.


Setelah menenangkan diri, dia lalu menatap Nara dan memegang kedua tangannya, digenggam dan disatukan dengan kedua tangannya sendiri.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, Sayang. Dengarkan baik-baik dan ingatlah selalu di dalam hatimu, selamanya."


Perasaan Nara tiba-tiba berubah menjadi tidak nyaman. Dia merasakan sesuatu yang tidak enak dan membuatnya tidak tenang.


"Jika suatu saat nanti aku tidak ada lagi di sisimu, tolong jaga dan rawatlah Raga dengan sepenuh hati dan cintamu. Katakan selalu pada buah hati kita, bahwa ayahnya sangat menyayanginya dan mencintainya ...."

__ADS_1


Yoga berhenti sejenak dan menatap Nara lekat-lekat tanpa berkedip sekali pun.


"Sama seperti aku menyayangi dan mencintaimu, Sayang."


Satu ciuman hangat nan lembut dirasakan oleh Nara di keningnya. Yoga tidak segera melepaskannya, justru menambahkan pelukan erat yang menyatukan tubuh mereka.


Perasaan Nara semakin tidak enak. Namun Yoga berhasil mengalihkan perhatiannya dengan senyuman dan belaian sayang di pipinya, setelah mereka melepaskan pelukan.


"Masuklah dulu. Aku harus menghubungi seseorang sebentar."


Nara mengangguk patuh. Yoga mengulurkan tangannya ke pintu, membantu membukanya dari dalam. Kemudian Nara keluar dan berjalan pelan masuk ke dalam rumah.


Yoga menutup pintu mobil dan masih terus memperhatikan istrinya hingga tubuh Nara tak terlihat lagi olehnya.


"Aku sangat mencintaimu, Ra. Maafkan aku karena tidak bisa bersamamu dan anak kita lebih lama lagi ...."


Yoga mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Beberapa menit lelaki itu berbicara serius dan sesekali memejamkan matanya, seolah sedang menahan sesuatu yang sangat menyakitkan di dalam tubuhnya.


Wajahnya berangsur menjadi pucat dan tegang, diikuti nafasnya yang mulai berat dan tersengal.


Tiba-tiba ponsel yang dipegang di telinganya terjatuh, bersamaan dengan tangannya yang terkulai lemah ke bawah tanpa daya. Wajahnya jatuh ke samping, dengan mata yang telah menutup dengan sempurna.


Terlihat bibirnya masih menunjukkan gerakan pelan, mengeluarkan suara lemah nan lirih, melafalkan kalimat penutup dengan susah payah hingga akhirnya tubuh itu benar-benar diam tak bergerak sama-sekali.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2