
"Bagaimana dengan kemungkinan resikonya, Dok?" Yoga tak bisa menahan rasa ingin tahu yang selama ini mengganjal di hatinya."
Alya terdiam mendengar pertanyaan Yoga dan tidak segera menjawabnya, membuat Yoga semakin gelisah dan tidak tenang.
"Dok?" Yoga semakin penasaran dibuatnya. Dia ingin segera mendengarkan penjelasan dari Alya.
Alya mengangguk pelan dan mencoba menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, untuk memberikan beberapa penjelasan tentang kondisi Nara sebelumnya.
"Setiap kehamilan selalu memiliki resikonya masing-masing. Tidak ada yang berjalan dengan mulus begitu saja. Demikian pula halnya dengan riwayat keguguran seperti yang dialami oleh Nara."
"Faktor resiko akan selalu ada dalam berbagai macam kondisi kehamilan. Kehamilan yang sehat pun bisa memiliki kemungkinan untuk tidak berjalan denganlancar dan aman."
"Jadi jawaban saya, kemungkinan resiko pada kehamilan Nara berikutnya akan tetap ada meskipun belum bisa dipastikan sebelum kita mengetahui keberadaannya."
Yoga menahan nafasnya untuk sesaat setelah mendengarkan penjelasan Alya, lalu melepaskannya dengan hati yang masih terasa tidak menentu.
Dan ucapan terakhir Alya yang menjadi penutup pertemuan mereka kali ini, mengingatkan Yoga pada ucapan yang sama yang juga pernah disampaikan oleh Ardi pada dirinya dan Nara sebelumnya.
"Kita hanya bisa menjaga dan menjalani setiap kehamilan dengan sebaik-baiknya, selebihnya kita serahkan semua pada kehendak dan ketetapan Yang Maha Kuasa."
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Yoga lebih banyak diam dan hanya fokus dengan kemudinya. Di dalam hatinya masih meragu untuk memenuhi permintaan istri terkasihnya.
Bukannya dia tidak menginginkan kehadiran seorang anak lagi dalam kehidupan rumah tangga mereka, tapi kondisi kesehatan Nara yang menjadi prioritas utamanya.
Dua kali kegagalan yang harus diterima dan dijalani oleh wanita itu sebelumnya, membuat Yoga terus berpikir ulang untuk mengabulkan keinginan Nara begitu saja.
Dia tidak ingin melihat Nara dirundung kesedihan dan terpuruk lagi seperti dulu. Itu adalah kelemahannya, tak bisa melihat kesedihan dan air mata dari wanita kesayangannya.
"Mas ..., kamu masih belum yakin dengan keputusanmu?" Nara mulai melunak seiring sikap Yoga yang semakin terlihat setengah hati dalam menanggapi keinginannya untuk hamil kembali.
Yoga yang mendengarnya masih terdiam tak ingin menanggapi. Dia memilih diam daripada salah berucap dan membuat istrinya semakin merasa tidak nyaman.
Pelan-pelan Nara menyentuh lengan kanan Yoga dan berucap lirih.
"Jangan pulang dulu sebelum hatimu merasa tenang kembali." Nara mengingatkan suaminya.
__ADS_1
Keduanya telah sepakat untuk tidak membawa masalah atau kemarahan apa pun sampai di kediaman mereka. Yoga dan Nara berusaha untuk selalu mengutamakan Raga.
Bagi mereka perkembangan emosional Raga harus benar-benar mereka perhatikan dengan memberikan contoh yang baik dan terkontrol langsung oleh keduanya.
Yoga seakan menyadari kesalahannya. Dia segera mencari tempat untuk menepikan mobilnya dan berhenti untuk menenangkan diri.
Dipejamkan kedua matanya seraya rebah bersandar pada kursi kemudi. Nara membiarkannya dan hanya memperhatikan dari kursinya sendiri.
"Aku tidak akan pernah melakukannya sebelum dirimu ikhlas sepenuhnya dengan keputusanmu, Mas. Aku tidak ingin menjadi istri durhaka yang memaksakan kehendakku sendiri pada suami yang selama ini sangat mencintaiku dan selalu mengutamakan segala hal tentang diriku."
Sudut hati Yoga tersentuh oleh kalimat sarat makna yang diucapkan dengan tenang dan lembut oleh istri tercintanya.
Dengan cepat lelaki itu membuka mata dan memalingkan wajahnya ke arah samping. Dilihatnya sang istri yang masih terus memaku pandangan ke arahnya dengan tatapan lembut penuh kasih.
Keresahan dan kekhawatirannya sirna begitu saja saat melihat wajah Nara yang tak sedikit pun menunjukkan kekecewaan atau kemarahan padanya. Justru sebaliknya, wanita itu memperlihatkan senyuman yang meneduhkan hatinya seketika.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk mendiamkanmu."
Yoga mendekat dan langsung mendekap tubuh istrinya. Dia memeluk Nara dengan sangat erat. Hatinya terus bergetar dengan debaran-debaran yang kian menyesakkan dada.
Sepasang mata sendunya mulai terasa panas dan memburam olen cairan bening yang menggenangi pelupuknya.
"Maafkan aku juga, Mas, jika aku telah membuatmu serba salah dengan keinginanku ini." Nara membalas pelukan suaminya dengan lebih erat.
Ketenangan mereka rasakan kemudian, setelah saling melepaskan keresahan di dalam hati dengan pelukan hangat penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Sayang."
Yoga melepaskan pelukannya dan mengungkapkan perasaannya, lalu melabuhkan ciuman yang lembut dan lama di kening sang istri.
Nara meresapi ciuman itu dengan getaran indah yang terus mengalun di hatinya.
"Aku juga sangat mencintaimu. Dan seutuhnya aku hanya milikmu, Mas."
Yoga membalas pengakuan istrinya dengan anggukan kepala dan senyuman di bibirnya.
Seteleh sama-sama merasa tenang, mereka melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. Keduanya mencoba untuk saling memahami tanpa saling menuntut satu sama lain.
"Tentang program kehamilan yang ingin segera kamu jalani, ...."
Yoga menghentikan kalimatnya, merasa belum sanggup untuk sepenuhnya memutuskan hingga akhirnya hanya bisa membuang nafas dengan sedikit kasar, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Sungguh aku hanya mengkhawatirkan dirimu, Sayang. Aku tidak ingin melihatmu bersedih dan menangis lagi seperti dulu."
Nara mengangguk pelan dan terus menggenggam tangan suaminya dengan erat.
"Apa kamu sudah menyerah dan putus asa, Mas?"
Yoga menggeleng cepat seraya mengalihkan pandangannya ke arah Nara dengan lekat. Dia tidak ingin istrinya salah paham dengan sikapnya.
"Tidak sama sekali, Sayang. Kamu tahu benar, kita sama-sama menginginkan kediaman kita ramai dan dipenuhi oleh tawa riang dan celoteh lucu anak-anak kita, Raga dan adik-adiknya."
Nara merasa lega mendengar jawaban Yoga yang membuatnya semakin mengerti bahwa suami hanya butuh untuk diyakinkan atas apa yang ingin mereka ihktiarkan kali ini.
"Aku hanya takut jika kejadian yang sama akan terulang lagi seperti dulu sehingga kamu akan merasa kecewa dan kembali kehilangan senyuman juga tawa ceriamu."
Ssjujurnya, di hati Nara pun terbersit ketakutan yang sama seperti halnya yang dirasakan oleh sang suami. Namun keinginan dan harapannya yang besar akan hadirnya buah hati berikutnya, mampu mengalahkan rasa takutnya dan menggantinya dengan keyakinan yang bulat dan utuh.
"Aku bisa memahami perasaanmu atas dua kali kegagalan kehamilanmu yang lalu, Sayang. Karena itulah, aku tidak sampai hati jika harus melihatmu seperti itu lagi. Hatiku pun ikut merasa sakitnya dan teriris perih atas kesedihanmu."
"Mas ..., sungguh aku tidak apa-apa dan tidak akan kenapa-kenapa." Nara mencoba lagi untuk meyakinkan suaminya.
"Apa kamu yakin dan siap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, Sayang?" Raut kekhawatiran masih jelas terlihat di wajah Yoga yang masih penuh keraguan.
"Aku siap, Mas! Kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak pernah mencobanya."
Yoga memejamkan matanya sejenak untuk mengusir resah dan gundah yang masih menghinggapi perasaannya. Ditariknya pelan genggaman tangan mereka dan diciumnya dengan segenap kemantapan.
"Beri aku sedikit waktu lagi untuk bisa memberimu jawaban dari hatiku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.