
Ardi masuk ke dalam ruang perawatan Alya dengan mendorong kursi roda yang diduduki oleh Bunga, istrinya.
"Selamat pagi, Mbak Nara dan Dokter Alya."
Bunga menyapa mereka dengan senyuman di wajahnya yang masih terlihat pucat. Ardi turut tersenyum di belakangnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Selamat pagi." Nara dan Alya menjawab bersamaan.
"Bunga, kok kamu sudah memaksakan diri turun dari pembaringan?"
Ardi mendorong kursi roda istrinya sampai di samping pembaringan di mana Alya sudah kembali duduk dan urung turun.
"Saya ingin bertemu dengan seseorang yang sudah menyelamatkan nyawa saya dan putri kecil kami."
Selanjutnya Bunga meminta waktu sebentar untuk berbicara berdua dengan Alya. Setelah menatap Ardi, Nara pun menuruti permintaaan wanita bergelar ibu baru tersebut diikuti Ardi yang berjalan mengikutinya.
Untuk sesaat keheningan tercipta di antara mereka. Alya dan Bunga saling menatap tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya.
"Seharusnya tidak perlu memaksakan diri untuk datang kemari. Luka bekas sayatan operasimu masih basah dan kamu belum boleh banyak bergerak dulu."
Akhirnya Alya membuka suara untuk mengawali perbincangan dengan istri dari mantan kekasihnya.
"Saya hanya ingin menyampaikan ucapan terima kasih saya langsung kepada Dokter Alya."
Bunga mencoba menahan rasa sakit di perut bagian bawahnya. Dia menutupinya dengan tetap tersenyum ke arah Alya yang juga membalas senyumannya.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi tugas dan kewajibanku untuk melakukan yang terbaik dan menolong siapa pun yang membutuhkannya."
Bunga mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Alya dengan hangat dan penuh senyuman.
"Saya berhutang nyawa kepada Dokter. Semoga suatu saat nanti saya masih mempunyai kesempatan untuk membalas pertolongan dan budi baik Dokter."
Alya menggelengkan kepalanya pelan dan mengenggam tangan Bunga dengan kedua tangannya.
"Lupakan saja dan jangan dipikirkan lagi. Sungguh aku melakukannya dengan ikhlas dan setulus hati."
Bunga terdiam sejenak dan hendak menanyakan sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya semalaman tadi.
"Bolehkan saya bertanya sesuatu, Dok? Tapi maaf sebelumnya, jika pertanyaan saya ini bersifat lebih pribadi."
"Tentu saja. Jangan merasa sungkan kepadaku."
__ADS_1
Bunga menatap wanita berhijab itu dengan tatapan penuh kekaguman. Sebelumnya dia hanya sekilas saja melihat Alya dengan samar saat dokter itu masuk ke ruang persalinan mengikuti suaminya yang baru saja datang kemarin pagi.
"Jika saya bukan istri dari Mas Ardi, apakah Dokter juga akan melakukan hal yang sama kepada saya seperti kemarin?"
Alya sama sekali tidak terkejut mendengar pertanyaan Bunga tersebut. Dia sudah menduga sebelumnya sehingga dia sudah bisa mempersiapkan diri agar tidak terlihat gugup dengan perasaan di hatinya.
"Tentu saja! Tentu saja saya akan melakukan hal yang sama kepada siapa pun itu."
"Saya telah terikat sumpah jabatan dan selain itu, saya mempunyai kewajiban untuk menolong sesama yang membutuhkan tenaga dan bantuan saya."
Dengan senyuman yang semakin merekah indah di bibir manisnya, Alya mempererat genggaman kedua tangannya.
"Percayalah, saya tulus melakukannya. Saya ikhlas dan tidak pernah memikirkan hal yang lainnya"
Bunga merasa bersalah karena telah berpikiran yang tidak-tidak tentang Alya.
Rasa cintanya yang dalam pada Ardi membuatnya sempat cemburu dan merasa takut karena mengetahui pertemuan suaminya dengan mantan kekasihnya tersebut.
"Pantas saja Mas Ardi sangat mencintainya dulu. Dia adalah wanita yang sangat mengagumkan dengan ketulusan hati yang luar biasa dan semua sifat baik yang dimilikinya."
Bunga tersenyum membalas senyuman ramah Dokter itu seraya membalas genggaman tangannya.
"Sekali lagi terima kasih, Dokter Alya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan pahala yang berkali lipat atas semua kebaikan Dokter kepada saya dan juga putri kecil kami."
"Semoga Dokter selalu dipenuhi kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup. Sampaikan salam hormat saya untuk suami dan keluarga Dokter."
Perlahan Alya turun dari pembaringan dan melangkah mendekati Bunga. Dia memeluk wanita itu dengan hangat dan penuh senyuman, membuat Bunga semakin kagum dengan sikap yang ditunjukkan oleh Alya.
"Berbahagialah selalu bersama Ardi dan putri cantik kalian. Semoga keluarga kecil kalian semakin dipenuhi kebahagiaan yang tiada henti dengan hadirnya buah hati kesayangan kalian."
Diam-diam Alya menyeka butiran air mata yang sempat menggenang di kedua pelupuknya. Dia terus menampakkan senyumannya untuk menyamarkan keharuan yang menyeruak memenuhi ruang hatinya.
Dia memastikan tidak ada lagi air mata yang terlihat di wajahnya, sebelum melepaskan pelukannya dan kembali beradu pandang dengan istri dari mantan kekasihnya.
"Saya pamit karena hari ini saya akan pulang. Selamat menikmati kehidupan baru sebagai seorang ibu."
Alya mencium pipi kanan dan pipi kiri Bunga yang terus tersenyum bahagia karena keraguannya akan perasaan Ardi dan Alya telah sirna dengan mendengar jawaban langsung dari mantan kekasih suaminya tersebut.
Melihat dari kaca kecil di tengah pintu, Ardi tersenyum lega karena kekhawatirannya tidak terjadi. Bunga dan Alya berbicara dengan hangat dan terlihat keduanya baik-baik saja.
Nara yang sedari tadi memperhatikan Ardi hanya terdiam dan membiarkan dokter itu terus melihat ke dalam ruangan Alya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Ardi masuk dan mengajak Nara bersamanya ke dalam. Alya yang lebih dulu melihatnya karena berdiri menghadap ke arah pintu, tetap menampakkan senyumannya.
Dia mundur ke samping dan menarik kopernya, membiarkan Ardi menghampiri istrinya. Nara menemani Alya di sebelahnya.
"Sudah?" tanya Ardi yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bunga.
"Aku pamit, Di. Terima kasih atas pelayanannya selama aku berada di klinik ini. Maaf jika aku merepotkan kalian semua." Alya menyela untuk pamit pada Ardi.
"Tapi kondisimu masih lemah, Al?" Sejujurnya Ardi sangat mengkhawatirkan kondisi Alya yang masih terlihat lemah dan belum terlalu kuat.
"Aku tidak apa-apa. Ada Nara yang akan menemaniku."
"Kamu akan langsung pulang?" Ardi semakin mencemaskan Alya karena wanita itu akan sendirian selama dalam perjalanannya.
"Jangan khawatir, Dok. Mas Yoga sudah mengatur semuanya. Dokter Alya akan baik-baik saja."
Nara dan Alya tidak mengatakan pada Ardi jika Alya akan tinggal sementara di kediaman Yoga. Suaminya telah memintanya untuk tidak mengatakan apa pun segala hal tentang Alya.
Yoga ingin Ardi fokus pada pemulihan kesehatan istrinya dan putri kecilnya yang masih harus dirawat di inkubator untuk menstabilkan kondisi organ dalamnya lebih dulu.
Akhirnya dengan berat hati Ardi melepaskan kepergian Alya bersama Nara. Dalam hatinya, terlantun rangkaian doa tulus untuk kesehatan dan keselamatan Alya, wanita yang pernah mengisi hatinya dengan kenangan cinta yang terindah.
"Selamat jalan, Al. Aku akan selalu mendoakanmu dari jauh. Semoga hidupmu senantiasa diberkahi dengan kebahagiaan yang tak pernah usai untuk selamanya."
Di sepanjang koridor menuju lift untuk turun, Alya berjalan pelan di samping Nara yang menggenggam erat tangannya. Dia menguatkan hatinya untuk terus tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Berbahagialah selalu, Di. Dengan demikian aku pun akan turut merasakan kebahagiaanmu. Kamulah satu-satunya pemilik hatiku ini, meskipun aku tidak akan pernah bisa memilikimu ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.