CINTA NARA

CINTA NARA
3.67. BERGANTUNG PADAMU


__ADS_3

Malam terakhir di kota penuh kenangan, Ardi mengajak Alya keluar berdua tanpa Aura. Selama tiga hari di sana, mereka memang lebih sering menghabiskan waktu bertiga ke mana pun. Dan kali ini Ardi ingin menghabiskan waktu hanya bersama wanita kesayangannya, sebelum besok pagi keduanya akan terpisah jarak lagi.


"Kamu ingin mengajakku ke mana lagi, Di? Kita sudah pergi ke banyak tempat selama tiga hari ini," tanya Alya tanpa menatap lawan bicaranya.


Wanita itu masih terbayang kejadian di kamar Ardi yang penuh debaran. Setiap kali mengingat semua itu hatinya bergetar seketika disertai desiran halus yang menelusupi dada dan mengusik perasaannya.


"Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersamamu. Boleh 'kan, Al?" tanya balik Ardi sambil menatap sekilas wajah wanita di sampingnya.


Alya yang semakin menunduk dan tersipu hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya. Dia masih berusaha menenangkan hatinya yang terus berdebar tak menentu.


Ardi tersenyum dan berusaha untuk tetap fokus mengemudi meskipun hatinya masih bergejolak sejak mereka masuk dan berdua di dalam mobil.


"Tiga hari rasanya cepat sekali berlalu. Besok pagi kamu sudah harus kembali dan kita akan saling berjauhan lagi." Ardi mendesah pelan usai mengucapkannya.


Tanpa sadar Alya menoleh dan menatap Ardi yang masih fokus ke arah jalanan yang cukup ramai dan padat kendaraan. Raut wajah lelaki romantis itu mulai berubah murung, tak secerah sebelumnya.


Diam-diam kesedihan juga melanda hati Alya. Membayangkan esok hari mereka akan berpisah lagi, hatinya semakin terasa berat dan dan penuh sesak. Ada rasa tak rela untuk kembali sendiri, padahal selama ini dirinya sudah terbiasa berteman sepi dan tanpa ada yang menemani.


Mengapa sekarang aku merasa begitu bergantung padanya? Aku yang sebelumnya telah terbiasa menikmati kesendirian, kini justru tak ingin kehilangan dia yang sudah mulai mengisi hatiku dan hari-hariku.


Setitik air bening menetes membasahi pipi yang masih memerah itu, tepat di saat Ardi menoleh dan melihatnya. Jantungnya berdegup kencang manakala mendapati Alya ternyata sudah berubah sedih hingga mulai menangis.


Segera dicarinya tempat yang tidak terlalu ramai lalu menepikan mobil di bahu jalan yang kosong dan mematikan mesin. Hatinya ikut merasa lemah begitu melihat wanita kesayangannya kembali bersedih.


"Alya ... kamu, ada apa denganmu?" Serba salah lelaki itu ingin menenangkan Alya tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan untuk memeluknya tidak mungkin dia lakukan.


"Ceritakan padaku apa yang mengganjal di hatimu. Aku tidak mau kamu menyimpan masalah sekecil apa pun di saat kita akan berjauhan lagi."


Dikeluarkannya saputangan yang selalu disimpan di saku celana lalu diberikan pada Alya untuk menghapus air mata yang telanjur membasahi wajah.


Alya menerima dan segera menggunakannya untuk membersihkan butiran bening yang sudah telanjur menetes dan membekas di permukaan wajah. Dia berusaha untuk menahan perasaannya agar tidak merusak suasana malam terakhir mereka.

__ADS_1


Ardi hanya menunggu sambil menatap sendu wajah sayu wanita yang dua hari sebelumnya baru saja dilamarnya secara tiba-tiba. Ya, sebuah pertanyaan sakral yang seketika terucap lancar dari bibirnya saat mereka berdiri berhadapan malam itu. Tanpa rencana dan terjadi begitu saja.


Masih terbayang jelas di matanya, saat Alya memberikan jawaban yang telah dinantikannya dengan sangat tidak sabar. Wanita ayu nan anggun itu menganggukkan kepala dengan tegas diiringi senyuman terindah yang menghiasi wajahnya yang terlihat tegang dan bersemburat merah.


Alya mulai menguasai dirinya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan guna meredakan sesak yang terus bergejolak di dalam dada.


"Aku sedih karena kita akan berjauhan. Aku takut tidak bisa menahan perasaanku, apalagi rasa rinduku nanti. Aku ... aku takut kehilangan kamu lagi."


Ardi sama sekali tak menyangka, ucapan sedalam itu keluar dari bibir Alya yang bergetar menahan tangisannya. Lelaki itu hampir saja lupa bernapas karena terus terkesiap akan jawaban yang baru saja didengarnya.


"Alya ...." Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, wanita yang duduk resah di sampingnya telah kembali membuka suara.


"Sepertinya aku mulai bergantung padamu. Aku merasa tenang saat bersamamu dan mulai bisa melupakan trauma masa laluku. Aku takut bayangan kelam itu hadir dan mengusikku lagi ketika aku sendiri tanpa dirimu. Maafkan aku ...."


Ardi semakin membuncah. Hatinya begitu bahagia mendengar pengakuan Alya yang tak terduga dan begitu tulus. Tersirat jelas dari kata-kata yang terucap, bahwa wanita itu sangat membutuhkan dirinya dan kehadirannya.


"Jangan meminta maaf padaku, Alya. Aku justru sangat bahagia mengetahui semua itu." Ardi menepis ketakutan kekasih hatinya.


Alya mengangguk dan kembali menghapus air mata dengan kain persegi kecil yang masih terus digenggamnya. Masih ada yang terasa sesak di hati kendati Ardi telah meyakinkannya dengan sungguh-sungguh.


"Ada lagikah yang masih memberatkan hatimu, Al? Katakan saja sekarang dan kita bicarakan saat ini juga," pinta Ardi dengan lembut.


Alya kian menunduk dan terdiam. Dia ingin menyampaikan sesuatu tapi masih ragu untuk mengatakannya. Mungkin saja Ardi belum memikirkan hal tersebut, tapi wanita itu sudah lebih dulu risau karenanya.


"Tidak. Mungkin aku hanya terlalu memikirkan hal yang masih terlalu jauh untuk kita bicarakan sekarang," elaknya. Namun Ardi tak percaya begitu saja. Lelaki itu tetap mencoba mencari tahu.


"Ceritakan saja, Al. Kita memang sudah harus memikirkan semuanya mulai dari sekarang. Bukankah banyak yang perlu kita persiapkan juga nantinya? Jadi, apa pun keinginanmu atau apa yang tidak kamu sukai, katakan saja. Kita akan membahasnya bersama-sama."


Alya yang semula ragu mulai memikirkan ucapan Ardi. Dalam hatinya dia membenarkan apa yang dikatakan oleh lelaki yang terus memandanginya dari kursi kemudi.


"Apakah kamu sudah memikirkan hal lain selain perasaan kita semata? Sudahkah kamu berpikir bagaimana kita akan menjalani hubungan ini setelah kita ...."

__ADS_1


Alya tak melanjutkan kalimatnya. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan satu kata yang selama ini menjadi bagian erat dari masa lalunya. Masa lalu yang sarat kenangan buruk dan telah menciptakan trauma dalam dirinya.


"Menikah?" Ardi menyelesaikan ucapan Alya dengan nada bertanya disertai raut wajah penuh harapan.


Alya mengangguk, tak mau menyembunyikan lagi apa yang hendak diutarakannya. Dia mulai belajar untuk berbagi dan tidak ingin lagi memendam sendiri apa yang dirasakannya.


"Apakah kita akan tetap tinggal berjauhan seperti ini? Kamu dengan tanggung jawabmu di sini dan aku dengan tugasku di sana? Bagaimana nanti kita membesarkan Aura jika kita saja belum bisa hidup bertiga bersama-sama?"


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2