
Dina merasa sebagai anak semata wayang dan kehidupan ekonomi yang berlimpah. Dia beranggapan tak perlu memiliki teman dekat. Tapi berbeda saat ia mulai berteman dengan Nara. Nara bisa jadi teman curhat banyak hal. Termasuk curhat tentang hubungannya dengan Angga.
Merajut kasih bersama Angga sejak kelas 3 SMP. Hal itu membuat Nara terkesima. Mendengar cerita ini langsung dari kekasih Angga, Dina. Nara harus berpura - pura tidak terjadi apa- apa dengan hatinya.
Ya, hatinya Nara harus membatu. Harus. Seperti tak ada yang ia perlu ia tangiskan. Padahal ingin rasanya pergi jauh dari situasi yang tak mengenakan ini.
Malam minggu tiba. Malam yang ditunggu sepasang kekasih. Begitu juga dengan Dina dan Angga. Tapi kali ini berbeda. Dina mengajak Nara dan Arif ikut bersama malam mingguan juga.
"Rif, besok kan malam mingguan. Bertepatan dengan tanggal aniversery kedua orang tuaku. Mama dan papa mau menginap di villa puncak. Kamu dan Nara ikut ya! , Nara pasti suka. Bagaimana Rif?, "ajak Dina.
"Nara pasti gak mau Din, "Arif menolak secara halus.
"Ga, kok. Kata Nara tergantung Arif. Kalau begitu mau ya, "Dina tersenyum sumringah.
"Tapi bagaimana dengan Angga? apa ia mau ?, "Arif menyangsikan Angga akan ikut.
"Kalau Angga, dia pasti mau aja kalau aku yang minta. Hehe ... , "ucap Dina yakin.
Begitulah awal terjadinya Nara dan Arif ikut pergi dalam perjalanan merayakan aniversarry kedua orang tua Dina.
Dengan mengendarai pajero. Mobil itu membawa 6 orang penumpang termasuk papa Dina yang memegang kendali mobil.
Suasana canggung dirasakan oleh penumpang yang berada di belakang. Tapi suasana mencair dengan sikap papa Dina yang ramah dan bersahaja.
"Din, kalau papa lihat dari kaca depan mobil ini. Kamu sama Nara berdua mirip loh. Kayak adik kakak. Coba mama lihat, "papa Dina mencolek istrinya yang duduk di samping nya.
Mama Dina reflek menoleh ke belakang. Dibelakangnya duduk Dina dan Nara. Mereka tampak serupa, hanya baju yang membedakannya. Paling belakang adalah Arif dan Angga. Mereka berdua juga berpendapat yang sama dalam hatinya.
"Iya pa. Mirip! kok bisa ya, "ucap mama geleng - geleng kepala.
"Mungkin Nara anak papa juga, hehe ... , "papa terkekeh sambil melirik mama.
"Ah ... , papa ini."
Semua tertawa tapi tidak dengan Angga. Dia hanya tersenyum miris. Dia masih shock atas kejutan yang ia dapatkan hari ini.
Angga tak pernah menyangka kejutan dari Dina. Dia tak pernah berpikir akan berada dalam kondisi yang tak seharusnya ia berada.
Kalau dari awal ia tahu pergi dan sama siapa pergi pastI ditolak oleh Angga.
__ADS_1
Benar - benar kejutan yang membuat Angga sakit kepala. Teman dekat kuliahnya adalah pacar dari mantan kekasih yang ditinggalkannya. Hadeh ....
Dan sang mantan berada disini juga. Bersahabat dengan kekasihnya saat ini.
"Arif, kok gak bilang kalau kamu pacaran dengan Nara." Hal ini juga membuat Angga kaget luar biasa.
"Emang harus bilang juga Ga!, kan kalian uda putus. Sayang gadis cantik di Anggurin, "jawab Arif kesal.
"Bilang lah, kan kita sudah berteman lama. Seharusnya bilang dulu. Biar aku tidak serangan jantung begini, " ucap Angga senewen sebelum masuk kedalam mobil.
Lalu keduanya duduk diam dalam mobil. Hening. Semua diam dalam lamunan masing - masing. Sesekali papa Dina yang berseloroh. Disambut dengan suara gelak tawa dari Dina dan Nara. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 3- 4 jam dari Jakarta untuk sampai di Villa milik yang telah papa sewa.
Berangkat setelah sholat dzuhur dan tiba di villa jam setengah lima sore. Villa ini sangat cantik dan semua terawat rapi. Papa Dina mendapat diskon untuk menginap di Villa ini.
Villa ini dilengkapi kolam renang yang cukup luas. Pemandangan gunung mas tampak jelas dari view kolam renang. Tampak hamparan perkebunan teh yang menghijau. Menyejukkan setiap mata memandang.
Tiba divilla. Mereka masuk kekamar masing - masing. Dina dan Nara berada dalam satu kamar. Sedangkan Angga dan Arif berada dikamar sebelahnya. Beristirahat sebentar, lalu merebahkan diri dikasur empuk villa ini.
Sebelum adzan magrib berkumandang Dina dan Nara sudah terjaga. Mereka berdua sudah mandi. Duduk berdua diruang tengah. Sambil menunggu Angga, Arif dan kedua orang tua Dina.
Orang tua Dina keluar duluan sebelum Angga dan Arif. Mereka berdua menggunakan baju batik couple yang tampak serasi dengan kulitnya.
Papa Dina seorang jendral polisi yang berwajah rupawan. Diusianya yang menginjak 55 tahun, tak tampak sudah berusia lanjut.
Sedangkan Angga dan Arif belum terlihat keluar dari kamar. Ternyata mereka berdua masih bersitegang. "Aku tak suka kau jadi pacar Nara Rif."
"Kenapa kau melarangku pacaran dengan Nara? apa hakmu, "tantang Arif.
"Aku tak suka aja Rif, "jangan bilang kenapa? karena aku tak suka mantanku berpacaran dengan temanku, "ucapnya kesal.
"Kau tak bisa melarangku Angga! aku sudah sejak lama menyukai Nara. Jauh sebelum kau mengenalnya, "ucapnya pelan.
Tok ... tok ... , suara kamar Angga dan Arif diketok oleh Dina. "Kok belum keluar juga sih!."
Arif membuka pintu sedikit. "Tanggung, mau nunggu adzan magrib, "ucapnya.
"Owalah ..., ya uda ditunggu di ruang tengah. Nanti kita sholat berjamaah disana, "ucap Dina sambil berlalu menghampiri Nara.
"Ada apa, "tanya Nara?
__ADS_1
"Gak kok, penasaran aja. Kenapa jam segini belum keluar juga, "ucap Dina.
Terdengar suara adzan magrib mengalun indah. Papa Dina sudah siap - siap untuk menjadi imam sholat berjamaah. Semua sudah berkumpul bersama. Angga dan Arif keluar kamar juga. Bergabung bersama untuk menunaikan sholat berjamaah.
Selesai sholat berjamaah. Papa Dina mengajak semuanya pergi menuju aula villa. rekan sejawat dan koleganya ramai sudah berkumpul sedari tadi.
Kedatangan sang jendral polisi ini sudah ditunggu - tunggu. Papa dan mama Dina tersenyum ramah menyapa setiap orang yang datang. Memberi salam tanda hormat sudah mau jauh - jauh meluangkan waktu untuk memperingati hari aniversery sang jendral dan istri.
Sang jendral kemudian memberi kata sambutan kepada semua yang hadir. Terimakasih telah hadir dalam acara ini. Papa Dina juga mengucapkan terimakasih kepada sang istri yang telah mengarungi hidup bersamanya.
Semua mengucapkan syukur kepada sang jendral dan istri. Hingar bingar pesta sang jendral. Ada alunan musik akustik yang mengiringi penyanyi lokal bersenandung lagu tembang kenangan. Ada beberapa tamu undangan yang juga ikut menyumbangkan lagu.
Sambil menikmati jamuan makan malam yang sudah terhidang. Nara dan Arif ikut hanyut dalam suasana ini.
Papa Dina sedang duduk manis bersama istrinya. Seorang teman polisi papa datang menghampiri. Beliau adalah rekan kerja sang jendral. Pak Robi namanya.
"Lapor Pak. Saya dan istri pamit mundur. Pulang duluan kepaviliun villa. Istri saya sakit kepala, "ucap pak Robi. Kemudian pak Robi dan istrinya menyalami papa Dina dan istrinya.
Disebelah mama Dina tampak Nara sedang duduk asyik berbicara dengan Arif yang ada disebelahnya. Tak lupa pak Robi dan istri menyalami Nara dan Arif. Kemudian dia berkata, "nak Dina uda segede ini. Cantik. Jangan lama - lama ya. Om tunggu undangnya, " sambil menyalami Nara di ikuti istrinya.
Nara terperangah. Mama Dina langsung menanggapinya sambil tertawa. " Haha ... , maaf pak Robi anak saya bukan dia. Tapi itu yang didepan, yang sedang bernyanyi saat ini, ucapnya sambil menunjuk kedepan."
"O, maaf ya. Mirip sih bu, "ucapnya pada ibu Dina.
"Gak apa - apa, mereka berdua memang mirip. Ini teman anak saya, "ucapnya sambil tersenyum.
Lalu pak Robi dan istri berlalu meninggalkan sang jendral dan istrinya. Dalam lubuk hati yang paling dalam, mama Dina pun terkesima kemiripan Nara dengan anaknya."Wajar saja, orang berteman akrab selalu kelihatan mirip, " bathinnya.
Alunan lagu yang dinyanyikan Dina. Lagu dari Andmesh 'cinta luar biasa' dibawa dengan hati. Semua orang takjub akan merdunya suara anak sang jendral.
Begitu juga Nara dan Arif. Dia tak pernah menyangka Dina memiliki suara yang merdu. Kalau bukan anak jendral mungkin Dina sudah jadi penyanyi ngetop saat ini.
Dina menyelelesaikan lagu ini dengan sempurna. Angga bertepuk tangan sama seperti penonton yang lain. Dina menghampiri Angga.
"Bagaimana tadi suaraku, sudah lama aku gak nyanyi. Kagok, " ucap Dina.
"Bagus, suaramu masih seperti yang dulu. Sangat indah didengar, "ucap Angga.
Lalu Dina dan Angga menghampiri dan duduk didekat papa Dina. Disana Angga melihat Nara dan Arif duduk persis disebelah mama Dina.
__ADS_1
Tampak Arif dan Nara sedang bersenda gurau. Membuat Angga cemburu. Dadanya terasa panas. Susah untuk diungkapkan.
Angga benar - benar sakit hati melihat mereka berdua. Hadeh ... , kenapa aku harus berada pada situasi begini ....