
Undangan pernikahan Nara dan Arif telah tersebar luas. Pernikahannya sudah di depan mata. Dua hari lagi pernikahan itu akan berlangsung. Hanya hitungan hari akan berlangsung pernikahan mewah anak sang jenderal bintang empat.
Angga sempat uring - uringan ketika menerima kartu undangan itu langsung dari tangan Arif. Ia belum siap menerima kenyataannya. Hatinya belum ikhlas melepas Nara menjadi milik orang lain.
Terbersit di hati Angga untuk menghubungi Nara. Walau sedikit malu sebenarnya. Ia telah melukai hati gadis itu teramat dalam. Namun beberapa hari ini Angga dilanda kerinduan pada sosok gadis periang itu.
Dalam seminggu ini Angga sudah dua kali bermimpi dengan Nara. Ingin rasanya ia menghubungi Nara. Biar saja gadis itu menolaknya, yang penting ia telah mengobati rasa rindu padanya.
Malam ini pukul 8 malam, di teras rumahnya Angga. Ia duduk seorang diri. Ibu dan adiknya sedang asyik menonton TV diruang tamu. Tak seperti biasanya, Angga menyendiri duduk sambil menikmati kerlip bintang di langit yang dan ditambah sinar bulan purnama menambah syahdu suasana malam ini.
Ada rasa yang teraduk - aduk di sini. Angga mencoba mengeja serpihan - serpihan rasa itu. Sebuah kerinduan yang terpahat dikalbunya. Sebuah kisah yang telah berakhir, kisah cintanya bersama Nara.
Malam ini malam dimana Angga lagi merenungkan dirinya. Memikirkan begitu malang hidupnya. Tanpa seorang kekasih di sampingnya. Ia ingin mengakhiri rasa kesendiriannya ini. Ingin seseorang menjadi pendamping hidupnya, bukan hanya sebagai pelengkap tapi penggenap semua yang tak ada dihidupnya.
Bersama gitar kesayangannya ini, gitar pemberian dari Nara. Sebuah hadiah kecil dari Nara, ulang tahun pertama kali setelah ia pacaran dengan Nara. Kalau dipikir - pikir sudah hampir 8 tahun lebih gitar ini menemani hari - hari sepinya.
Angga lalu memetik tali senar gitarnya. Sebuah lagu dari Koes Plus Junior yang berjudul ' Ke Jakarta ', lagu kenangannya bersama Nara. Sebuah lagu yang dulu amat sering dinyanyikan bersama Nara.
*Di sana rumahku dalam kabut biru
Hatiku sedih di hari Minggu
Di sana kasihku berdiri menunggu
Di batas waktu yang telah tertentu
Ke Jakarta aku 'kan kembali
Walaupun apa yang 'kan terjadi
Ke Jakarta aku 'kan kembali
Walaupun apa yang 'kan terjadi
Pernah kualami hidupku sendiri
Temanku pergi dan menjauhi
Lama 'ku menanti, 'ku harus mencari
Atau 'ku tiada dikenal lagi
Ke Jakarta aku 'kan kembali
Walaupun apa yang 'kan terjadi
Ke Jakarta aku 'kan kembali
Walaupun apa yang 'kan terjadi
Ke Jakarta
Ke Jakarta*
Bernyanyi dengan hati, dengan alunan lagu yang menyayat hati. Setetes embun luruh di sudut mata kanan Angga. Ternyata ... dikala seseorang telah pergi. Kita baru menyadari, betapa bearti nilai seseorang saat ia tak ada lagi.
__ADS_1
Sekarang ia sudah pulang ke kota Bengkulu. Telah kembali dari perjalanannya panjangnya. Menimba ilmu dan menemukan kembali cinta pertamanya. Cinta semasa SMP-nya ....
Setelah berlalunya waktu, Angga baru menyadari. Cinta sesungguhnya ada pada gadis yang dulu ia tinggalkan. Padahal janji yang pernah terucap untuk saling mengikat janji, janji tak akan pernah saling meninggalkan. Janji setia yang usang ....
"Ah, sudahlah. Malam telah larut, lebih baik aku tidur. Besok pagi kan hari sabtu, aku bisa pagi - pagi ke pantai panjang, " batin Angga. Hal yang biasa di lakukan Angga dikala gundah menghampiri. Menyambangi pantai panjang, hal yang ia dan Nara sering lakukan.
Angga kemudian masuk ke dalam rumah. Melirik jam dinding di ruang tamu. Pukul sepuluh malam, sudah tak ada lagi siapa - siapa disini yang menonton tv.
Setelah mengunci pintu ruang tamu. Ia masuk ke dalam kamarnya. Menggantung gitar di dinding kamarnya. Lalu Angga merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mencoba memejamkan mata. Namun pikirannya menerawang kemana - mana. Hampir dua jam lamanya baru Angga bisa tertidur pulas. ZZzzz ....
""''''""'''''''""
Angga tampak sedih sekali menerima kartu undangan itu. Dengan tangan bergetar dan bibir terkatup ingin rasanya ia menangis. Nara terlihat begitu senang sekali memberikan kartu undangan itu pada Angga.
Kartu undangan berwarna pink muda itu sangat cantik dipandang. Angga lalu membuka pelan - pelan kartu undangan itu. Saat hati berdegup kencang, tapi ups ... nama yang tertera di kartu itu. Namanya dan nama Nara bersanding. Tak ada nama Arif di dalam kartu undangan cantik itu.
Sontak saja membuat Angga terperanjat dan ia ... bruk .... Angga terguling jatuh dari tempat tidur. Badan Angga ambruk ke lantai. "Au ... , " suara kesakitan keluar dari mulut Angga karena kepala tepatnya keningnya mencium tembok dinding dekat tempat tidur.
Angga kemudian menyandarkan tubuh nya di dinding sambil tangan kanannya meraba benjolan kecil dikeningnya. "Ah, untung tidak berdarah, " batin Angga. Lalu ia bangkit dari tempat ia bersandar sambil melirik jam dinding yang menunjuk pukul satu pagi.
Angga lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pandangannya menerawang ke langt - langit kamarnya yang temaram, hanya hiasan tempelan bulan bintang di langit kamarnya yang menyala. Kerlip bintang dan bulan inilah yang menjadi penerang dalam kamarnya yang memang setiap malam selalu dimatikan saat ia hendak tidur.
Angga lalu berusaha mengingat mimpi yang baru saja di alaminya. Mencoba merangkai cerita dibalik mimpinya. Merangkum kembali dalam ingatannya. Mimpi bagai nyata.
"Ah, mimpi yang mengada - ngada, manalah mungkin terjadi. Lebih baik aku tidur lagi, " batin Angga.
"""''''''""
Keesokan harinya, sabtu pagi pukul tujuh pagi. Di pantai panjang.
Sesekali saat ombak datang Angga berhenti sejenak, membiarkan tubuhnya di terjang ombak. Rasa asin ketika Angga meyapu tetesan keringatnya bercampur air pantai yang tersisa bekas hempasan ombak di kedua tangannya. Memang beginilah kalau main ke pantai. Selalu saja mengecap asinnya air pantai.
Suasana pantai di pagi ini belum begitu ramai. Padahal hari ini hari sabtu, orang kantoran banyak yang libur di hari ini. Apa mungkin agak siangan nanti pengunjungnya akan datang. Batin Angga berbicara melihat suasana sepi di pantai tidak seperti biasanya.
Baru Angga bergumam ternyata selain Angga ada seseorang yang juga menyusuri bibir pantai. Angga menyusuri bibir pantai dari arah kanan dan seseorang menyusuri dari arah kiri. Mereka berdua akhirnya bertemu, hanya berjarak enam langkah dari tempat mereka berdiri. Keduanya sama - sama terkejut, tak menyangka akan bertemu kembali di pantai panjang.
Seseorang itu adalah Nara. Ia juga merasakan resah. Menikah dengan seseorang yang belum sepenuhnya diterima hatinya. Ia tak bisa menolaknya, sang ibunya lah yang memaksa secara halus pernikahan yang besok akan berlangsung.
Angga dan Nara terdiam tak bergerak, tak bisa menggerakan kaki mereka. Lalu keduanya saling tatap dalam diam. Ada bias rindu dari tatapan mereka berdua. Kerinduan yang di rasakan oleh dua orang yang dulu pernah saling mencintai.
Cinta yang tak seharusnya pergi. Namun cinta itu tetap pergi. Cinta yang akan mencari
dimana ia akan berlabuh.
"Nara ... a-ku pasti datang. Pasti ... , " ucap Angga saat bertemu tak sengaja disini.
Nara hanya mengangguk. Ia sebenarnya tak ingin kata - kata itu terucap dari mulut Angga. Ia ingin Angga mencegahnya, namun Angga justru berkata sedemikian. Membuat hati Nara menjadi remuk.
Padahal Angga tak berniat berkata begitu pada Nara, tapi mengapa justru ucapan itu yang keluar dari mulutnya. Ia sebenarnya menyesal mengucapkannya.
Hampir setengah jam Angga dan Nara berdiam diri saling memandang. Tampak kikuk, seperti orang yang baru saling mengenal. Mereka membiarkan tubuh mereka basah di terpa ombak yang datang siliih berganti.
Angga dan Nara tidak tahu, ternyata ada seseorang yang juga sedari tadi melihat apa yang terjadi di antara mereka berdua. Lalu seseorang itu meninggalkan Angga dan Nara yang masih mematung.
""""'''''''"
__ADS_1
Pernikahan Arif dan Nara berlangsung juga. Minggu pagi di sebuah masjid tempat diadakan akad nikah. Pak Donnie Prambudya duduk bersama bapak penghulu dan Arif yang duduk di depannya.
Tampak Angga duduk bersama kedua keluarga ini. Ayah dan ibu Nara sudah duduk manis untuk melihat prosesi akad nikah anaknya dengan seseorang yang telah di kenalnya sejak kecil, Arif.
Arif menatap lekat Nara, menatap gadis pujaannya yang duduk di sebelahnya. Melihat bulir - bulir air mata yang luruh dari seseorang yang amat di cintainya.
Arif ingin sekali menghapus air mata itu. Namun tidak dilakukannya. Ia membiarkan gadis itu menangis. Seharusnya orang akan berbahagia akan menikah. Namun justru ini kebalikannya.
Arif lalu mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya. Memberikannya pada Nara yang terus saja meneteskan air mata.
"Baiklah, sekarang Pak Donnie ikuti kata - kata saya, " pinta Pak penghulu.
"Sebentar ... Pak penghulu, " pinta Arif sambil berdiri lalu berjalan mendekati Angga.
Angga kaget saat di dekati Arif. Lalu dengan paksa Arif menarik tangan Angga mendekati bapak penghulu.
"Duduk ... , " perintah Arif pada Angga.
Angga hanya diam saja diperlakukan begitu saja oleh Arif.
"Pak ... , maaf. Saya tak bisa melangsungkan pernikahan ini. Gadis yang ingin saya nikahi sedari tadi menangis. Saya tak ingin ada tangis dalam prosesi akad nikah saya.
"Kak Arif ... , apaan ini, " tanya Nara melihat Angga telah duduk di sebelahnya.
Masih tetap berdiri Arif lalu berkata pada Nara dan para tamu yang hadir disini. Mereka semua mendengar apa yang Arif katakan.
"Aku tak ingin menikah dengan orang yang terpaksa menikah denganku. Aku baru menyadarinya saat kemarin pagi. Aku telah menghalangi dua orang yang saling mencintai. Namun hanya diam saja, tidak berani mengutarakannya, " tutur Arif yang mengetahuinya saat mengikuti Nara ke pantai kemarin pagi.
Semua yang menyaksikan ikut terharu atas apa yang dilakukan Arif. Arif begitu berbesar hati demi seseorang yang dicintainya untuk melepaskannya ke pelukan laki - laki lain yang tak lain adalah temannya sendiri.
"Ayo Pak Penghulu, saya ikhlas. Biarkan Nara dan Angga menikah, "pinta Arif
"Rif ... , mana mungkin Nara mau menikah denganku. Aku ingin terucap sendiri dari mulut Nara, " pinta Angga pada Arif.
Tadinya Pak Donnie ingin marah atas kekacauan pernikahan ini. Ia tak habis pikir, Angga yang ia ketahui pacar Dina ternyata dahulunya pacarnya Nara.
Niatnya diurungkan saat Angga meminta jawaban dari mulut Nara secara langsung. Suasana kemudian menegang, karena Nara masih saja diam. Ada kurang lebih dua menit untuk Nara untuk menjawab pertanyaan Angga.
"Semua yang hadir disini. Maafkan aku , aku sayang sama kak Arif. Namun aku menyayanginya selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Aku minta maaf pada kak Arif, ibu, ayah , papa dan mama. Maafkan aku ... aku masih mencintai kak Angga. A-ku mau menikah dengannya, " jawab Nara sambil menatap Angga yang ada disebelahnya.
Semua bengong saat Nara mengucapkan isi hatinya. Arif sempat meneteskan air mata saat Nara mengucapkan kata - kata itu. Lalu dengan kebesaran hatinya, ia dengan sigap menyatukan tangan Angga dan Nara.
"Kalian berhak bahagia, tak usah pikirin aku. Aku tidak apa - apa. Aku masih terlihat tampan bukan !! Banyak gadis yang akan terpikat melihat pesonaku, " ujar Arif menghibur dirinya.
"Terimakasih Rif ... terimakasih untuk semuanya, " ucap Angga yang terharu mendengar Arif mengatakan itu semua.
Lalu prosesi akad nikah pun berlangsung hikmat. Pernikahan Angga dan Nara yang langsung dinikahkan dengan wali ayah kandung Nara sendiri.
"Berjanjilah padaku ... jangan pernah tinggalkan aku lagi ya kak, " pinta Nara setelah selesai pembacaan ijab qobul.
"Iya Nara, maafkan aku. Aku tak kan pernah meninggalkanmu lagi.Terimakasih sudah menerimaku kembali , " ucap Angga.
Senyum kembali terukir diwajah Nara. Ia amat bahagia, menemukan kembali cinta yang dulu hilang. Begitu pula dengan Angga , ia sangat mencintai Nara. Dan ia pun berjanji pada dirinya sendiri. Akan selalu menjaga cinta ini, cinta tak pernah salah. Ia akan selalu menemukan jalannya untuk kembali ....
Tamat ....
__ADS_1