
Berita tentang percobaan bunuh diri seorang istri Jendral polisi menjadi amat sangat viral di sosmed. Tersebutlah nama sang Jendral bintang empat ini, Jendral Drs. Donnie Prambudya, S.H.
Sang jendral tak bisa membungkam mulut para wartawan yang ingin selalu tahu sisi kehidupannya. Ia pasrah saja saat berita itu menggulir dengan sendirinya. Ia juga masih shock dengan kejadian percobaan bunuh diri yang dilakukan istrinya.
Pak Donnie tak bisa marah pada istrinya. Ia takut sang istri menjadi lebih stres apabila ia meluapkan rasa kesalnya selama ini. Ia sebenarnya sudah tahu apa yang dilakukan istrinya beberapa tahun setelah ia menikahi sang istri.
Pak Donnie menyuruh anak buahnya melacak kebenaran perselingkuhan mantan istrinya setelah satu tahun perceraiannya. Sebagai seorang polisi yang cerdas, sebenarnya ia tidak sepenuhnya mempercayai bukti - bukti yang disodorkan padanya. Namun mengapa ia menurut saja apa yang Dewi Anjani katakan setelah melihat foto - foto itu.
Sekarang terjawab sudah oleh Pak Donnie Prambudya. Sang istri menggunakan susuk berlian yang diakuinya untuk menjadikannya percaya apa yang ia katakan.
"Sudahlah ma, lupakan saja. Papa sudah maafkan mama kok. Saat ini yang terpenting adalah kesehatan mama, " ucap papa setelah beberapa menit ia terdiam.
Kemudian suasana menjadi hening setelah Pak Donnie memaafkan istrinya. Mereka berdua tenggelam dalam alam pikirannya masing - masing. Entah bagaimana sikap Pak Donnie pada istrinya setelah pengakuan istrinya.
Mama pasrah apa yang suaminya lakukan padanya setelah penyesalan terdalam yang pernah ia perbuat. Kemudian terdengar isak tangis mama yang membuat papa berusaha menghentikannya. Namun usahanya gagal, mama tampak tertekan dengan semua ini.
Stres lama - lama menjadi depresi. Inilah yang terjadi pada istri sang jendral bintang empat ini. Pak Donnie kewalahan dan akhirnya ia menghampiri meja perawat. Meminta bantuan perawat untuk mengatasinya. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar istrinya.
Depresi yang dialami mama sudah sangat menakutkan. Ia bisa saja mengulangi kembali percobaan bunuh diri ini. Berita ini pun sampai juga di telinga Dina dan ibunya di Bengkulu. Berita ini sangat viral, entah siapa yang menyebarkannya.
Dina sangat mengkhawatirkan mama, ibu tiri yang selama ini diakuinya sebagai ibu kandungnya. Ia seakan tahu apa yang mama rasakan. Mungkin permintaan Dina yang menyuruh mama meminta maaf pada ibu salah satu pemicunya.
Sambil berderai air mata Dina berusaha menelpon mamanya. Hampir setengah jam Dina menelpon. Setelah agak lama ponsel mamanya diangkat seseorang.
"Halo assalamualaikum .... , " sapa Dina.
"Waalaikum salam, " jawab papa yang mengangkat ponsel mama.
"Papa ... mama mana ? " tanya Dina.
"Ada, ma-mamu ... sedang tidur. Ia baik - baik saja kok, " jawab papa terbata - bata dan berbohong.
" Papa bohong. Mama tidak baik baik saja bukan!! Berita viral tentang istri seorang jendral polisi itu sudah beredar di medsos dan beberapa tv nasional pa. Itu mama ya pa!! Percobaan bunuh diri karena depresi berat sehinggah nekat memotong urat nadinyanya sendiri. Untung segera ditolong, " jelas Dina sambil terisak menceritakannya.
"Apa ? berita itu sudah menyebar ke khalayak ramai, " tanya papa shock mendengar cerita dari Dina.
"Iya pa, aku di Bengkulu sangat mengkhawatirkan mama , ' jawab Dina.
"Iya nak, itu benar. Papa juga shock melihat mamamu melakukan perbuatan nekat itu. Sekarang ia menangis tak henti - henti menangisi perbuatannya di masa silam. Papa juga bingung, tak bisa membantu mamamu, " ungkap papa pasrah.
"Papa itu siapa yang menangis? Itu suara tangis mama ya! bisakah aku bicara pada mama, " pinta Dina.
__ADS_1
"Tunggu bentar, " jawab papa sambil memegang tangan mama dan menaruh ponsel ke dalam saku celana panjangnya.
Terdengar pintu kamar VIV ini di ketuk oleh orang dari luar. Lalu dua orang perawat wanita itu masuk menghampiri Pak Donnie dan mama yang menangis tak henti - henti. Mereka berdua berusaha menenangkan mama. Perawat yang satu kemudian keluar setelah ia tak bisa membuat mama diam.
Tinggal satu orang perawat yang masih sabar mencoba membuat mama diam. Tapi tetap saja mama masih tetap menangis. Tiga menit setelah perawat wanita yang keluar itu, kini ia masuk kembali dengan membawa jarum suntik di tangannya.
"Pak ... , kami memberikan obat penenang ini pada istri bapak. Semoga ia bisa tenang kembali." Kemudian perawat itu langsung memberikan suntikan itu perlahan lahan melalui tempat penusukan jarum infus yang melekat di punggung tangan kiri mama.
Setelah habis suntikan obat penenang dari ibu perawat itu. Kurang lebih dua menit kemudian tidak terdengar lagi suara tangisan mama.
"Sudah ya Pak. Jagain istrinya, sepertinya ia amat terguncang." Lalu kedua orang perawat itu meninggalkan Pak Donnie dan istrinya untuk kembali ke tempat ruang jaga mereka.
Pak Donnie yang sedari tadi berdiri di samping istrinya. Lalu kembali duduk di tepi tempat tidur pasien. Dipandanginya wanita paruh baya yang ada dihadapannya ini. Ia masih saja cantik di usianya. Ada tetes air mata yang masih menggantung di kedua sudut matanya. Pak Donnie kemudian menyapu sisa air mata itu dengan tangan kanannya.
Istrinya kini sudah tertidur lelap. Begitu cepat reaksi obat penenang itu. Kini mama tampak tidur pulas. Mungkin ia berharap tidak akan bangun lagi. Begitu menderitanya ia selama ini.
Pak Donnie tak pernah tahu mama mengalami depresi seperti ini. Mungkin karena banyak pekerjaan ia lupa untuk mengajaknya berlibur. Seingatnya, terakhir liburan waktu aniversarry pernikahan mereka. Namun saat itu mama terlihat baik - baik saja.
Pak Donnie kemudian duduk di sofa bed yang ada di kamar VIV tempat istrinya di rawat. Ia berbaring sejenak, merebahkan tubuhnya diatas sofa bed. Lalu pikirannya menerawang kembali. "Ada apa dengan istrinya, tidak mungkin hanya karena ini. Pasti ada sesuatu yang lain, sesuatu yang belum ia sampaikan. Namun apa gerangan itu ? semoga keesokan harinya ia akan mau diajak bicara dengan dokter psikiatri, " gumamnya.
Drett ... drett ...
Tiba - tiba ponselnya bergetar. Pak Donnie lalu mengangkat ponsel yang ternyata masih ada di dalam kantong celananya.
"Waalaikum salam nak, maaf tadi papa lupa menelpon kembali. Mamamu sekarang lagi tidur. Ia baru saja diberikan obat penenang, " terang papa pada Dina yang sangat mengkhawatirkan mamanya.
"Bagaimana pa ? Besok aku ke Jakarta ya!! " pinta Dina.
"Besok papa kabari lagi ya. Mamamu gak mau dilihat orang. Nara aja tidak diperbolehkan untuk menjaganya. Hanya papa seorang di sini, " jawab papa.
"Iyalah pa. Mama kan belum terbiasa dengan kehadiran Nara di dekatnya, tapi aku berbeda. Aku anaknya, " timbal Dina.
"Ya uda, besok papa kabari. Assalamualaikum, " papa mengakhiri telponnya.
Sudah dua hari Pak Donnie berada di rumah sakit. Papa juga tidak berani keluar dari rumah sakit ini. Pak Donnie juga minta kebijaksanaan rumah sakit untuk tidak ada yang boleh membesuk istrinya. Sebagai seorang jendral bintang empat banyak sekali kolega dan teman yang ingin menjenguk istrinya.
Semua perawat dan dokter di rumah sakit ini juga sudah tahu sosok bapak jendral ini. Meskipun Pak Donnie menutupi mukanya dengan masker yang selalu digunakannya.
Pak Donnie Prambudya yang bersahaja, tetap saja selalu dikenal orang banyak. Di lobi rumah sakit saja tampak beberapa wartawan yang ingin mengklarifikasi tentang keberadaan istri sang jendral ini.
Pak Donnie Prambudya ini baru setahun menjabat kapolri di negara ini. Usianya baru mau menginjak usia 54 tahun. Ia melompati banyak seniornya untuk menduduki jabatan ini.
__ADS_1
Melihat kondisi sang istri seperti ini. Pak Donnie berfikir dua kali untuk terus menduduki jabatan yang sedang di jabatnya saat ini.
''''''''''''''''
Keesokan harinya. Masih di rumah sakit kawasan pondok indah. Jam di dinding kamar mama di rawat menunjukan pukul 8 pagi. Seorang dokter psikiatri memasuki kamar sang istri jendral itu.
Sosok dokter psikiatri bertubuh sedang. Dengan rambutnya yang memutih. Diperkirakan dokter pria itu berusia kepala lima. Ia didampingi satu orang perawat wanita untuk menemaninya visite.
" Selamat pagi Bapak Jendral ... , " sapa ramah dr. Amierullah sambil menjulurkan tangan kanannya pada sang jendral.
" Pagi juga pak Dokter ... ," jawab hangat pak Donnie yang langsung berdiri menyambut uluran tangan sang dokter dari sofa bed yang ia tiduri.
"Baiklah ... saya akan memeriksa istri anda, " terang dokter Amierullah.
"Oh, silahkan saja dok. Periksa istri saya, " jawab Pak Donnie lalu menghampiri istrinya yang masih berbaring di tempat tidur pasien.
"Pagi ibu ..., " tanya dokter jiwa itu saat berada di samping pasiennya.
"Pagi juga dokter, " jawab istri Pak Donnie lemes.
"Apa yang ibu rasakan saat ini. Keluarkan saja, tidak boleh ada yang di tutupi lagi. Disini tidak akan ada orang yang akan menghakimi ibu. Kami disini menyayangi ibu, " tanya halus sang dokter.
"Apa benar tidak akan ada yang menyalahkanku pada masalah ini, " tanya istri Pak Donnie sambil melirik ke arah suaminya.
"Ayo ... Pak, katakan sesuatu ia mempercayai Bapak, " perintah sang dokter.
Pak Donnie terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa. Lalu sang istri kembali menangis sejadi - jadinya.
Ini bukan pertama kali dokter Amierullah menangani pasien depresi seperti ini. Ia kemudian meminta Pak Donnie dan perawat wanita yang mendampinginya untuk keluar sebentar dari kamar istrinya.
Setelah Pak Donnie dan sang perawat keluar, dokter psikiatri yang berpengalaman ini lalu mencoba menenangkan pasiennya.
Hanya butuh limabelas menit sang pasien menurut apa yang dikatakan sang dokter. Dokter jiwa ini memberikan sugesti positif pada istri sang jendral ini.
Istri sang Jendral, Dewi Anjani. Ia lalu menceritakan semua yang ia rasakan. Apa yang terpendam dalam dadanya. Semua ia ceritakan tanpa ada yang ia tutupi. Ia juga meminta dokter Amierullah tidak memberitahu orang lain, perihal masalah yang ia hadapi.
Setelah lima belas menit kemudian sang dokter keluar dari kamar pasiennya. Didepan kamar ia bertemu dengan Pak Donnie yang menunggunya dengan cemas.
"Sudah Pak, sekarang Bapak bisa menemani istrinya kembali. Ada hal yang ingin ia sampaikan. Bapak harus sabar, jangan emosi menghadapinya, " saran dokter Amierullah sambil menyalami Pak Donnie. Lalu ia berlalu menuju meja perawat.
Pak Donnie lalu masuk ke dalam kamar istrinya. Ia lalu memeluk sang istri yang duduk di tempat tidurnya. "Maafkan papa ma, " kata pertama yang terucap dari mulut Pak Donnie.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang minta maaf sama papa, " jawab mama.
Istri Pak Donnie ini tampak lebih tenang. Ia sepertinya menerima sugesti positf dari dokter Amierullah. Sekarang ia sudah siap menceritakan semuanya pada sang suami. Semoga saja setelah ia menyampaikan sebuah rahasia dalam hidupnya akan membuat dirinya menjadi lebih tenang ....