CINTA NARA

CINTA NARA
2.90. TIDAK INGIN GAGAL


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Maaf jika selalu merepotkanmu."


Alya berdiri di depan pintu rumahnya. Di hadapannya, seperti biasa Rendy akan memastikan wanita itu masuk ke dalam rumah lebih dulu, barulah dia akan berlalu pulang.


"Sudah sekian lama dan kamu masih saja mengatakan itu, Al." Sebenarnya Rendy tidak menyukai kata-kata itu. Tapi Alya tidak bisa dicegah dan akhirnya dia pun membiarkannya saja.


"Biarkan aku terus mengatakannya, Ren. Sebagai ungkapan terima kasih dariku untukmu yang selalu ada untukku."


Rendy tersenyum menatap wajah ayu di depannya yang sudah mengalihkan pandangan dan membuka pintu.


"Aku masuk dulu. Kamu hati-hatilah di sepanjang perjalanan." Alya melangkah masuk dan berdiri menghadap ke arah luar.


"Pasti. Aku pulang dulu."


Usai mengucapkan salam, Rendy melangkah pergi dengan Alya yang memperhatikannya diam-diam sebelum menutup pintu.


"Mengapa tidak diajak masuk dulu, Al? Sudah lama Papa tidak minum kopi bersamanya." Tiba-tiba Papa sudah berdiri di ujung ruang tamu membuat Alya terkejut untuk sesaat.


"Sudah malam, Pa. Dia juga butuh istirahat. Lagipula tidak enak jika terlalu sering dilihat atau diawasi oleh tetangga," jawab Alya dengan tenang sembari menghampiri Papa dan mencium punggung tangannya.


"Sesekali ajaklah dia duduk di teras dulu, biar nanti Papa yang akan menemuinya," pinta Papa lalu berjalan mendahului snag putri masuk ke ruang tengah.


"Iya, Pa." Alya hanya bisa tersenyum dan menuruti permintaan sang papa, lalu berjalan mengikutinya.


Rendy memang sudah beberapa kali bertemu dengan Papa. Berawal dari saat pertama kali lelaki itu mengantarkan Alya pulang.


Malam itu, Alya mempersilakan Rendy masuk dan memperkenalkan kepada kedua orangtuanya sebagai teman kerjanya di rumah sakit.


Rendy pun tahu diri, meskipun keluarga Alya menyambutnya dengan tangan terbuka, dia tetap menjaga jarak dan memilih untuk langsung pulang setiap kali usai mengantarkan wanita yang dicintainya itu sampai di depan pintu rumah.


Hanya sesekali saja dia menerima tawaran Alya untuk mampir sejenak, sekedar menikmati secangkir kopi dan berbincang singkat dengan papanya.


Setelah membersihkan diri dan beristirahat sesaat di kamarnya, Alya keluar untuk membuat minuman hangat dan bercengkerama bersama Papa dan Mama di ruang tengah.


"Sejauh ini, apakah kalian mempunyai hubungan yang istimewa selain dari teman kerja?"


Tidak biasanya Papa membahas tentang hal tersebut, membuat Alya merasa gugup untuk menanggapinya.


"Sudah sejak lama kami berteman baik. Itu saja, Pa."

__ADS_1


"Apa dia tidak pernah mengutarakan perasaannya kepadamu?" Sepertinya perbincangan kali ini akan lebih serius dari biasanya.


Alya menyesap minumannya dan menunggunya lebih dingin lagi.


"Pernah, dan aku sudah menolaknya." Tak ingin menutupi dari orangtuanya, Alya pun menjawab apa-adanya.


"Sepertinya dia lelaki yang baik dan sangat santun. Mengapa kamu tidak menerimanya?" Papa mulai tertarik untuk mendengarkan cerita putri semata wayangnya.


"Aku hanya menganggapnya sebagai teman, sekalipun kami sudah berhubungan baik dan cukup dekat. Aku tidak bisa membuka hatiku untuknya."


Papa dan Mama masih diam dan menunggu ceritanya. Semenjak mereka memutuskan untuk tinggal bersama Alya, mereka menjadi terbiasa untuk bertukar cerita setiap malam sehingga hubungan di antara ketiganya terasa lebih hangat dan semakin erat.


"Kami sama-sama pernah gagal dalam berumah tangga. Tidak semudah itu bagiku sebagai perempuan untuk membuka diri dan kembali memulai sebuah hubungan dengan seseorang yang belum aku yakini dalam hatiku."


Alya kembali meneguk cokelat hangat yang cangkirnya masih terus dia pegang.


"Apakah karena Riko kamu masih menutup diri?"


Dengan cepat Alya menggelengkan kepala dan menerawangkan pandangannya ke atas ruangan, menatap langit-langit putih yang tiba-tiba menampilkan bayangan wajah seseorang.


"Sampai saat ini aku masih menganggap Riko sebagai teman kecilku, meskipun kami mempunyai masa lalu yang tidak baik selama menjalani biduk pernikahan."


Demi alasan balas budi dan menjaga hubungan persahabatan mereka, Papa memutuskan tanpa ingin tahu lebih dulu bagaimana perasaan sang putri, juga perasaan Riko kepada Alya.


"Aku tidak mau mengulangi hal yang sama, menikah tanpa perasaan cinta di dalam hatiku. Aku tidak ingin gagal lagi, Pa."


Papa mengangguk dan memahami semua yang diutarakan oleh putri kesayangannya. Kali ini, beliau tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi, hanya karena keinginannya untuk segera menimang cucu.


"Maafkan kesalahan Papa dulu, Al. Papa merasa gagal untuk membahagiakanmu. Papa salah telah menikahkanmu dengan Riko."


Alya meletakkan cangkirnya di atas meja lalu menggeser duduknya merapat pada sang papa yang terus menatapnya dengan penuh penyesalan. Digenggamnya tangan sang papa yang telah mulai mengeriput sebagaimana halnya wajah beliau.


"Jangan bicara seperti itu lagi, Pa. Papa tidak bersalah karena Papa hanya bermaksud untuk memberiku kebahagiaan. Jika ternyata aku tidak bahagia bersama Riko, itu karena takdir kami memang demikian adanya, sama sekali bukan karena kesalahan Papa."


Mama tersenyum dan menepuk pundak suaminya untuk menenangkan. Dokter yang merawatnya dulu berpesan agar Papa tidak boleh merasa tertekan dan terlalu banyak pikiran karena akan mempengaruhi kondisi kesehatannya, terutama dengan riwayat penyakit yang dimiliki sebelumnya.


"Jika bukan karena Riko, apakah karena lelaki yang kamu cintai dulu?"


Pertanyaan Mama sungguh di luar dugaan Alya. Dia tidak menyangka jika mamanya masih mengingatnya, padahal dia hanya sekali bercerita yaitu pada saat Papa memutuskan untuk menikahkannya dengan Riko atas dasar lamaran dari orangtua Riko.

__ADS_1


"Apa benar begitu, Al?" tanya Papa menyusul pertanyaan Mama.


"Papa tahu?" Alya menatap mamanya dan melihat wanita yang telah melahirkannya itu mengangguk. Itu artinya Mama sudah menceritakan kisah tersebut kepada Papa.


"Maafkan Papa yang dulu terlalu egois dan tidak mau tahu tentang perasaanmu, Al."


Alya menggeleng dan mempererat genggaman tangannya.


"Lupakan saja, Pa. Semuanya sudah terjadi dan sudah menjadi garis hidupku yang harus aku jalani dengan ikhlas."


"Di mana dia sekarang? Apakah kalian masih berhubungan?" tanya Mama dengan tenang.


Alya terdiam seketika, tak tahu harus menjawab bagaimana lagi.


"Haruskah aku menceritakan yang sebenarnya tentang dirimu? Padahal kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing."


Ingatannya melayang ke masa lalu, di mana semua keindahan dan kebahagiaan selalu dirasakannya setiap hari, bersama seseorang yang sangat dicintainya dan juga mencintainya sama besar.


Untuk sesaat dia bernostalgia tentang masa itu. Masa bahagia yang penuh tawa ceria. Masa di mana mereka telah merajut mimpi tentang masa depan gemilang yang akan mereka raih bersama. Masa di mana mereka sudah merancang pernikahan terindah yang akan segera mereka wujudkan dan mereka jalani berdua selamanya.


Tapi kenyataannya, semua sirna seketika saat takdir memisahkan mereka dalam sekejap mata.


"Dia sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2