CINTA NARA

CINTA NARA
Kebohongan Nara


__ADS_3

Nara baru saja tahu kondisi kesehatan Dina yang mengkhawatirkan. Sakit leukimia stadium 4. Selain pengobatan dengan kemoterapi, penyakit ini butuh orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk bisa bertahan hidup. Dan mencari pendonor tidaklah mudah. Biasanya orang yang cocok adalah orang tua dan saudara kandung. Orang tua saja kemungkinannya hanya 0, 5 persen dan saudara kandung sebesar 25 persen.


Mendengar kata Leukimia saja Nara sudah cukup takut. Bayang - bayang kematian sudah ada dipelupuk mata. Nara tidak tahu apakah ia senang mendengar berita ini apa tidak. Kalau saja Dina tidak bisa bertahan hidup dengan penyakitnya. Angga akan kembali disisinya lagi. Bukankah hal ini yang diinginkannya. Melihat Angga terpuruk dan menderita. Dan memohon untuk bisa disisinya lagi. Berharap ... batin Nara.


Arif mau mengajak Nara untuk menjenguk Dina. Namun Nara terlalu sibuk dengan segala urusannya. Dan dengan berbagai macam alasan juga. Setidaknya Arif sudah memberitahu kondisi kesehatan Dina pada Nara.


"Aku mau aja menjenguk Dina. Namun penyakit ini berbahaya bagi yang menjenguk dan pasien sendiri pasca tindakan kemoterapi, kak Arif, " Nara memberi alasannya.


"Iya, benar sayang. Kami yang besuk saja harus menggunakan masker pasca satu hari Dina kemoterapi, " Arif memperkuat alasan Nara.


"Nantilah kalau ada waktu aku pasti akan menjenguk Dina. Semoga Dina segera mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang yang cocok, " ucap Nara kemudian.


Tinggal satu bulan lagi Arif akan wisuda. Berarti Angga dan Arif hanya satu bulan ini berada di Jakarta. Seterusnya mereka harus pulang ke Bengkulu. Masa tugas belajarnya telah berakhir.


Baik Arif dan Angga berat sekali meninggalkan Jakarta. Apalagi Angga, dia harus meninggalkan Dina yang sakit parah. Tak tega rasanya melihat Dina tergolek lemah.


Satu bulan sebelum wisuda. Tak banyak kegiatan kampus yang dilakukan Angga dan Arif. Jadi mereka berdua terlihat sibuk dengan urusan masing - masing.


Angga banyak menghabiskan waktu bersama Dina. Hampir setiap hari ia menjaganya. Tak sedikit pun rasa lelah yang ia lakukan buat teman masa remajanya ini, kekasih hatinya.


""'''''''''''''''''''


Hari minggu pagi di RS Dharmais. Suasana senyap di rumah sakit pusat kangker nasional di Indonesia. Tak ada riuh rendah suara pasien yang berobat di poliklinik. Hanya keluarga pasien yang hilir mudik masuk ke dalam ruang perawatan. Tampak para perawat sibuk dengan tindakannya dan melakukan pendokumentasian di ruang perawatan.


Tampak dengan setia Angga menemani Dina. Angga jadi tahu apa yang dirasakan Dina. Pengobatan dengan kemoterapi membuat rambut Dina rontok. Terkadang Dina merasakan mual dan muntah. Kemudian ia terlihat amat lelah. Saking lelahnya terkadang Dina tidur teramat pulas. Ia bisa tertidur selama lebih dari 16 jam. Dari jam 5 sore sampai keesokan paginya.


Entah apa yang membuat Nara akhirnya datang juga menjenguk Dina. Nara juga manusia yang punya hati. Dia datang seorang diri tanpa ditemani Arif. Ini memang sengaja ia lakukan. Ia tak leluasa menjenguk Dina bila ada Arif di sisinya. Terlebih lagi pastinya Angga dengan setia menemani Dina.


Jam besuk telah tiba. Nara menghampiri ruang perawat dan kemudian bertanya kepada perawat jaga pagi itu.


"Pagi mbak, mau tanya pasien bernama Dina dirawat di kamar mana ya? " sapa ramah Nara.


Sebelum menjawab pertanyaan Nara. Perawat muda itu malah berbalik bertanya pada Nara. "Mbak ... , Ara Dilla ya, " selidik mbak perawat.


"Iya, saya Ara Dilla."


Lalu perawat muda itu dan teman - temannya menjabat tangan Nara. Mereka meminta foto pada penulis muda ini. Dengan senang hati Nara mengabadikan moment kebersamaannya dengan para perawat yang berjumlah 5 orang.


Setelah foto bersama. Nara mengulang pertanyaan kepada para perawat yang jaga pagi ini. Salah seorang perawat mengantar Nara tepat di pintu depan kamar Dina dirawat. Sebelum masuk Nara menggunakan masker yang sudah dipersiapkan Nara sebelumnya.


Tok ... tok ... tok ... , suara pintu diketok oleh Nara. Pintu kamar memang tidak terkunci, Nara langsung masuk ke dalamnya. Di dalam kamar hanya ada Angga dan Dina saja. Dina tampak tertidur pulas.

__ADS_1


Angga yang sedari tadi duduk langsung beranjak bangun dari sofa saat Nara masuk. Nara menghampiri Dina yang tertidur pulas diikuti oleh Angga. Mereka berdua berdiri disamping Dina yang masih terlelap.


"Angga, bagaimana keadaan Dina sekarang, " tanya Nara membuka percakapan.


"Dina sudah 5 kali menjalankan kemoterapi. Sepertinya ia butuh transplantasi sumsum tulang belakang untuk memperpanjang hidupnya. Tinggal menunggu kecocokan sumsum tulang belakang papa Dina terlebih dahulu. Kalau pun cocok dilakukan operasinya tidak di sini, " jawab Angga seraya memandang wajah Dina.


"Maksudnya operasi transplantasi di luar negeri ? " tanya Nara kembali.


"Iya, kemungkinan besar dilakukan di Hospital National University Singapura , " jawab Angga.


Ada rasa iba dihati Nara melihat Dina tergolek lemah dengan tubuh yang kian kurus. Dina memakai topi kupluk berwarna coklat tua untuk menutupi rambutnya yang rontok akibat efek samping kemoterapi. Mukanya tampak tirus namun masih terlihat kecantikannya.


"Dina uda lama tidurnya ya, " Nara bertanya kembali.


"Dari jam 10 malam sampai jam besuk siang ini Dina belum terbangun juga. Mungkin sebentar lagi ia akan bangun, " jawab Angga pelan.


Lama juga Nara berada di kamar Dina. Gadis itu belum terlihat akan bangun dari tidurnya.


"Oh ya ... , hampir lupa. Nara sebelum menjenguk Dina, ia terlebih dahulu mampir ke tempat abang penjual ayam bakar. Sengaja membeli ayam bakar karena Nara tahu makanan apa yang disukai mantan kekasihnya ini.


Nara membeli 4 porsi. Tiga porsi buat Angga dan kedua orang tua Dina. Satu porsi lagi buat dirinya sendiri. Nara kemudian mengajak Angga makan bersama sambil menunggu Dina terbangun.


Angga begitu lahap makan ayam bakar kesukaannya. Nara pun demikian, sedari pagi ia memang belum makan. Mereka berdua makan di meja makan ruang VVIP yang ada di kamar Dina.


Ruang VVIP perawatan Dina ini cukup lengkap. Ruangan ber-Ac, dilengkapi dengan 2 tempat tidur, satu sofa bed, satu kursi penjaga pasien, satu buah lemari es kecil, satu lemari pakaian, meja dan kursi makan, kitchen set, satu TV, satu telepon, satu kamar mandi lengkap dengan heater water.


Tinggal di kamar perawatan Dina sudah seperti tinggal di hotel mewah. Semua fasilitas lengkap ada disini. Bagi papa Dina, penunggu pasien juga layak mendapat tempat istirahat yang cukup dan nyaman.


Dengan adanya Angga di sini. Hal ini meringankan papa dan mama Dina juga. Papa Dina bisa bekerja kembali seperti sedia kala. Sebenarnya papa Dina berat meninggalkan Dina. Meninggalkan putri kesayangannya.


Siang sudah beranjak sore. Pukul 15. 30 Wib.


Dina menggeliat. Akhirnya putri tidur terbangun juga. Tapi bukan sang pengeran di sisinya. Melainkan mantan kekasihnya.


Nara duduk pada kursi penunggu pasien di samping Dina. Dina merasa tidak suka dengan kehadiran Nara menjenguknya. Apa lagi dia melihat Nara sendiri saja, tidak ada Arif yang menemaninya.


"Mengapa kamu bisa berada di sini, " lirih suara Dina.


"Aku ingin melihat keadaanmu, " jawab Nara.


"Kamu senang ya ! melihat aku sudah tak berdaya di sini, " ucap Dina ketus.

__ADS_1


Nara tersenyum memandang wajah Dina. Wajah yang kian tirus persis seperti gambaran wajah Nara 2 tahun yang lalu. Saat ia terpuruk karena Angga meninggalkannya.


"Makanya kamu harus terus hidup. Harus kuat. Supaya Angga tidak aku rebut kembali , " tantang Nara kemudian.


"Jadi ... kamu puas melihat kondisiku yang lemah !! " lirih suara Dina.


"Sangat puas. Makanya kamu harus sembuh Dina. Aku mau merebut Angga saat kau sembuh. Aku tak mau melihatmu begini. Lemah. Kau bukan levelku, " ucap Nara sinis


"Keluar ..., " hardik Dina.


Angga yang sedari tadi tertidur di sofa bed. Terbangun saat Dina berbicara keras. Lalu terlihat Nara masih duduk di tempatnya berada. Angga kemudian berdiri menghampiri


Dina dan Nara.


"Ada apa Dina ? " tanya Angga panik.


"Coba kau tanyakan sendiri pada dia, " ucap Dina.


"Ada apa Nara? " tanya Angga.


"Aku cuma bilang. Aku dan kamu mau balikan , " jawab Nara tersenyum sinis sambil memandang Dina.


"Apa ? itu tidak benar Dina. Nara mengada - ngada. Aku tak mungkin meninggalkanmu


Apa lagi saat - saat seperti ini, " jawab Angga sambil memegang jemari tangan Dina.


Kemudian Angga berkata lagi. "Percayalah padaku Dina. "


"Terserah padamu Dina. Seharusnya kau mempercayaiku. Kau tahu Angga begitu mudah meninggalkan aku. Seperti itu pula kau akan mengalaminya, " tantang Nara pada Dina.


"Nara !!! kamu jahat, " hardik Angga sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah Nara.


Nara diam saja. Ia hanya menyunggingkan senyum dibibirnya saja pada Angga. Lalu ia beranjak dari kursinya. Melangkah keluar dari ruang perawatan Dina. Keluar dari RS Dharmais.


Sore yang indah. Langit tampak putih berseri. tak terlihat awan menyelimutinya. Semua terlihat bersih seputih kertas. Membuat hawa sore masih terasa panas. Begitu pula yang dirasakan oleh Angga dan Dina. Tersengat hawa panas oleh kebohongan Nara.


Angga tak pernah menyangka. Nara bisa melakukan hal ini padanya. Berbohong. Dan ...


tega melakukan ini semua pada Dina yang tergolek lemah.


"Sayang, percayalah padaku. Aku telah memilihmu. Jangan pernah ragu padaku, " ucap Angga sambil menggenggam jemari tangan Dina.

__ADS_1


Dina hanya diam. Dengan air mata yang luruh dengan sendirinya. Kata - kata Nara terasa menghujam jantungnya. Perih. Membuat seluru persendiannya pun terasa nyeri. Dina hanya memandang wajah Angga. Melihat kejujuran di kedua bola mata Angga ....


__ADS_2