
"Aku ... aku menjaga hatiku hanya untuk satu lelaki yang aku sayangi."
Di luar kehendaknya, pernyataan itu terucap begitu saja melengkapi apa yang telah Alya katakan sebelumnya.
Tepat bersamaan dengan lampu hijau yang menyala terang di depan sana, Ardi mendengar sesuatu yang selama ini dia nantikan terucap dari bibir manis wanita yang dikasihinya tersebut.
Suara klakson dari mobil di belakang mereka menyadarkannya untuk kembali fokus melajukan mobil dengan hati yang mendadak dipenuhi kebahagiaan yang membuncah indah.
Tak ingin kehilangan momen istimewa itu dengan cepat, Ardi segera menepikan mobil setelah menemukan bahu jalan yang tidak terlalu penuh dan bising untuk berhenti sejenak.
"Alya ... kamu? Kamu ... ah, bisakah kamu katakan itu sekali lagi?" pinta Ardi setelah mematikan mesin mobil dan menurunkan kaca di kedua sisi. Pandangannya pun telah beralih hanya tertuju pada wajah yang masih menyisakan semburat merah sisa tangisan sebelumnya.
Alya terus menundukkan pandangan dan menyembunyikannya dengan menatap wajah polos Aura yang telah tertidur lelap. Ada sedikit sesal menghampiri, mengapa dia mengatakan dan mengungkapkan perasaannya segamblang itu.
"Alya ...?" Ardi masih menunggu dengan debaran yang bertalu semakin keras di hatinya. Masih setengah tak percaya akan pendengarannya tadi, oleh sebab itu dia meminta Alya untuk mengulangi sekali lagi.
Alya mengangkat wajahnya namun tetap mengarahkan pandangannya ke arah luar, menghindari tatapan teduh Ardi yang penuh harap.
"Aku tidak pernah bisa berpaling dari cinta yang sejak awal aku miliki dulu. Tapi ...." Alya ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Sungguh dia takut mengakui, setelah selama ini selalu menutupinya dari semua orang. Dia takut lukanya akan terbuka lagi, membuat sakitnya kembali terasa dan semakin melemahkan dirinya.
"Tapi apa, Al? Katakan saja dan jangan pernah menutupi apa pun lagi dariku. Kamu percaya padaku, bukan?"
Alya mengangguk untuk menjawab Ardi. Dia percaya pada lelaki itu, setelah semua yang dikatakannya semalam. Hanya saja, hatinya memang masih lemah, tak sekuat dulu, tak setegar waktu yang lalu.
"Tapi aku butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku. Luka yang telanjur membuatku takut untuk memulai lagi, meski aku percaya bahwa aku tidak akan kecewa kali ini."
Untuk hal yang satu ini, tentu saja Ardi sudah mengetahui, tanpa harus Alya mengatakannya. Dia bisa mengerti keadaannya. Dia bisa memahami kondisi wanita itu saat ini.
Buruknya kejadian yang dialami sekian tahun lamanya, seolah telah menjadi teman setia yang sulit terlupakan dari kehidupannya. Alya nyaris sempurna memerankan drama perasaannya, sehingga sanggup menutupi semua dengan senyuman dan keceriaan palsu yang terus ditampakkannya selama ini.
"Aku tahu, Al. Oleh karena itu aku selalu mengatakan kepadamu, bahwa kita tidak perlu terburu-buru melangkah dan mempersiapkan masa depan. Kita jalani saja semuanya pelan-pelan, perlahan namun pasti dan tetap saling menggenggam hati."
__ADS_1
Alya terharu mendengar kalimat per kalimat yang diucapkan oleh lelaki penuh perhatian di sampingnya. Seluruh pernyataan Ardi menunjukkan betapa dia begitu memahami dirinya dan sangat menghargai serta menghormati apa pun keputusannya.
Sebaliknya, Ardi pun tahu harus bagaimana menghadapi wanita penuh luka hati yang pernah melalui masa suram yang tak sebentar tersebut. Bahkan sampai saat ini, Alya masih butuh waktu untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang pernah membuatnya jatuh dan terhempas pada titik terlemah dalam hidupnya.
"Sembuhkan dulu lukamu dan kembalilah menjadi Alya-ku yang dulu, baru kita akan memikirkan hal yang lainnya kemudian."
Ardi tersenyum dengan pandangan utuh pada wanita yang juga tengah menatapnya dengan sendu, entah disadari atau tidak.
Senandung lagu cinta mulai mengalun lembut di dalam sanubari, menciptakan getaran indah yang menghangatkan dua jiwa yang telah saling menerima, meski tak terungkap dalam kata-kata.
.
.
.
Nara baru saja membaringkan Gana di dalam boks bayinya. Setelah merapikan selimut dan mengurai kain kelambu di atasnya, dia berbalik untuk pergi ke dapur guna menyiapkan makan siang keluarganya.
Baru saja menghadap ke arah pintu untuk keluar, langkah Nara terhenti sebab tubuhnya bertubrukan dengan tubuh tegap dan kekar yang lebih tinggi darìnya.
"Aku merindukanmu, Sayang. Jangan ke mana-mana dulu."
Nara tersenyum dan membalas pelukan yang dilakukan oleh lelaki pemilik utuh tubuh dan hatinya.
"Mas ... kok tiba-tiba sudah ada di sini? Kamu mengagetkan aku," jujur Nara seraya menyamankan posisinya. Kepalanya bersandar manja pada dada bidang yang selalu dirindukannya setiap waktu.
Satu ciuman dirasakan di ujung kepalanya membuat wanita lembut itu memejamkan mata dan menikmati pelukan dan ciuman yang masih diberikan Yoga berulang kali dengan penuh sayang.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sangat merindukanmu dan ingin segera mendekap tubuhmu yang selalu membuatku tak bisa tenang selama di kantor."
"Hah ...?!" Nara membuka mata beningnya dan menatap wajah sang suami dengan sedikit menengadahkan kepala.
"Jangan berpikiran macam-macam tentangku, Sayang. Aku tahu aku masih harus menahan diri karena kamu belum suci." Yoga mencolek ujung hidung Nara lalu membelai pipinya dengan lembut. Tatapannya tajam namun tetap menenangkan.
__ADS_1
Nara tersipu malu dengan rona kemerahan yang sudah menghiasi wajah menawannya. Sebelum sang istri kembali menunduk, Yoga mencium kening Nara dengan lembut dan lama, hampir tak ingin melepaskannya.
Dilantunkannya banyak doa untuk kebaikan keluarganya. Keluarga yang sangat dia utamakan melebihi apa pun hal lain yang dimilikinya.
Nara kembali memejamkan mata dan meresapi ciuman suaminya dalam keharuan. Selalu demikian yang dirasakannya, setiap kali bibir tipis Yoga berlabuh dengan lembut dan lama di keningnya.
Dia bisa merasakan ketulusan kasih sayang Yoga, kehangatan cintanya dan kejujuran hatinya. Lelaki itu selalu bersikap terbuka dan apa-adanya, sesuai permintaannya saat mulai memantapkan hati untuk menerima kehadiran Yoga sepenuhnya dan membalas cinta lelaki itu dengan cinta yang sama. Cinta sejati yang terbaik dan tak pernah berujung.
Setelah melepaskan ciuman sayangnya, Yoga menurunkan pandangannya pada bibir manis sang istri yang masih menampakkan senyuman lembut yang menyentuh hatinya dengan penuh rasa cinta.
"I love you ...." Pandangannya semakin kabur saat menanti jawaban dari Nara yang juga sudah menatap bibirnya dengan pandangan berkabut.
"I love you too ...." Tanpa menunggu jeda, Yoga dengan cepat segera menyatukan bibir mereka dengan penuh kehangatan.
Nara mengeratkan pelukannya saat Yoga mendekap tubuhnya semakin rapat dan memperdalam penyatuan bibir mereka masih dengan kelembutan namun semakin lama terasa semakin dalam dan basah.
Suasana semakin penuh kemesraan saat Yoga mengangkat tubuh sang istri tanpa melepaskan ciuman mereka. Kedua tangannya sudah kokoh menahan beban tubuh Nara dan hendak membawanya berbaring di atas tempat tidur.
Namun langkahnya terhenti seketika bersamaan dengan tangannya yang melepaskan dekapan dari tubuh Nara. Demikian pula dengan bibir keduanya yang saling menjauh secepat kilat, saat terdengar suara lantang dari arah pintu kamar.
"Ayah ...!! No ...!!!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
💜Author💜
.