CINTA NARA

CINTA NARA
Donor sumsum tulang belakang


__ADS_3

Seminggu sudah papa Dina menemui sang mantan istrinya. Setelah seminggu lewat ibu kandung Dina pun mengabarinya. Dua hari lagi ia akan terbang ke Singapura.


Papa Dina lega , saat ibu kandung Dina itu akan datang. Dina pun antusias mendengar ibu kandungnya mau menemuinya. Ibu yang tak pernah ia tahu sebelumnya. Kegugupan melanda dirinya. Senang sedih bercampur menjadi satu.


Mama Dina terdiam. Ia tak bisa membantu anak tiri yang amat disayanginya ini. Satu - satunya harapan adalah ibu kandung Dina.


Ia bisa melihat bagaimana antusias Dina dan papanya untuk menemui wanita itu.


Gundah gulana menghampiri dirinya. Sebenarnya ia tak ingin bertemu kembali dengan ibu kandung Dina, Ayana.


Banyak permasalahan diantara mereka berdua. Persahabatan yang berakhir dengan tidak harmonis. Menimbulkan luka diantara mereka.


Mama Dina menepis semua pikiran buruknya. Fokus terpenting adalah kesembuhanan Dina, anak yang amat disayanginya. Dibelainya rambut Dina, rambut yang sedari kecil yang selalu di sisirnya. Rambut panjang hitam dan lebat sudat tidak ada. Kini rambutnya di potong pendek dan menipis.


"Mama ... , gak usah risau. Biarkan masa lalu menjadi bagian dari masa lalu. Lupakan semua dendam, demi Dina , " ucap papa Dina seolah tahu apa yang dirasakan istrinya.


Tetap saja ada hal yang mengganjal hatinya. Walau suaminya mencoba menenangkan hatinya. Papa Dina tidak tahu ada hal yang istrinya sembunyikan dari dirinya. Rahasia yang ia tutup rapat. Ketakutan mulai di rasakannya. Ayana , sahabatnya dan mantan istri suaminya.


Tak mengapalah. Aku akan menunggu kedatangan Ayana. Demi Dina, anak yang amat kusayangi.


Semoga tidak akan terjadi hal - hal yang tak di inginkan. Semoga Ayana bisa menjadi donor buat anak kandungnya.


Dina sendiri berpikiran positif. Ia akan sembuh dari leukimia. Meminta keajaiban Tuhan. Semoga ibu kandungnya bisa mendonorkan sumsum tulang padanya.


Sakit di negeri orang tidaklah mengenakan. Kadang kala Dina ingin makan - makanan Indonesia. Mama Dina berusaha mencari makanan yang diminta Dina. Mencari kuliner masakan Indonesia. Mama hebat, itulah hal yang membuat Dina menyayangi wanita paruh baya itu. Menuruti keinginan Dina, walau ditentang oleh papanya.


Bersama orang - orang yang menyayanginya. Itulah hal yang dirasakan Dina. Penyemangat hidupnya untuk bertahan hidup. Demi orang - orang yang disayanginya.


Di belahan bumi yang lain. Angga selalu menyempatkan diri menelpon Dina. Memang tidak setiap hari. Kadang hanya pesan Wa yang ia terima. Hal kecil yang membuatnya selalu merindukan Angga.


"Alhamdulillah ibu sudah siuman dari koma. Tapi ia masih perlu perawatan intensif dari pihak rumah sakit. Maafkan aku, belum bisa menjengukmu. Tetaplah kuat sayang , Dinaku, " pesan Wa yang menjadi penyemangat Dina menjalani hari - harinya.


""""'''"""


Siang itu cuaca amat terik. Matahari bersinar terang. Menginjak di bandara Changi Singapura untuk pertama kalinya. Mata Ayana berdecak kagum melihat gedung - gedung bertingkat tinggi nan megah.


Kota yang tertata rapi. Kesan pertama yang dirasakan Ayana. Semua orang hilir mudik lalu lalang. Ayana menunggu seseorang yang menjemputnya.


Hampir setengah jam ia menunggu. Ternyata yang menjemputnya adalah Pak Donnie Prambudya, mantan suami pertamanya.


" Hai, maaf telat menjemputnya, " sapaan pertama Pak Donnie.


"Iya, gak apa - apa, " jawabnya sedikit canggung.

__ADS_1


"Ayo, kita berangkat sekarang, " ucap Pak Donnie sambil mendorong travel bagnya bu Ayana.


Ayana mengikuti saja langkah kaki Pak Donnie. Tak ada suara , mereka berdua berjalan beriringan. Tak mudah untuk memulai percakapan. Perpisahan yang menyakitkan membuat mereka berdua berjalan seperti orang bermusuhan.


Padahal diantara mereka berdua pernah terjalin cinta.


Kemudian Pak Donnie dan bu Ayana berhenti melangkah. Mereka berdua naik mobil taxi yang sudah di pesan oleh Pak Donnie Prambudya sendiri.


Pak Donnie duduk di sebelah sang supir. Sedangkan bu Ayana duduk persis di belakangnya. Selama perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka. Hanya supir taxi yang sesekali mengajak pak Donnie berbicara.


Sesekali pak Donnie melirik ke arah kaca spion samping kirinya. Diliriknya wajah yang dulu pernah menaburkan rindu di hatinya. Seseorang yang pernah mengisi relung hatinya dan terhempas begitu saja. Wajah cantiknya tak pernah memudar di makan usia. Masih cantik saja.


"Andai saja dulu Ayana tak pernah memulai perselingkuhannya. Mungkin aku akan hidup bahagia bersama anak dan dia. Mungkin saja anaknya tidak hanya satu, " gumamnya di sela - sela lamunannya.


Tak makan waktu lama, kurang lebih setengah jam mereka tiba di Hospital Nasional University. Rumah sakit terkesan megah. Hal itulah yang di rasakan Ayana saat melihat rumah sakit ini. Dia berharap di rumah sakit ini pula anaknya akan sembuh seperti sedia kala.


Turun dari mobil taxi dan melangkah beriringan. Tetap saja pak Donnie dan Bu Ayana tak bergeming dalam kebisuannya. Tak ada yang mau memulai pembicaraannya terlebih dahulu.


Walau dalam hening. Pak Donnie tetap mendorong travel bag mantan istrinya itu. Mereka berdua memasuki kamar dimana Dina di rawat.


Tok ... tok ... tok ...


Bunyi pintu di ketok. Tak ada sahutan dari dalam.


Sebelum mendekati Dina. Pak Donnie dan bu Ayana mencuci tangan terlebih dahulu dengan hand rub yang tersedia di depan tempat tidur Dina.


Ayana mendekati putrinya yang sedang tertidur lelap. Putri yang tak pernah ia temui selama 25 tahun. Putri pertamanya yang sangat ia rindukan.


Ditatapnya anak gadisnya itu. Wajahnya sangat mirip dengannya. Wajah Dina mewarisi wajah Ayana. Walau sedikit tirus, persis seperti Ayana muda. Tubuhnya terlihat kurus, kulitnya yang putih pun menurun darinya.


Di genggamnya tangan itu. Tangan mungil yang dulu kini menjelma menjadi gadis dewasa. Tak terasa air mata Ayana tumpah, membasahi wajah putihnya.


Kemudian Dina terbangun. Matanya langsung tertuju pada mata yang menggengam tangannya. Ia lalu berucap, " Ibu."


"Iya, Dina. Ini ibu, " ucap Ayana sambil terus menggenggam tangan Dina.


"Ibu, kenapa tak pernah mencariku, " tanya Dina sambil memeluk ibunya.


"Walau ibu tak mencarimu. Ibu selalu berdoa agar kita bisa bertemumu nak. Dan doa ibu terjawab. Ibu bisa menemuimu nak. Tanya papamu , kenapa baru sekarang memperbolehkan ibu melihatmu. Tapi ibu bahagia banget gadis kecil ibu sudah menjadi wanita dewasa yang cantik, " ungkap Ayana sambil meneteskan air mata bahagia.


Papa Dina hanya diam saja tak bergeming. Tak ingin menyanggah atau menanggapi apa yang di ucapkan mantan istrinya itu. Dia tak ingin merusak suasana haru anaknya bertemu ibu kandungnya.


Rasa bersalah pun melanda Pak Donnie Prambudya. Sumpah tak kan pernah membutuhkan Ayana lagi. Tapi kini justru ia sendiri yang mencari Ayana kembali. Demi anak satu - satunya. Pak Donnie membuang rasa malunya untuk menemuinya.

__ADS_1


Tak kuasa melihat pertemuan ibu dan anak. Papa Dina meninggalkan keduanya. Membiarkan mereka berdua berbagi rasa rindu. Rindu sang ibu yang 25 tahun tidak bersua dengan anak kandungnya.


Tangis Dina pecah, tangis kebahagian berjumpa dengan ibu kandungnya. Penyakit Leukimianya lah yang justru mempertemukannya dengan orang yang telah melahirkannya.


"Ibu, jangan tinggalkan aku lagi. Tetaplah bersamaku, " ucap Dina memohon.


"Iya, ibu tak kan pernah meninggalkanmu nak, " jawab Ayana lembut.


"Ibu selama ini ada di mana bu? "tanya Dina kembali.


"Ibu tinggal di Bengkulu nak. Kalau kamu sudah sembuh tinggal bersama ibu saja di Bengkulu ya, " ucap Ayana sambil mengelus rambut Dina.


Dina tersenyum. Dipandanginya wajah Ibunya. Wanita cantik berhijab di depan matanya. Bisa - bisanya papa melepaskan wanita secantik ibunya.


'""""""""""


Sebenarnya papa Dina tahu. Syarat mutlak pendonor sumsum tulang belakang. Usia 18 - 44 tahun tanpa penyakit kelainan darah. Papa Dina memanggil Ayana adalah salah satu bentuk tanggung jawabnya pada Dina. Tak ingin menyesal dan di salahkan Dina suatu hari nanti. Kenyataan bahwa mama yang ia anggap ibu kandung bukanlah ibu yang melahirkannya.


Ayana menyesal tak bisa memberikan sumsum tulang pada anaknya sendiri. Ia memaksa pihak rumah sakit untuk mencoba melakukannya. Tapi pihak rumah sakit tetap tak mengijinkan Ayana mendonorkan sumsum tulang belakangnya.


Kesedihan teramat dalam bagi Ayana. Melihat anaknya melakukan kemoterapi dan sesekali perlu tranfusi darah. Dan ... ia tak bisa berbuat banyak.


Hanya ada satu orang yang bisa mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Dina. Ya , adiknya sendiri.


Tapi Ayana bingung untuk mengutarakan pada anak keduanya itu.


Dalam kegamangan itu. Ia akan berusaha menemui anak keduanya. Memberi tahu yang sebenarnya. Sebuah rahasia yang anak keduanya belum tahu.


Sudah hampir satu minggu Ayana berada di Singapura. Mama Dina, istri Pak Donnie Prambudya tak pernah muncul di hadapan Ayana. Alasannya ia meninggalkan Dina karena sudah ada ibu kandungnya. Dan ... ada pekerjaan yang harus di selesaikan di Jakarta.


Pak Donnie Prambudya memaklumi apa yang istrinya lakukan. Mungkin ia belum siap bertemu dengan Ayana. Sebelumnya istri Pak Donnie adalah sahabat dari Ayana sendiri.


Tak ingin berdebat panjang dan merusak suasana pertemuan Dina dengan ibu kandungnya sendiri. Pak Donnie tak bisa mencegah istrinya pulang ke Jakarta.


Sekarang ia hanya fokus untuk kesembuhan anaknya. Mencari pendonor buat Dina. Dari pihak rumah sakit pun belum ada tanda - tanda yang mengisayaratkan ada sang pendonor yang cocok buat Dina. Sementara itu pihak rumah sakit meminta Pak Donnie mencari sendiri pendonor dari pihak keluarga.


Tak banyak obrolan antara papa Dina dan ibu Ayana. Obrolan hanya seperlunya saja. Ayana pun tak pernah mengusik kemana istri papa Dina berada.


"Ibu, aku menyayangimu. Andai aku tahu lebih awal, aku akan sering menemuimu ibu, " ungkap Dina.


"Iya anakku. Tak mengapa. Sekarang saja ibu bahagia bisa melihatmu, " jawab Ibu Ayana sambil teraenyum memandang Dina.


Ayana berharap akan banyak kesempatan untuknya hidup lebih lama bersama anaknya. Doa - doa yang di panjatkannya setelah 25 tahun telah di dengar oleh Allah.

__ADS_1


Berharap suatu keajaiban. Keajaiban akan kesembuhan Dina. Berharap bisa hidup lebih lama bersama anaknya. Semoga di beri kesempatan kedua menjaga anaknya yang terenggut terhempas dari dekapannya.


__ADS_2