
Tiga bulan telah berlalu sejak kepergian Arif ke Jakarta. Hanya lewat vidio call komunikasi yang dilakukan Nara dan Arif. Setiap malam Arif rutin menyapa Nara lewat WA yang ada dalam ponselnya.
Selama tiga bulan ini juga naskah novel Nara yang berjudul Kelana sudah dikirimnya pada salah satu penerbit besar. Belum tampak apa ditolak ataupun diterima. Agak pesimis juga Nara terhadap karya novel perdananya yang digarapnya hampir 3 bulan lamanya.
Kesabaran berbuah hasil. Menginjak bulan ke -4 Nara melihat ada pemberitahuan melalui email bahwa Novelnya akan segera diterbitkan. Banyak yang harus dilakukan Nara. Tanda tangan kontrak dan perjanjian novelnya bakal dirilis.
Penerbit yang ingin menerbitkan karya Nara adalah penerbit besar yang ada di Jakarta. Mengingat peluang novel Nara bisa menembus pangsa pasar yang luas. Karena isi cerita novel memberikan inspirasi buat memacu semangat generasi muda. Oleh karena itu penerbit meminta Nara mempromosikan Novelnya ke sekolahan dan kampus- kampus tertentu yang telah ditentukan oleh pihak penerbit.
Banyak hal yang harus dilakukan Nara di Jakarta. Karena tak pasti kapan pulang dan kembali ke Bengkulu. Maka Nara memutuskan untuk risign dari pekerjaannya sebagai guru TK.
Bukan hal mudah melepaskan pekerjaan yang hampir 4 tahun digelutinya. Terkadang kangen celoteh bocah - bocah itu.
Tapi demi cita - citanya menjadi penulis. Nara membulatkan tekad. Harus meninggalkan sementara kota kelahirannya ini.
Sehari setelah pemberitahuan email tentang rilisnya novelnya Nara. Malam sebelum tidur Nara berniat akan menghubungi Arif. Eh ... , ternyata keduluan Arif yang menelpon.
"Assalamualikum Nara, lagi ngapain? "
"Waalaikum salam, ini baru mau tidur, " ucap Nara berbohong pada Arif. "Oh, ya Rif aku mau kasih tahu kamu kalau naskah Novelku akan segera dicetak oleh penerbit , " ungkap Nara berbinar - binar.
"Naskah yang kamu buat ! a-pa ! selamat dong kalau begitu. Aku turut bangga padamu sayang. Muah ... muah ... , " ucap Arif sumringah.
"Nah ... , karena itu aku mau hijrah ke Jakarta. Mau bikin perjanjian kontrak dan sedikit promosi ke sekolahan atau ke kampus - kampus yang sudah ditentukan penerbit itu, " ucap Nara sambil berapi - rapi.
"Benaran kamu mau tinggal di Jakarta. Yakin !! mendingan cari kosan aja dulu dari pada kontrakan. Siapa tahu cuma sebentar doang di Jakartanya. Sayang kan, " ungkap Arif memberi saran.
"Benar juga katamu Rif.., aku mending cari kosan aja dulu, " ucap Nara.
" Mbok ya ... , kalau ama pacar bilang kakak kek apa abang boleh juga sayang gitu, " protes Arif pada Nara di ujung telponnya.
" Iya yang. Pala loe peyang, " kelakar Nara pada Arif. " Tapi beneran ya kak arifku sayang, carikan kosan dekat kampus kamu aja ya, " pinta Nara pada Arif.
"Asyik dong ... , kalau begitu. Bisa ketemu pacar saban hari. Wkwk ... , " ucap Arif kegirangan.
"Iya sih enak, tapi ibuku mau menemani ngekos juga, " Nara berkelakar.
__ADS_1
" Aa..pa.., " gak asyik banget nih, " ucap Arif cembetut.
" Makanya, cariin kosan yang bagus dan pake AC ya, " pinta Nara pada Arif.
" Tapi kamu becanda kan !! kalau ibu mau menemani kamu Nara, " selidik Arif pada Nara.
" Wong beneran, aku ini anak kesayangan ibu loh, " jawab Nara terkekeh.
" Uda ya kakak sayang , kalau uda dapat kosan kabari aku ya," pinta Nara pada Arif.
Bye..bye..., " asalamualaikum. Muah..muah, "Nara mengakhiri telponnya.
#####
Tak biasanya malam - malam begini sudah hampir seminggu Arif tidak menghubungi Nara. Nara juga tidak inisiatif menelpon duluan. Mungkin lagi sibuk, atau tongpes belum kebeli pulsa. Hehe.., bathin Nara dalam hati.
"Lebih baik tidur aja ah, gumam Nara dalam hati." Tampak Nara berulang kali menangkupkan telapak tangan kanannya di mulut. Menguap.
Jam didinding kamar Nara menunjukkan pukul 10 malam. Tak ada tanda - tanda Arif bakalan menelpon. Lalu Nara mematikan TV, menaikan suhu AC dikamar. Berbaring di kasur empuknya. Lalu menarik selimut dan ZzxZzz...., Nara terlelap.
" Asalamualaikum sayang., hai calon penulis lagi ngapain?, " ucap Arif.
" Lagi tidur.., " jawab Nara sambil mencoba membuka matanya yang masih terasa lengket untuk dibuka.
" Oalah.., jam segini sudah tidur. Emang ngapain aja tadi. Capek banget ya, " ucap Arif pelan.
" Ngantuk aja. Kamu kenapa seminggu ini baru nelpon sekarang ? " tanya Nara minta penjelasan.
" Iya, maaf ya sayang. Sekarang aku lagi sibuk mengerjakan tesis. Rempong. Terus mencari tempat kosan buat kamu, " ungkap Arif memberi penjelasan.
" Emang uda dapat belum?!. Kalau uda minggu depan aku mau ke Jakarta, " pinta Nara.
" Sudah sayang, kosannya di Jl. Kenari. Dekat kok dengan kosan aku. Hehe..., " jawab Arif.
" Ya uda , minggu depan. aku berangkat ke Jakarta.Besok mau cari tiketnya dulu, " ucap Nara.
__ADS_1
" Uda ya sayang, teruskan tidurnya. Mimpi yang indah ya. Assalamualaikum, " ucap Arif mengakhiri teleponnya.
" Waalaikum salam, " jawab Nara menutup teleponnya. Lalu Nara melanjutkan tidurnya. ZzZzzzxx.....
"""""''''''''''"
Keesokan harinya. Pagi - pagi jam 8 Nara mulai berbenah diri. Pergi ke sekolah TK untuk pamit kepada para guru dan anak - anak TK yang sangat disayangi oleh Nara.
Bersama ibu kepala sekolah dan ibu guru yang lain Nara pamit pada anak - anak muridnya.
" Selamat pagi anak - anak, " ucap Nara.
" Pagi bu...., ' suara anak- anak TK B menggaungi ruang kelas.
" Anak - anak mulai besok ibu gak ngajar lagi disini ya. Maafin ibu ya , ibu sayang kalian semua, '' ucap Nara mengakhiri ucapan perpisahan.
Satu persatu anak - anak menyalami Nara.
Tiba pada giliran Dion anak laki - laki usia 6 tahun bertubuh besar. Dion langsung memeluk Nara, sambil menangis tersedu - sedu. Nara kemudian membalas pelukan Dion
" Kenapa Dion? kenapa nak?, " ucap Nara sambil mengusap air mata Dion.
Semua mata tertuju pada Dion. Semua penasaran mengapa Dion yang ceria tampak sangat sedih.
"Ayo kenapa nak, " ucap ibu kepala sekolah penasaran
Sambil sesenggukan lalu Dion berucap, " Nanti siapa yang mau ceboki aku kalau mau eeh dan pipis, " lalu Dion kembali.meraung menangis.
" Oalah..., semua yang tadinya sepi terbawa suasana. Kini pecah menjadi tawa mendengar alasan Dion.Haha...., dasar bocah.
Setelah pamit ke sekolahan. Motor honda putih Nara melaju mencari travel terdekat dari sekolah TK tempat Nara mengajar. Lalu Nara mulai pesan tiket penerbangan ke Jakarta minggu depan. Membayar ongkos tiket, kemudian Nara mendapat bukti pembayaran dan tiket ke Jakarta.
Tiket ke Jakarta sudah ditangan Nara. Tinggal selangkah lagi untuk misi balas dendamnya. Alam dan Tuhan berpihak pada Nara. Nara tersenyum memikirkan hari pembalasannya pada Angga.
Motor Nara melaju menuju rumah Nara. Melaju bersama harapan dan rasa sakit yang dirasakannya. Sakit ditinggal kekasih. Sakit yang menimbulkan luka dihatinya. Selamat tinggal Bengkulu..., selamat datang Jakarta. Minggu depan aku ke Jakarta...
__ADS_1