CINTA NARA

CINTA NARA
2.21. MERESTUI HUBUNGAN


__ADS_3

Usai berkonsultasi dengan Ardi, Yoga dan Nara menyempatkan diri untuk berkunjung ke restoran Tante Arum. Sudah beberapa bulan mereka tidak pulang dan tidak mengunjungi makam Dicky.


Mereka tiba saat maghrib tiba, sehingga setelah memarkir mobilnya, Yoga mengajak Nara untuk bergegas menuju musholla yang ada di bagian samping restoran.


Karena terburu-buru mereka tidak menyadari keberadaan mobil seseorang yang juga terparkir di halaman restoran, tak jauh dari mobil Yoga.


Usai dari musholla barulah mereka terkejut karena bertemu saat akan masuk ke dalam restoran melalui pintu samping.


"Lho, Ndra? Kamu di sini?" tanya Nara yang masih bingung mengapa adiknya bisa sampai di restoran Tante Arum. Padahal sepulang dari kantor bersama Yoga tadi, lelaki muda itu masih berada di rumah dan bermain bersama Raga.


Indra hanya tersenyum dan terus berjalan mengikuti kakaknya, hingga mereka bertemu dengan Tante Arum yang ditemani oleh anak perempuannya.


"Maafkan kami karena lama tidak kemari, Tante," ucap Nara sembari memeluk dan mencium tangan tantenya, diikuti oleh Yoga yang lebih lama berpelukan dan membiarkan Tante Arum melepaskan kerinduannya.


Tante Arum hanya tersenyum melihat Indra masih terdiam di belakang kakaknya. Rizka, adik dari almarhum Dicky menghampiri Nara dan Yoga lalu mencium tangan mereka, tapi tidak kepada Indra.


"Ayo, kita duduk dulu. Nanti Tante jelaskan semuanya."


Wanita seusia neneknya Raga itu mempersilakan semuanya duduk mengitari meja berbentuk lingkaran yang dipersiapkannya untuk makan malam bersama. Hanya Ricky, putra bungsu Tante Arum yang tidak terlihat karena sedang mengikuti karya wisata sekolah.


Nara mulai curiga saat melihat Indra duduk bersebelahan dengan Rizka dan terus-menerus saling mencuri pandang dan menahan senyuman mereka.


Indra yang mengetahui jika sedang diperhatikan oleh kakaknya hanya membalasnya dengan senyuman, membuat Nara semakin penasaran.


"Sambil menunggu hidangan makan malamnya siap, Tante akan memberitahukan satu hal pada kalian." Pandangan wanita paruh baya itu beralih ke arah Nara dan Yoga.


"Sebelumnya Tante minta maaf karena atas permintaan mereka, selama ini Tante masih menyembunyikannya dari kalian."


Nara dan Yoga saling bertatapan dan sama-sama belum mengerti.


"Adik-adik kalian, Indra dan Rizka, selama beberapa bulan ini mereka sudah menjalin hubungan istimewa."


Sontak Nara menoleh ke arah Indra yang duduk di sebelah kirinya, lalu pada Rizka yang berada di samping lelaki muda itu.


Matanya kian membulat saat melihat Indra menggenggam erat tangan Rizka. Tak percaya akan keberanian adik kesayangannya yang sebelumnya tak pernah terlihat dekat dengan gadis mana pun.


"Aku mencintai Rizka, Mbak." Indra menatap kakaknya dengan sikap tenang, berbeda dengan Nara yang masih terbelalak tak percaya akan sikap yang ditunjukkan oleh adiknya.

__ADS_1


Yoga berbisik di telinga istrinya untuk menengahi situasi tersebut.


"Ingat, Sayang. Mereka saling mencintai. Jangan menyalahkan hubungan mereka."


Nara bukannya menyalahkan atau tidak setuju dengan hubungan mereka. Dia hanya masih terlalu terkejut karena tidak menyangkanya sama sekali.


"Sejak kapan tepatnya?" tanyanya pada sang adik.


"Aku dan Rizka bertemu pertama kali saat acara aqiqah Raga. Kemudian kami berkenalan dan mulai semakin dekat meskipun aku masih bekerja di luar kota. Dan akhirnya kami memutuskan untuk saling terikat, tepatnya sejak Mbak Nara dan Mas Yoga pindah ke luar kota."


Nara menoleh ke arah Yoga untuk meminta pendapat suaminya. Yoga yang memahaminya, hanya bisa mengangguk dan membiarkan Nara sendiri yang mengambil sikap.


"Kalian yakin dengan perasaan kalian ini?" tanya Nara ingin memastikannya. Mereka berdua pun mengangguk bersama-sama.


"Tante Arum sudah mengetahuinya. Apa kalian juga sudah siap jika Bapak dan Ibu mengetahuinya?"


Indra mengangguk pasti. Selama ini dia memang belum memberitahu kedua orangtuanya dan belum memperkenalkan Riskha pada mereka.


"Baiklah. Kalian yang merasakannya dan menjalaninya. Aku tidak akan melarang ataupun mempermasalahkannya."


Nara akhirnya menyerahkan semuanya pada Indra dan Rizka karena mereka yang akan menjalaninya. Dia percaya adiknya bisa menjaga diri dan juga menjaga pasangannya, serta tidak akan melakukan hal-hal yang melewati batas.


Indra dan Rizka berpandangan dan saling melebarkan senyuman.


"Terima kasih, Mbak. Mas Yoga juga, terima kasih."


Yoga membalas ucapan Indra dengan anggukan kepala dan senyuman sekilas. Sikap dinginnya tetap terlihat meskipun tengah berada di antara keluarganya sendiri.


"Mas, aku benar-benar tidak menyangka dengan hubungan mereka. Apalagi usia mereka terpaut cukup jauh, lima tahun."


Malam hari di kamarnya, pembicaraan sepasang suami-istri itu masih seputar hubungan Indra dan Riskha.


"Tidak ada yang tahu tentang rahasia cinta, Sayang. Semuanya hadir dan mengalir begitu saja di dalam hati."


Yoga merapatkan pelukan pada tubuh istrinya. Dia mengusapi punggung Nara dan melabuhkan ciuman di kepala Nara sudah rebah di atas dadanya.


Nara memejamkan mata merasakan sentuhan suaminya yang selalu penuh kasih. Dia teringat pada perjalanan panjang kisah cinta mereka yang penuh liku dan air mata, namun bahagia pada akhirnya.

__ADS_1


"Seperti rasa cintaku padamu, Mas. Semuanya mengalir begitu saja seiring waktu yang kita jalani bersama setiap hari. Hingga pada akhirnya aku tak bisa lagi mengingkari perasaan indah yang telah hadir menyapa hatiku."


Nara mengangkat wajahnya menghadap ke atas, mengunci tatapan mesranya pada Yoga dengan tangan yang terulur menyentuh dan membelai wajah menawan milik suami tercintanya.


"Aku mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu."


Yoga menyatukan pandangan mereka hingga terasa getaran-getaran indah di hati keduanya.


"Aku lebih mencintaimu, Sayang. Hanya kamu satu-satunya dan selamanya."


Tangannya berpindah mengusapi kepala istri kesayangannya lalu melabuhkan satu ciuman hangat di kening Nara yang langsung memejamkan mata begitu saja untuk meresapi indahnya rasa ciuman itu.


Malam itu mereka tidur hanya berdua, tanpa putra mereka di dalam kamar. Raga sudah terlelap di kamar kakek-neneknya saat mereka pulang tadi.


Nara mengangkat tubuhnya dan duduk di samping tubuh Yoga yang tetap terbaring dengan pandangannya yang telah mulai sayu.


"Ada apa, Sayang?"


Nara menggelengkan kepala dan terus memaku pandangannya pada wajah sang suami.


"Hanya sedang mengagumimu, Mas. Mengagumi ciptaan Allah yang telah ditakdirkan untuk menjadi milikku, menjadi pemilik hatiku yang sesungguhnya dan seutuhnya."


Dada keduanya berdebar-debar seiring desiran halus yang mengalir menghanyutkan perasaan mereka.


"Kamu lebih mengagumkan, Sayang. Kelembutan sikapmu dan ketulusan hatimu telah membuatku jatuh cinta semakin dalam dari waktu ke waktu."


Yoga meraih kepala Nara dan menariknya dengan lembut untuk mendekat di hadapan wajahnya. Nafas mereka terdengar mulai memburu dan berhembus cepat.


"Hanya kamulah yang berhasil menaklukkan kerasnya hatiku dan dinginnya sikapku, sehingga diriku bertekuk lutut di bawah pesona cintamu, pasrah dan menyerah tanpa ingin berpaling apalagi berpindah pada hati yang lain."


Nara tersenyum lalu memberanikan diri untuk lebih menunduk dan mendahului, menciptakan kehangatan malam yang indah yang akan mereka lalui dengan penyatuan cinta yang sudah mereka inginkan untuk dinikmati bersama sepanjang malam.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


__ADS_2